Luka

Gde Artawan
http://www.balipost.com/

Pemilu untuk memilih anggota legislatif dan DPD telah usai; sebuah pesta menyisakan kemenangan dan kekalahan bagi sebagian kecil orang-orang, tetapi di sisi lain menyisakan luka pada pohon-pohon. Hampir sebagian besar pohon di kota itu terluka. Pada masa kampanye batang-batang pohon dipaku, diikat kawat untuk memasang bendera peserta pemilu atau memaku poster calon DPD yang terbuat dari triplek.

DI kota kini pohon-pohon mengumandangkan jeritannya dan di sisi lain orang-orang ada yang tertawa-tawa sambil minum dan makan-makan sepuasnya menikmati kemenangan. Ada pula yang mengurung diri didera kesedihan dan kekecewaan bahkan ada yang sampai masuk rumah sakit jiwa akibat kekalahan yang diterimanya. Pohon-pohon di kota itu terluka, dari lukanya menetes getah menuruni ranting, batang, dan ada yang sedikit menggumpal di sana sini. Jika persoalannya hanya getah yang menetes dari pohon-pohon, orang-orang di kota itu sama sekali tak peduli dan tak akan pernah berkerumun secara spontan tanpa ada yang mengomandoi. Pagi itu mereka berkerumun di satu sudut kota karena salah satu pohon yang terluka tidak meneteskan getah tetapi darah.

Ya, salah satu pohon akasia di sudut kota itu meneteskan darah dari batangnya yang terluka. Semula orang-orang berdebat kalau yang menetes dari batang pohon itu bukan darah, tetapi getah berwarna merah. Tetapi akhirnya aroma cairan berwarna merah itu meyakinkan kerumunan orang-orang itu kalau yang menetes dari batang itu adalah darah. Kabar tentang pohon yang terluka meneteskan darah segera menyebar ke seluruh penjuru kota, bahkan akibat kemajuan penyiaran dan telekomunikasi lainnya, orang-orang di luar kota itu segera mendengar kabar tentang pohon terluka yang meneteskan darah. Orang-orang lalu mengaitkan tetesan darah dari batang pohon itu dengan arogansi peserta pemilu karena lima tiang bendera parpol dipaku di pohon itu. Ada yang sigap memberi klarifikasi kalau pohon berdarah itu tak ada kaitannya dengan kegiatan politik.

”Ini petunjuk alam yang harus dimaknai secara bijaksana,” salah satu elite parpol memberikan klarifikasi sekaligus pembelaan.

”Ya, benar,” elite parpol lain menimpali, ”Tragedi beruntun di kota ini harus menumbuhkan kearifan kita untuk mulatsarira, introspeksi diri”. Dua elite itu tak ingin dipersalahkan karena anak buahnya membabi buta memaku batang pohon akasia itu saat memasang bendera. Tiba-tiba saja dua elite parpol itu bisa dengan fasih meluncurkan kata bijaksana dan mulatsarira dengan aksentuasi yang sangat meyakinkan layaknya orator ulung walau tak pernah dapat kesempatan tampil di depan publik.

”Tapi faktanya kan ada pohon yang terluka karena dipaku dan mengeluarkan darah,” salah seorang warga menyanggahnya.

”Kesepakatan antar-peserta pemilu telah dilanggar. Pohon-pohon tak boleh dipasangi bendera apalagi sampai dipaku,” Yang lain menimpali.

”Ini bukti sebuah keangkuhan dan kesombongan.”
”Panwaslu kerjaannya apa sih?”
Mereka berdiskusi, berdebat, makin lama makin sengit, makin lama makin berapi-api dan seterusnya makin lama makin tak jelas materi diskusi karena persoalannya makin melebar pada hal-hal di luar pohon yang terluka. Orang mengaitkannya pada caleg yang bermasalah, aturan yang dilanggar, peran KPU yang tak jelas, termasuk panwaslu, pasar yang terbakar karena dewa-dewa lagi murka, kasus ayah yang membunuh anak dan menantu, adik kandung yang membakar kakak kandung, kepala rumah tangga yang gantung diri sampai pada kasus kakek yang menyetubuhi babi. Runyam. Suara-suara orang di kota itu bagai dengungan lebah yang lagi kawin. Jika didengar dari jarak agak jauh mirip suara gemuruh ombak.

Hampir seminggu jumlah kerumunan orang semakin meningkat. Ada orang dari kota lain datang ke lokasi karena mendengar kabar tetesan darah dari pohon itu dapat menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan mengaturkan canang sari. Yang lain memperoleh kode tertentu sehingga togel (loto gelap) yang dipasanginya bisa tembus tiga angka. Bahkan dikabarkan seorang warga yang lumpuh bertahun-tahun bisa berjalan perlahan-lahan setelah nunas setetes darah yang menetes dari batang pohon akasia itu. Kabar itu meluncur dan menggema ke mana-mana seakan menjadi fenomena menarik di masyarakat. Jalanan jadi macet di sekitar lokasi sehingga orang-orang yang akan melintas menuju kota lain terpaksa harus mencari jalan alternatif karena mobil dan sepeda motor parkir semerawut. Mereka berdesak-desakan seakan berlomba untuk sesegera mungkin bisa nunas setitik tetesan darah itu tanpa ada yang mengatur.

Pada hari kedelapan mulai timbul tragedi; seorang wanita tua pingsan akibat berdesak-desakan dan seorang bocah berumur sekitar sepuluh tahun sempat terinjak-injak dan itupun bisa diselamatkan oleh lelaki bertubuh kekar yang menyeruak kerumuman orang dan mengangkat bocah itu keluar dari kerumunan. Berbaur jadi satu berbagai kepentingan terhadap pohon berdarah itu. Ada yang sekadar ingin melihat kebenaran tentang pohon berdarah, ada yang mencoba membuktikan keampuhan tetesan darah dari pohon itu untuk mengatasi penyakit yang diderita atau mencari kekuatan mistis dari vibrasi yang dipancarkan pohon berdarah itu, ada yang berkeyakinan kalau tetesan darah itu dapat meningkatkan wibawa, ada yang percaya bisa memberi penglaris untuk berjualan, ada fotografer amatir yang mencoba mengabadikan objek pohon berdarah, ada penyair pemula yang mencoba menyusun kata agar bisa melukiskan keindahan dan makna di balik pohon berdarah, disamping ada kawanan pencopet yang mencoba keberuntungan di tengah kerumunan orang itu serta menjamurnya padagang dadakan yang berjualan makanan dan minuman agak jauh sedikit dari lokasi pohon berdarah.

Guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan, aparat desa, lurah, camat mengadakan rembug dadakan. Dipandang bahwa fenomena pohon berdarah itu merupakan kasus skala besar, bupati beserta anggota muspida lainnya, tokoh-tokoh adat, rohaniawan, akademisi, serta tokoh-tokoh masyarakat lainnya mengadakan rembug. Rembug akhirnya memutuskan untuk mengambil sikap pengamanan terhadap pohon berdarah. Bupati mengomandani turun ke lapangan bersama anggota muspida lainnya meminta kerumunan orang-orang agar bubar karena pihak terkait akan mengkaji secara komprehensif fenomena pohon berdarah itu.

Memang agak lama kerumuman orang-orang itu mencair, tetapi berkat kesigapan aparat dan dibantu pecalang akhirnya orang-orang membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing sampai terus mempercakapkan fenomena itu dalam perjalanan pulang. Di rumah masing-masing mereka lalu mempercakapkan fenomena pohon berdarah itu bersama anggota keluarga. Praktis aktivitas kerja orang-orang di kota itu terhenti. Berjam-jam aktivitas mereka cuma bercakap-cakap. Ada yang berbicara, yang lain mendengarkan, begitulah secara bergiliran berganti posisi. Yang mendengarkan tadi berbicara. Berjam-jam orang-orang di kota itu cuma bercakap-cakap.

Transaksi jual beli tak terjadi di pasar karena orang-orang lebih suka bercakap-cakap, warung-warung tanpa aktivitas, sopir bemo lebih suka meminggirkan kendaraannya hanya sekadar ingin bercakap-cakap dan penumpang yang terlanjur naik bemo pun turun untuk terlibat dalam percakapan. Topiknya: pohon terluka yang meneteskan darah. Kota menjadi hidup dan suasananya menjadi berbeda dari sehari-hari. Di mana-mana tampak orang-orang asyik bercakap-cakap seakan lepas dari segala himpitan hidup. Caleg yang berhasil memenangkan pemilu seakan lupa pada kemenangannya, begitu pula yang kalah lupa pada rasa kesedihan dan kekecewaannya karena cukup banyak energi dan materi lenyap sia-sia sementara orang-orang kebanyakan lupa pada himpitan derita kehidupan.

Menjelang sore, pohon akasia itu sendiri, dilingkari police line. Aparat kepolisian dan beberapa pecalang berjaga-jaga di sekitar lokasi pohon berdarah. Malam hari masih juga terdengar di seluruh penjuru kota, bahkan di desa-desa orang-orang bercakap-cakap soal pohon luka yang berdarah. Bulan bersinar temaran menyapu halus onggokan pohon berdarah yang masih tegar bediri setelah berhari-hari seakan-akan menjadi pusat perhatian ribuan orang.
* * *

Pagi hari ketika matahari menyembul di timur, orang-orang di kota geger. Pohon berdarah itu tiba-tiba hilang. Orang-orang terheran-heran lalu perlahan dari rasa keheranan itu muncul perasaan macam-macam, mulai dari perasaan saling curiga, jangan-jangan pohon itu sengaja dilenyapkan oleh pihak tertentu yang tentu saja terjadi persekongkolan dengan aparat penjaga lokasi, sampai pada perasaan jangan-jangan pohon luka berdarah itu hanya semacam aktualisasi sebuah halusinasi yang menyerang seluruh warga kota dan umat manusia lainnya.

Kembali lokasi bekas pohon luka yang berdarah itu dirangsek kerumunan orang, mula-mula hanya puluhan, selanjutnya makin lama jadi ratusan, ribuan bahkan ratusan ribu merangsek seakan ingin mendapatkan jawaban real bahwa pohon itu lenyap. Aparat dan pecalang seakan kehilangan kekuatan dan keperkasaan untuk menghalau. Dari investigasi orang-orang di lokasi, tak ada petunjuk kalau pohon itu ditebang, tak ada bekas lubang tempat pohon itu tumbuh. Tanah dimana pohon itu tumbuh biasa-biasa saja tak ada gemburan, datar. Ya, pohon itu lenyap seakan misterius. Orang-orang kembali berdiskusi, berdebat, mencoba mengkaji dari berbagai segi. Orang-orang yang tak bisa mengkaji hanya mendengarkan saja, mengangguk-angguk jika ada seseorang mengeluarkan pendapat, kemudian mengangguk lagi jika yang lain menyanggah. Ada yang berbicara, ada yang mengangguk-angguk. Suara gemuruh ombak lagi-lagi berkumandang, ribuan lebah menggema menghiasi kota mengalir dari mulut kerumunan orang-orang yang bingung, yang gelisah, yang terheran-heran, yang curiga, dan lain-lain.

”Mengapa orang tiba-tiba sangat peduli pada lukaku.” Jauh dari kerumunan orang, sebatang akasia yang terluka tergerus ombak laut utara, terombang-ambing ke tengah kadang timbul kadang tenggelam bagai bangkai ikan paus raksasa. Masih segar dalam ingatannya ketika tengah malam segerombolan orang mencerabuti akar-akarnya, menarik batang pohonnya dengan alat berat sambil berkata-kata: kota sudah kondusif, jangan ada lagi yang macam-macam.

”Aku hanya sebatang pohon yang terluka tak bisa melawan, tak punya kekuatan melawan”. Pohon terluka itupun tenggelam ke dasar lautan, tanpa bisa menangisi lukanya sendiri.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *