Sketsa Pianis Berjari Empat

Burhanuddin Bella
http://www.infoanda.com/Republika

Kurnia Effendi mengirimkan pertanyaan lewat e-mail, mendapatkan jawaban dalam bahasa Korea, lalu diterjemahkan.

Ia lahir dalam ketidaksempurnaan. Jemari dua tangannya tak lengkap, hanya menyisakan empat jari dengan dua buah jari pada setiap tangan. Tubuhnya pendek, hanya sebatas lutut manusia normal seusianya. Lobster claw syndrome menyertai kehidupan perempuan kelahiran Seoul, Korea Selatan, 9 Juli 1985, itu.

Tapi, di balik serba keterbatasan itu, tersembunyi kilauan mutiara. Dari keempat jari tangannya bisa terdengar simfoni yang indah, melantunkan karya-karya klasik dunia. Dari kakinya yang hanya sebatas lutut, mampu memadukan irama dengan bantuan alat khusus yang menyambungkan ke pedal piano.

Hee Ah Lee, the four fingered pianist itu, sudah membuktikan kemampuannya, memperdengarkan irama indah dari sentuhan tuts-tuts pianonya. Tampil di atas panggung Hall A Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Jumat (11/4) malam, tepuk tangan yang panjang selalu menyertai setiap akhir ia memainkan sebuah lagu. ”Hee Ah telah memainkan musik piano dengan hati,” komentar musisi Dwiki Darmawan.

Itu bukan kali pertama Hee Ah Lee mempertontonkan kemampuannya di depan publik Indonesia. Akhir Maret 2007, ia menggelar konser tunggal di Jakarta. Sepekan berselang, konser itu ditayangkan ulang di sebuah stasiun televisi swasta. Dalam konser itu, jari-jarinya menari lincah di atas tuts piano, membawakan repertoar seperti ‘Anastasia’ dan ‘Fantaisie Inpromptu’ karya Chopin, ‘Simphony No 9’ karya Beethoven, serta lagu-lagu lain seperti ‘Amazing Grace’, ‘My Way’.

Seperti dalam konser bertajuk Sharing The Strength of Love tahun lalu, penampilan Hee Ah Lee Jumat malam itu pun mengundang decak kagum penonton. Berbeda dengan sebelumnya, kehadirannya kali ini bersamaan dengan peluncuran buku The Four Fingered Pianist, An Inspiring True Story of Hee Ah Lee. Ditulis oleh Kurnia Effendi, buku yang diterbitkan oleh Penerbit Hikmah (Grup Mizan) itu menceritakan kisah hidup Hee Ah Lee, sejak lahir hingga menjadi pianis tingkat dunia.

Buku itu mengisahkan pula bagaimana ia menjalani kehidupan dalam keterbatasan, bagaimana ia –bersama ibunya, Woo Kap Sun– menghadapi kendala, masalah, dan cobaan yang menerpa. Juga bagaimana Hee Ah dan sang ibu mengatasinya, melampaui masa-masa itu, bahkan mengubah kekurangan menjadi kelebihan. Sebuah kisah tentang cinta dan kasih sayang seorang ibu yang tumbuh dan mekar dalam diri putri semata wayangnya (Baca juga wawancara dengan Hee Ah di halaman B4).

”Buku ini berhasil menyadarkan kita semua bahwa dengan kekuatan cinta, seorang anak dapat berhasil menemukan dirinya sendiri yang penuh dengan potensi unggul dan menakjubkan,” komentar Seto Mulyadi dalam endorsement buku ini.

Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi melihat dari sisi yang lain. Dia bilang dalam endorsement, ”Kisah Hee Ah Lee adalah tentang semangat, amat inspiratif dan memberi kekuatan.” Sebagaimana Andrea, Asma Nadia, penulis Catatan Hati Seorang Istri, berujar, ”Ketika Hee Ah Lee sedang memainkan sebuah komposisi, sebetulnya yang kita rasakan adalah komposisi nyanyian alam berbaur dengan keunikan kasih sayang Tuhan.”

Sketsa
Pertemuan Kurnia Effendi dengan Hee Ah Lee berlangsung saat pianis berjari empat itu konser di Jakarta, tahun lalu. Sebelum Hee Ah konser, penulis kelahiran Tegal, 20 Oktober 1960, ini mengaku sudah diminta menuliskan perjalanan hidup Hee Ah. Semangat Kurnia memenuhi permintaan itu makin kuat setelah ia bertemu langsung dengan sang pianis.

Semula, kata sastrawan yang biasa dipanggil Kef ini, gagasan awal buku ini adalah tulisan memoar tentang seorang pianis berjari empat, Hee Ah Lee. Namun, oleh karena banyak alasan, tulisan ini kemudian berubah menjadi sketsa-sketsa kehidupannya saja. ”Ternyata tak mudah mendapatkan secara utuh riwayat gadis Korea yang ajaib ini dari jarak jauh, baik secara fisik maupun bahasa,” ujar Kurnia.

Bahan-bahan tulisan diperoleh dari jawaban tertulis atas sejumlah pertanyaan yang dikirim sebelumnya. Jawaban-jawaban itu diolah setelah melalui proses penerjemahan. Kurnia mengirim e-mail tiga kali ke Korea dalam bahasa Inggris. Dari Korea terkirim tiga kali jawaban, berbahasa Inggris dan Korea.

Kurnia juga melihat film-film dokumentasi Hee Ah. Dialog-dialog dalam bahasa Korea di dalam film dokumentasi itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. ”Prosesnya (penulisan buku ini) berlangsung sekitar tujuh bulan,” ungkap alumnus Fakutas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), 1991, yang senang menulis sejak di SD ini.

Di buku ini, Kurnia mengawalinya dengan mengisahkan masa kelahiran Hee Ah pada Selasa 9 Juli 1985 di Rumah Sakit Il-Sin di Pusan, sebuah kota di pantai selatan Korea. Bayi mungil itu memang lahir tak sempurna. Tapi, sang ibu, Woo Kap Sun, tidak berkecil hati melihat sosok si buah hati itu. Justru ia terharu.

”Saya melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Wajahnya mirip rembulan. Jemari tangannya yang hanya sempat serupa kuncup bunga tulip,” kata Woo Kap Sun. Namun, air matanya mengembang karena ternyata pendapatnya saat itu berbeda dengan pendapat keluarganya (hlm 4).

Kisah-kisah selanjutnya mengalir bak di air yang tak bening. Perkembangan bocah kecil itu sangat lambat. Di usia enam tahun ia baru bisa memegang benda-benda tertentu dengan satu tangan. Di sini, Woo Kap Sun menunjukkan kesabarannya. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai perawat di rumah sakit, tempat ia bertemu dan menjalin cinta dengan pasien benama Wung Bong Lee, seorang mantan tentara yang kemudian menjadi ayah Hee Ah Lee.

Semula, Woo Kap Sun mengenalkan piano pada Hee Ah, tak lebih dari sekadar berniat melatih otot-otot jari tangan anaknya. Tapi, sebagai manusia biasa, Hee Ah kerap ngambek, menghindari tuts-tuts piano, terutama ketika jemarinya melepuh sampai bengkak. Saat berusia 13 tahun, sekitar setahun Hee Ah Lee tak menyentuh piano, padahal masa-masa itu ia sudah kerap tampil di panggung-panggung konser piano.

Semangatnya kembali bermain piano muncul ketika seorang wartawan mewawancarainya. Jurnalis itu merasa kehilangan, tak menemukan lagi pianis berjari empat ini di panggung konser. Ketika tulisannya dimuat di surat kabar, wartawan televisi pun datang mewawancarai Hee Ah. Disorot lampu kamera, Hee Ah tampak bahagia. Ia pun kembali bermain piano, bermain dari panggung ke panggung konser, merambah belahan dunia nun jauh dari Korea, negeri asalnya.

Boleh dikata, Kurnia Effendi cukup baik mengemas sketsa perjalanan hidup sang pianis berjari empat itu, memotret perjuangan seorang ibu yang penuh kasih, dan memberi inspirasi betapa di balik kelemahan kerap kali ada kekuatan yang tersembunyi. Kalau pun ada yang terasa sedikit mengganggu, itu karena Kurnia menuliskannya dengan gaya populer, seakan berhadapan dengan pembaca remaja. Itu tampak, misalnya, saat mengisahkan kebiasaan Hee Ah yang berat bangun pagi sebagaimana umumnya remaja. Di sini, Kurnia menambah satu kalimat di akhir paragraf, ”Perhatikan ya, ini sungguh tak boleh ditiru!” (hlm 84).

Lepas dari itu, buku ini bisa memberi inspirasi bagi banyak orang. Seperti dituturkan Kurnia, ”Tak ada ciptaan Tuhan yang tak berguna.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *