Mimpi sang Raja

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Sang Raja terbangun dari mimpinya yang lucu: tujuh ekor ikan teri memakan tujuh ekor ikan paus, dan tujuh orang anak kecil masing-masing memakan gunung, memakan hutan belantara, memakan danau, memakan tanah, memakan jalan dan jembatan, memakan gedung-gedung bertingkat tempat bercokolnya bank besar, dan memakan kertas-kertas bergambar George Washington.

Raja begitu kagum melihat seorang anak kecil dengan lahapnya melahap hutan-hutan raksana. Anak yang bertubuh gemuk dan bermata sipit serta: wah, berkumis itu dengan asyik mengunyah pohon demi pohon bagaikan mesin pabrik kertas melahap bahan-bahan bakunya. Dan yang lain, anak kecil dengan tenang duduk di sebuah kursi empuk dan dengan mudahnya gedung-gedung bertingkat masuk ke dalam perutnya.

Lalu, yang seorang ini, pasti seorang anak perempuan, sebab dia mengenakan rok dan rambutnya bergaya boneka Barbie: jalan raya dan jembatan semuanya melaju ke dalam mulutnya dan masuk ke dalam perutnya. Anehnya, perut mereka tidak kelihatan mengelembung, apalagi meledak. Tidak. Mereka nampak sebagai anak-anak yang tampan dan cantik, yang dapat bergerak ke sana-kemari dengan tangkas, dan bahkan mampu menghilang kasat mata. Luar biasa.

Tak urung Sang Raja tertawa terkekeh-kekeh di atas tempat tidurnya. Dia teringat anak-anaknya dan teman-teman dekatnya. Kok wajah mereka sangat mirip, namun, yang di dalam mimpi itu masih kanak-kanak. Wajah mereka nampak tanpa dosa setitik pun.

Namun, Sang Raja tak merasa tenteram. Pikirannya agak terusik oleh mimpi itu. Diceritakannya mimpi itu pada Sang Permaisuri, yang menanggapi dengan ringan:

?Ah, cuma mimpi. Coba itu sungguhan kan asyik. Kita makan semua!?

?Lho, apa kita kurang makan??

?Ah, Papa ini. Sok tak mau tahu. Kasihan dong anak-anak. Kasihan si Kong yang sudah lama mengabdi pada kita. Masak cuma segitu saja jatahnya. Kasih lebih banyak lagi. Lalu, bagaimana dengan Twiggy? Apa Papa akan membiarkannya kurus kering sampai tua? Biarkanlah dia bernapas sedikit, agar anak-anaknya bisa belajar ke negara Amerta, atau Ngastina, atau embuh kemana. Ke mana sajalah, asal tidak ke Afrika.?

?Ya, ya, ya, tapi apa makna mimpiku ini??

?Soal tafsir mimpi, tanya saja sama referensi utama Kitab Betal Jemur. Atau undang Mbah Wong Pin Ter.?

Celakanya, rahasia mimpi Sang Raja sampai bocor ke telinga wartawan Suara Raja Suara Rakyat, yang saham kosongnya sebesar 30 persen dimiliki oleh Menteri Propaganda yang tugasnya mengatur arus informasi di kerajaan ini. Kesalahan utama yang dilakukannya ialah mengizinkan diimpornya antene parabola demi memberi lahan kepada kemenakannya alias putera Sang Raja, dan juga dibukanya jaringan internet. Celaka. Informasi wangi dan busuk semuanya menerjang masuk ke negeri ini tanpa bisa dibendung lagi.

Sang Wartawan kalau tak salah namanya Winarto, Winarso, atau Winarno, atau siapalah, toh sosok wartawan tidak penting. Namanya jarang ditulis pada laporan jurnalistik yang ditulisnya. Apalagi kalau dia menulis Tajuk Rencana, kolom yang paling bergensi di koran itu, tak pernah muncul dengan nama penulisnya. Nah, Sang Wartawan dengan menggunakan referensi Kitab Rahasia Para Wali, menuliskan sebuah tafsir yang jitu, yang langsung menohok balik Sang Wartawan.

Dia tulis dalam korannya, bahwa selama tujuh tahun kali empat, negeri ini mengalami kemakmuran luar biasa, namun kekayaannya dimakan oleh tujuh kekuatan raksasa sampai ludes. Pada tahun-tahun awal negeri ini dibanjiri minyak namun habis disedot nyamuk. Tahun-tahun berikutnya negeri ini sudah berhasil dalam swasembada beras. Namun, sosok-sosok dalam mimpi yang suka menyedot lumpur dan apa saja itu membuat keadaan berbeda. Pada akhir tujuh kali empat tahun itu ekonomi negeri ini akan porak poranda. Hutannya habis, devisanya habis.

Malapetaka ini dapat diatasi dengan cara membersihkan negeri ini dari raksasa-raksasa bertubuh kecil seperti anak-anak, yang bergaya tanpa dosa.

Tentu saja Sang Raja tersinggung. Karena itulah dikatakan, tafsir itu langsung menohok Sang Wartawan, sang DRS yang di rumah sajakan, dan bahkan langsung dicipinangkan. Untunglah dia tidak dicilincingkan, jadi jasad Sang Wartawan masih dikenali walaupun babak belur.

Namun, apa yang ditulis di langit dan sudah dibaca dalam mimpi memang harus terjadi. Sang Raja diruntuhkan oleh pasukan kera yang jutaan jumlahnya, bagaikan tentara dalam Perang Korea, yang benar-benar menyemut dan membuat serdadu Amerika langsung gemetar dan lari tunggang langgang. Rahwana pun dapat dikalahkan, apalagi cuma Sang Raja yang tak punya sejarah kegemilangan.

Persoalan tidak selesai, sebab pesan utama dari Kitab Rahasia Para Wali tak terbaca. Tentang hidup hemat. Menabung, untuk menyambut masa paceklik. Tapi, apa yang harus dilakukan kalau yang seharusnya ditabung justru sudah masuk ke perut tujuh bocah yang nampak tanpa dosa itu?

Dua raja yang baru tak dapat berbuat apa-apa. Raja pengganti pertama adalah pengikut Sang Raja Tua, sedangkan Raja Muda tak habis-habisnya didera kritik dari segala arah. Padahal, mimpi Sang Raja sudah terlanjur berjalan, dan apa yang sudah ditulis di dalam Kitab Rahasia Para Wali harus berlaku. Masih lima tahun yang sulit harus dijalani. Hutan yang sudah telanjur masuk perut menghasilkan banjir dan tanah longsor, bahkan kebakaran serta kekeringan tak tertahankan.

Gedung-gedung bank yang sudah hancur jadi darah beracun dalam tubuh, menghasilkan kesengsaraan ekonomi yang berkepanjangan. Mungkin, kalau tiba-tiba di salah satu pulau dapat ditemukan sebuah tambang bahan berharga, mungkin tambang berlian baru dengan kualitas super, tambang emas dengan produksi tanpa batas, tambang minyak, tambang uranium, plutonium, atau zat baru yang belum dikenal sebagai bahan baku energi baru untuk melesat ke ruang angkasa, atau ikan-ikan di laut, udang windu, udang galah, udangudang lain, kerapu macan, kerapu batik, kerapu napoleon, rumput laut, kepiting bakau, semua serbabanjir dan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat, mungkin saja keajaiban akan terjadi. Namun kerja keras dan sisa lima tahun benar-benar harus dilakoni dengan sabar, sebab demikianlah apa yang ditulis oleh Kitab Rahasia Para Wali.

Dari hari ke hari, sejak dahulu kala, rakyat selalu bermimpi tentang datangnya Sang Ratu Adil, Ratu adalah Raja, Raja dengan semua atribut keRajaannya, manusia utama yang benar-benar mampu berkuasa dan ngemong rakyatnya.

Sesudah Mimpi Sang Raja, tidak akan ada lagi mimpi lain, selain harapan-harapan dan kerja keras. Saling hujat hanyalah akan menghancurkan semuanya. Dan yang lima tahun itu, hari demi hari yang pahit, harus ditelan mentah-mentah ke dalam perut semua orang.

Di tempat peristirahatannya Sang Raja Tua memperhatikan situasi yang berjalan sesuai dengan tafsiran mimpinya. Dari hari ke hari beliau menunggu saat yang mengerikan: ketika perut tujuh sosok pelahap akan tiba-tiba meledak karena kepenuhan. Mungkinkah hal itu terjadi?***

Singaraja, 12-13 Desember 2000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *