Boneka Kesayangan

Ragil Nugroho
http://www.sinarharapan.co.id/

Seorang ibu dan bocah perempuannya tampak sedang asyik mengobrol. Mereka ngobrol di sebuah gubuk yang terbuat dari kardus beratapkan terpal warna hijau. Gubuk itu terletak tepat di bantaran kali Ciliwung, di daerah Kampung Melayu.

?Kenapa rumah kita digusur, Mak??

?Karena kita orang asing?.

?Jadi kita kayak bule-bule itu ya, Mak??

?Bukan. Kita orang-orang buangan.?

?Kayak sampah ya, Mak??

?Ya.?

?Kenapa mereka merampas bonekaku juga, Mak? Padahal aku sangat menyayanginya. Sering aku bermimpi melihat bonekaku itu hidup dalam penjara. Dulu, aku mendapatkannya ketika sedang mencari sampah. Boneka itu tergeletak di antara sampah-sampah yang berserakan. Memang agak dekil. Tapi segera aku bersihkan begitu sampai di rumah. Sejak saat itu, hanya dia yang setia menemaniku ketika tidur, Mak.?

?Mungkin mau dikasihkan anaknya.?

?Tapi mereka kan bisa beli sendiri, Mak. Bukankah boneka itu sudah dibuang di tempat sampah? Masa anak mereka mau boneka yang berasal dari tempat sampah?? kata bocah perempuan itu dengan wajah sedih. ?Mengapa ya, setiap yang kita miliki selalu diambil oleh mereka? Apa bedanya mereka dengan pencuri, Mak? Kata guruku, siapa saja yang mengambil barang orang lain tanpa izin atau dengan paksa, disebut pencuri. Apakah mereka pencuri, Mak??

?Mungkin.?

?Kalau mereka pencuri, mengapa para polisi itu malah mengawal mereka ketika barang-barang milik kita diambil, Mak? Kata guruku, tugas polisi adalah menangkap pencuri. Tapi kok mereka tidak ditangkap, Mak??

?Mungkin karena mereka berteman.?

?Kok polisi bisa berteman dengan pencuri, Mak? Apa polisi itu tidak takut dengan neraka? Kata guru agamaku, pencuri akan masuk neraka. Di neraka, tangan mereka akan dipotong, lalu akan tumbuh kembali, lalu dipotong lagi. Tubuh mereka akan dimasukkan juga ke dalam api neraka. Kalau berteman dengan pencuri, artinya mereka akan masuk neraka juga kan, Mak??

?Neraka itu hanya untuk orang miskin.?

?Jadi kita akan masuk neraka, Mak??

?Ya.?

?Bukankah kita tidak pernah mencuri, Mak? Kita hanya mengambil barang-barang dari tempat sampah, lalu kita jual lagi. Apakah itu mencuri, Mak??

?Tidak. Tuhan hanya berpihak pada orang kaya. Karena itu, orang kaya tidak akan masuk neraka.?

?Tapi, kata guru agamaku, Tuhan Mahapengasih dan Mahapenyayang. Siapa saja akan dilindungi oleh Tuhan, asalkan rajin berdoa padaNya.?

?Ya. Itu Tuhannya orang kaya. Orang miskin tak pernah punya Tuhan.?

Bocah perempuan itu ngeloyor pergi. Ia bingung dengan perkataan emaknya yang sangat berbeda dengan perkataan gurunya di sekolah.

Seperti biasa, bocah itu berjalan menuju sanggar, tempat berkumpulnya anak-anak yang tinggal di perkampungan kumuh. Sanggar itu didirikan oleh Romo Jesuit, seorang romo yang ingin lebih dekat dengan kehidupan rakyat miskin. Banyak kegiatan yang dilakukan di tempat itu, seperti belajar melukis, teater, menyanyi, menulis, dan lain-lain. Karena sifat Romo Jesuit yang baik terhadap penduduk sekitar dan sangat sabar, banyak anak-anak yang suka datang bermain ke sanggarnya.

Ketika bocah perempuan itu datang, ada sepuluh bocah yang sedang duduk mengelilingi sang romo yang tampak sedang memberi wejangan. Ia langsung berbaur dengan yang lain.

?Anak-anak, kita harus hidup rukun walau beda agama,? kata romo itu kepada anak-anak yang tampak serius memperhatikan kata-katanya.

?Tapi saya lihat di TV, kok masih banyak orang yang suka berantem dan saling mengejek, Romo? Padahal, agama mereka kan ada yang sama?? celutuk seorang bocah laki-laki dengan dahi berkerut.

Mendengar pertanyaan itu, sang romo hanya tersenyum. Kemudian, ia pun melanjutkan kata-katanya.

?Kita juga harus hidup rukun.?

?Tapi, kenapa seminggu yang lalu ada tawuran kampung, Romo? Ketika itu, aku pun ikut lempar-lemparan. Seru sekali, Romo!? kata seorang bocah laki-laki lain. Rambut bocah itu pirang, bukan karena disemir atau keturuan bule, tapi karena jarang dikeramas.

Romo itu kembali tersenyum. Tak dijawabnya pertanyaan bocah itu. Ia lalu melanjutkan kata-katanya.

?Kita tidak boleh melukai sesama manusia.?

?Tapi, kok petugas Trantib malah memukul bapak saya yang bekerja sebagai asongan di Stasiun Jatinegara, kemarin?? kata seorang bocah perempuan yang memakai kaos bergambar partai moncong putih.

Tidak dijawabnya juga pertanyaan itu. Seperti sebelumnya, sang romo hanya tersenyum. Anak-anak pun mulai jengkel karena pertanyaan mereka hanya dibalas dengan senyuman. Melihat gelagat ini, romo itu cepat-cepat mengatasi situasi dan berkata.

?Mereka tidak punya senyuman.?

Mendengar jawaban itu, bocah perempuan yang tadi berbicara dengan emaknya langsung berseru, ?Dulu bapak presiden kita gampang tersenyum. Tapi kata bapakku, dia kejam sekali, Romo!? Selesai berkata begitu, bocah itu langsung ngeloyor pergi. Ia kesal mendengar kata-kata romo yang lemah lembut dan penuh senyum, namun tidak satu pun yang sesuai dengan pemikirannya.

Tiba-tiba, ia teringat kembali mimpinya dua hari lalu. Ia bermimpi naik mobil mewah, mengunjungi mal, membeli baju-baju bagus, makan makanan yang enak-enak, bermain ke taman wisata, dan melakukan semua hal seperti yang dilihatnya di sinetron TV beberapa waktu yang lalu. Masih terbayang pula dengan jelas, betapa sedihnya ia ketika tiba-tiba terbangun dan menyadari kalau ternyata itu hanya mimpi belaka. Seperti halnya mimpi itu, baginya, kata-kata romo tadi cuma bisa terjadi dalam mimpi saja.

Sesampai di tempat pembuangan sampah, bocah itu berhenti melangkah. Segunung sampah tampak menjulang di depannya. Sekumpulan bocah seusianya terlihat sibuk mengorek-ngorek sampah tanpa terganggu bau yang tajam menusuk. Ada yang mengumpulkan botol bekas air mineral, kardus, plastik, bahkan ada yang hanya duduk-duduk sambil bermain dengan temannya di samping tumpukan kantong plastik yang dikerumuni lalat. Bau yang menusuk seakan tak tercium lagi bagi hidung mereka yang sudah terbiasa.

***
Seorang perempuan muda cantik dengan rambut tertata ala salon dan seorang bocah perempuan berpipi merah dan berkepang satu, kira-kira berumur sebelas tahun, tampak berjalan memasuki sebuah toko mainan terbesar, di sebuah kawasan pertokoan mewah yang terkenal dengan harga-harga produknya yang selangit.

Seperti biasa, setiap masuk ke toko ini, bocah itu berjalan menuju deretan rak berwarna kuning biru, tempat berlusin-lusin boneka aneka bentuk terpajang apik dan menarik. Toko itu memang terkenal dengan dekorasinya yang bak istana mainan dan produknya yang berkualitas impor sehingga selalu menjadi tempat pilihan para orang tua berkantung tebal untuk memanjakan anak-anaknya.

Dan seperti biasa pula, beberapa orang penjaga toko dengan sigap mengikuti langkah bocah itu sambil sesekali memamerkan senyum di bibir mereka yang terbingkai pemulas berwarna merah menyolok.

Sesampai di sudut ruang, bocah perempuan itu berhenti melangkah. Sebuah boneka anjing penjaga jenis Helder, seperti yang banyak dimiliki oleh para polisi, tampak menarik perhatiannya.

?Mamaaa… aku mau yang ini!? teriak bocah perempuan itu sambil menarik-narik telinga boneka anjing itu, tanpa peduli kalau beberapa boneka lain mulai berjatuhan dari rak sekitarnya.

?Yang mana, sayang?? jawab mama bocah itu sambil membelai rambut hitam anaknya dengan jarinya yang lentik terawat, yang dihias dengan cincin berlian bersusun tiga.

?Ini,? kata bocah itu sambil menunjuk boneka pilihannya dengan jarinya yang pendek dan gemuk.

Tanpa berkata-kata, dengan hanya menatap ke salah satu wanita penjaga toko yang sejak tadi mengikuti anaknya, mama bocah itu lalu berjalan menuju kasir. Dengan tergopoh-gopoh, wanita penjaga toko yang merasa ditatap tadi segera menggendong boneka anjing tersebut dan mengikutinya.

?Berapa, Mbak??

?Tiga ratus dua puluh ribu, Bu,? kata wanita petugas kasir dengan ramah sambil mencoba tersenyum, namun tidak dibalas.

Setelah membayar dengan kartu kredit berlogo salah satu bank internasional terbesar, mereka pun segera meninggalkan kawasan pertokoan yang tampak mulai ramai di siang itu. Sebuah mobil Mercedes berwarna hitam mengilap tampak sudah menanti mereka di depan salah satu pintu keluar pertokoan, dan segera meluncur mulus begitu pintu mobilnya tertutup.

***
Di depan sebuah rumah megah yang berpagar tinggi dan dijaga oleh seorang satpam berkumis lebat, mobil Mercedes itu berhenti sejenak. Setelah menunggu gerbangnya dibuka, mobil itu pun terus melaju dan berhenti tepat di depan pintu masuk yang terbuat dari kayu jati berukir indah dengan gagang berwarna keemasan dan berhias kepala seekor harimau.

Dari balik kaca jendela bertirai putih tipis, tampak seorang perempuan separu baya berlari tergopoh-gopoh membuka pintu. Dengan langkah ribut, bocah perempuan itu menerobos masuk dan berlari menuju kamarnya di lantai atas sambil menggendong bungkusan bonekanya.

Di kamarnya, ratusan boneka berjajar di rak yang terpasang kokoh di dinding yang berwarna merah muda. Saking banyaknya, beberapa boneka tampak berserakan di lantai kamar, di atas tempat tidur dan di atas sebuah sofa kecil di dekat jendala. Boneka anjing yang baru dibeli tadi diletakkannya di dekat bantal. Sambil tiduran, dipandanginya boneka barunya itu dengan tatapan kagum. Sebuah boneka kecil, yang tampak mengganjal di bawah kakinya, diambilnya dengan terpaksa.

?Dunkin, kau sudah tua dan harus pensiun. Penggantimu sudah ada. Jadi kau harus meninggalkan rumah ini, ya,? kata bocah perempuan itu sambil melempar boneka yang dipanggilnya Dunkin ke keranjang sampah yang ada di balik pintu.

***
Di depan sebuah kawasan perumahan mewah, seorang tukang sampah tampak sedang mendorong gerobak sampahnya yang catnya sudah terkelupas sana-sini dan keempat rodanya selalu berbunyi mencicit jika porosnya berputar, menuju ke tempat pengumpulan sampah.

Di tempat itu, sudah menunggu sebuah truk sampah besar yang siap menampung hasil keringat para tukang sampah selama sehari penuh untuk kemudian dibawa ke tempat pengumpulan sampah utama. Melajulah truk itu di jalan raya sambil menyebarkan aroma busuk sepanjang jalan.

Setelah setengah jam melintas di jalan raya, truk itu sampai juga di tempat pengumpulan sampah utama. Bak melihat sebuah mobil pick-up pembagi sembako, kedatangan truk sampah itu disambut gembira oleh para pemulung yang sudah ramai berkumpul. Tanpa menunggu aba-aba, sampah-sampah yang dimuntahkan truk itu langsung menjadi bahan rebutan di antara mereka. Siapa cepat, akan dapat sampah yang terbaik. Itulah moto para pemulung itu.

?Horeeeee! Aku dapat boneka lagi!? teriak bocah perempuan yang kemarin bersedih karena kehilangan bonekanya.

Dengan wajah girang, didekapnya boneka temuannya itu, yang di bagian kepalanya melekat sebuah permen karet dan terdapat bercak saus tomat di bagian dadanya, tanpa peduli baunya yang seperti susu basi. Dengan pandangan kagum, diperhatikannya boneka dalam dekapannya itu, yang menyerupai kelinci berbulu coklat kusut dengan bola mata bening dan segaris senyum yang menyenangkan.

?Mulai sekarang, kau jadi milikku. Oh iya, kata guruku, supaya buku sekolah tidak hilang, kita harus menuliskan nama kita di sampulnya. Dan supaya kau tidak hilang, saya akan menulis namaku di bajumu.?

Diambilnya sebuah spidol bekas, yang kebetulan tergeletak di dekat sebuah kursi rotan rusak berkaki tiga, yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

?A…N…I….? Bocah perempuan itu mengeja namanya sendiri sambil menggerak-gerakkan spidol di tangannya. Setelah selesai, dibacanya lagi tulisannya itu sambil tersenyum, ?Ani.?

?Sekarang, kau pasti tidak akan hilang. Kau akan selalu ada bersamaku dan aku akan selalu menjagamu,? gumam bocah perempuan itu sambil sekali lagi memandang tulisan namanya yang tampak berkelok-kelok seperti jalanan ke puncak, dengan mata berbinar.

***
Bocah perempuan yang hidup di rumah mewah itu tidak mau pisah dengan boneka anjingnya. Ke mana pun, boneka itu selalu dibawa. Karena ukurannya besar, sering kali merepotkan mamanya. Ketika dilarang untuk dibawa, bocah perempuan itu pasti langsung menangis. Kalau sudah begitu, mamanya tidak bisa berbuat banyak, selain membiarkan boneka anjing besar itu dibawa.

***
Bocah perempuan yang hidup di pinggir kali itu tidak pernah pisah dengan boneka kelincinya. Ke mana pun ia pergi, boneka itu selalu dibawanya serta. Sering kali, ketika romo di sanggar bercerita tentang kehidupan atau hal-hal lain yang tidak disukainya, bocah perempuan itu malah terlihat asyik dengan bonekanya di sudut ruang sanggar.

Ataupun di tempat pembuangan sampah, ketika teman-temannya sedang asyik mengorek-ngorek tumpukan sampah yang datang beberapa hari lalu, ia malah tampak serius berbicara dengan bonekanya. Jika waktunya tidur, boneka itu selalu ada dalam dekapannya dan tidak pernah lepas hingga pagi tiba.

***
Seminggu kemudian. Di sebuah rumah mewah, seorang bocah perempuan berpipi merah dan berkepang satu menuruni tangga dengan menggendong boneka anjing yang besar.

?Sinta, ini papa pulang,? panggil seorang lelaki yang berpakaian necis, lengkap dengan jas dan dasinya.

?Papa, papa,? teriak bocah itu sambil memeluk papanya setelah membuang boneka anjing besar di lantai.

?Ini papa bawakan oleh-oleh untukmu?, sambil berkata, lelaki itu membuka kardus besar. Setelah isinya dikeluarkan, ternyata kardus itu berisi boneka harimau, yang besarnya sama dengan boneka anjing bocah perempuan itu.

?Ini papa beli di New York.?

?Bagus sekali, Pa. Kayak harimau beneran.?

?Kulit boneka ini kulit harimau beneran.?

Boneka harimau itu mau digendongnya. Karena tidak kuat, boneka harimau itu terjatuh. Setelah dibantu papanya, ia baru bisa menggendong boneka harimau itu, kemudian membawanya ke dalam kamar. Sementara itu, boneka anjing tetap tergeletak di lantai ruang tamu.

Pagi ini, sang bocah perempuan itu bersuka ria karena mendapatkan boneka harimau besar dari papanya.

***
Sementara itu, di pinggir kali, seorang bocah perempuan berwajah muram duduk termenung. Ditatapnya air kali yang berwarna kecoklatan dengan pandangan sayu. Semalam, hujan turun dengan lebat. Sungai meluap dan banjir bandang pun datang. Rumahnya hanyut. Begitu juga semua isinya. Tidak ada yang berhasil diselamatkan.

Boneka yang oleh pemilik awalnya diberi nama Dunkin itu, juga lenyap terbawa arus kali. Mata bocah perempuan itu berkaca-kaca. Ia kehilangan boneka yang amat disayanginya, yang baru-baru ini diberinya nama Taro, seperti tulisan yang dilihatnya di sebuah kemasan makanan ringan berwarna hijau yang tergeletak di atas bangku taman, kemarin.

Air sungai itu terus mengalir menuju muaranya, tanpa perduli dengan kesedihan bocah perempuan itu.

Jkt, 14/10/04

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *