Sajak-Sajak Azizah Hefni

http://www.suarapembaruan.com/
Di Sebuah Jadwal

Di sebuah jadwal,
Aku melihat lingkaran merah pada tanggal
Bulan depan, adalah kunjunganmu yang kesekian
Di sebuah jadwal,
Aku melihat lingkaran pada tanggal.
Kau raih kepala dan mengalirkan doadoa
: kekuatan sendiri dan mandiri
Di sebuah jadwal,
Aku melihat lingkaran merah pada tanggal
Tertentu waktu aku mendapat penawar rindu
Dan di tanggal tujuh, aku jemput senyum pelangimu
Yang menyisihkan sembilu
Pertemuan dalam lingkaran merah
Seperti kesakralan
Mendewasakanku untuk belajar banyak hal.
Pelan-pelan.
Dan di sebuah jadwal, aku harus melingkari
hijau pada tanggal
Waktumu beristirahat di padang rerumput
Dan tak seorangpun bisa menjemput
Terlalu jauh
Kenapa hijau?
Aku hanya dengar angin berbisik,
Kedamaian ada di sana.
Sampai senja tiba, aku tak juga sangka
Kau tak lagi ada.
Bisakah kulingkari lagi sebuah tanggal
dengan warna merah?
Hujan basah.
Tidak akan bisa.
Segalanya sudah kembali pada tempatnya.

Malang, 15 Maret 2007

Penjajahan

Terjajah
Sungguh jengah
Hujan coba netralkan,
Tapi tak sampai badan.
Terjajah.
Sungguh bedebah.
Sumpah,
Ruangan ini tak akan lahirkan sarjana,
Tapi manusia-manusia yang terlalu lelah
Aku merasa terjajah
Pada masaku sendiri.
Pada tiap siang yang tak tahu diri.

Kelas, Malang, 29 Maret 2006

Jejak-jejak

Jangan kau pikir aku lupa
Pada malam yang mengantarkanku
pada sebuah lorong rahasia.
Kita sudah mengukir jejak pada batu
Dan aku menyimpannya di sudut museum itu
Bahkan seekor semut yang melintasi jari-jari kaki kita
Masih sibuk termenung di atas batu
Jejak-jejak itu tak akan hilang
Seperti jejak para nabi,
Masih tercium aromanya sekalipun tanah sudah basah
Jam seperti menuju angka tiga belas.
Samar, dan aku berdebar.
Tengah malam.
Kau tidak beralas,
Namun kenakan kain bulat putih pada kepala.
Batik itu rapi, kapan kau menyetrikanya?
Sekalipun hanya jejak,
Tapi ini pertanda keberadaan
Sejarah kita tak akan hilang,
Walau waktu merangkak dan tak terbilang.
Ukirlah jejak di tanah depan rumahmu.
Tanahmu dan tanahku kini sudah berbeda.
Batu jejak itu basah.
Mataku yang membasahinya.

Malang, 15 Maret 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *