Hari ketiga Mimbar Teater Indonesia 2010

Kala rakyat kecil dilarang kaya
Farida Trisnaningtyas
http://edisicetak.solopos.co.id/

Lelaki berbaju merah itu seakan duduk di bangku pesakitan dalam sebuah pengadilan.

Ia didakwa melakukan pembunuhan terhadap seseorang di jalan raya dengan menggunakan celurit. ?Salah dia, kenapa melintas saat keinginan saya untuk membunuh itu muncul,? kata terdakwa membela diri. Tertuduh geram melihat mobil yang ditumpangi korban. Mobil-mobil yang banyak berseliweran di jalan itu menurutnya berasal dari uang rakyat dan hutang luar negeri.

Sang jaksa yang gagap menuduh terdakwa berbohong. Si penuntut membela apa yang dilakukan korban adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Baik itu mobil, rumah ataupun harta benda lainnya. Ia mengutuk keras kelakuan terdakwa yang dengan sengaja menghabisi nyawa orang.

Sementara itu, si hakim laki-laki namun berlaku seperti wanita terus menanyai terdakwa. ?Apa kau tahu dia itu korupsi? Apa iya mobil yang dipakainya itu hasil kejahatan?? tanyanya membabi buta. Hakim terhormat tampil begitu genit.

Setelah didesak dari pihak jaksa dan hakim, terdakwa akhirnya mengakui. Ia memang tidak tahu latar korban yang dibunuhnya. Akan tetapi, ia tetap saja marah. Si pesakitan merasa iri pada korbannya. Menurutnya, ia dan jutaan rakyat lainnya tidak punya apa-apa sementara korban mempunyai apa-apa seperti harta yang berlimpah dan kedudukan.

Tiga topeng

Monolog berjudul Dam dibawakan begitu apik oleh seniman teater asal Bandung Wawan Sofwan pada hari ketiga Mimbar Teater Indonesia di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Rabu (6/10) malam. Penonton dibungkam dengan penampilannya yang memukau. Seniman berdarah Sunda itu mengemas karya Putu Wijaya dalam bentuk sebuah persidangan. Selain itu, ia menghadirkan tiga sosok diwakili dengan tiga topeng. Masing-masing bertindak sebagai hakim, jaksa dan terdakwa.

Wawan dalam monolognya menyentil dengan satu contoh ketika besan Presiden SBY terseret kasus hukum namun bisa bebas karena mendapat remisi. ?Memang menceritakan kegelisahan orang-orang kecil dalam berbagai hal,? ujarnya kepada Espos, Rabu. Ia pernah mementaskan Dam tahun 2002. Wawan menjewer penonton dalam monolognya itu ketika kasus Bulog yang menyeret Akbar Tandjung sebagai terdakwa.

Sementara itu, di hari ketiga Mimbar Teater Indonesia 2010 ini, Tya Setyawati, penggiat Teater Sakata dari Padang menyuguhkan monolog Demokrasi. Selain itu ada Abuy Asmarandana dengan monolog Kalau Boleh Memilih Lagi, Sih Wahyuning asal Semarang dengan monolog Babi dan Aut oleh Ujang GB asal Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *