Sisa-Sisa Suaranya itu?

Danarto
http://majalah.tempointeraktif.com/

Hamid Jabbar,
penyair yang berdendang itu
telah kembali ke lautan kekal puisi.

Setiap bertemu Hamid Jabbar, berderai senyum teman-temannya. Bukan karena apa, melainkan tersebab bagaimana tubuh yang kecil itu begitu energetik. Seperti tak kenal lelah. Seperti seluruh elan vital teman-temannya terkumpul di dalam tubuhnya seorang. Tentu tak mudah diburu, dijebak, diringkus seluruh ide-ide itu, tapi seperti mudah saja baginya menulis puisi itu. Tentu Hamid punya kiat sendiri untuk selalu terpanggang api puisi. Ia menulis dan berdendang, terus, terus, dan terus. Isu-isu politik lalu tiba-tiba saja menjadi baris-baris kalimat di dalam ponselnya yang panjang, yang rasanya benda logam itu dibuat pabrik khusus bagi para penyair.

Tubuhnya yang semakin kurus tak mengurangi perangainya yang gembira, ia memeriahkan diskusi-diskusi sastra, politik, dan kebudayaan. Ia, yang lahir 27 Juli 1949 di Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat, menghardik dan marah terhadap pemerintah dalam diskusi politik, meskipun tugas kehadirannya untuk membaca puisi.

Bersama Wisran Hadi, ia mendirikan Bumi Teater di Padang, dan beberapa kali mengadakan pertunjukan. Demonstran Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia di Sukabumi, 1966, ini juga menulis cerpen, esai, dan novel. Ia pernah menjadi mandor perkebunan, kepala gudang, wartawan, asisten manajer administrasi keuangan, dan sekretaris Dewan Kesenian Jakarta (1993-1996), dan jabatan terakhirnya redaktur majalah sastra Horison.

Pertunjukan puisinya sudah digelar puluhan kali. Ia pernah muncul bersama istri dan putrinya di TIM dengan memukul-mukul rebana. Pernah mengisi baca puisi bulan suci Ramadan bersama para penyair papan atas, baca puisi di “Kenduri Cinta Emha Ainun Nadjib” dengan Kiai Kanjeng-nya setiap bulan di TIM. Memimpin acara Istiqlal International Poetry Reading di Masjid Istiqlal, Jakarta. Dan pada 1995 muncul dalam baca puisi bersama para penyair terkemuka Belanda di Den Hague.

Sejumlah buku puisinya sudah terbit. Paco-Paco (1974), Dua Warna (1975), Wajah Kita (1981), dan Super Hilang (1998) merupakan buku puisi paling tebal, 397 halaman, berisi 143 puisi. Ketika berusia 25 tahun, ia menyimpulkan bahwa hidupnya tak lebih dan tak kurang adalah semacam kumpulan pecahan-pecahan dari berbagai ragam alam pengalaman. Di sinilah agaknya sikap berpuisinya tampak. Sajak-sajaknya campur-baur antara yang ingar-bingar realitas sosial dan yang kelam. Juga perpaduan keduanya. Satu di antaranya yang sudah menjadi cap baginya dan disenangi penonton adalah:

Proklamasi 2

Kami bangsa Indonesia
dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia
untuk kedua kalinya!
Hal-hal yang mengenai hak asasi manusia, utang-piutang,
dan lain-lain yang tak habis-habisnya, insya Allah, akan habis
diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo
yang sesingkat-singkatnya
Jakarta, 25 Maret 1992
Atas nama bangsa Indonesia
Boleh siapa saja

Beberapa hari menjelang kepulangannya ke kampung sejati, Hamid banyak mengirim SMS kepada saya. Ia mengupas segala kelemahan para calon presiden. Saya senang mendapat masukan darinya. Ia juga mengusulkan pasangan Emha Ainun Nadjib dan Marwah Daud Ibrahim sebagai calon presiden dan calon wakil presiden dan meminta saya mengajukannya kepada Gus Dur. Bagi Hamid, Emha adalah tokoh yang mampu menghidupkan masyarakat yang mati. Dewasa ini, banyak sekali masyarakat yang mati. Mestinya pemerintah meminta pertolongan Emha.

Sebenarnya Hamid itu humoris. Ia doyan lelucon apa saja, termasuk banyolan sedih. Ia doyan pula main bola sodok. Ia cukup piawai. Pernah di Palembang, seusai acara “Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya” yang diselenggarakan majalah Horison dan Ford Foundation, ia menantang saya bertanding biliar. Yang kalah membayar ongkos permainan. Setiap kali ia menang, ia menari-nari dan berdendang mengitari meja biliar. Lagunya sepotong bait yang dinyanyikan Siti Nurhaliza. Tentu saja para pemain di meja-meja lain pada menengok ke meja kami sambil tertawa. Waktu itu jurinya penyair Bandung, Soni Farid Maulana. Dalam sepuluh pertandingan, saya keok semuanya.

Dalam pergaulan, semua sayang Hamid. Ada cerita dari Bagdad, Irak, ketika acara baca puisi internasional. Menurut Taufiq Ismail dan Kiai Mustofa Bisri, di sana Hamid selalu dikerumuni orang yang menyambutnya dengan hangat, sekalipun pakai bahasa tarzan.

Dalam malam cemerlang (insya Allah ia mati syahid), dies natalis Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Jakarta, mengundang Hamid pada 29 Mei untuk memberikan pidato kebudayaan bersama Jamal D. Rahman dan Franz Magnis-Soeseno. Sedangkan Putu Wijaya membaca cerpen dan Franky Sahilatua menyanyi.

Memang, hampir setiap kali baca puisi, Hamid tampak berdendang, menggeleng-geleng, meliukkan batang tubuhnya, melambaikan lengannya, memukul-mukul mimbar, bertepuk. Semua penonton diajaknya bergembira. Sampai pada Sabtu malam itu, ketika ia terkulai di atas panggung sehabis membaca puisinya. Sejenak tepuk tangan penonton berderai. Ketika beberapa menit tergeletak tak kunjung bangkit, panitia menggotongnya ke klinik depan universitas. Namun, Hamid Jabbar telah mendahului teman-temannya, pulang kembali ke lautan kekal puisi.

Dua hari kemudian, Senin, 31 Mei, sekitar pukul 23:00, saya menelepon ponselnya, 081 2815 4634, dan dari seberang sana terdengar sisa-sisa suaranya: “Saya Hamid Jabbar. Saya tak bisa menjawab sekarang. Tinggalkan pesan?.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *