PENGARANG SURABAYA Menari-nari dalam Kata bersama Lan Fang

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Surabaya punya banyak pengarang fiksi, dimasa lalu ada Grandy yang menciptakan detektif Naga Mas, ada Basoeki Rachmat dengan novel-novel berbahasa Jawa dan Indonesia serta cerpennya, ada Farid Dimyati, ada Poernawan Tjondronegoro yang meninggal di Jakarta.

Dimasa kini ada Suprato Brata pengarang super produktif yang menghasilkan puluhan novel berbahasa Jawa serta Indonesia. Sebagai novelis berbahasa Jawa dia mendapatkan Hadiah Rancage, dan sebagai pengarang berbahasa Indonesia dia diundang ke Bangkok untuk menerima SEA Write Award. Ada Budi Darma yang masih menulis. Ada Dukut Imam Widodo dan banyak lagi yang tak tersebutkan.

Lan Fang hanyalah satu dari banyak pengarang Surabaya. Salah satu novel Lan Fang yang menonjol adalah Lelakon, yang masuk nominasi untuk mendapatkan Khatulistiwa Literary Award sayang gagal. Membaca Lelakon karya Lan Fang seperti membaca lelakon diri kita sendiri, yang dibawakan secara puitis, dengan muatan psikologi dan filsafat tentang kehidupan yang mendalam, dan latar budaya yang beragam. Kata Pembuka ditulis oleh novelis terkemuka Budi Darma, sepanjang kurang dari satu halaman, sedangkan Kata Pemungkas, ditulis oleh Audifax, penulis beberapa buku laris Mite Harry Porter (2005), Imagining Lara Croft (2006) dan Semiotika Tuhan (2007), sepanjang 8 halaman.Dalam Kata Pembukanya Budi Darma menulis tentang manusia secara umum: “manusia adalah makhluk yang benar-benar buruk, saling mengkhianati, saling menipu, saling memperalat, semua untuk kepentingan diri sendiri.” Bagi Budi Darma, novel Lelakon dipenuhi berbagai macam tokoh yang kadang-kadang terasa nyata tapi kadang-kadang pula terasa hanya ada dalam angan-angan, dengan alur yang tidak perlu diatur secara jelas. Tempo dalam novel ini, tulis Budi Darma lagi, bisa berjalan dengan cepat, bisa pula bergerak lambat, dengan bahasa yang kadang diatur dengan rapi, dan kadang tidak diatur dengan rapi pula.

Sementara itu Audifax menyoroti karya ini dari sudut pandang psikologi dan filsafat, tentang eksistensi cermin, serta subyek yang terbelah, bak kita melihat diri dalam cermin.

Mungkin secara kebetulan, ketiga orang yang hadir dalam buku ini adalah orang-orang Surabaya. Budi Darma yang gurubesar sastra, tinggal di Surabaya sejak awal tahun 60an, sebelum baik Lan Fang maupun Audifax dilahirkan. Lang Fang yang lahir di Banjarmasin tahun 1970, merantau ke Surabaya, dan Audifax yang psikolog kelahiran Surabaya tahun 1973.

Mengapa Lelakon?
Karena ini memang kisah yang dilakoni oleh banyak tokoh, dan banyak lakon. Lan Fang menggelar panggung sandiwara, menempatkan tokoh-tokohnya yang memainkan sebuah cerita rekaan sang pengarang, dan ditonton oleh “sedikit penonton”, seolah Lan Fang dengan rendah hati meramalkan bahwa Lelakonnya tidak banyak yang menonton atau membaca, “Ada gemuruh tepuk tangan yang tidak terlalu riuh karena hanya beberapa gelintir kepala yang memenuhi ruangan itu.” (hlm 259). Pada bagian ini pengarang muncul di panggung dengan naskah sandiwara yang belum selesai.

Dan secara beramai-ramai dikeroyok oleh tokoh-tokoh yang dia “adakan”. Dari sini kita bisa tahu, juga dari banyak bagian dalam novel ini, Lan Fan memakai allusion (kilatan) dari berbagai sumber bacaan dan pengalamannya. Di bagian ini kita teringat pada karya sastrawan Italia Luigi Pirandelo yang menulis naskah drama (Six Characters in Search of an Author,OOO KRG 1921).

Dari apa yang akan kita lihat nanti, terbukti bahwa Lan Fan punya pengalaman membaca dan pengalaman batin yang lumayan. Kilatan merupakan cara pengarang mengacu kepada fakta sejarah, pada kisah tokoh, pada karya sastra, pada kisah-kisah dari Kitab Suci untuk menghidupkan karyanya.

Pembaca yang kurang membaca mungkin akan ketinggalan kereta dari pengarangnya yang banyak memakai kilatan. Penyair Inggris kelahiran Amerika, T.S. Eliot sangat suka memakai kilatan dalam puisinya. Sumber yang dipakainya beragam, dari karya sastra sampai ajaran agama Hindu.

Kilatan yang dipakainya merujuk ke karya sastra klasik sampai yang lebih baru, dari Salome karya Oscar Wilde dan Joseph Conrad yang baru, sampai karya Andrew Marvell, Dante, Chaucer, Shakespeare dan lain-lain.

Penuh ungkapan puitis

Sepanjang perjalanan membaca Lelakon, kita disuguhi membanjirnya ungkapan puitis, yang tidak mengada-ada, bahkan mengejutkan karena sangat tepat. Kita comot saja secara acak “sepi yang terasa menguliti”, “berceloteh seperti uang receh,”, “Mon ingin mendengarkan suara lain yang bukan suara manusia. Juga ingin melihat wajah lain yang bukan wajah pendusta.” (hlm 59).

“Di dalam bola kristal hanya ada hening, sedang ia juga rindu bising” (hlm 91). Lalu: “Katanya, bunga dalam rangkaian seperti sepenggal kenangan yang tertinggal. Tak pernah mengutuh karena terlalu rapuh. Layu untuk mendebu. Sedang ia yang tertanam seperti kenangan tanggal yang janggal. Tak mungkin luruh walaupun jauh. Selalu untuk selalu.” (hlm 110).

Sebagaimana telah disinggung di atas, Lan Fang banyak memakai kilatan dari berbagai sumber. Dari pewayangan dengan leluasa dia berkisah tentang kematian Bisma yang berbantalkan anak panah. Dia bercerita tentang Hyang Ismaya yang sesumbar bisa menelan Gunung Garbawasa tetapi tidak mampu mengeluarkannya kembali sehingga perutnya membesar tersodok gunung. Dia menyebut Sarpaneka, anak hasil nafsu Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi yang gagal menghayati Sastra Jendra. Dia juga menyebut Drupadi yang tidak menyanggul rambutnya karena kainnya disentuh Dursasana. Kalau kita tak pernah membaca Bale Sigala-gala, pengembaraan Pandawa secara rahasia lantaran kalah berjudi, pasti tak mampu memahaminya.

Jangan sewot membaca kisah Drupadi yang berpoliandri dengan Pandawa saat Lan Fang mengobrak abrik kisah pewayangan menjadi kisahnya sendiri, yang membuka aib Drupadi serta kelima suaminya. Hal ini tidak bisa dianggap sebagai pelecehan budaya, sebab Lan Fang sekedar mengolok-olok manusia yang sering dianggap suci namun kenyataannya sebaliknya.

Dari karya sastra Eropa, Lan Fang memakai “The Beauty and the Beast” dalam kilatannya. Juga menyebut Gretel dari kisah kuno. Dia juga mengambil kisah-kisah dari agama-agama Ibrahim, dengan leluasa menyebut nama-nama Tuhan dalam kosakata mereka masing-masing, dan menegaskan bahwa Tuhan hanya satu.

Masih banyak lagi kilatan yang dipakainya, soal Dayang Sumbi, Aladin, bahkan Medusa wanita berambut ular, yang bisa terbunuh karena Perseus memakai cermin untuk memantulkan sorot matanya yang mampu menghancurkan apa saja.

Jam 03.00 di rumahnya di Pepelegi, Sidoarjo, Lan Fan terbangun dengan laptop masih menyala, ragu tentang kemampuannya untuk meneruskan kisahnya. Dia tak mau membandingkan dirinya dengan Tuhan yang Maha pencipta, hanya sebagai tuhan kecil yang mengadakan dan meniadakan tokoh-tokohnya.

Memang sejumlah pengarang membandingkan dirinya dengan dalang yang bermain dengan wayang, namun harus diingat bahwa tokoh-tokoh wayang sudah ada, dan seorang dalang tinggal memainkannya. Ini sesuai dengan pendapat Elizabeth Bowen yang menulis “Notes on Writing a Novel” (1946). Bowen percaya bahwa istilah penciptaan tokoh menyesatkan. Baginya, tokoh sudah ada (pre-exist), mereka ditemukan dan dikenali oleh pengarangnya. Bukan diciptakan.

Makin lama Lan Fang merasa bebas mencampur adukkan antara fiksi dan kenyataan dan sebaliknya.. Ini jelas terlihat di dalam novel terbarunya Ciuman di Bawah Hujan (2010).

Dia juga menyatakan terus terang disini bahwa dia sengaja tidak memberi kata penutup pada novelnya ini sehingga dia membiarkan pembaca membuat peutup sendiri, apakah Fung Lin (yang deskripsinya mirip sosok Lang Fang) yang bikin bingung seorang caleg yang jatuh cinta padanya karena pada saat-saat kritis bisa bicara soal hal-hal remeh.

Dia sudah membingungkan Ari, seorang anggauta dewan yang tertarik pada apa yang dikerjakan Fun Ling dengan para TKW, karena dia juga turun tangan dalam masalah pengiriman TKW ke Arab Saudi sampai melepasnya di pintu bandara. Soalnya, sekarang Ari diminta membaca calon novel!Pada novel berikutnya mungkin dia suruh kita bikin novel sendiri. Bukankan Ciuman di Bawah Hujan merupakan novelnya ke sembilan, angka tertinggi yang dia percaya sebagai karya puncak. Entahlah.***

* Sunaryono Basuki Ks, sastrawan tinggal di Singaraja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *