Puisi-Puisi Agus Sulton

Gedung A

Inilah tempatku berteduh, tak ubahnya kandang ayam
yang tidak pernah dirawat pemiliknya.
Bagian-bagian sisinya sudah dibangun seunik mungkin
tetapi, bau anyir tetap menyengat menghantui kedua lubang hidungku.

dibagian sudut bangunan rak kereta, banyak dikelilingi reruntuhan sumur-sumur tua,
dan laki-laki bermainkan bola kristal bercumbu basah dengan pasangan-pasangan pantat tetangga.
juga perempuan-perempuan pembakar sabda?baru saja membuat anak pertama mereka.

bagian sudut ruang belakang, ada lereng seperti bukit yang kosong,
dengan botol Vodka dan secangkir Pop Ice.

Ludah janda adalah udara yang hari-hari harus ku telan dengan paksa,
dalam gua yang banyak keranjang-keranjang besi usang
dan kayu-kayu tua menumpuk di atas terjalan batu beramiskan darah.
?inilah tempat kencan yang umum?

Jombang, Desember 2008

Ladang Jejak-Jejak Dusta

bingkai bunga ini sebagai bukti kau telah menelanjangiku
membelai lukaku dengan tetesan cabe yang sudah kau tumbuk.
Luka pipi ini bukti kau menghantam dengan tumpukan batu di meja ruang tamu,

tak ada hasil untuk melupakan jejak kutukan sabda malam,
belotan kayu tua itu?dihamparan ladang jejak-jejak dusta bersama dengan
foto-foto gadis telanjang di depan rumahmu?mengutuk dengan sebilah arit pada
leher tangga yang sudah kau bangun untuk istri palsumu.

Kamu sejenis hewan tanpa ada detik siklus, anak-anakmu telah
kau lantarkan dikolong-kolong got, bercampur darah perawan-perawan pesakitan,
menyengat bau anyir, menonjok kedua lubang hidung, menyibak
ikan-ikan pada fantasi keheningan; keruh dan berlumpur.

Jombang, 08 Maret 2008

Darah Perawan Tua

Ranting-ranting pohon pala telah melahapmu,
menyatu pada gumpalan beton yang bernafas dengan burung-burung perkutut.

Matamu melantunkan air kebohongan
Tanganmu ada segumpal racun, menyatu
dengan pigora yang telah kau banting.

Kakimu ada delapan rantai
Menerkammu, membekas coretan bekas pisau.
Suaramu melantunkan tembang dusta, walau
buku kumel menumpuk di sudut ruang tamu?dekat
keris tegak sejajar di atas bangku; berderet
rampasan bendera, dan sebotol racun yang siap membunuhmu.

Di sebelah kanan ada sebuah asbak kayu dan beberapa potongan lidah bercampur
putung rokok bekas rentetan tragedi selasa kemarin.
Di sudut almari kacamu ada dua potongan kepala, dan
lantaimu kotor bekas kucuran darah dari sabetan paha tetangga.

luka telah menghantuimu bercampur nafsu,
isterimu telah kau racun dengan tetesan perjamuan kucing-kucing tak berdosa,
mulutmu bau jengkol, bukti kau mencuri dikebun tetanggamu,
lehermu memerah, menyatu dengan warna tembokmu yang sudah kau oles
dengan darah perawan tua.

Jombang, April 2008

Dinding Berpoles Nisan

lonceng malam sudah berbunyi, pertanda kelumunan mantra mulai diledakkan. Asap-asap yang menyimpan kekuatan itu, segera tergelincir
diantara dinding-dinding berpoles nisan.

Jombang, 12 Januari 2006

Mencium Aspal

ia telah menerjangku diantara pagi yang masih berkabut dan rahang-rahang
aspal telah menciumnya.
Mula-mula hanya ramalan yang tak sampai
ditiup angin. Akhirnya kami terjerumus dalam kerumunan nafas tersengal
dan sidikit berbusa.

Jombang, 24 Agustus 2005

Menghapus Air Mata

Jika suatu saat jemari ini tak mampu lagi menghapus air mata
yang jatuh berderai dalam sedu-sedan, maka tak perlu ada lagi
nestapa yang memberi arti apa-apa, jika pengorbanan dimaknai sebagai beban
dan bual semakin bebal?tibalah noktah titian
yang melacurkan ketulusan.

Siapa lagi yang hendak mengais sampah?
bukankah kita harus mengerti diri sendiri,
untuk mengerti yang lain?
Ego bukan dogma yang selalu didamba, sekalipun ego terlampaui jauh?menjulang tinggi.

Jombang, 2 Juni 2005
*) Tinggal dan berkarya di Ngoro, Jombang, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *