Sajak-Sajak Heri Latief

Sekarang aku tau…

setelah bisa membaca segala macam berita, juga cerita dari mulut ke mulut yang bergetar kerna pedihnya trauma, betapa kejamnya bangsaku membantai sodaranya sendiri.

ratusan ribu halaman buku, jutaan kata kata, tak bisa menggambarkan kengerian tragedi kemanusiaan, kisah air sungai berdarah di bengawan solo, kesedihan tenggelam dalam ketidakpastian, manusia kapan sadarnya??

sejarah di abad yg lalu, pastinya orang tau, tragedi berdarah 1965, yang menghancurkan tali kekeluargaan orang indonesia, dan sampai saat ini sejarah bangsa kita masih tetap gelap, segelap malam tanpa harapan…

sekarang aku tau
kekacauan bangsaku akibat kegelapan
sejarah kekerasan negara terhadap rakyatnya

Amsterdam, 23/09/2010

Devaluasi Politik

semilyar jadi sejuta
sejuta jadi seribu
seribu jadi seperak

korupsi tetap jalan
janji tetap bohong
intrik makin panas!

Amsterdam, 19/09/2010

Revaluasi

cerita panas seperti kulit bengkak kerna digaruk
ribut ribut rebutan order proyek kerajaan
janjinya politik sirkus munafik jungkir balik

semua yang benar dibabat tanpa kasian
penjahat berpestapora menjarah kas negara

rakyat kecil melongo bengong di pinggir jalan
paduka mau lewat minggir lu semua!

tak ada lagi harapan pedihnya kenyataan
ketika sepiring nasi campur dicampur dendam
tangan tangan bersatu terkepal membatu

Amsterdam, 19/09/2010

Misterius

sebatas kata manusia punya cerita
tanpa koma kau sibuk berkicau parau
rintik gerimis membasahi kenanganmu
hujan dan angin bercumbuan makin seru
ruang hampa dalam hati terluka sayang
langit musim gugur muram dan geram
matahari sembunyi di balik awan hitam
misterius seperti layaknya lukisan alam

Amsterdam, 17/09/2010

Janji hujan

menggali memori di melodi sebuah lagu yang kita kenal
suatu senja di minggu ketiga bulan september berduka
langit di atas rembrandtplein menjanjikan musim hujan

rindumu dipeluk napsu bisu terpaku bengong di pojokan
tak ada lagi kabar angin diulang ulang mendulang emosi

siapa berani melawan lukanya derita?
jika aku setitik debu bisa terbang melayang
maka terkutuklah semua yang tertulis itu

buang dan jangan dipungut lagi!

Amsterdam, 16/09/2010

Tradisi

aku tak tau apa maunya ketika semua sudah dipersembahkan semuanya bisa batal demi romantisme memuja batu merayu rembulan lantaran kau tak mau mengerti kemampuan manusia dibatasi tembok tradisi bisa membuai dan membutakan api lalu kau lupa setitik debu melayang di kehidupan kita dari hari ke hari seperti roda yang berputar searah tanpa jeda tanpa menunggu siapa yang telat menuliskannya?

Amsterdam, 16/09/2010

Menunggu hujan?

menunggu sesuatu keajaiban
yang diharapkan berjuta jejak kaki di pinggir jalan
bergaul dengan debu jalanan
tersesat dalam kenangan
menolak belas kasian
melawan dan melawan dengan perhitungan
menerobos segala duri dan rintangan
cerita sampai ke ujung rambutnya
yang terurai melewati bahu
hujan bukan halangan
pergilah jangan diam!

Amsterdam, 16/10/2010

Di pinggiran

gelap di balik hati yang rusuh di badai budaya runtuh luruh menggemuruh swara ketidakadilan kerna terhina dan tertindas pemikirannya

nyala api semangat tetap dijaga gabungan dari semangat dan nekad jadi satu lalu memancarkan cahaya hati berbunga dan menjelma dalam misteri sajaknya orang pinggiran yang berakar pada rumput liar di pinggir jalan di pinggiran kita mencoba bangkit dan melawan

Amsterdam, 16/09/2010

Kaca

sesudah sajak dibedah. isinya ternyata sejarah. pengalaman hidup manusia biasa seperti kau dan aku. tak ada yang istimewa kecuali emosi. siapa yang mengerti nyanyian anak jalanan, balada di senja menjelang malam.

ah, kau tak tau apa yang ditulisnya, bukan melodi angin ditimpa hujan, bukan juga rintihan kenikmatan. tanpa segudang kegagalan, tak mungkin bisa mengaca pada diri sendiri.

riwayat setitik debu terbang di alam nyata, cerita seru jangan disimpan di laci memori.

rinduku hanya sebatas dunia maya. kasian.

Amsterdam, 15/09/2010

Hanya

sebaris puisi, hanya sebaris, sepi.?

Amsterdam, 15/09/2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *