MALAYSIA MENJELANG PROKLAMASI INDONESIA

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Hubungan Indonesia?Malaysia dalam satu dasawarsa ini kerap diwarnai insiden yang seolah-olah menciptakan ketegangan serius bagi kedua negara. Meski paroh pertama dasawarsa 1960-an (awal tahun 1965) pernah terjadi konflik Indonesia?Malaysia, dalam kenyataannya, konflik itu hanya berlaku bagi Jakarta dan Kuala Lumpur. Pasukan Indonesia yang bertugas di perbatasan Malaysia, tidak pernah memicu pelatuk senjatanya. Demikian juga, hubungan pendudukan di perbatasan kedua negara, berjalan seperti tidak sedang terjadi ketegangan antara Indonesia?Malaysia. Memang waktu itu ada beberapa anggota pasukan Indonesia yang menyusup ke Singapura, Johor Bahru, Melaka dan beberapa kota di kawasan Semenanjung Melayu serta ke Serawak dan beberapa desa perbatasan di wilayah Malaysia, tetapi jika tidak tertangkap pasukan Malaysia, mereka malah menjalin hubungan baik dengan penduduk setempat, bahkan juga ada di antaranya yang mendapatkan jodoh di sana.

Pertanyaannya: mengapa bisa terjadi demikian? Hubungan sejarah, hubungan sosial?budaya ternyata tidak mudah dihancurkan begitu saja oleh pecahnya insiden sesaat. Tulisan ini coba mengungkapkan salah satu fase sejarah dalam hubungan Indonesia?Malaysia. Dengan mencoba menelusuri perjalanan sejarah kedua bangsa (Indonesia?Malaysia), sangat boleh jadi kita dapat menempatkan berbagai peristiwa atau insiden perbatasan antara kedua bangsa bertetangga yang terjadi belakangan ini, secara proporsional, tidak emosional. Mari kita telusuri!

***

Pendudukan Jepang ?khususnya di Indonesia dan Malaysia? telah meninggalkan jejak yang sangat dalam sebagai potret buram pemerintahan fasis. Sungguhpun demikian, kalangan sejarawan mengakui, bahwa di balik potret buram itu, ada angin kebangsaan ?nasionalisme? yang dihembuskan pihak Jepang, terlepas dari persoalan kepentingan yang melatarbelakanginya. Itulah pengalaman masa lalu bangsa-bangsa yang pernah merasakan keganasan masa pendudukan Jepang. Sebuah catatan sejarah yang tidak patut terulang kembali dalam bentuk apa pun juga.

Masuknya Bala Tentara Jepang ke Asia Tenggara, khususnya ke Semenanjung Melayu menggantikan kedudukan kekuasaan kolonial Inggris, 15 Februari 1942, dan ke Indonesia 8 Maret 1942, menggantikan kedudukan kekuasaan kolonial Belanda, telah membawa pengaruh besar dalam kehidupan sosial, politik, dan kebudayaan kedua bangsa itu. Di Indonesia, pelarangan penggunaan bahasa Belanda telah menempatkan kedudukan bahasa Indonesia menjadi sangat penting, baik untuk urusan resmi pemerintahan, maupun urusan hubungan kemasyarakatan.1 Di Malaysia pun, bahasa Inggris dinyatakan diganti oleh bahasa Jepang atau bahasa Melayu. Pengaruhnya tentu saja besar dalam memapankan dan mengangkat kedudukan bahasa Melayu. Dalam hal ini, terbuka pula peluang bagi tokoh-tokoh pergerakan Melayu untuk menyebarkan semangat kebangsaan kemelayuan, sebagaimana yang kemudian dilakukan Ibrahim Haji Yaakob, Abdul Rahim Kajai, atau Ishak Haji Muhammad. Tambahan pula, pendudukan Jepang atas Malaysia di dalamnya tercakup wilayah pulau Sumatera. Dengan demikian, pihak Jepang seolah-olah telah mengembalikan lagi hubungan sosio-kultural Sumatera-Malaysia yang pernah terputus akibat perjanjian London, antara Inggris dan Belanda, Mei 1824.2

Pengangkatan bahasa Melayu menjadi bahasa resmi kedua setelah bahasa Jepang dalam kebijaksanaan pemerintah pendudukan Jepang di Semenanjung Melayu, tentu saja mendapat sambutan yang baik dari pihak masyarakat Melayu sendiri. Mengenai terangkatnya bahasa Melayu ke taraf yang lebih tinggi di Malaysia,

Li Cuan Siu menyatakan:

?? hal menjadikan bahasa Melayu sa-macham bahasa rasmi yang kedua pun agaknya menggembirakan orang2 Melayu juga. Pada masa itu bahasa Inggeris di-anggap bahasa Mussoh dan bahasa Jepun (Nippon-Go) menjadi bahasa rasmi yang nomor satu dalam pentadbiran militer Jepun, kerana yang berkuasa adalah orang2 Jepun. Tetapi laporan2 dari pegawai2 yang bukan Jepun yang tidak mengenal tulisan Kanji ? terpaksa harus di-tulis dalam bahasa Melayu. ? bahasa Melayu yang dahulu-nya kurang mendapat perhatian dari pehak yang berkuasa Inggeris itu telah di-naikkan darjah-nya oleh pehak saudara tua Dai-Nippon itu. Hal ini sa-chara tidak langsong mempunyai pengaroh kebatinan, ia-itu dapat memberi dorongan jiwa kapada bangsa Melayu, dan se-akan2 di-ingatkan kembali bahawa bangsa Melayu itu sa-benar-nya suatu bangsa yang berkepribadian di-dunia ini.?3

Bagi Ibrahim Haji Yaakob dan tokoh-tokoh pergerakan Melayu lulusan Maktab Perguruan Sultan Idris, terangkatnya bahasa Melayu menggantikan bahasa Inggris, sekaligus dapat dianggap sebagai kemenangan psikologis dalam tarik-menarik menghadapi pengaruh golongan terpelajar lulusan Maktab Perguruan Kuala Kangsar yang menempatkan bahasa Inggris sebagai bahasa utama mereka. Dengan demikian, di samping keberhasilan propaganda Jepang dalam mengangkat harkat bangsa Asia, kedatangan Jepang ke Malaysia, sedikit banyak mendapat sambutan yang positif dari kalangan tokoh pergerakan Malaysia sendiri.

Selain itu, terangkatnya bahasa Melayu dan dimasukkannya Sumatera sebagai wilayah Tanah Melayu, makin mempererat hubungan emosional Indonesia?Malaysia. Malahan, seperti dinyatakan Kamaruzzaman Abd. Kadir, bahan-bahan bacaan dari Indonesia juga tersebar luas di tanah Melayu.

Malah terdapat majalah-majalah yang memuatkan tulisan bersama dari pengarang-pengarang Indonesia dan Tanah Melayu; ? Semangat Asia yang diterbitkan di Singapura sering memuatkan tulisan-tulisan Adinegoro, Muhammad Hatta, Abdul Rahim Kajai, dan Ishak Haji Muhammad yang membawakan penyatuan suara dalam perjuangan mengecam atau menentang penjajah serta membangkitkan kesedaran rakyat di tanah Melayu dan Indonesia.4

Di Indonesia, tanggapan yang baik atas kedatangan Jepang, juga datang dari tokoh-tokoh pergerakan, termasuk golongan terpelajar dan sejumlah seniman. Propaganda Jepang mengenai kebesaran kebudayaan bangsa Timur yang sangat bertentangan dengan kebijaksanaan kolonial pemerintah Belanda, telah berhasil menggugah emosi dan sentimen tokoh-tokoh pejuang Indonesia. Hal tersebut memang merupakan salah satu cara yang dilakukan pihak Jepang untuk menarik simpati, dan lebih jauh lagi, dukungan bangsa Asia, khususnya bangsa yang wilayahnya berada dalam pendudukan Jepang, dalam usaha tentara Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya. Pidato P.J.M. Goenseikan pada saat peresmian Kantor Besar Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) di Jakarta, 18 September 1943 yang sebagian dikutip di bawah ini, memperlihatkan bagaimana besarnya perhatian pihak Jepang dalam memanfaatkan kebudayaan sebagai alat propaganda.

Keboedajaan itoe djiwa bangsa, pengaroeh keboedajaan pada segenap lapangan dalam masjarakat besar dan loeas; madjoe atau moendoernja itoe bergantoeng pada keboedajaan. Oleh karena itoe berkembang soeboer atau tidaknja benih keboedajaan itoe adalah soeatoe soal yang maha penting sekali.

Teristimewa poela sebagian besar benoea Asia, ?Indonesia termasoek joega dalam lingkoengan itoe? jang selama ini dibawah tindasan bangsa Barat, terpaksa menerima keboedajaan jang hampa belaka, keboedajaan jang meroesak binasakan Keboedajaan Timoer Asli dan ada poela jang hidoepnja seoempama kerakap toemboeh dibatoe, hidoep segan mati tak maoe. Hal itu sangat mengecewakan hati kita sekalian.

Akan tetapi peperangan Asia Timoer Raja dewasa ini telah menjadarkan bangsa Asia jang tidoer njenjak?

Peperangan Asia Timoer Raja seolah-olah telah mendjadi api oenggoen jang membangoenkan kembali Keboedajaan Timoer jang djaoeh lebih tinggi dari Keboedajaan Barat. ?5

Terlepas dari kepentingan politik yang ingin dicapai pihak Jepang di balik propagandanya mengangkat kebudayaan Timur, bagi beberapa tokoh pergerakan di Malaysia, masalah itu justru makin menguatkan tekad mereka untuk menyatukan tanah Melayu ke dalam wilayah Indonesia. Oleh sebab itu, ketika di Indonesia dibentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia,6 Maret 1945, Ibrahim Haji Yaakob segera mendesak pihak Jepang bahwa jika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Tanah Melayu agar dimasukkan pula ke dalam wilayah Indonesia Raya.7 Usaha itupun kemudian diikuti pula dengan menghubungi golongan nasionalis Indonesia yang sedang menyusun Piagam Jakarta, 22 Juni 1945, agar kemerdekaan Indonesia mengikutsertakan Tanah Melayu,8 yang ternyata disetujui pula oleh golongan nasionalis Indonesia. Dengan demikian, tidak ada lagi keraguan bagi tokoh-tokoh pergerakan Melayu dalam usahanya mencapai kemerdekaan.

Dalam pada itu, pihak Jepang sendiri terkesan kuat ikut mendorong usaha-usaha itu. Realisasinya adalah diadakannya pertemuan antara Prof. Akamatsu dari pihak Jepang dan wakil Kesatuan Melayu Muda (KMM), Ibrahim Yaakob, Hassan Manan, Onan Siraj, dan Ramly Hj. Tahir, 26 Juli 1945 di Singapura. Hasilnya, bahwa pihak Jepang bersedia memberi kemerdekaan bagi Tanah Melayu.

Dua hari berikutnya, diadakan pula pertemuan kedua yang dari pihak Jepang diwakili Prof. Itagaki. Dalam pertemuan itu, pihak Jepang meminta agar Ibrahim Yaakob dan kawan-kawan segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk kepentingan kemerdekaan Tanah Melayu. Dari sinilah kemudian dibentuk KRIS (Kesatuan Rakyat Indonesia Semenanjung), akhir Juli 1945, yang merupakan semacam penyusunan kembali KMM,9 dengan Ibrahim Yaakob dan Dr. Burhanuddin Al-Helmy sebagai pimpinannya.10

Sementara itu, di Indonesia pematangan ke arah kemerdekaan Indonesia terus dipersiapkan. Situasinya menjadi sangat mungkin karena kondisi bala tentara Jepang yang terus mengalami kekalahan dalam berbagai pertempuran. Puncak kekalahan itu terjadi saat bom atom dijatuhkan di Hiroshima (6 Agustus 1945) dan di Nagasaki (9 Agustus 1945). Di luar kehancuran kedua kota di Jepang itu, di Jakarta, 7 Agustus 1945, dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang menggantikan kedudukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Situasi Jepang yang makin terpojok itu, ditambah lagi dengan adanya pernyataan perang terhadap Jepang dari Uni Soviet, 8 Agustus 1945, telah memaksa Jepang memasuki saat yang paling rumit; menyerah kalah kepada pihak Sekutu dan melepaskan semua wilayah pendudukannya atau membiarkan rakyatnya menerima kehancuran yang lebih parah lagi. Bagi Panglima Wilayah Selatan (Panglima Tertinggi Tentara Jepang untuk Asia Tenggara) Marshall Terauchi Hisaichi, tidak ada pilihan lagi kecuali memenuhi janji memberi kemerdekaan pada Indonesia, di dalamnya termasuk Tanah Melayu.

Tanggal 8 Agustus 1945, Soekarno, Hatta, dan Radjiman, terbang ke Dalat, Saigon, memenuhi undangan Terauchi.11 Dalam pertemuan itu, Terauchi berjanji akan memberi kemerdekaan bagi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda, dengan catatan tidak memasukkan Malaya dan wilayah-wilayah Inggris di Kalimantan.12

Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, rombongan Soekarno?Hatta singgah dahulu di Taiping, 11 Agustus 1945 dan esok harinya (12 Agustus 1945) mengadakan perundingan dengan Ibrahim Yaakob dan Burhanuddin selaku pimpinan KRIS sehubungan dengan persiapan penggabungan kemerdekaan Indonesia?Tanah Melayu.13 Dalam pertemuan itu, Soekarno menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia akan diselenggarakan minggu berikutnya.14 Ibrahim Yaakob juga menyatakan bahwa ia akan mengirimkan wakil-wakil dari Tanah Melayu dan wakil KRIS ke Jakarta untuk hadir mengikuti upacara kemerdekaan Indonesia.

Berbagai perundingan dan perencanaan boleh dipersiapkan. Perjalanan sejarah ternyata harus mencatat lain. Rencana yang telah dipersiapan lewat berbagai perundingan itu, tinggallah hanya rencana. Pernyataan menyerah tanpa syarat dari pihak Jepang kepada Sekutu 14 Agustus, kapitulasi Jepang kepada Sekutu, 15 Agustus dan ?penculikan? Soekarno?Hatta ke Rengasdengklok, 16 Agustus oleh kelompok pemuda radikal, Sukarni dan kawan-kawan, dorongan kuat dari pimpinan dan para pejuang kemerdekaan Indonesia sendiri, telah memaksa Soekarno?Hatta mempersiapkan segala sesuatunya secepat mungkin. Malam harinya, persiapan dilakukan. Teks proklamasi disusun. Bendera merah-putih, disiapkan.

Tanggal 17 Agustus 1945, tepat pukul 10.00 wib, di Jalan Pegangsaan Timur, No. 56, teks proklamasi dibacakan, bendera Sang Saka Merah-Putih dikibarkan, dan Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Itulah saat Indonesia menyatakan kemerdekaan, tanpa di dalamnya memasukkan wilayah Tanah Melayu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *