Politik Budaya Lokal

MT Arifin
http://www.suaramerdeka.com/

SAUDARA Wisnu dari Terang-Abadi TV berceritera bagaimana problem nuansa lokal dalam tayangan medianya. Soalnya memang pelik. Belum ada keseimbangan tentang waktu, sumber daya dan penanganan serius, sedang rata-rata kemampuan iklan baru mampu menutup 80% biaya kegiatan.

Banyak kerja rangkap dan belum mungkin merangkul production house. Dari apa yang tertangkap, pemihakan terhadap nuansa lokal butuh persiapan taktis. Keterbatasan menjadi kendala yang berpengaruh terhadap pilihan-pilihan program. Sajian budaya baru pada taraf reportase visual, belum berhitung citarasa artistik tinggi.

Sajian budaya memang perlu citarasa. Mempertajam gambaran dengan kepribadian khas. Februari lalu, Sdr Agung (Kompas) ingin mengangkat Solo dalam liputan khusus. Mungkin karena kota itu tengah ber-ultah, sekaligus ingin membuat gebrakan untuk pembaca. Dengan menimbang latar sejarah, subkultur dan kepribadian, citra, busana, olah tubuh, ria, namun tidak mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik, diturunkan laporan hingga empat halaman, hanya untuk soal “putri Solo”.

Kemauan Politik

Surat kabar lokal umumnya memberi ruang khusus budaya lokal. Itu habitatnya. Suara Merdeka, atau Solo Pos punya rubrik Sang Pamomong, Gunungan, atau Wayang Mbeling, disamping reportase sastra dan kesenian lain. Mungkin saja secara tematik dianggap tidak pas, atau bahasannya dianggap cethek dengan kabar-kabur. Bahkan beberapa tahun lalu, Sdr Hendro Basuki maupun Triyanto Triwikromo (SM) saat menjadi desk kebudayaan mengeluh, karena sajian yang diisi tokoh andalan mereka yang cukup ternama, sangat kental dengan nuansa klenik.

Sajian kebudayaan lokal memang membutuhkan garis yang jelas dalam kepedulian dan kemauan politik media, baik dari pemilik maupun pengelola. Kesadaran itu sangat penting, karena misi, khalayak sebagai sasaran dan citarasa yang dimaui akan ditentukan kehendak pemilik, sedangkan politik pemberitaan merupakan otoritas dari kerja profesional pengelola.

Di sini pengelola akan menghadapi pilihan yang tidak mudah. Di satu pihak harus mampu mengejawantahkan gagasan mereka yang merasa berkepentingan terhadap media itu. Di pihak lain harus berani menghadapi kenyataan, baik kendala dan peluang dari keadaan dan fluktuasi pasar, maupun tantangan dari pengaruh dinamika sosial-politik serta persaingan bisnis yang bersifat killing business.

Namun yang tak kalah menarik, bagaimanakah keberpihakan dari media terhadap nuansa dan budaya akan wujud? Dengan kiat dan cara teknis yang seperti apa? Saya jadi ingat Sdr Halim HD, yang dalam pelbagai diskusi sering mengritisi gelar seni tradisi yang sifatnya klangenan.

Juga polemik gelar wayang kulit yang digelitik Sdr Bambang Murtiyoso, terhadap pilihan yang sulit antara mutu, sesuai pakem dan payu karena disenangi penonton.

Ini merupakan persoalan dalam sajian. Pertanyaannya, apakah reportase media akan disajikan bagai klonengan yang sering disiarkan radio?

Ataukah akan dikelola lebih serius sehingga mampu membangun citra dan dinamika budaya?

Misal dengan merintis model new journalism, yang dikembangkan melalui oplosan antara reportase dan gaya penulisan novel, dengan ciri-ciri: peka terhadap detail, ada keberanian reporter menambahkan unsur-unsur fiksi, serta ada partisipasi dari reporter ke dalam objek yang hendak dilaporkannya.

Jika media beriringan untuk berpihak terhadap kebudayaan lokal secara lebih baik, reportasenya memang perlu diolah secara lebih spesifik. Berbeda dengan reportase faktual yang hanya didasarkan fakta konkret serta menghindari masuknya opini. Reportase budaya yang hanya bertumpu pada faktual, cenderung memungkinkan untuk menurunkan daya kultural dari objek yang diliput.

Model itu sering menghasilkan bentuk-tanpa-makna. Budaya butuh penafsiran dan pengejawantahan. Bangunan, bentuk dan ragam serta gaya kesenian, pranata sosial, bahasa, alat perlengkapan hidup dan tulisan sebagai dinamika kreatif dalam mencipta, menyerap unsur luar dan mengolah, harus tergabung dalam suatu ikatan fungsional.

Untuk terus hidup, mereka tidak boleh terpisah dari eksplanasi kesejarahan, lingkungan sosial, serta dilengkapi mitis sebagai proyeksi kehidupan sosial yang menyatukan unsur teoritis dan unsur penciptaan artistik.

Kinerja Media

Sebagaimana yang sering kita cermati terhadap reportase dan sajian kebudayaan lokal, cenderung tidak memiliki kekuatan dan ke-moncer-an menghadapi berita-berita lain, terutama politik dan kriminalitas. Terasa marjinal dan karena membutuhkan “injeksi” reportatif, yang di dalamnya mengandung rumusan dan penjelasan yang lebih komprehensif, aktual dan menarik.

Jika memang mendapat perhatian dan akan diperbaiki, maka menuntut kinerja media yang berubah, serta lebih terencana, serius dan memadai.

Menurut pengalaman saat mencari solusi strategik terhadap pelbagai masalah dalam kemediaan, memang tampaknya ada beberapa hal yang perlu dikaji kembali penataannya. Setidaknya dapat ditilik dari beberapa alurnya.

Pertama, berkaitan dengan kedudukan, arah dan kebijaksanaan umum terhadap budaya lokal dalam reportase dan sajian feature, profil, artikel, opini, baik pada tingkat keberadaan, intensitas maupun porsinya. Keberadaan reportase dan sajian berkaitan dengan wawasan kebudayaan. Seperti apa sih, kebijakan, rancangan kerja dan langkah darurat yang memang disiapkan.

Yang memadai bukanlah sekadar mendekati budaya dari gelar seni. Cakupannya luas, sejak fakta-fisik hingga fakta-sosial. Bangunan, bentuk dan ragam serta gaya kesenian, pranata sosial, bahasa, alat perlengkapan hidup, tulisan dan iptek. Juga tradisi pikiran dan gagasan, serta peristiwa sosial yang menonjol dan terpola, ditengarai memiliki kaitan dengan problem pokok aras masyarakat.

Keseimbangan misi dan pasar perlu menghasilkan perencanaan taktis, dengan program kegiatan dan bentuk kekuatan reportase yang cerdas. Misal keputusan desk kebudayaan yang kuat dengan tim hunting beserta investigative report.

Di sini muncul tantangan, apakah media siap untuk meningkatkan model reportase dari berita-kalengan (canned news) yang selalu didasarkan standarisasi dalam gaya-struktur-bentuk, menjadi berita eksklusif dengan depth-report, sehingga memiliki kekuatan eksplanatif yang tinggi.

Kedua, kepedulian mengangkat budaya lokal lebih serius, indikasinya akan terlihat dari dukungan bank data, kerja sama reportase lintas media, konsultan serta berlangsungnya hubungan interdependensial dengan lembaga atau badan yang otoritaritatif. Berdasar pemahaman terhadap pengelolaan media, kesiapan ini akan mempengaruhi mutu dari daya intelek reportase, yang terlihat melalui beberapa hal, yaitu , pelbagai dukungan tersebut akan menentukan sejauh mana kesigapan dalam rangkaian mengetahui dan mengikuti peta dan tendisi kejadian, guna menentukan titik tolak, cakupan dan bentuk keberpihakan. Kesigapan dan pengembangan politik pemberitaan yang eksklusif bersifat spot news atau trends news, kelaikan untuk diperdebatkan atau disajikan melalui bentuk-bentuk reportase yang diperluas.

Menuntun pengayaan referensi, bahan-bahan sekunder dan hasil penelitian. Guna menentukan mutu standar dari reportase dan sajian, serta pengembangan peta masalah, agenda dan prediksi.

Ketiga, dampak dari kemampuan mengangkat budaya lokal, akan tercermin dalam opini publik. Meski pencermatan McQuail terhadap ketidakpastian dampak pemberitaan media tidak dapat disangkal, namun cara kerja dan sajian yang bermutu, greget dan konsisten, biasanya menarik perhatian publik, sehingga membangun pencitraan, otoritas dan pengakuan sosial. Indosiar, TPI, atau TVRI Surabaya dianggap memiliki komitmen terhadap budaya etnik karena gelar wayang.

Demikian pula pencitraan wayangan anak muda SM dalam rubrik Wayang Mbeling yang dulu pernah ada. Pencitraan, otoritas dan pengakuan sosial seringkali dapat melahirkan trade mark dan kesan mendalam. Itu memiliki pengaruh terhadap kredibilitas rubrik, serta komitmen dari penyaji dan pengelolanya. Jangan dilupakan, masih ada muara lain dari kekuatan sponsorship dari periklanan.

-MT Arifin, Budayawan tinggal di Solo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *