Insan Berderajat Mulia (I)

Puji Santosa
http://www.facebook.com/pujies.9

Seorang kawan fb @Ratna Widihastuti: bertanya pada saya: ?Wujud manusia yang bagaimana yang punya derajat tinggi menurut pandangan Anda??

Jawaban atas pertanyaan itu adalah kurang lebih sebagai berikut.

Manusia (insan) yang telah mempunyai derajat tinggi (mulia dan luhur) adalah insan yang telah mendekati kasunyatan hidup hingga mencapai pamudaran, yaitu rasa bahagia di dalam batinnya, tenang, tenteram, damai, sejahtera, dan berbudi rahayu, sampai pada keindahan yang tiada tara. Ibaratnya ?Hatinya bersinar tersembul seperti intan permata memelangi?, perkataannya mampu memberi ketenteraman bagi orang lain sesama hidup karena telah meninggalkan dunia keramaian, dunianya hanya berisi permohonan sih, yaitu Kasih Tuhan Yang Maha Esa. Adapaun orang yang telah mencapai kasunyatan jati atau pamudaran itu sirna rasa-perasaan hidup dan mati, rasa senang-susah pun lenyap, bebas dari semua penderitaan, tali-tali yang membelenggu batin pun telah putus, oleh karena ia telah mampu dapat memisahkan kecintaannya terhadap barang-barang duniawi yang rusak. Rasa-perasaanya telah menjadi satu dengan yang bersifat hidup, meliputi keseluruhannya, berwatak kasih, adil, suci, berbudi luhur, ibaratnya ia berbadan ke-Tuhan-an, lepas, bebas dari hukum kembali lahir, sebab ia memperoleh wahyu kemerdekaan dunia (dalam bahasa tasawuf disebut insan kamil, lihat Simuh, 2002:30, Kartanegara, 1986:59; atau bahasa Al Ghazali disebut arifin, lihat Hamka., 1983:149).

Lebih lanjut R. Soenarto Mertowardojo (1960) dalam buku Bawa Raos Ing Salebeting Raos menjelaskan bahwa keadaan orang yang telah sampai pada kasunyatan jati itu adalah sebagai berikut:

(1) tingkah lakunya bersahaja dan menyenangkan;

(2) sikapnya terhadap siapa pun ramah dan bersahabat;

(3) tindak tanduknya tertib dan susila;

(4) berbicara sedikit dan sabar tutur katanya;

(5) sopan satun jika berbicara, dan tangannya tidak bergapaian;

(6) roman mukanya terang dan ramah, tetapi menimbulkan rasa segan;

(7) matanya tajam dan bersinar;

(8) pakaiannya bersahaja;

(9) hidupnya sederhana, berbudi luhur;

(10) kesabarannya laksana samudera raya;

(11) pemaaf, adil, dan paramarta;

(12) belas kasih, sayang, dan cinta kepada sesama hidup;

(13) menetapi kewajiban hidup dengan tata susila;

(14) menghormati dan meluhurkan semua agama;

(15) setia kepada undang-undang dan peraturan negara;

(16) tidak membeda-bedakan derajat, golongan, bangsa, pria wanita, tua muda;

(17) semuanya diperlakukan sama, tanpa mengabaikan tata krama;

(18) tidak meninggalkan tata cara hidup bermasyarakat;

(19) saling melindungi, saling menjaga dengan sopan santun;

(20) tidak berganti nama, tidak memakai gelar yang direka atau dibuat muluk-muluk agar terkenal dan dipuja-puja di dunia; dan

(21) tidak menyombongkan akan kepandaian, kewaspadaan, serta kekuasaan meski?pun ketiganya itu telah dimilikinya.

Hal ini jelas merupakan suatu kesadaran bahwa perjalanan hidup manusia itu tentu berkahir di hadirat Tuhan, mencapai kesempurnaan bertunggal. Sekaligus dalam tahap ini juga merupakan representasi tujuan akhir setiap perjalanan hidup manusia dari pondok dunia hingga istana akhirat.

Lebih lanjut Pakde Narto dalam bukunya Bawa Raos Ing Salebeting Raos (1960) menje?las?kan keadaan perasaan batin seorang yang telah mencapai kasunyatan itu adalah sebagai berikut.

?Sesungguhnya, rasa-perasaan batin (hati) tidak dapat diterangkan dengan perkataan sebab luasnya tidak terbayangkan, bak samudera tak bertepi; samudera yang tidak berombak mengadakan alun, yaitu: cipta, nalar, dan angan-angannya tidak bekerja sehingga mengadakan rekaan, gambaran, dan bayang-bayangan yang menimbulkan rasa: senang, susah, waswas khawatir, ragu-ragu, murka, syak wasangka, iri hati, gentar ngeri, papa sengsara, hina luhur, masyhur, celaka un?tung, mudah sukar, dan sebagainya.

Indahnya rasa-perasaan melebihi keindahan alam yang tergelar ini. Andaikan bebauan, ia adalah rajanya harum yang merebak mewangi. Andaikan rasa manis, ia adalah rajanya manis yang legit wangi. Andaikan kejelitaan seorang putri, kejelitaannya adalah ratunya para bidadari. Andaikan intan permata, ia adalah mustika intan yang edipeni (indah permai). Andaikan cahaya, kemilaunya cahaya melebihi terangya sinar rembulan. Andaikan air, ia adalah mata air yang jernih suci murni.

Adapun rasa-perasaan yang dapat saya terangkan dengan kata-kata, yang senyata-nyatanya dirasakan adalah: tenang, tenteram, damai, puas, heneng-hening-eling, nikmat bermanfaat, bahagia, mulia, bijaksana, tetap berasa bertung?gal dengan Suksma, Sejatinya Hidup, yang menghidupi segenap sifat hidup. Oleh karena itu, ia berasa bertunggal dengan segenap yang bersifat hidup, meresap ke segenap wujud yang ada, yaitu meresap ke keadaan yang tergelar di dunia ini, tidak dibatasi oleh waktu dan ruang (tempat), jauh dan dekat, sempit dan sesak.

Demikian keadaan orang yang sudah sampai pada (mencapai) kesempur?naan bertunggal (kasunyatan jati) yang dapat saya terangkan sekadarnya. Adapun darmanya kepada dunia adalah: (1) memayu-hayuning bahawa kang sanyata (membuat sejahtera dunia dengan nyata) yang didasarkan pada kasih sayang, penuh cinta, dan keadilan yang disertai dengan pengorbanan; (2) memberi tuntutan dan suri teladan dengan tindakan yang nyata agar umat manusia hidup rukun, damai, saling pengertian, tertib, susila, berbakti kepada Tuhan sehingga dunia ini menjadi teratur, tenang, damai, tenteram, bahagia, dan sejahtera.?

(Mertowardojo, 1960:34?36)

DAFTAR PUSTAKA

de Jong, S. 1976. Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

Hamka. 1983. Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya. Cetakan ke XII. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Herusatoto, Budiono. 1984. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.

Imam S., Suwarno. 2003. ?Konsep Mistik Pangestu: Analisis dari Perspektif Islam?. Disertasi gelar doktor dalam bidang Ilmu Agama Islam, Bidang Konsentrasi Pengkajian Islam. Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Kartanegara, R. Mulyadhi. 1986. Renungan Mistik Jalal Ad-din Rumi. Jakarta: Pustaka Jaya.

Mertowardojo, R. Soenarto. 1960. Bawa Raos ing Salebeting Raos. Surakarta: Pamong Pangestu.

Mertowardojo, R. Soenarto. 1990. ?Serat Warisan Langgeng? Cetakan ke V. Jakarta: Pengurus Pusat Paguyuban Ngesti Tunggal

Santosa, Puji. 2001. ?Sumbangan Sastra Jawa dalam Menghadapi Zaman Edan? makalah Kongres Bahasa Jawa III, Yogyakarta: 15?21 Juli 2001. Makalah ini kemudian dimuat dalam majalah Fenomena nomor 9, Universitas Widya Dharma Klaten.

———2000. ?Estetika Puisi sebagai Pasemon? dalam Kakilangit Nomor 39, hal. 15?17, sisipan majalah sastra Horison Nomor 4 Tahun XXXIV, edisi bulan April 2000.

Simuh. 2002. Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *