Pohon

Maroeli Simbolon
sinarharapan.co.id

KONON. Tersebutlah desa yang indah permai. Namanya termasyur di jagat raya. Keindahannya adalah taman impian.

Desa ini dibatasi dua sungai yang bening; tempat ikan dan udang menari. Keramahtamahan penduduknya, wah, tiada banding, tiada tanding: saling menolong dan tepo saliro. Bahkan angin merasa berdosa jika tidak mengabarkannya. Maka tak mengherankan bila dunia selalu membicarakannya.

“Penduduknya ramah luar biasa.,” ujar warga asing bermata sipit.

“Sopan santunnya terpelihara,” puji warga asing berkulit hitam.

“Senantiasa tersenyum bak bunga bakung di taman,” tanggap warga asing berambut jagung.

Begitulah! Kehidupan desa ini adalah buah bibir. Tak pernah sepi dari kunjungan wisata. Berbondong-bondong turis datang melihatnya. Malah tak sedikit desa lain menjadikan desa ini sebagai contoh atau panutan. Maka, itu yang menjadi alasan penting mengapa para peneliti mancanegara dari berbagai bidang ilmu melakukan riset.

“Desa yang menakjubkan!” decak mereka begitu menikmati suasana desa. “Harus ditulis. Desa ini adalah sejarah sepanjang masa.”

Lalu mereka meneliti lebih intens. Setiap jengkal diteliti dengan saksama dan dalam tempo yang seluas-luasnya. Bahkan tak sedikit yang dianggap aneh bin unik diperiksa di laboratorium. Dan entah tenaga gaib dari mana, semakin giat mereka meneliti semakin tersedot ke tengah desa. Ada kekuatan dahsyat yang menarik mereka, dan mereka tak kuasa melawannya. Hingga akhirnya mereka terdampar di depan sebatang pohon yang teramat besar ? berdiri angkuh persis di tengah desa dan siap melahap habis isinya.

Para peneliti terbelalak setengah mati. “Wah, pohon langka!” teriak mereka tak percaya. Pohon menatap mereka dengan tajam, menyimpan kilat kekejaman.

Seketika mereka bergidik. Angin bergidik. Langit bergidik.

“Pohon apakah ini?”

Belum lagi pertanyaan mereka berjawab, mereka semakin terperangah begitu menyaksikan penduduk berduyun-duyun menyembah pohon itu sembari memberi sesaji yang luar biasa banyak ? berupa berlian, mobil, rumah, hotel, dan wanita cantik. Sesaji dipersembahkan dengan khusuk.

“Aneh bin mustajab,” pekik peneliti dari Arab. “Bukankah mereka teguh memeluk agama?” teriak peneliti dari Inggris.

“Malah dikenal paling taat menjalankan ibadah,” ucap peneliti dari Rusia. Bingung.

“Apakah mereka sudah ganti agama?” tanya peneliti dari Prancis. “Ya. Siapa tahu mereka telah mengganti tuhannya?” tanggap peneliti dari Cina.

“Kukira pohon sebesar ini cuma ada dalam dongeng,” desis peneliti dari Jepang.

“Benar-benar tak masuk akal!” sengau peneliti dari Jerman dengan kening berkerut.

“Atau, mungkinkah mereka sudah gila?!” sungut peneliti dari Afrika.

Bersama awan yang bergulung, para peneliti digulung kebingungan. Bahkan terbodoh. Semua rencana dan program yang sudah tersusun rapih jadi terganggu. Semua ilmu yang mereka pelajari seperti tak berarti apa-apa. Pohon itu tetap menjadi misteri yang mencengangkan. Akhirnya, dalam keletihan dan ketidakmengertian mereka adakan diskusi darurat. Silang pendapat terjadi. Teramat alot. Tetapi solusi tetap tak tercapai. “Pohon angker…” desis mereka berselimut kabut.
***

BERSELIMUT misteri para peneliti terus bekerja. Lebih serius. Data dan fakta dikumpulkan. Sejumlah sumber dihubungi. Tetapi semakin dalam mereka membongkar misteri pohon itu semakin dicekam keanehan; apalagi tak seorang pun yang tahu asal muasal pohon itu ? kapan tumbuhnya dan siapa yang menanamnya. Penduduk yakin, pohon itu tumbuh secara ajaib. “Suatu pagi, kami sudah melihatnya. Ya, begitu saja.” “Dewa yang menanamnya.” “Atau, kuasa dari langit.” “Dan kami sangat yakin, pohon ini titisan dewa.” “Pohon keramat; tempat bersemayam makhluk-makhluk suci.” “Memberi kami kesejahteraan. Lihat, kami sukses dan gemuk-gemuk, hingga tujuh turunan.” “Sejumlah Petinggi Desa dan Penasihat Desa malah lebih tekun menyembahnya.” Maka para peneliti kehilangan akal. Angin kehilangan jejak. “Pohon misterius?” desis mereka. “Lebih misterius dari mumi.” Dan para peneliti terpaku dalam ruang pikiran masing-masing. Misteri pohon itu menuntut pemikiran kredibel. “Mungkinkah pohon itu seperti dewa matahari?” “Mungkin saja. Mereka memang mendewakannya.”

“Ya. Mereka menyebutnya dewa segala dewa.” Lalu, bersama angin yang berputar-putar, para peneliti terkapar dalam kehampaan. “Jangan-jangan pohon itu lambang ajaran baru?” “Maksudmu, kepercayaan baru?” “Ya. Buktinya, mereka sangat tunduk pada pohon itu. Bahkan mereka siapkan dana khusus untuk merawatnya. Seperti baru-baru ini dihabiskan 90 dan 45 emas.” “Mereka mati-matian membelanya, hingga tetes darah terakhir.” Akhirnya para peneliti terseret gelombang ketakutan yang maha dasyat. Bulan berkarat di pelukan awan hitam dan burung hantu merintih pilu di bubungan menara. Para peneliti jatuh terkapar di bawah pohon itu. Seketika itu juga mereka menjerit histeris. “Astaga!” teriak mereka bersamaan. Biji mata meloncat berputar-putar. Napas terhenti. Mereka berusaha lari, tetapi lutut hilang daya. Sekujur tubuh mendadak matirasa.

Mereka menyaksikan di pohon itu beranak-pinak segala jenis hewan berbisa seperti ular dan kalajengking. Gemuk-gemuk, nyengir dengan air liur bau anyir. Sementara pohon itu mendesis dengan mata berkilat haus darah. Tiba-tiba petir menggelegar luar biasa. Bulan lari ketakutan dan bersembunyi di balik awan pekat. Dan dari balik awan, ribuan burung hantu melesat turun. Lalu berputar-putar mengitari pohon itu dengan suara memekik-mekik tajam. Pohon itu semakin mencekam, menatap tajam. Hewan-hewan berbisa yang memenuhinya tertawa menyeringai. Para peneliti membisu biru. Wajah seputih kapas kering. Keringat menderas terjal. “Jangan-jangan pohon ini pohon hantu …” Seketika bulan meleleh. Petir menyambar-nyambar buas.
***

SUBUH. Bunyi tetabuhan dan nyanyian pemujaan memecah kelengangan desa, mencabik-cabik rongga dada. Penduduk sedang melaksanakan upacara ritual. Kaum pria memainkan alat-alat musik tradisional, sementara kaum wanita melolong-lolong sambil menari-nari histeris. Bergerak ritmis mengitari pohon itu. Kutang-kutang mereka diacung-acungkan tinggi-tinggi. Dan ternyata, di cabang-cabang pohon tergantung mayat para peneliti dengan mata melotot dan lidah terjulur darah kental. Tali menjeret leher.

Hewan-hewan berbisa berpestapora di tubuh menikmati sekujur tubuh para peneliti. “O, pohon keagungan. Nikmatilah persembahan kami. Telah kami persembahkan sesaji paling mulia. Terimalah untuk kesucian kami dan desa ini?!” teriak pemimpin ritual tengadah ke langit jingga. Disambarnya botol arak, diteguknya setengah, lalu sebagian lagi disembur-semburkannya ke arah pohon.

Penduduk menyambut dengan teriakan histeris. Ada yang menjilati tanah. Ada yang bergulingan. Bahkan ada yang memukul-mukulkan kepalanya ke batang pohon hingga berdarah. “Ampuni kami, o, pohon kebaikan! Berilah kami rezeki melalui tangan-tangan sucimu!” ratap pemimpin ritual dengan tubuh bergetar. Dia berputar-putar mengitari batang pohon, lalu diciuminya berkali-kali. Dan untuk kesekian kali disambarnya botol arak, diteguknya hingga tandas.

Matanya merah tuba. Pohon itu terkekeh puas menyaksikan upacara ritual itu. Tubuhnya sampai terguncang-guncang. “Bagus, bagus. Mari bersulang untuk kematian,” desisnya. Hewan-hewan berbisa di sekitar pohon ikut tertawa. Lalu berdansa ria dalam kelabu persundalan. Musik semakin bertalu-talu. Jerit-jerit histeris semakin mengerikan. Bahkan menjadi lolongan anjing-anjing kekelaman. Langit pecah tuba. Sejak itu, di sekitar desa ditandai garis-garis kuning. Dan nama desa semakin termasyur dengan sebutan baru: DAERAH TERLARANG!

Jakarta, 2002.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *