Memotret Realitas Sosial dengan Gaya Nakal

Pramono
http://www.tempointeraktif.com/

Remy Sylado tergelak mengenang kenakalannya. Ia masih ingat polisi dan tentara menangkap dan memeriksanya sepekan penuh karena nekat menampilkan karyanya yang mengkritik pemerintah dan tentara pada 1970-an. ?Tahun segitu, siapa berani maju sendirian mengkritik Orde Baru?? kata dramawan, novelis, dan seniman bernama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong itu.

Setelah pemeriksaan itu, Remy tak kunjung jera. Ia tetap melakukan perlawanan lewat pementasan drama dan puisi mbeling-nya. Lewat pementasannya, ia mengkritik realitas yang berkembang, dari korps loreng-loreng yang galak hingga korupsi pejabat. Alhasil, saban selesai penampilan ia selalu diperiksa aparat. ?Tiga kali diperiksa di Jakarta. Di Bandung tak terhitung,? ujarnya terkekeh.

Menurut Remy, Orde Baru telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia berat. Saat itu pemerintah seperti anti terhadap perbedaan pendapat. Semua pikiran dan tindakan yang tak sama dengan pemerintah akan disikat. ?Pemerintah maunya langsung tunggal. Padahal yang bener bhinneka dulu.?

Remy tak hanya melontarkan kritik terhadap pemerintah. Ia juga mengkritik perubahan tata nilai masyarakat, seperti kehidupan di Jalan Tamblong, Bandung, Jawa Barat. Remy mengamati Tamblong yang dipenuhi perempuan usia sekolah yang melacurkan diri. Para pelajar itu, kata Remy, mengikuti gaya hidup remaja San Francisco yang menjadi groupies atau pengagum band yang doyan hura-hura. ?Mereka pelacur amatir,? katanya.

Remy menyatakan karya seni kontemporer harus membuka mata terhadap realitas kehidupan masyarakat. Imajinasi tak lahir sendiri. Imajinasi berpijak pada riset, juga pengamatan langsung ke lokasi yang akan dijadikan latar cerita. Bagi Remy, pengalaman langsung berada di tempat itu sangat perlu, karena nuansanya bisa lebih ditangkap. Jadilah Remy menelurkan drama Jalan Tamblong dan karya-karya lainnya yang juga sarat kritik sosial–baik naskah drama, puisi, musik, lagu, cerpen, maupun novel.

Seperti Jalan Tamblong, karya Remy lainnya juga blak-blakan menyebutkan kosakata vulgar, misalnya sekitar selangkangan yang saat itu tabu dibicarakan. Meski mengakui terkesan vulgar, Remy justru menyalahkan pikiran kotor dari pihak yang menabukan penyebutan alat reproduksi laki-laki dan perempuan. Remy menganggap keterbukaan atas alat kelamin justru mampu mengungkapkan keindahan seni yang lebih nyata. ?Toh, kata-kata itu ada di kamus. Kenapa tidak digunakan??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *