Toya Bungkah, STA, dan Pak Oles

Ketut Syahruwardi Abbas
http://www.balipost.co.id/

ALMARHUM Sutan Takdir Alisyahbana, sastrawan dan budayawan besar milik Indonesia yang kini telah meninggal itu, semasa hidupnya selalu membanggakan “tempat persembunyiannya” di Toya Bungkah, Bangli. Untuk mencapai tempat indah itu, kita harus — terlebih dahulu — turun dari Penelokan, mengikuti jalan-jalan berliku di antara batu-batu besar bekas tumpahan letusan Gunung Batur yang hingga kini masih suka batuk-batuk dan mengeluarkan asap.

Menyusuri jalan-jalan itu, kita seperti terlempar keluar Bali. Sebelum ditumbuhi banyak semak seperti sekarang, kawasan luas di lereng Gunung Batur itu tampak seperti hamparan tanah kosong di Texas, AS. Itulah sebabnya, ketika saya menulis naskah sinetron “Mata Kail tanpa Umpan” yang diproduksi TVRI pada pertengahan 1980-an, saya memilih lokasi itu untuk beberapa scene pengambilan gambar. Hasilnya, luar biasa. Kami mendapatkan gambar-gambar yang sangat indah.

Kini jalan mulus melintang berkelok-kelok bagaikan ular panjang di antara batu-batu raksasa menuju Danau Batur, lalu memecah ke berbagai desa, termasuk Toya Bungkah.

Bagi saya, mengenangkan Toya Bungkah adalah mengenangkan liukan tubuh Ibu Reneng yang menari di hadapan kami, beberapa penyair Bali, yang berkunjung ke sana pada sebuah senja yang dingin. Seusai menyantap goreng ikan yang lezat, STA — begitu Sutan Takdir Alisyahbana biasa dipanggil — meminta Ibu Reneng menari di hadapan kami. Kami pun tak bakal bisa melupakan peristiwa itu. Juga tak bisa melupakan STA yang mengantarkan kami berkeliling sambil bicara tentang kebudayaan, kesusastraan, dan kesenian pada umumnya.

Saya mengenang bagian kecil dari Kabupaten Bangli yang bernama Toya Bungkah itu dengan cara yang sangat khusus: sajak kecil.

Musim Menari
Mari kubantu membungkus malam
dengan tarian hening. Berdua.
Musim menari tiba
Semua dikawinkan sesamanya
Maka jangan mengelak. Mari menari.
Biar tercium harum getah ketiakmu
Dan kujamah pelan sampur rambut
dari kamar yang lengang. Sendiri.

Inilah kijang tua menari
tanpa tembang tanpa gambang
Cuma angin. Gagap. Patah-patah.
Sekali mendengus dan tersesat
dalam geliat tangan sendiri

Dan kemudian, ketika waktu mengubah banyak hal, ketika Bangli tak juga mencatatkan hal baru dalam perjalanannya di masa pariwisata menjadi “nyanyian harian”-nya Bali, ketika kegaduhan melupakan Toya Bungkah, tiba-tiba saya bertemu dengan Pak Oles, peracik minyak oles bokashi yang kini sangat populer itu.

Dalam sebuah perbincangan, Pak Oleh bercerita, ia sempat “linglung” ketika baru saja menamatkan kuliahnya di Fak. Pertanian Unud. Semangat “kembali ke pertanian yang sesungguhnya” membawanya ke kawasan Toya Bungkah. Di sana ia menyewa lahan pertanian, menanam bawang putih, dan … tidak berhasil. Beruntunglah “petani” Pak Oles bertemu dengan STA. Orang tua itu mengajak Pak Oles pindah ke Jakarta dan memberinya pekerjaan di Universitas Nasional yang dipimpin STA. Rupanya penulis novel Grotta Azzura itu melihat talenta tersembunyi pada diri Pak Oles dan memberinya saluran. Dari sanalah karier Pak Oles dimulai. Ia mendapatkan beasiswa belajar di Jepang hingga ia menjadi seperti sekarang.

Kini, sepeninggal Pak Takdir, Toya Bungkah tidak lagi terlalu sering dibicarakan orang. Kita, juga Bangli, kehilangan salah satu “mercu suar” yang sering berkedip hingga terlihat di banyak negara lain. Mercua suar itu pula yang banyak mengundang ilmuwan, budayawan, dan seniman avant gard dari berbagai negara maju berkunjung ke Toya Bungkah sekadar untuk berdiskusi atau melakukan workshop.

Bangli memiliki banyak mercu suar. Ada yang masih berkedip secara samar karena dihidupkan oleh pariwisata. Tetapi lebih banyak lagi yang kehilangan cahaya karena terkubur justru oleh kegaduhan pariwisata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *