Tuhan yang Dijual

Danarto
http://majalah.tempointeraktif.com/

PARA jemaah haji atau umrah biasanya “balik bertanya” bila diminta menguraikan perihal situs yang terletak di tengah Masjidil Haram, tapi memang Ka’bah itulah yang paling didambakan. Jauh-jauh datang dari Tanah Air, bisa menetap sampai empat puluh hari di Mekah, hanya Ka’bah yang ingin dinikmati di Tanah Suci. Menunaikan ibadah haji atau umrah, Ka’bah adalah tujuan peribadatan. Kalau sudah melihat Ka’bah, cukuplah hati ini terpuaskan. Sedangkan untuk berziarah di tempat lain, nanti-nanti sajalah. Lalu Ka’bah itu apa? Terserah pendapat Anda.

Boleh jadi, kedambaan akan Ka’bah sebenarnya suatu perasaan yang tak terkendali?seperti ketika kita melihat rujak, air liur kita terguncang?karena ibadah ke Tanah Suci sudah dengan sendirinya menatap Ka’bah. Nah, dengan sambil lalu pun, para jemaah bisa melihat dan menyentuh Ka’bah karena monumen itu termasuk dalam rukun haji dan umrah.

Yang paling eksotis dan mistis bila kita menyaksikan dari lantai atas Masjidil Haram, atau para penonton televisi di Tanah Air bisa pula menatapnya dari siaran tarawih, adalah kegiatan ritual yang dilakukan para jemaah dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Dan ritual ini sudah berlangsung berabad-abad dalam dua puluh empat jam nonstop. Sebuah ritual abadi.

Menurut sementara kiai, jika tidak ada manusia yang bertawaf, para malaikat menggantikannya. Atau, para jemaah yang tampak berduyun-duyun memutari Ka’bah yang berlawanan dengan arah jarum jam itu sesungguhnya di antaranya banyak pula para malaikat yang memba-memba (menyamar) sebagai manusia.

Ibadah umrah hanya membutuhkan waktu ritual boleh dibilang sekitar tiga jam. Ibadah umrah tidak mengenal musim sehingga bisa dilakukan sepanjang tahun. Setiap saat kita bisa berangkat untuk melakukan ibadah umrah dari tempat mana pun. Muslimin yang sehabis menunaikan pekerjaan di Amerika dan Eropa biasanya lalu mampir ke Tanah Suci untuk beribadah umrah. Teman-temannya nonmuslim ikut mengantar sampai di Jedah dan menunggunya di kota internasional ini.

Selama Ramadan, kegiatan ibadah umrah lalu-lalang sepanjang bulan. Semua biro perjalanan haji dan umrah sibuk luar biasa. Semuanya kebagian jemaah. Sampai-sampai ada biro yang menamakan dirinya Menan, artinya Menanti Anda. Hal ini membuktikan, biro macam apa pun laris manis dirubung jemaah. Seperti hotel, biro bintang lima tentu menyediakan fasilitas puncak. Tokoh karismatis seperti Kiai Aa Gym serta Kiai Arifin Ilham menjadi daya pemikat yang ampuh bagi para jemaah. Boleh juga didampingi selebriti kenamaan seperti Ratih Sang, Dewi Hughes, maupun Fenny Rose, yang menyemarakkan peribadatan.

Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. sekian ribu tahun yang lalu adalah Ka’bah yang sekarang juga. Artinya, karakternya sama, meski sudah diperbaharui dan dimodernkan. Pada satu sudut bentuk kubusnya, terpasang batu hitam Hajar Aswad. Batu hitam yang jadi rebutan para jemaah yang sanggup antre berjam-jam untuk menciumnya ini?sebagaimana Rasulullah menciumnya?datang dari angkasa luar yang dibawa oleh Malaikat Jibril a.s. Begitulah cerita para kiai.

Adapun Multazam, di sebelah kanan pintu Ka’bah, diyakini tempat yang paling afdol bagi para jemaah untuk memanjatkan doa. Menurut para jemaah, doa mereka dikabulkan Allah sehingga banyak dari mereka yang selalu kembali beribadah dan berdoa di depan Multazam ini. Nah, di atas Multazam itu, menurut sementara para kiai, ada lorong waktu yang terpasang sampai ke langit lepas tempat para malaikat mondar-mandir membawa doa para jemaah ke Arasy. Di antaranya juga Malaikat Jibril, yang sekali sowan kepada Allah Azza wa Jalla membutuhkan waktu sehari perjalanan, yang dalam ukuran waktu manusia, 50 ribu tahun.

Ibadah umrah yang lebih mahal biayanya dari ibadah haji adalah umrah sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Itulah hari-hari Lailatul Qadr, malam yang lebih indah dari seribu bulan (maupun seribu rembulan). Malam berkah ketika Malaikat Jibril berkenan turun memberikan berkah kepada muslimin. Itulah malam pencerahan bagi kita untuk memulai hidup baru satu tahun ke depan. Malam suatu pengetahuan baru yang memberikan kesadaran baru bagi siapa saja yang siap menerimanya.

Kesadaran baru yang memberikan pengertian yang lebih utuh tentang diri kita. Tentang sepak-terjang kita sehari-hari. Tentang menyikapi berbagai hal yang hidup di lingkungan kita. Kesadaran baru tentang hubungan kita dengan Tuhan. Makna yang lebih jelas tentang hidup ini.

Namun, kita sebenarnya tidak punya hak sedikit pun untuk mengenakan biaya yang begitu mahal untuk ibadah umrah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan itu. Dari mana kita tahu bahwa sepuluh hari terakhir itu suatu jalan solusi bagi semua persoalan yang dihadapi jemaah. Atau memberikan kebahagiaan kepada para jemaah. Semua tindakan kita atas biaya tinggi umrah terhadap Lailatul Qadr sesungguhnya sikap kekerasan kita terhadap Allah. Kita mereka-reka kebohongan tentang Allah. Kita menodong Allah untuk mau memberikan ini dan itu yang kita maui. Kalau Allah tidak mau mengabulkan permohonan kita, awas (!), kita tidak mau lagi menyakralkan Lailatul Qadr. Mungkinkah sikap menjual Allah dengan harga yang murah inilah yang menyebabkan kita tidak pernah mampu keluar dari krisis yang semakin parah ini?

*) Sastrawan dan penulis buku Orang Jawa Naik Haji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *