Aku Akan Pulang

Nurdiyana Munir
http://www.suarakarya-online.com/

Langit masih berwarna jingga ketika aku duduk di sebuah bangku taman. Beragam pepohonan yang ada malah menimbulkan suara berisik ketika ditiup angin senja. Berisik, bukan saja karena ramainya suara gesekan daun yang diterpa angin, tetapi juga deru kendaraan bermotor yang lalu lang memasuki pintu taman.

Hm, ya, ada juga suara cekikikan dan celotehan anak-anak muda yang bergerombol berebutan tempat duduk yang masih kosong.

Kusibakkan anak rambut yang terjuntai diwajahku. Ah, seharusnya rambutku tak kuponi. Dasar Melinda yang memaksaku memotong rambut dengan style poni yang menurutku konyol. Melinda, adalah adik kosku yang manja. Dia bisa menikmati pekerjaan barunya sebagai penata rambut disebuah salon keluarga.

Dia selalu menjadikan aku model bentuk-bentuk potongan rambut baru yang menurutnya bagus dan cocok untukku. Sabtu lalu, kembali dia membujukku agar rambutku diperbarui modelnya. “Kak Diah tuh emang harus pake poni, biar ga keliatan tua,” ujarnya sambil menyeretku ke salonnya.

Dan, dengan model rambut yang baru, dua hari lalu, ketika aku mendapatkan kesempatan untuk off, aku pergi ke mall dengan Melinda.

Hmmmmh, aku menghela nafas sejenak di sebuah dinding kaca pertokoan yang memantulkan wajahku. kelihatan dengan jelas wajah asliku. Aku ternyata sudah tua. Tidak terasa, usiaku sudah mendekati 30 tahun. Tapi, kapan aku segera bersuami?

Aku masih enggan beranjak dari taman ini.Dulunya, tempat ini bukan taman. Tapi POM Bensin milik Pertamina. Entah kenapa sekarang sudah disulap menjadi taman yang apik dan sejuk. Banyak yang menyebut tempat ini sebagai taman Dolog, karena letaknya bersebelahan dengan gedung Dolog.

Selain taman itu, sebenarnya sudah ada beberapa taman lain yang bermunculan di kotaku. Tuntutan keseimbangan agar atmosfer bumi tak penuh polusi di setiap sudut dimunculkan taman-taman kota, dan bisa dimanfaatkan keluarga untuk refreshing. Untuk alasan itulah, aku hadir di taman ini. Sepulang kerja aku sengaja ingin menikmati suasana lain yang bisa menenangkan jiwaku. Aku memilih duduk di bangku yang jauh dari keramaian, tepat dibawah pohon berdaun rimbun sehingga teduh. Di taman itu aku ingin menghilangkah gundahku.

Ya, aku sedang gundah! Tadi malam abangku mengirimkan pesan pendek melalui telepon genmagam.
“Bapak ingin kamu segera pulang dinda. Ada yang ingin dibicarakan. Penting, kayaknya…”
Aku penasaran. Hatiku menjadi tidak nyaman. Langsung aku menelepon balik abangku.

“Iya bang, ada apa sebenarnya? Kok mendadak ada yang penting ingin dibicarakan denganku? Bapak sama Emak baik-baik saja kan?” “Ah, dinda, kamu baik-baik saja to? Gak ada apa-apa, kok sebenarnya. Orang tua kita sehat. Tapi kami ingin dinda pulang sejenak. Emm…” abang sengaja menggantung kalimatnya.
“Ada apa, bang? Kok seperti ada yang dirahasiakan?”
Abang tetap diam saja, ketika kutanyakan hingga tiga kali. “Sudahlah abang bilang saja padaku ada apa sebenarnya.”
“Emm, dinda sebaiknya pulang saja dulu. Nanti kita bicara bersama disini,” Abang masih berkelit dengan halus.

“Bang Lukman, tolong abang bilang padaku sejujurnya. Ada apa? Tentang perjodohan itu lagi kah?” aku berusaha menebaknya “Iya dinda, tentang perjodohan itu.” Nada bicara abang akhirnya merendah.

“Aku tak mau”. Sudah kubilang kan bang? Aku tak mau? Kenapa abang tak juga mengerti? Aku adalah adik abang, please. Jangan paksa aku terus. Aku gak akan mau…”

“Dinda, siapa nanti yang akan menjagamu? Usiamu makin bertambah. Tak baik menolak niat baik orang. Emak ingin dinda dirumah saja. Berkumpul dengan keluarga. Sudah terlalu lama dinda dirantau. Apa sebenarnya yang dicari, dinda?”

Aku merenung akhirnya. Ya, apa sebenarnya yang aku cari diperantauan ini? Kebahagiaan? Ya, itu belum kudapatkan, meski setiap bulan aku mendapatkan gaji yang lumayan besar. setiap pekan aku bisa menonton film-film pilihan di bioskop mahal, setiap bulan aku biusa memiklih busana baru di butik, setiap akhir pekan aku bsa traveling. Teman banyak untuk tertawa. Ya, apa yang sebenarnya kucari? Kebahagiaan? Belum kudapatkan.

Usiaku sudah mendekati 30 tahun, tapi aku belum bersuami. Sementara kedua orangtuaku sudah merindukan momongan dariku. Di kampung halamanku, nun jauh di sana di pedalaman Pulau Madura, usia 30 tahun seperti ku sudah memberikan momongan dua hingga tiga cucu seperti yang diperlihatkan beberapa teman wanitaku semasa SD dulu.
“Dinda, dinda masih mendengarkan abang kan?” ujar abang memecah lamunanku.

“Sudahlah, salam buat Emak, ya, abang. Aku tak mau berdebat dengan abang lagi. Aku mau tidur. Ngantuuuk. Besok aku harus ketemu klien pagi-pagi untuk presentasi” kataku, lirih

“Yah, istirahatlah. Mintalah cuti dari tempat kau bekerja barang 2 atau 3 hari. Abang sayang dinda,” terdengar sedikit bergetar suara abangku.

* * *

Kini di kamar tidurku, permintaan abangku agar aku segera pulang kembali terngiang-ngiang. “Dinda, usiamu sudah mendekati 30. Orangtua kita ingin segera melihatmu bersuami. Orangtua kita sudah menjodohkamu dengan seorang pria sederhana. Dia bisa jadi imam yang baik, dinda. Jadi, pulanglah.”

Tapi, ah… aku tak mau diganggu pikiran itu. Segera kubenamkan wajahku diatas bantal. Aku sedang tidak ingin memikirkan apapun lagi. Besok aku harus segera bertemu dengan Pak Hendra, lalu membahas tentang penyelenggaraan event launching produk susu Choco-M.

Aku berhasil memenangkan project event ini dengan susah payah. Aku tidak mau usaha kerasku berakibat buruk karena pikiranku suntuk tentang perjodohanku.

Tapi, benarkah menjadi lajang di era emansipasi sekarang ini berarti buruk? Tidak bolehkah wanita dari desa menikmati perjalanan sukses sebagai wanita karir di kota? Ah, aku harus melupakan ajakan pulang abangku.

Dan hari ini, hasil meetingku berjalan diluar dugaan. Pak Hendra tidak puas dengan rancangan stage dan rundown acara yang kubuat. Beliau terlalu cerewet. Banyak permintaan materi tambahan. Danini berarti aku harus memangkas biaya dari bagian-bagian tertentu.

“Bu Diah, saya percaya EO ibu bisa membuat acara saya lebih dari sekedar launching biasa. Saya sudah setuju dengan penawaran budget yang ibu tawarkan. Tapi kenapa acaranya hanya diisi dengan permainan, dan diskusi short time? Cobalah tambahkan ide segar lagi di dalamnya. Saya tunggu hasilnya besok. Bagaimana?”

Aku tersenyum kecut. “Pasti, pak. Nanti saya akan membuat rancangan materi yang lebih segar. Saya buatkan lagi untuk materi tambahan besok,” hatiku mengeluh. Hah, kenapa mereka jadi banyak menuntut sih?

Menjadi seorang Creative Editor memang dituntut untuk menyesuaikan dengan selera klien. Sebagus apapun rancangan acara yang sudah dibuat, tapi tidak sesuai dengan selera mereka, tetap akan ditolak dan minta revisi disana-sini.

Inilah pekerjaan yang kugeluti sejak tahun lalu. Dan aku begitu menikmatinya. Setiap hari bergelut dengan tuntutan untuk menelorkan ide-ide segar, manjadi stage management kalau event sudah digelar dan menjadi ahli presentasi yang baik ketika sedang bertemu klien.

Pulang balik ke kantor, aku langsung membuka file-file rancanganku di komputer. Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa lelah. Padahal sebelumnya aku selalu merasa optimis dengan semua tantangan yang ada.

“Hai Diah, gimana tadi hasil meetingnya dengan Pak Hendra? Eventnya fixed tanggal 15 bulan depan kan?, langsung di atur aja ntar promo iklannya di radio, dan majalah,” Big boss mendekati mejaku.

Aku suka sosoknya yang easy going. Namanya Rico (mirip Rico Ceper,hehehe). Khas dengan kaca mata dan kemeja lengan panjang yang selalu dilipat sampai siku.

“Hah, capek mas. Cerewet banget orangnya. Dia minta aku membuatkan materi baru lagi sebagai tambahan acaranya. Kita bakal keluar dana lagi nih. Tapi ya udahlah nanti kucoba bikin yang seru dengan dana kecil. Hehhehe, kalo materi iklan dan design flyer udah fixed.”

“Seep. You got my thumbs up girl. Kamu pasti bisa deh. Kalo bisa kamu, selesaikan sekarang permintaannya. Kalo butuh apa-apa sekedar ngemil kamu bisa pesen delivery. Ntar aku yang bayarin. Asal ada bukti kasbonnya. Oke?” Mas Rico mengacungkan jari telunjuk sambil memicingkan sebelah matanya.

“Yup! okay” aku acungkan kedua jempolku. Kuharap aku bisa segera pulang. Aku gak ingin lembur dikantor. Aku ingin rileks sejenak. Permintaan materi tambahan biar aku kerjakan dirumah saja.

Aku bernafas lega ketika akhirnya Mas Rico pamit pulang duluan. Kulirik jam tanganku, pukul 16.10. Hanya tinggal aku, Riri dan Alfred. Riri adalah staff keuangan, bagian ngurusin penagihan dan tetek bengeknya, sedang Alfred adalah DG (designer graphis) yang lagi sibuk mengerjakan disain iklan promo dari provider yang memiliki slogan: ‘Begitu dekat. Begitu Nyata’.

“Aku pulang duluan yah, kerjaan sisa biar kukerjakan dirumah. See u guys,” aku berpamitan sambil membenahin berkas-berkasku.
Alfred mendongak sekilas.

“Dianter sapa Diah?, minta anter pak Bagiyo gih kalo ga ada yang nganter, mumpung mobil kantor lagi nganggur. Kasian, mukamu pucet tuh. Kecapekan yah,” Alfred menilik mukaku.

Akhirnya aku benar-benar minta diantar pulang Pak Bagiyo. Tapi bukannya pulang ke kos. Aku minta diturunin di Taman Dolog.

* * *

Hah, aku masih belum ingin beranjak meninggalkan taman ini. Menjelang magrib, pikiranku masih melayang. Terbayang wajah emak, abang dan bapakku.

Mungkin adalah keberuntunganku aku bisa melanjutkan kuliah dan menekuni karierku seperti sekarang ini. Penggila kerja. Tapi aku memulainya dari nol. Aku masih ingin menikmatinya.

Ah, aku tak ingin menangis. Apakah aku egois?! Pikiranku kembali terlempar ke sekitar tempat tinggalku di Sumenep. Seorang guru SD bernama Suwarno yang tinggal disebelah rumah, berniat untuk melamarku. Huh!! Kenapa harus dia seh?

Aku lantas membandingkannya dengan sosok Diki, Rino dan beberapa temen terdekatku dulu. Jauuhhh, jauh berbeda!!. Aku sering nongkrong dengan Diki di Starbuck sambil bercerita banyak hal. Bersama Diki aku sering pula mengimpikan bisa memiliki rumah sendiri dan peningkatan karier yang lebih matang.

Tapi akhirnya aku hanya menahan marah ketika melihatnya sedang memeluk Tanya. Perempuan selingkuhannya. Aku muak. Sama halnya dengan Rino yang ternyata tak berani untuk melangkah serius denganku. Bisanya cuma janji dan janji gombal saja akan menikahiku.

Bagaimana dengan Suwarno? Dia hanyalah seorang guru SD. Pegawai Negeri yang juga pandai berkebun.
Aku tidak tahu bagaimana ceritanya sampai laki-laki ini punya niat serius untuk melamarku. Padahal aku hanya ketemu dengannya sekali. Emak paling sering memujinya.

“Rajin shalat anaknya. Ramah dan santun,” itulah komentar emak yang kudengar setelah aku berkenalan sebentar di depan pagar rumah. Usianya tak beda jauh denganku. Sangat sederhana.

Aku memejamkan mata, menikmati angin menyentuh wajahku. Aku tak ingin berbagi tentang masalah ini pada siapapun. Impianku terlalu tinggi. Mungkin.

Yah, mungkin.Baiklah jika memang aku harus pulang. Perjalanan karier ini akan berakhir sampai disini. Aku akan pulang emak. Aku akan membahagiakan kalian semua. Ternyata perempuan tetap perempuan. Terlebih dilihat darimana adatnya berasal.

Aku meraih HP di tasku. Ku pilih menu phonebook dan kucari nama yang selama ini sangat kukenal. Abangku. Abang yang begitu mencintai adiknya. Abang yang selalu membelaku ketika aku harus bertengkar dengan bapak, hanya karena aku ingin kuliah di kota.

“Biar dinda kuliah, aku yang akan menggarap sawah. Biar aku yang akan membantunya nanti,” Sergahnya di hadapan bapak. Bapak pun tak mampu menahanku.
Abang Lukman memelukku erat.
“Abang tahu dinda pasti akan berhasil, karena dinda kuat dan pintar.”
Aku kuliah sambil bekerja. Dan kekuatanku juga karena cinta abangku.
“Assalamualikum,ya Dinda, halo halo,” Sapaan salam abang selalu untukku.
Aku diam, air mataku menetes “Dinda, halo, dinda baik2 saja? Halo? kenapa dinda diam? Halo”
Abang mulai resah,
“Dinda akan pulang akhir bulan depan. Salam buat mas Suwarno.”
Kututup segera HPku. Air mataku tak bisa kubendung.
Tumpah tak terkendali. Kakiku terasa berat melangkah. Aku ingin segera sampai dikamarku.
Aku sudah mengambil keputusan. ***

* Sby, 6 November 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *