Tuhan@el-langit.com

Gde Agung Lontar
http://www.riaupos.com/

Tiba-tiba saja sebuah alamat yang asing masuk ke dalam kotak masuk surelku. tuhan@el-langit.com.

Apa pula ini?; pikirku. Apakah ada seseorang yang tengah iseng? Dini hari itu aku belum lagi mengantuk, karena itu komputer kuhidupkan dan berselancarlah aku ke dalam dunia maya internet. Beberapa situs segera kubuka secara bersamaan, dan tentu saja satu di antaranya adalah laman-laman lampu merah. Maklumlah, lagi pusing begini. Apalagi beberapa hari belakangan ini dunia maya sedang heboh sekali dengan video-video yang berisi adegan-adegan syur dari orang-orang yang katanya mirip tokoh selebriti. Dan aku hanyalah salah satu dari sekian puluh juta yang akhirnya ikut tergoda.

Lalu, di tengah-tengah itu aku kemudian teringat untuk membuka surel-ku. Sudah lebih seminggu aku tak pernah menyapanya, barangkali ada beberapa surat elektronik yang masuk; walupun kebanyakan barangkali hanyalah surat-surat berjenis spam. Maklumlah, aku bukanlah orang yang sering berkomunikasi lewat surel. Meski begitu, siapa tahu. Ah, benar saja, ada tujuh surat. Lima spam, satu dari sahabatku di Madinah, dan ? yang ini?

Alamat yang terlihat asing itu segera menggaet biji mataku, sekaligus menggelitik perasaanku. Siapa gerangan orang yang punya alamat ini? Aku jelas tidak mengenalnya karena sebelumnya memang tidak pernah berkomunikasi dengan seseorang yang menggunakan alamat surel seperti itu. Lagi pula aku pun jadi bertanya-tanya, siapa gerangan orang yang berani-beraninya menggunakan alamat surel dengan nama seperti itu? Apakah ia tidak takut bakal jadi masalah di kemudian hari? Menggunakan nama seperti itu, rasanya agak sensitif, bukan?

Tapi, ah, di dunia maya internet rasanya setiap orang bisa melakukan apapun; bahkan sesuatu yang tabu di dalam dunia nyata sekalipun. Bahkan kadangkala, itu bisa menjadi pendongkrak ketenarannya. Dan, di dalam dunia yang dikendalikan oleh sistem kapitalis-pragmatis-opurtunis, semua orang tahu ketenaran adalah merupakan salah satu modal untuk melakukan negosiasi ekonomi.

Ataukah, ini sekadar salah satu alamat spam?

Tapi, aku penasaran juga lama-lama. Kelihatannya tidak begitu mencurigakan. Pun tidak ada file ikutan di dalamnya. Lagi pula, aku cukup merasa yakin dengan kecanggihan sistim anti-virus yang kumiliki. Jadi, akhirnya kubuka. Tapi, kemudian sepertinya menjadi antiklimaks. Isinya hanya: ?Hai.?

Hanya tiga huruf itu. Tidak kurang, tidak lebih. Ah, berarti memang datang dari orang iseng. Orang yang sepertinya tidak punya pekerjaan lain yang lebih berarti. Atau mungkin ada seorang teman yang mencoba menggodaku. Atau, entahlah. Tapi kemudian aku berpikiran: baiklah, aku juga sedang tidak dapat tidur dan sedang tidak ada sesuatu yang harus kukerjakan, jadi aku iseng juga. Kubalas surel itu.

?Hai juga. Siapa ni??

Aku tertawa dalam hati; sekaligus setengah berharap. Ah, paling tidak, siapa tahu di seberang sana dia adalah seorang wanita jelita yang juga sedang kesepian sehingga kemudian melakukan keisengan seperti ini.

Aku lalu membuka surel dari sahabatku yang sedang kuliah mengambil S2 di Universitas Islam Madinah itu. Kalau melihat tanggalnya, surat itu sudah datang empat hari yang lalu. Isinya hanya pendek saja. Salam sapa, saling kabar, lalu ? yang mengejutkan itu.

??. Kemaren aku mendapatkan kiriman e-mail beralamatkan aneh. al-ilah@samaawat.com, kau percaya itu? Kukira tadinya virus, tetapi setelah kubuka isinya hanya ?Salam?. Masya Allah, masih ada saja orang-orang aneh. Tidakkah dia takut kepada Tuhan? Wassalam.?

Aku tertegun sejenak. Ada kesamaan kasus di antara kami berdua. Walaupun alamat surel yang disebutkannya itu berbahasa Arab, tetapi jelas pengertiannya adalah sama dengan tuhan@el-langit.com itu; atau lebih-kuranglah. Jadi, sekarang aku jadi menemukan dua keanehan dalam satu malam dini hari ini. Apakah ada dua orang aneh, atau dua orang iseng yang sama? Ng, atau mungkin berasal dari salah seorang teman yang mengenal kami berdua; sehingga bisa mengirim surel iseng itu ke alamat kami? Tapi, siapa? Begitu isengnyakah?

Sedang berpikir-pikir begitu, tiba-tiba alarm anti-virus komputerku meribut. Sial, laman lampu merah yang tanpa kusadari masih aktif itu mencoba menyelusupkan virus rupanya. Untung saja program anti-virus buatan anak dalam negeri itu begitu yahud dan waspada. Maka, aku tinggal mengikuti perintah-perintahnya, dan musnahlah penjahat gelap itu. Lampu merah itu pun kemudian segera kupadamkan. Tinggallah Wikipedia dan sebuah laman situs sastra.

Eh, surel-ku tadi ternyata segera mendapatkan balasan. Agaknya orang ini sama-sama belum tidur. Kubuka.

?Tidakkah engkau mengenalku??

Sial. Sombong kali orang ini. Atau paling tidak, ke-pede-an. Memang, sebegitu ngetopnya kamu, apa?; gerutuku dalam hati. Bahasa yang digunakannya pun terkesan angkuh. Baiklah, mari kita bermain.

?Tidak.?

Kukirim.

Lalu, aku berpindah ke surel temanku tadi, dan kubalas:

?[Salam]. [Kabar-kabar]. Iya, aku juga mendapatkan surel yang mirip-mirip. Aku rasa ada teman kita yang iseng en usil. Kamu tahu siapa? Wassalam.?

Terkirim.

Lalu, balasan surel itu lagi. Isinya:

?Ah, engkau hanya lupa.?

Sialan.

?Sebutkan nama Anda.?

Jawabnya: ?Namaku ada di mana-mana.?

?Kamu punya Facebook atau Twitter??

Yang masuk, dari Madinah.

?Ini mulai merebak tiga hari ini, Rif. Seluruh dunia mungkin akan heboh. Teman-temanku di KL, Kairo, Athena, Roma, Barcelona, Paris, Bonn, San Fransisco, Shanghai, Kyoto, dan Seoul juga mendapatkan e-mail dengan alamat yang mirip-mirip. Ada dios@e-cielo.com, ada dieu@la-grandciel.com, gott@hochhimmel.com, god@heaveneden.com, sh?ngd-@ti?n-sh?ng.com, kami@sora-tenku.com, dan han?nim@han?l-sanggong.com. Mereka juga mendapatkan berita dari teman-temannya yang lain tentang hal yang sama. Jadi, ini bukan perbuatan iseng salah satu sahabat kita. Tapi, sori ya, aku tak bisa lanjut. Lagi di kampus. Wassalam.?

Seluruh dunia? Tengah pusing begitu, masuk lagi surel itu.

?Untuk apa Facebook dan Twitter? Aku bahkan lebih dekat daripada wajahmu.?

Aku hampir saja memaki dengan kata-kata ?bangsat!?. Ini orang! Meski dunia maya memang bebas sebebas-bebasnya, tetapi dalam berkomunikasi secara personal orang masih tetap berusaha menerapkan adab sopan-santun. Karena disulut sebal, aku segera menutup surel-ku itu; tak berniat melanjutkan komunikasi dengan orang yang tak jelas itu. Daripada dosa bertambah dengan kejengkelan. Tapi sesaat kemudian kubuka lagi, sekadar teringat untuk membalas surel dari Madinah itu.

?Yang ini tak usah segera dijawab. Aku barusan bahkan sedang bersurat-suratan dengannya ? siapa pun itu. Tapi, menyebalkan. Sombong. Jadi, sudah aku stop. Wassalam.?
Keluar lagi.

Lihat-lihat situs yang lain sebentar. Datang kuap. Laptop kututup. Tidur.

Hari-hari kemudian, dalam perbincangan dengan teman-teman aku kemudian mengetahui bahwa soal alamat surel itu memang sudah mulai menjadi berita hangat. Tapi pada umumnya mereka berpendapat bahwa itu hanyalah perbuatan orang-orang iseng belaka, sehingga banyak di antara mereka yang mendapatkan kiriman surel itu tidak membukanya; bahkan kemudian menghapusnya begitu saja. Alasan utama, sebagian besar takut kalau-kalau surel itu adalah perahunya virus. Sebagian lainnya menganggap tak ada waktu untuk melayani keisengan seperti itu.

?Mendingan juga lihat videonya Si Mouni itu. Syuuur ?. Ha ha ha.?

Mereka tertawa.

?Eh, kamu tahu nggak? Masih ada 33 lagi. Kayak zikir saja. Ha ha ha.?

Dasar teman-teman ini; gumamku dalam hati, dapat fasilitas canggih seperti laptop bukannya digunakan untuk sesuatu yang positif. Kalau tak buka-buka laman lampu merah, ya paling pilih game poker atau sebangsanya. Tapi, ketika aku mengatakan bahwa ? menurut temanku yang di Madinah ? seluruh dunia mengalami hal yang serupa, mereka mulai tertegun.

?Apa iya.? tanya yang satu tak begitu yakin.

?Mungkin saja.? balas yang lain seolah menjawab. ?Internet kan memang terbuka bebas di seluruh dunia. Jadi, ya bisa saja.?

?Maksudku, yang di luar negeri itu bukan dengan menggunakan alamat surel dalam bahasa kita,? aku menjelaskan, ?tapi, dengan bahasa mereka masing-masing.?

?Oya??

Mengiyakan, antara yakin dan tidak. Itulah orang kita.

Jadi, tak ada yang bermakna bagiku dalam perbincangan itu, selain mendapatkan informasi baru bahwa masih ada 33 video lagi. Hm…

Malam, seperti biasa aku belum ngantuk sebagaimana semestinya. Itu bukan karena insomnia, tapi karena aku sering dapat tidur siang. Maklumlah, tak begitu banyak yang bisa kukerjakan. Kata orang, aku ini tergolong ?pengacara?: pengangguran banyak acara. Aku berhasil menulis satu cerpen dalam seminggu, sudah bagus. Honornya lumayanlah buat sekadar beli rokok dan mengerem repetan istriku. Toh, dia cukup pandai mencari duit sendiri dari kantornya. Bahkan jauh lebih pandai daripadaku. Rumah ini dan seluruh isinya praktis berasal dari duit yang diperolehnya. Hanya laptop, gitar, serta koleksi buku dan kaset yang berasal dari kantongku sendiri. Itu juga barangkali karena dia tidak menyukai satu pun dari jenis barang-barang itu. Jadi, enam hari lainnya praktis kosong. Sangat kadang-kadang saja ada acara bengkel sastra, seminar atau semacamnya, dan undangan-undangan yang oleh kebanyakan pejabat akan mereka campakkan ke dalam bak sampah begitu selesai menolehnya. Di samping itu, kalau sedang menulis aku juga cenderung melakukan pada malam hari. Terasa lebih nikmat bagiku.

Atau, mungkin sebab-akibatnya adalah sebaliknya. Aku bisa atau harus tidur siang justru karena aku sering melakukan kegiatan hingga jauh tengah malam. Yang mana yang benar, entahlah.

Jadi, kembali kubuka laptop-ku. Surel-ku. Tak ada surat baru yang masuk. Agak aneh juga, meski enggan, kubuka juga surel yang terakhir itu.

?Untuk apa Facebook dan Twitter? Aku bahkan lebih dekat daripada wajahmu.?
Sebenarnya masih jengkel; tetapi ini kejengkelan yang menggelitik. Dunia maya, meski ramai dan padat, tapi sebenarnya penuh dengan orang-orang yang kesepian. Mungkinkah si pengirim surel itu adalah satu di antara mereka? Maksudku ? itu tentu sudah jelas secara kaidah logika kalau menggunakan postulat a dan b ? tetapi maksud yang sebenarnya, mungkinkah si pengirim surel itu benar-benar sedang kesepian secara harafiah? Kalau ya, dari satu segi mungkin patut dikasihani. Mungkin dia sekadar sedang memerlukan seorang teman yang bisa diajak berkomunikasi. Tapi, bukankah semua yang ada di dunia maya internet memang begitu? Milyaran? Lagi pula, kalau memang dia sedang membutuhkan teman bicara, kenapa tidak ke Facebook atau Twitter saja yang sekarang sedang happening banget? Malah, dia bilang ?untuk apa?! Sialan! Ah, kututup saja lagi laptop-ku. Tidur sebisanya.

Hari-hari lewat. Di layar kaca pun hampir sama saja. Bedanya, kita tidak bisa mengklik. Hanya ada remote untuk pengalih kebosanan. Mungkin suatu saat nanti. Sekarang drama seperti ada di mana-mana. Bahkan drama di dalam drama di dalam drama. Kalau karya-karya epik zaman dulu, orang-orang menyebutnya cerita berbingkai. Dan kita menilainya sebagai sebuah mahakarya abadi. Yang di televisi, hampir seluruhnya membuat kita ingin muntah. Bahkan feature pun sudah menjadi drama. Bahkan berita pun sudah menjadi drama. Bahkan sidang pun sudah menjadi drama! Sampai kemudian menyelip sebuah berita singkat tentang surel yang mulai menghebohkan itu. Penyiar yang cantik itu menyampaikan, bahkan pihak aparat keamanan dan intelijen negara sudah mulai mencoba mencari alamat asal atau IP adress pembuat surel itu. Ini karena sudah banyak pengaduan masyarakat, termasuk beberapa pemuka agama. Tapi sayangnya, sampai saat itu mereka belum mampu melacaknya.

?Disinyalir orang yang menyebarkan surel itu adalah seorang hacker yang jenius, karena sampai saat ini belum juga terlacak, meskipun aparat sudah menggunakan peralatan yang canggih.? Penyiar itu tersenyum lebar. Lalu jeda iklan.

Beberapa hari berikutnya, sehubungan dengan surel itu selain frasa-frasa ?orang iseng? dan ?hacker jenius? lalu muncul kata-kata penyerta lainnya: ?kreatif?, ?teroris?, ?tanda-tanda zaman?, ?atheis?, ?murtad?, ?fitnah?, dan masih banyak lagi. Belum lagi variasinya dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Lalu muncul pula Facebook dan Twitter ?sejuta menolak tuhan@el-langit.com? atau semacam itu. Dua hari kemudian, tiba-tiba saja pihak aparat mengadakan jumpa pers sambil senyum-senyum. Seorang lelaki muda kusut-masai berada di tengah-tengah mereka dan puluhan pewarta yang tengah bersemangat.
?Kami telah menemukan pelakunya.?

Tapi, tiba-tiba aku merasa sunyi, sekaligus kehilangan ? dan berharap apa yang muncul di layar kaca itu bukanlah sebuah kebenaran. Aparat juga kadang-kadang suka mengambil jalan yang mudah, bukan? Malam hujan, aku membuka laptop-ku kembali, seperti orang-orang kesepian lainnya. Lalu surel-ku. Lalu, surel itu. Mendadak aku menyadari sesuatu, lalu membuka jendela yang lain dan kemudian mencoba mencari alamat www.el-langit.com. Semoga saja ada.

Ada!

Tetapi yang muncul di layar hanyalah kata-kata: ?Sedang dalam Perbaikan?, berlatar gambar imaji angkasa raya. Lalu di lajur sebelah kiri berderet rujukan laman serupa dalam ratusan bahasa yang ada di dunia ini. Kucoba buka beberapa di antaranya, isinya sama saja, bahwa situs itu sedang dalam perbaikan, dalam bahasanya masing-masing. Aku pun terpuruk di kursiku.

Barangkali ketika menemukan gagasan terakhir tadi, tanpa sadar aku agaknya berharap terlalu banyak. Bahwa aparat sekali lagi berbohong kepada publiknya Apalagi, beberapa hari terakhir terngiang-ngiang kembali kata-kata yang pernah disampaikan oleh surel itu kepadaku. Di dalam situ aku seperti berharap menemukan sesuatu. Sesuatu yang barangkali dapat membilas kesepian dan kekosonganku.

Aku kemudian beralih kembali ke surel-ku. Oya, ada surel dari Madinah. Datang tiga hari yang lalu rupanya.

?Sudah lihat website-nya? Isinya sih, bagus.?

Hanya itu. Sudah; jawabku dalam hati. Isinya bagus? Aku meragukannya. Bahkan latar laman-mukanya pun tidak terlalu menjanjikan.

Lalu kembali ke surel itu.

Klik. Masih tulisan yang sama; tentu saja.

?Untuk apa Facebook dan Twitter? Aku bahkan lebih dekat daripada wajahmu.?

Klik lagi pada balasan:

?Aku rindu padamu ?.?

Apa-apaan ini? Apakah aku harus mengkliknya?***

Payungsekaki, 120610.

Gde Agung Lontar adalah sastrawan Riau, menulis berbagai genre sastra. Pernah memenangkan berbagai penghargaan sayembara sastra. Tinggal di Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *