Temu Sastrawan Mencari Jawaban

Mukti Sutarman Espe
http://suaramerdeka.com/

SEKARANG ini siapa cerpenis Jawa Tengah yang tak putus berproduksi? Pembaca dan pemerhati dunia penulisan cerita pendek niscaya tak akan berani bila tidak menyebut nama Triyanto Triwikromo dan Prasetyo Utomo. Diakui atau tidak, kedua nama itulah yang beberapa waktu belakangan ini, banyak menghiasi rubrik cerita pendek media cetak, baik yang terbit di daerah maupun Jakarta.

Kendati tak lebih dari hitungan jari sebelah tangan, memang ada cerpenis lain, hanya produktivitas dan capaian prestasi karya mereka belum sebaik keduanya.

Kondisi serupa terjadi pula pada penulisan puisi. Dalam waktu 10 tahun terakhir tidak banyak penyair baru yang mengemuka dengan kedahsyatan syairnya. Penyair yang acap muncul masih seputar lingkaran nama lama, seperti Dorothea Rosa Herliani, Timur Suprabana, Gunoto Saparie, Beno Siang Pamungkas, Sosiawan Leak, dan Heru Emka.

Pertanyaannya, mengapa begitu? Apakah dalam waktu sekian tahun itu di provinsi ini tidak ada penulis cerita pendek atau puisi yang bertalenta lebih? Bila benar begitu lalu di mana pangkal kusut permasalahannya?

Jawaban atas pertanyaan itu menjadi penting, mengingat beberapa belas tahun lalu Jawa Tengah pernah memiliki banyak cerpenis dan penyair. Misalnya cerpenis Atas Danu Subroto (Purworejo), Yudiono KS, Pamuji MS, dan Handry TM (Semarang), Yeye Haryo Guritno (Tegal), Sawali Tuhusetyo (Kendal), MM Bhoernomo, dan Jimat Kalimosodo (Kudus).

Lalu penyair Soekoso DM (Puworejo), Dharmadi (Purwokerto), Titie Roso Sarkoro (Temanggung), Lanang Setiawan (Tegal), Fauzi Robani (Pemalang), Ghufron Hasyim (Pekalongan), Maghfur Saan (Batang), Eko Tunas, Untung Surendro, Agus Dhewa (Semarang), Yudhi MS (Kudus), Sunardi KS (Jepara), Anis Saleh Baasyin (Pati). Kini di manakah sastrawan-sastrawan itu? Adakah hari ini mereka masih suntuk berkarya? Amat sulit menemukan jawaban yang realistis objektif.

Guna menemukan jawaban yang realistis objektif itulah spirit yang mendorong Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) menyelenggarakan Temu Sastrawan Jawa Tengah 2010, pada Sabtu, 19 Juni ini.

Acara yang digelar di PKJT kompleks PRPP Semarang itu juga akan diisi dengan semiloka kepenulisan. Tercatat empat bidang penulisan yang akan disemilokakan. Yakni, penulisan cerita pendek, puisi, skenario sinetron dan film, serta penulisan kritik sastra. Narasumber terdiri atas praktisi dan akademisi yang berkompeten di bidangnya, dari Semarang, Jakarta, dan Surabaya.
Ajang Pembelajaran Kegiatan itu bakal menemukan momentumnya bila mereka yang diundang mau datang sesuai dengan kapasitas masing-masing. Sastrawan yang diundang hadir dengan kesadaran, selain untuk kangen-kangenan dengan teman sezamannya, harus bersedia membuka diri bila dijadikan tempat bertanya.

Sedangkan mahasiswa dan penulis pemula mesti pandai-pandai menggunakan acara tersebut sebagai ajang pembelajaran informal. Narasumber semiloka dan atau sastrawan-sastrawan kawakan, seperti Najib Kertapati Zuhri, Triyanto Triwikromo, Gunoto Saparie, Profesor Rustono, Profesor Setyo Yuwono Sudikan, Ahmad Tohari, Yudiono KS, Djawahir Muhammad, Bambang Set, Yant Mujiyanto, Pamuji MS, Anis Shaleh Baasyin, atau Soekoso DM, dapat dimanfaatkan sebagai ??perigi?? sumber air pengetahuan dan pengalaman.

Air pengetahuan dan pengalaman itu silakan ditimba sebanyak-banyaknya. Sedikitnya dari mereka dapat diperoleh cerita romantik atau dramatik ikhwal bagaimana liku-liku perjuangan mereka meretas karier sebagai penulis sastra. Cerita tuturan dan tuntunan itu dapat digunakan sebagai kaca benggala, pelecut semangat dalam meniti dunia tulis-menulis.

Bila hal tersebut dapat menjadi kenyataan patut kiranya bila panitia pelaksana berharap, dari acara itu pada kemudian hari lahir sejumlah cerpenis, penyair, penulis skenario, dan kritikus sastra yang berkemauan keras.

Dengan demikian dari ke waktu, Jawa Tengah tidak semata punya cerpenis bernama Triyanto Triwikromo dan Prasetyo Utomo. Dari provinsi ini diharapkan muncul Dorothea-Dorothea atau Timur-Timur baru. Berlebihankah harapan itu?

Sebagaimana kata orang bijak, harapan mulia mesti digantung di langit tinggi. Percuma sekaligus sia-sia bila sebuah harapan mulia cuma digantung di dahan pohon mangga.

? Mukti Sutarman Espe, penyair, Ketua Panitia Temu Sastrawan Jateng 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *