Dolar Dalam Amplop Coklat

Wayan Supartha
http://www.balipost.co.id/

Tengah malam, Made Darmi mengigau, ”Beli… beli tak usah jujur.” Seraya menggeliat gelisah, igauannya itu dilanjutkannya. ”Sekarang zaman Kaliyuga. Mana ada orang jujur. Presiden saja bisa berkuasa tigapuluh tahun lebih dan menilep uang rakyat bertahun-tahun. Banyak pejabat yang menilep uang rakyat bermilyar-milyar. Kok kita rakyat kecil tak boleh?”

LANTARAN hanya mengigau, Gede Arka tak bernafsu mendengarkannya. Malam ini, ia sangat capek. Ia ingin cepat-cepat tidur lelap, agar bisa bangun pagi keesokan harinya.

Dengan suara yang lebih mantap, Darmi melanjutkan bicara. ”Kita perlu hidup kaya. Kalau orang lain hidup kaya, kenapa kita tak boleh kaya? Luh Kerti harus bisa sekolah setinggi-tingginya. Sekolah itu mahal. Bayar uang gedung, bayar sumbangan, buku-buku mahal, baju seragam mahal.”

Arka mengubah posisi tidurnya, lalu menoleh ke arah istrinya. ”Tidurlah. Hari sudah larut malam. Nanti badanmu bisa sakit,” bujuk Arka sambil menahan kantuk.

”Apa beli pikir aku bisa tidur kalau tetap beli ngotot?” teriak istrinya dengan nada melengking. Ia bangkit. Matanya melotot. Rambutnya terurai. Ia tampak marah sekali seperti harimau sedang lapar. ”Beli harus segera ambil keputusan. Uang itu disimpan di bank. Biar orang tidak curiga, kita ambil sedikit-sedikit!” tegas sekali suara Darmi.

Kantuk Arka hilang. Istrinya ternyata tidak mengigau. Darmi amat bersungguh-sungguh malam ini. Arka jadi bingung dan panik. Ia bangkit dan merogoh saku baju. Sebatang rokok ia ambil. Ia berharap, dengan rokok itu ia bisa lebih tenang. Duduk menghadap meja, lama Arka termenung. Darmi kembali merebahkan tubuhnya, sambil memperhatikan Kerti yang sedang demam. Anak keduanya itu (anak pertama meninggal karena terserang demam berdarah) sejak kemarin batuk-batuk dan badannya agak panas.

Arka menduga, istrinya memberikan kesempatan kepadanya untuk berpikir. Tepatnya, menimang-nimang sebelum memberikan jawaban pasti. Jawaban yang sangat memuaskan dirinya. Tapi mampukah Arka berpikir atau menimbang-nimbang? Sebetulnya, keputusannya sudah bulat untuk menuruti suara hati nuraninya. Meskipun untuk itu risikonya besar sekali. Ia harus berani berhadapan dengan istrinya yang galak dan emosional. Ia harus siap menanggung apa yang terjadi pada istrinya. Mungkin ia menerkam, ngamuk, atau merusak apa saja yang bisa dirusak. Atau ia minggat ke mana saja, atau ia minum racun nyamuk atau gantung diri.

Tapi, Arka tetap berpendapat, sikap yang diambilnya benar. Lantaran benar, ia harus melakukannya tanpa ada perasaan takut. Dharma wacana yang pernah ia dengar, siapa yang membela kebenaran akan dilindungi oleh kebenaran itu sendiri. Ingat pada dharma wacana itu, Arka lalu memilih pendapatnya sendiri ketimbang pendapat istrinya.

Arka masih ingat betul ketika peristiwa itu terjadi kemarin siang. Di Pasar Badung, saat ia bertugas seperti biasa sebagai juru parkir, di depan sebuah kantor bank, matanya tertuju pada sebuah bungkusan amplop coklat. Hatinya tertarik untuk mengambilnya. Tapi kemudian ia menduga, bungkusan itu hanya bungkusan gombal, hasil karya anak-anak penjahit yang nakal, seperti yang ia pungut tempo hari. Di sebelah kantor bank itu memang ada sejumlah tukang jahit yang sering ngerjain orang.

Tapi meskipun hanya bungkusan gombal, Arka ingin memungutnya juga. Arka sudah kebal dijadikan bahan ejekan anak-anak penjahit yang usil itu. Pada mulanya, Arka marah juga ketika merasa dipermainkan. Namun lama-lama ia jadi kebal juga. ”Biarlah ia menjadi senang dengan kebodohanku. Biarlah ia tertawa ngakak akibat perbuatanku yang konyol ini. Daripada mereka marah-marah, suka mempermainkan wanita atau jadi perampok, kan lebih baik begini. Jika aku dapat menyenangkan orang lain, bukankah juga dapat pahala?” ucap Arka dalam hatinya.

Bungkusan itu dimasukkan ke dalam saku celananya. Seperti yang ia duga, anak-anak penjahit itu tertawa terpingkal-pingkal. Seorang tukang jahit mengira, permainan temannya cukup sukses. Yang diduga sukses sebaliknya mengira, permainan temannya kali ini tak sia-sia. Mereka tertawa penuh kemenangan. Makin keras tawa penjahit itu, makin senang pula hati Arka. Sebab ia merasa sukses membuat orang lain senang. Itu pula sebabnya, ia bekerja seperti biasa, tanpa merasa diganggu oleh ejeken dan bungkusan itu. Bahkan, ia sering lupa kalau di kantong celananya ada bungkusan. Apalagi, kendaraan bermotor yang parkir cukup ramai, silih berganti.

Ketika matahari condong ke barat, Arka berkemas-kemas mau pulang. Sebenarnya ia masih bisa lembur sampai malam. Tapi, dengan alasan demi keluarga, ia putuskan untuk pulang. Ia berpikir, untuk apa uang banyak kalau tak pernah berkumpul dengan keluarga. Dulu, ia berangkat kerja di pagi buta, ketika anaknya masih tidur, dan datang di malam hari saat anaknya sudah lelap. Belakangan, ia merasa berdosa, jika tak pernah menyediakan waktu untuk istri dan anak. Seperti biasa, tiba di rumah, ia langsung mencium Luh Kerti, putrinya yang masih TK itu. ”Sudah minum obat, ya?” tanya Arka sambil meraba dahi putrinya yang masih pucat. Kerti menjawab dengan kecupan. Setelah itu, ia balik ke kamar, nonton film kartun.

Arka segera melempar celananya yang kumal ke dalam ember cucian. Istrinya segera mengambil untuk dicuci. Itulah kebiasaan mereka tiap sore.

”Bungkusan apa ini, beli?” tanya Darmi saat merogoh kantong celana suaminya.

”Bom. Awas bisa meledak,” teriak Arka berkelakar.

Secepat kilat Darmi melemparkan bungkusan itu. Ia kaget juga, siapa tahu, omongan suaminya benar. Soalnya, di saat negara yang sedang gawat seperti ini, bom sering mengancam di mana-mana. Sudah banyak korban yang berjatuhan. ”Mana ada bom seperti ini. Kalau itu memang benar bom, sudah dari tadi meledak. Aku pasti sudah jadi arang,” Arka terkekeh.

Keberanian Darmi muncul lagi. Ia lalu mendekati dan mengambil bungkusan itu dengan sangat hati-hati, setelah yakin bungkusan itu bukan bom. Ternyata? Mata Darmi melotot bersinar-sinar seperti mata kucing di malam hari. Antara percaya dan tidak, ia berteriak, namun suaranya agak tertahan.

”Uang…uang..! Aduh Dewa Ratu…, kita sekarang kaya,” Darmi segera masuk kamar. Arka membuntuti dan merebut bungkusan itu. Debaran jantungnya menggelepar-gelepar seperti ikan gurami hendak disembelih.

Arka memperhatikan pecahan uang itu. Ternyata uang dolar dengan nilai nominal bervariasi. Ada 10, 50, 100. Uang kertas itu dibolak-balik berkali-kali. ”Apakah uang ini asli?” tanyanya dalam hati. Sebagai juru parkir dan awam soal uang, tentu saja ia tak bisa memastikan apakah uang itu palsu atau asli. Sementara itu, istrinya menghitung dengan hati-hati. Jantungnya juga berdebar-debar.

”Beli, mungkin ini nilainya milyaran,” bisik Darmi. ”Kita sekarang jadi orang kaya baru.” Darmi menghitung uang itu, tapi tak tahu berapa rupiah nilainya. Sebagai seorang ibu rumah tangga tamatan SD yang hanya berkutat di rumah, Darmi tak pernah tahu kurs valuta asing. Ia tak pernah baca koran.

”Tapi jangan senang dulu. Ini kan belum tentu uang asli,” bisik Arka.
”Lho, siapa yang bisa bikin uang seindah ini? Ini pasti asli,” kata Darmi. Wajahnya berubah.
”Sekarang ini, dengan alat canggih, banyak orang memalsukan uang,” jawab Arka.
Wajah Darmi kian berubah. Ia agak percaya omongan suaminya yang sering keluar rumah. Ia tahu, suaminya sering baca koran di kios, dan sering omong-omong dengan orang bertitel.
”Untuk memastikan uang ini palsu atau asli, bagaimana caranya?” tanya Darmi.
”Alat canggih bank bisa mengetahui uang ini palsu atau tidak.”
”Berarti uang ini harus dibawa ke bank dulu?” tanya Darmi.
”Ya,” sahut Arka. Namun sesaat kemudian ia melanjutkan,” Kalau uang ini palsu, kita bisa celaka. Kita bisa dihukum dengan tuduhan mengedarkan uang palsu.”
”Lho, bilang saja kita dapat mungut. Jadi kita bisa lepas dari tuduhan itu.”
”Tapi kalau uang ini asli?”
”Kita bisa kaya raya.”
”Ah, nenek moyangmu….!” teriak Arka.
”Lho, memangnya kenapa?” tanya Darmi terheran-heran.
”Kalau asli dan kita bilang memungutnya, uang ini harus dilaporkan ke polisi, atau harus dikembalikan kepada pemiliknya.”
”Lho, edan apa! Ini kan hak kita. Kita dapat mungut.”
”Ya, tapi temanku yang sarjana hukum bilang, kalau dapat mungut uang, kita harus kembalikan. Kalau kita pakai sendiri, itu artinya sama dengan mencuri. Kita bisa dihukum penjara.”
”Lho, mungut uang kok dibilang mencuri. Memangnya kita ini punya tampang maling apa?” hardik Darmi dengan muka merah.
Arka tak menjawab. Ia menaruh uang yang dibungkus kembali itu di dalam pelangkiran — tempat mereka menaruh sesaji tiap sembahyang. Ia berpendapat, menyimpan di pelangkiran lebih aman. Selain ditunggui para dewa, juga tak lazim seorang maling memeriksa pelangkiran. Jadi kemungkinannya dibobol maling sangat kecil.

***

SEJAK peristiwa itu, rumah tangga Arka mulai gonjang-ganjing. Tiap hari Arka bertengkar dengan istrinya. Mereka tetap kukuh pada pendapatnya sendiri. Supaya tidak ada orang curiga karena menjadi orang kaya baru, Darmi punya usul pindah rumah. Jika perlu beli tanah dan membangun rumah secara pelan-pelan. Untuk mengelabui tetangga atau orang yang sudah mengenalnya, buka warung kecil-kecilan. Laris atau tidak laris, orang akan mengira, dari hasil warung itulah mereka bisa membangun rumah, beli sepeda motor atau bahkan mobil. Jadi, lantaran warung itu, orang tidak akan mengira, kalau uang yang dipakai adalah uang dari memungut.

Tapi pendapat Arka lain. Ia punya niat melaporkan penemuan itu kepada polisi. Nanti terserah polisi mengurusnya, apakah dolar itu palsu atau asli. Jika asli, terserah polisi mau mengembalikan ke mana.

Akibat tajamnya konflik itu, Darmi pulang ke rumah orangtuanya. Arka tak membujuk agar segera pulang. Ia juga tak menyusul. Ia membiarkan istrinya minggat sampai kemarahannya sirna sendiri. Namun untuk itu, ada pekerjaan ekstra yang harus diambil Arka. Pagi-pagi ia harus menyiapkan sarapan untuk putrinya. Arka harus juga bisa menyisir rambut putrinya yang panjang. Setelah itu, mengantar ke sekolah dan beberapa saat kemudian menjemputnya.

”Ngapain mama ke rumah kakek?” tanya Kerti dengan mata berkaca-kaca.
”Mungkin minta uang untuk beli baju baru buat hari ulang tahunmu,” jawab Arka mencoba menghibur.
”Lho, mengapa minta sama kakek? Bapak kan punya uang?” tanya Kerti. Arka terkejut. Jangan-jangan anaknya itu tahu, kalau ia telah memungut dolar.
”Dari mana bapak punya uang?” tanya Arka menguji.
”Bapak kan jadi tukang parkir. Tiap orang markir mobil harus bayar kepada bapak. Jadinya bapak banyak punya uang.” Arka menarik nagas lega. Jadi putrinya itu tak tahu, apa sumber keributan rumah tangganya. Ia memang ingin merahasiakan semua ini kepada semua orang termasuk anaknya.

Begitulah, tiap pagi, Arka harus sibuk mengurus putrinya. Setiap putrinya bertanya tentang ibunya, Arka menjawab bahwa belum saatnya kembali. Untung, putrinya itu bisa menerima penjelasan ayahnya.

Sebulan sudah Arka pisah ranjang dengan Darmi, tapi tak ada tanda-tanda berakhir dengan damai. Kadang-kadang Arka merasa kesepian juga. Tapi ketimbang bertengkar melulu, Arka merasa lebih baik pisah dengan istrinya. Tepat pada hari yang kelima puluh sejak pisah ranjang, ada surat datang dari istrinya.

”Beli, apa beli masih bertahan pada pendapatmu? Cepat tukarkan uang itu. Lalu tabung di bank. Kalau tak mau, lebih baik cerai saja. Buat apa kita bersuami-istri kalau tiap hari bertengkar,” tulis Darmi.

Arka menarik nafas panjang. ”Kalau ia sungguh-sungguh minta cerai, urusan jadi lebih ruwet dan panjang,” kata Arka dalam hati. Dalam bayangan Arka, jika istrinya minta cerai, berarti akan ada pertanyaan orang, mengapa cerai? Lebih-lebih perceraian itu dilakukan di pengadilan. Hakim akan bertanya, mengapa cerai? Darmi akan menjawab, ”Karena kami selalu bertengkar.” Mengapa bertengkar? Darmi akan menjawab, ”Karena persoalan uang dolar yang dipungut di Pasar Badung.”

Nah, jawaban Darmi itu akan membahayakan. Hakim bisa mengusut keterangan Darmi, yang ujung-ujungnya perkara ini akan berbuntut perkara pidana. Arka bisa dituduh menyimpan dan mengedarkan uang palsu, atau bisa dituduh mencuri. ”Jadi, sudah ditinggal istri, masuk bui pula. Kasihan Kerti, tidak ada yang ngurus,” kata Arka lirih.

Untuk menenangkan pikirannya, ia mengambil sebatang dupa. Di depan pelangkiran yang masih berisi segepok uang dolar itu, ia memanjatkan doa. ”Tuhan, tolonglah hamba. Tunjukkan hamba, jalan mana yang harus hamba tempuh,” airmata Arka meleleh membasahi pipi.

Arka kini lebih rajin memanjatkan doa di depan pelangkiran. Dupa terus menyala di pelangkiran itu dari pagi sampai malam. Setiap sebatang dupa habis, ia ganti dengan dupa yang baru. Ia memang tak punya tempat ibadah yang lebih besar, karena rumah yang ditempati hanya rumah kontrakan. Dalam doa, ia mohon, agar istrinya mengurungkan niatnya untuk cerai dan segera kembali mengasuh anak.

Sudah tiga bulan lamanya, Darmi meninggalkan suami dan putrinya. Arka tampak lebih kurus dan wajahnya pucat seperti kurang tidur. Jantungnya sering berdebar-debar jika ada seseorang yang ingin menemuinya. Kemarin pagi misalnya, ia menutup pintu rapat-rapat, ketika ada seorang lelaki kekar ingin menemuinya. Namun ketika ia tahu, lelaki itu hanya ingin bertanya, di mana rumah Pak Darsan, barulah ia bernafas lega.

Di tempat kerja, konsentrasinya sering buyar. Meski ia sudah pindah tempat, yang jauh dari Pasar Badung, tempatnya tugas dahulu. Ia memang minta pindah tempat, agar bisa melupakan peristiwa yang membuat rumah tangganya berantakan. Ia sering memberi aba-aba yang salah. Misalnya, seharusnya ia memberi aba-aba ”kiri… kiri… kiri..”, tapi ia ucapkan ”kanan… kanan… kanan…!” Sejumlah sopir sering kesal dan kecewa akibat pelayanan Arka. Namun bagi Arka, itu bukan persoalan serius. Masalah yang paling serius dihadapinya, ya, itu bungkusan uang dolar yang tersimpan di pelangkiran. Bungkusan itu ia anggap telah merusak hidupnya, masa depannya, masa depan anaknya.

Sebuah mobil mewah mendekati dirinya.
”Terus… terus…, stop!” Arka memberi aba-aba. Seorang lelaki perlente keluar dari dalam mobil, setelah sopirnya membukakan pintu belakang. Lelaki itu ganteng dan sinar mukanya sangat bersahabat. Sedikitpun tak ada mengesankan orang sombong, meski baru keluar dari mobil mewah.

”Nama Bapak?” tanya orang itu kepada Arka. Arka kaget, karena tak lazim seseorang yang parkir menanyai nama juru parkir. Arka jadi keder. Jantungnya berdebar-debar, tapi ia berusaha untuk bersikap tenang.

”Nama saya?” tanya Arka seakan tak percaya apa yang ia dengar.
”Ya, nama Bapak,” kata supir mobil mewah itu.
Arka tak spontan menjawab. Namun akhirnya ia berucap, ”Nama saya Sara. Untuk apa tahu nama saya?”
Orang perlente itu lalu menjelaskan, bahwa ia telah kehilangan sepuluh ribu dolar. Mungkin tercecer di depan Pasar Badung. Dolar itu terbungkus rapi dengan amplop coklat. Jika dirupiahkan, seratus juta rupiah lebih. Ia sudah lama mencari informasi, siapa kira-kira yang memungut uang itu.

”Terakhir saya mendapat informasi, yang memungut uang itu bernama Arka. Kalau saya temukan dia dan mau mengembalikan uang itu, saya akan beri hadiah menarik. Saya akan angkat ia sebagai pegawai Satpam, atau penjaga gudang dengan gaji yang lumayan. Saya akan buatkan ia rumah seharga lima puluh juta. Jika ia punya anak, saya bersedia jadi bapak asuh sampai anak itu meraih gelar sarjana. Apa bapak tahu, ada juru parkir bernama Arka?” tanya si perlente dengan nada bersungguh-sungguh.

”Oh ya, rasa-rasanya saya kenal,” kata Arka dengan nada suara bergetar. Perasaan berdosa, cemas, ngeri, gembira, curiga bercampur jadi satu.

”Baiklah. Ini kartu nama saya. Bapak bisa menghubungi saya kalau sudah bertemu dengan bapak Arka,” Orang perlente itu menyodorkan kartu nama. Arka menerima dengan tangan gemetar.

Begitu mobil mewah itu beranjak pergi, Arka segera pulang. Belum sampai di rumah, Arka menemukan kerumunan orang. Asap mengepul dari rumahnya.

”Kebakaran… kebakaran…!” teriak anak-anak di jalanan.
Wajah Arka pucat pasi ketika ia tahu, yang terbakar itu kamar kontrakannya. Ia segera berlari, menyerobot di sela-sela kerumunan orang. Namun polisi menahannya.
”Jangan masuk! Bahaya!” kata petugas memegang tangan Arka.
”Saya bukan maling! Saya bukan maling!” teriak Arka histeris seperti kesurupan. ”Saya ingin menyelamatkan barang-barang saya! Itu hak saya!”
”Relakan saja barang-barangmu itu. Api masih besar. Bahaya!” teriak polisi.
Setelah api betul-betul padam, barulah Arka diizinkan memasuki kamarnya. Belum sempat memeriksa seisi kamarnya, tiba-tiba ada teriakan terdengar dari luar.
”Pak, mama datang,” panggil Kerti gembira. Matanya bersinar-sinar. Anak gadis itu tampak gembira menyambut ibunya. Bagi dia, kedatangan ibunya lebih berharga daripada barang-barang yang terbakar.
Menurut dugaan, penyebab kebakaran adalah api dupa di pelangkiran. Dupa yang masih menyala itu tersenggol tikus, lalu jatuh di kasur. Bara dupa kemudian menyala, lalu kobaran api melahap seisi kamar.
Darmi segera menghampiri Arka. Dengan suara berbisik hampir tak terdengar, ia berkata dengan nada serius, ”Beli, ternyata beli benar. Beli tentu sudah melapor ke polisi. Pemilik uang itu tentu senang mendapatkan uangnya kembali.” Darmi melanjutkan, ”Aku sudah tidak mengharapkan uang itu lagi. Bagiku sekarang, beli dan Kerti jauh lebih berharga daripada uang.”

Arka masih sibuk memeriksa barang-barang yang terbakar. Pandangan matanya mencari-cari sebuah amplop coklat. Namun sia-sia. Seisi kamarnya sudah menjadi abu.

Denpasar, Agustus 2002

Catatan:
Beli : panggilan untuk lelaki yang lebih tua.
Pelangkiran : tempat suci kecil yang ditempel dalam tembok kamar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *