Lebanon, Kadisha, dan Kahlil Gibran (1-2)

C Windoro AT
http://internasional.kompas.com/

DI jalan menuju perbukitan dan lembah Kadisha, Lebanon Utara, tepatnya di tikungan kota kecil Hadchit, suatu siang, kami seperti tiba di dunia lain. Puncak Gunung Mar Elias dan Gunung el Mekmel di bentangan Pegunungan Lebanon, berkilauan tertutup salju. Meski demikian, kaki-kakinya masih diselimuti warna hijau pepohonan, dan coklat dinding-dinding batu alam.

Di tikungan lain, terbentang panorama lebih indah dengan bentangan pemandangan lebih luas. Ini membuat kami kagum sekaligus takut di tengah jalanan yang diapit tebing-tebing curam yang dalam.

“Coba lihat ke sana,” kata seorang kawan menunjuk jari telunjuknya ke atas, sambil tersenyum. Astaga! Permainan cahaya bak dari surga. Cahaya matahari menembus awan, jatuh ke permukaan bersalju, memantulkan pelangi yang jatuh ke lembah nan hijau, ke jurang, dan berhenti berkaca di beberapa kelokkan sungai yang tampak hanya selebar 10 cm. Kami berebut mengambil gambar dari balik mobil.

Kawasan Kadisha yang berada di ketinggian 2000 meter dari permukaan laut itu, sejak 1920 dikenal sebagai satu dari lima kawasan White Lebanon (kawasan bermain ski) disamping lima kawasan lain, Zaarour, Kferdebian, Laqlouq, Qanat Bakish, dan Faqra-Kferdebian (Lebanon, The Official Guide, Ministry of Tourism, Paravision).

Tapi tampaknya Kadisha masih lebih molek dari kelima kawasan White Lebanon itu, karena memiliki hutan pohon cedar/aras. Hanya Kadisha yang memiliki hutan cedar nan luas. Itu sebabnya Lembah Kadisha juga disebut, Lembah Cedar.

Di musim dingin seperti awal Desember itu, salju tak mampu menutup kehijauan pepohonan cedar, yang dikenal sebagai pohon keabadian karena tetap menghijau di empat musim. Pohon yang bisa hidup ratusan tahun ini, sejak 1350 sebelum Masehi telah menjadi pohon kebanggaan orang-orang Phunisia (nenek moyang Bangsa Lebanon).

Selain kuat, dan berserat indah, kayunya juga menebar wangi, bak kayu cendana. Tak heran bila gelondongan kayu pohon cedar yang bisa memiliki diameter sampai tiga meter lebih itu, menjadi tiang-tiang andalan Istana Salomo, serta rumah-rumah orang kaya di kawasan Timur Tengah, sejak Kekaisaran Mesir . Orang Phunisia sendiri sejak sekitar abad 1100, mengandalkan kayu cedar sebagai kayu utama perahu-perahu mewah yang mereka buat. Alasannya, tahan usia dan cuaca (Illustrated History of The Lebanon, Nayla de Freige & Maria Saad, Messageries du Moyen-Orient).

Maronit

Sampai tepian jurang, kami melihat rumah-rumah penduduk desa dibangun berhimpitan sampai tepi jalan beraspal. Di sela-selanya, muncul menara-menara gedung gereja Katolik Maronit. Bukan cuma gedung gereja, tapi juga biara-biara dan pertapaan para rohaniawan Maronit. Bangunan itu dibuat terintegrasi dengan gua-gua di perut perbukitan.

Kawasan Kadisha memang dikenal sebagai salah satu wilayah umat Maronit di Lebanon. Menurut Patriarch Douaihy (The Maronites, History and Constants, Antoine Khoury Harb, The Maronite Heritage, English Edition 2001), Kaisar Theodosius (378-395) membangun biara, sekitar tahun 375, tahun sebelum Santo Abraham dari Cyrrhus dan para murid Santo Simon Stylites, menyebarkan agama Maronit di sana.

Karena dibangun terintegrasi, bangunan biara dan pertapaan terkesan menyatu dengan alam. Lorong-lorong guanya memberi kehangatan di tengah udara yang menggigil di luar. Beberapa biara di sana antara lain, Biara Santo Antonius dari Qouzhaiya, Biara Martir Lisha, serta Biara Santo Elysium. Sejak akhir abad ke-16, ibadah di biara-biara dan pertapaan itu menggunakan bahasa Suriah.

Ketakjuban kami pada Kadisha membuat kami nyaris lupa tujuan perjalanan kami, ke rumah dan makam merangkap museum Penyair, Filsuf, dan Pelukis Lebanon, Kahlil Gibran, di kota kecil Bsharre, Kadisha (Baca juga tulisan, ?Gibran, Dari Boston ke Bsharre?).

Usai ke rumah kumuh tempat Gibran dilahirkan, kami berlima langsung ke makamnya. Makam bekas bangunan biara para Rahib Karmelit yang dibangun sejak akhir abad ke-17 dan selesai tahun 1862 ini, terdiri dari 16 ruang di tiga lantai, dan berakhir di ruang peristirahatan terakhir Gibran. Masing-masing ruang dan lantai dihubungkan lorong-lorong gua dan tangga-tangga batu naik dan turun.

Ketika kami memasuki lorong ruang ke-III, museum Gibran baru terasa mulai berkisah. Di ruang ini ditempatkan perabot Gibran di studionya di New York dulu. Di ruang ke-IV, tergantung sembilan lukisan Gibran. Begitulah seterusnya ke ruang berikutnya, sampai kami tiba di ruang goa dimana terdapat ceruk, tempat peti jenazah Gibran diletakkan. Ceruk berada di samping sebuah ruang luas dimana ditempatkan perabot ruang tidur Gibran.

Karena cuaca gelap dan kabut tebal mulai mengepung, kami tergesa kembali ke Beirut. Tiga jam perjalanan. Sepanjang jalan, kami masih mempercakapkan keindahan panorama Kadisha, pohon cedar, serta berandai-andai tentang Gibran dan biara-biara tua Maronit.

Tahun 1931, Paska jatuh tanggal 5 April. Sudah beberapa pekan itu, Kahlil Gibran (48) menghabiskan hampir seluruh waktunya di tempat tidur, di sebuah apartemen studionya di Boston, Amerika Serikat (AS). “Malam Paska, saya menghabiskan waktu bersamanya. Malam itu ia merasa kondisi kesehatannya lebih baik”. Demikian isi surat Barbara Young kepada Margaret Lee Crofts. (Kahlil Gibran, His Life and World, Jean Gibran & Kahlil Gibran, Interlinkbooks, New York 1998).

Hari Kamis (9/4) saya menelpon dia. Suaranya membuat saya khawatir. Saya lalu pergi menemui Anna Johansen, istri Janitor yang setiap hari mengantarkan sarapan buat dia. Ternyata Anna sudah minta tetangga Kahlil, Nyonya Jacob, seorang pelukis, dan suaminya, menjenguk Kahlil. Keduanya sudah memanggil dokter dan akan membawa Kahlil ke Rumah Sakit (RS) Santo Vincentius, Jumat (10/4) pagi.

Hari Kamis itu, saya duduk menunggui Kahlil di ranjangnya. Dia terus saja berbicara dan melucu. Dia jadi kurang tidur. Beberapa menit sebelum ambulans datang, kesehatan Kahlil memburuk. Dia melihat saya gugup melihat kondisinya. Waktu dia turun tangga, dia mengatakan, “Jangan gugup. Semuanya baik-baik saja”. Ternyata, itulah ucapannya terakhirnya saat dia masih sadar. Jumat sekitar pukul 23.00, ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Tepatnya Jumat, 10 Agustus pukul 22.55, tahun 1931, Penyair, Filsuf dan Pelukis yang nama aslinya, Jibran Khalil Jibran, kelahiran (ada yang menyebut 6 Desember, versi lain 6 Januari) 1883 itu, kembali ke haribaan Nya.

Ia meninggalkan 16 karya prosa liris dan puisinya, serta 173 karya lukis, sketsa, dan gambar. Delapan prosa liris dan puisinya dalam bahasa Arab adalah : Musik (1905), Bidadari Lembah (1906), Semangat Perlawanan (1908), Sayap-Sayap Patah (19120, Air Mata dan Senyum (1914), Prosesi (1919), Prahara (1920), Penciptaan dan Orisinalitas (1923). Delapan lainnya dalam bahasa Inggris : Si Gila (1918), Pertanda (1920), Sang Nabi (1923), Lumpur dan Busa (1926), Jesus Anak Manusia (1928), Dewa Bumi (1931), Pengembara (1932), dan Taman sang Nabi (1933).

Tanggal 21 Agustus, jenasah Kahlil tiba di Beirut, Lebanon, disambut ribuan pelajar, petinggi negara, dan Gereja Maronit. Hari berikutnya, jenasahnya di bawa ke Bsharre. Puluhan ribu orang membentuk pagar manusia dari Beirut sampai Bsharre.

Keluarga miskin

Gibran lahir di tengah keluarga miskin di Desa Bsharre/Besharri/Bisharri/, di Lembah Qadhisa/Kadisha, Lebanon Utara (baca juga tulisan pertama, “Lebanon dari Lembah Kadisha”). Ayahnya, Khalil, cuma petani gurem. Ibunya, Kamle (Kamila) Rahme, adalah janda beranak satu, Boutros. Gibran sendiri memiliki dua adik perempuan, Mariana dan Sultana (Sultaneh). ?Waktu saya kanak-kanak, saya tidak tahu apa itu kesedihan. Yang saya tahu, saya lama mengerjakan segala sesuatu sendiri, sunyi. Mereka tidak pernah mengajak saya bermain bersama,? kata Gibran.

Ketika usianya delapan tahun, ayahnya dipenjara karena terlibat pungutan liar. Sang ibu lalu memutuskan berimigrasi bersama keempat anaknya, ke Boston, AS, mencari penghidupan yang lebih layak. Gibran kembali ke Lebanon belajar Sastra Arab dan Perancis di Kolese La Sagess (versi lain menyebut di al-Hikmah), Beirut, tahun 1897/1898. Tanggal 28 Juni 1903, ibunya meninggal karena kanker, menyusul adik perempuannya, Sultana (16), dan kakak tirinya, Boutros, karena TBC.

Setahun kemudian, ia bertemu dengan Mary Elizabeth Haskell, putri seorang kolonel yang sepuluh tahun lebih tua darinya. Cinta pun bersemi di antara mereka. ?Ia memberiku sayap-sayap yang kuat,? tulis Gibran tentang Mary. Tapi rupanya Gibran memilih tidak menikah. Mary kecewa. Ia menganggap, selama ini dirinya cuma beban atau kesedihan bagi Gibran. Dengan cara yang puitis, Gibran menyangkal anggapan itu.

?Apakah saya pernah menganggapmu beban lebih dari kebahagiaan? Apakah beban? Apakah kebahagiaan? Apakah kamu bisa memisahkan satu dengan yang lainnya? Beban dan kebahagiaan lah yang menggerakkan kita. Kamu telah memberiku banyak kebahagiaan, tetapi juga kesedihan. Dan oleh karena itulah, saya mencintaimu,? tutur Gibran.

Tahun 1908, Gibran belajar di Paris untuk memperbaiki tehnik melukisnya. Dua tahun kemudian ia ke London sebelum akhirnya kembali ke Boston. Tahun 1911, ia pindah ke New York. Prosa lirisnya yang pertama dalam bahasa Inggris, ?Si Gila?, terbit (1918). Ia lalu membangun komunitas sastrawan Lebanon dan Arab di sana, Al Rabitat Al Qualamiya.

Namanya mencapai puncak setelah buku puisinya, ?Sang Nabi? terbit, dan sukses tahun 1923, menyusul karyanya, ?Jesus, Putra manusia? (1928), hasil kerjanya tanpa henti selama 18 bulan. Setelah itu, Gibran sakit dan meninggal. Tiga buku puisinya, terbit setelah kematiannya.

Profesor Khalil S Hawi dalam bukunya, Kahlil Gibran, ?His Background, Character and Works? (Beirut, The Arab Institute For Research And Publishing, 1972) menilai, meski mendapat banyak sentuhan karya sastra Arab, karya Gibran terpengaruh gaya romantisme Barat dan Sastrawan Nietche. ?Yang patut dipuji adalah karyanya, ‘Sang Nabi’. Di sana ia memandang hidup lebih tenang dan optimis dengan caranya sendiri. Ia percaya, visinya layak untuk hidup, dan oleh karenanya, harus harus mampu mengubah hidup,? ucapnya.

Dalam, ?Sang Nabi?, lanjut Hawi mengutip Barbara Young, Gibran lebih menghendaki sebuah kota yang modern dan beradab, tanpa lampu lalu lintas!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *