Terjebak dalam Kenyataan Virtual

Judul : Multiplisitas dan Diferensi: Redefinisi Desain, Teknologi dan Humanitas
Penulis : Yasraf Amir Piliang
Penerbit : Jalasutra
Cetakan : Pertama,November, 2008
Tebal : xxvii+487 halaman
Peresensi : Saifur Rohman
http://suaramerdeka.com/

KETIKA hari-hari terakhir para ahli filsafat sekuat tenaga mencari cara agar teks filsafat mudah dipahami, buku ini sungguh bersusah payah melakukan kebalikannya. Beranjak dari tesis ?menjadi rumit itu mudah? dan ?menjadi mudah itu rumit?, buku ini secara sederhana bercerita tentang tiga aspek keilmiahan. Pertama, objek kajian adalah layar atau serat optik sebagaimana terdapat layar televisi, ponsel, komputer, LCD, dan sejenisnya. Kedua, metode yang digunakan adalah fenomenologi Edmund Husserl dan hermeneutika Gadamer. Ketiga, teori yang diangkat adalah gagasan tentang ruang-waktu dalam perspektif metafisika Heidegger.

Hasil yang didapat dari kajian itu kurang-lebih ingin mengatakan layar serat optik telah menjadikan kesadaran sebagai subjek yang tidak lagi terkait dengan kenyataan aktual. Kesadaran telah terjebak kenyataan virtual dan perlahan-lahan akan membentuk identitas kedirian virtual. Kenyataan lain itu disebut dengan multiplisitas dan kedirian lain itu disebut dengan diferensi.

Tinjauan ini didasarkan pada relasi antara teori, metode, dan objek kajian yang tertuang di dalamnnya. Pemeriksaan secara menyeluruh menghasilkan lima anotasi dasar yang tidak bisa dikesampingkan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi generasi muda pada kemudian hari.

Pertama, buku ini memiliki kelebihan dengan memberikan glosarium (keterangan istilah) penting. Namun bila meneliti lebih jauh, senarai istilah itu tidak lebih dari kata-kata kunci untuk pemikir?an filsafat kontemporer, sedangkan untuk gagasan utamanya sendiri tidak dicantumkan. Dari judulnya, ?Multiplisitas dan Diferensi?, pembaca tentu hendak mencari dua istilah kunci itu, tetapi apa ge?rangan yang terjadi? Hanya ada keterangan istilah ?Multiplisitas?, sementara istilah ?Diferensi? ni?hil. Artinya, fokus atas gagasan-gagasan utama men?cair, tergantikan dengan gemebyar istilah lain. Selain tidak tercantum, istilah-istilah pokok lain ka?dang salah terjemah, salah ketik, dan salah paham.

Contoh salah paham, pemanfaatan istilah ?genus? dalam ilmu biologi dilepaskan dari konteks kekerabatan dalam ilmu makhluk hidup. Piliang hanya memperlawankan ?genus? dengan ?spesies?. Genus itu umum, spesies itu khusus. Padahal dalam struktur kekerabatan makhluk hidup, secara umum dikenal tingkatan spesies, genus, ordo, kelas, divisio. Contoh sederhana salah paham adalah penerjemahan singkatan SMS dengan Short Message System (mestinya, short message service) (halaman 317). Salah ketik berhamburan di sejumlah halaman, seperti halaman 194, 228, dan 250. Salah ketik istilah pokok ada pada halaman 229. Mestinya tertulis ?layar dalam pembedaan meruang dan mewaktu?, tetapi tertulis ?meruang dan meruang?. Istilah anomitas tertulis anonomitas (halaman 357). Kalau tidak hati-hati, kelimatnya yang bersayap, ambigu, majemuk, dan metaforis menyangka bahwa kesalahan itu adalah bukti metafora yang perlu diterjemahkan oleh pembaca, padahal itu adalah hasil dari kekurangcakapan. Contoh salah terjemah adalah istilah Derrida ?transcendental signified? diterjemahkan dengan ?kebenaran transendental?. Yang dimaksud Derrida bukanlah kebenaran, tetapi sebuah peristiwa, kenyataan, atau yang dituju.

Kedua, perihal salah paham, salah ketik, dan salah terjemah itu membawa implikasi terhadap pemahaman-pemahaman mendasar terhadap pandangan-pandangan filsafat. Sebagai contoh, pemahaman filsafat bahasa Ferdinand de Saussure cenderung bias, salah kaprah, dan menjerumuskan. Sistem biner yang dianut Saussure dikatakan ?Peristiwa pertandaan sangat bergantung pada perbedaan, akan tetapi perbedaan-perbedaan itu sendiri merupakan produk dari peristiwa-peristiwa (halaman 179).?

Sesungguhnya Saussure tidak pernah menjelaskan peristiwa di dalam filsafatnya tentang baha?sa, sebab yang diacu adalah gagasan.

Ketiga, kesalahan itu ingin menjelaskan bahwa Piliang hanyalah mementingkan penyerapan filsafat kontemporer tanpa memahami filsafat klasik. Keempat, tidak ada kesesuaian antara metode dengan objek kajian. Pada halaman 30 dijelaskan metodenya fenomenologi, tetapi bab dua dan tiga yang memakan setengah buku (200 halaman) lebih menjelaskan tentang petualangan pandangan filsafat kontemporer yang tercampur, mengalir, dan cenderung anakronis ketimbang sistematis.

Kelima, karena berisi petualangan pandangan filsafat kontemporer, maka kajian terhadap objek terabaikan. Refleksi tentang layar baru ditemukan pada bab 4 yang masih diselingi dengan tumpukan pandangan filsafat yang tidak berguna.

Buku ini laik konsumsi bila menghapus bab satu sampai tiga yang tidak berguna. Pembaca cukup menikmati bab 4-6 tentang kajian filosofis layar yang, meskipun hanya sekilas, namun cukup memberikan gambaran pemikiran mutakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *