Pelajaran Bisnis dari Kedai Kopi

Gatot Widayanto
http://www.ruangbaca.com/

Apa yang Anda rasakan bila mengunjungi sebuah kedai kopi yang dewasa ini menjamur di pusat-pusat perbelanjaan (mall) di kota- kota besar di Indonesia? Racikan kopinya? Suasananya yang nyaman? Harga yang terjangkau? Lokasi yang strategis? Kebersihan? Pelayanan yang bagus? Mungkin juga kombinasi dari semua hal itu yang menyajikan sebuah ?pengalaman? tersendiri bagi Anda, tentunya.

Tahukah Anda bahwa semua aspek yang ditonjolkan dalam sebuah kedai kopi (kafe) itu terjadi setelah dilakukan melalui konsep dan perencanaan yang matang, dan mungkin terkesan rumit? Inilah inti buku Built For Growth. Salah satu pengarangnya, Arthur Rubinfeld, adalah guru dalam usaha ritel dengan reputasinya yang luar biasa selama sepuluh tahun berkarier sebagai Executive Vice President dari Starbucks Coffee.

Selama kiprahnya di Starbucks, Rubinfeld berhasil mengembangkan kedai Starbucks dari 100 menjadi 4.000 atau ratarata membuka tiga kedai per hari. Ia menulis bersama Collins Hemingway, yang juga menjadi penulis pendamping buku legendaris Business at the Speed of Thought bersama Bill Gates.

Yang menarik, sebelum mengupas secara rinci aspek-aspek kritikal dalam membangun dan mengembangkan usaha ritel yang sukses, buku ini justru menekankan begitu pentingnya peran nilai-nilai inti (core values) sebagai hal utama yang harus diperhatikan. Berpikir besar, itulah alasannya.

Tanamkan dengan penuh keyakinan bahwa brand Anda akan berskala nasional, bahkan internasional. Ray Kroc pada mulanya menjual mesin pembuat milkshake sampai suatu ketika ia berpikir bahwa yang bisa membuat besar bukan menjual mesin, tapi justru menjual hamburger dan milkshake. Jadilah McDonald?s, brand yang dikenal di seluruh dunia.

Dalam berpikir besar, nilai-nilai inti di dalam organisasi menjadi fondasi kokoh untuk membangun usaha ritel yang sukses dan langgeng. Nilai-nilai inti harus selaras, diyakini dan dijalankan sepenuhnya oleh setiap individu di dalam organisasi. Starbucks tidak mainmain dalam hal nilai-nilai inti.

Dalam menetapkan nilai-nilai inti, Starbucks tidak tanggung-tanggung meminta Jim Collins, pengarang buku Good To Great yang sukses pada 2001, untuk memfasilitasi prosesnya. Hasilnya adalah sebuah pernyataan nilai yang berlaku untuk Starbucks di seluruh dunia dan merupakan fondasi dalam mengoperasikan dan mengembangkan usaha.

Pentingnya nilai inti juga terlihat dalam piramida pengembangan usaha Starbucks. Yang paling tinggi adalah budaya perusahaan yang terdiri atas nilai, keyakinan, dan norma-norma. Pada tingkatan selanjutnya baru diikuti sistem manajemen, sistem operasi, manajemen sumber-daya, produk dan layanan, dan pasar.

Konsep ini sudah terbukti ampuh, sejalan dengan hasil riset di buku Good To Great bahwa ada keterkaitan sangat kuat antara budaya perusahaan dan kinerja. Hal yang sama juga terjadi di dunia perbankan. Kita ambil contoh, misalnya, Bank Mandiri yang pada tahun ini berhasil menepis citra sebagai bank pelat merah yang kalah bersaing dengan bank swasta dalam pelayanan kepada nasabah.

Dalam survei MRI (Marketing Research Indonesia) tahun ini Bank Mandiri berhasil menduduki posisi ketiga dalam Top 10 Banks Service Excellence, melonjak drastis dari posisi ke 11 pada survei tahun sebelumnya. Dalam wawancara dengan sebuah media, Agus D.W. Martowardojo, Direktur Utama Bank Mandiri, mengatakan bahwa Bank Mandiri telah menanamkan nilainilai utama di perusahaan yang kemudian ditegaskan kedalam perilaku utama.

Sebuah bukti yang mengokohkan keterkaitan budaya perusahaan dengan kinerja. Tentu tidak hanya berhenti di situ. Nilai-nilai inti harus menjadi roh yang memberi semangat dalam implementasi strategi ritel yang efektif. Bisa dikatakan, 70 persen buku ini mengulas secara rinci aspek- aspek praktis dimulai dengan sebuah cetak biru implementasi yang sukses dalam pelaksanaannya (Bab 8).

Ulasan yang disajikan cukup gamblang dan mengena pada sasaran. Misalnya dalam membuat rencana usaha, isinya dibahas secara sistematis. Pengalaman-pengalaman praktis yang merupakan tip juga dibahas, misalnya bila jumlah gerai sudah lebih dari lima, maka diperlukan departemen sumber daya manusia. Atau, bila jumlah gerai mencapai 15, perlu merchandiser yang bekerja purna waktu.

Aspek kritikal selanjutnya adalah bagaimana mengembangkan usaha secara cepat tanpa sandungan. Berarti perlu menetapkan proritas pasar potensial, lokasi geografis, kompetisi, jumlah gerai/kedai, tingkat penerimaan dari pelanggan terhadap produk/jasa, dan sumber-daya perusahaan. Termasuk di sini bagaimana menghitung alur lalu-lintas dan mobilitas segmen yang menjadi target untuk menentukan jumlah dan besarnya gerai.

Aspek terkahir adalah sikap kerja yang selalu berusaha maju secara konsisten, melebihi batasan yang ada, melalui inovasi. Sering setelah sebuah usaha ritel tumbuh pesat, ada tendensi untuk mengulang faktor- faktor yang membuat sukses dalam pengembangan usaha sehingga isu baru muncul tidak ditangani secara serius. Contoh cukup gamblang disajikan dalam buku ini mengenai McDonald?s, yang selama ini fokus pada aspek kebersihan.

McDonald?s saat ini aktif melakukan respons terhadap risiko kesehatan terkait dengan makanan yang disajikannya. Sebuah usaha yang sudah terlambat karena isu ini muncul cukup lama namun tidak ada seorang pun di perusahaan yang berani melakukan inovasi menyelesaikan isu ini. Pesan yang ingin disampaikan buku ini adalah: selalu tanggap terhadap isu yang berkembang dan melakukan inovasi dalam mengatasinya.

Meski buku ini mengatakan ihwal ?mengembangkan usaha Anda di wilayah sekitar atau wilayah dunia?, fokusnya hanya pada pasar Amerika sehingga aspek ?global?- nya tidak ada. Namun, konsep yang diuraikan dalam buku ini tetap berlaku bagi pasar global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *