Layung Sore

Musyafak Timur Banua
http://www.lampungpost.com/

ORANG-orang sedusun sudah menebak Gandari bakal mati digerogoti penyakit mematikan itu. Kanker rahim. Ya, tumor ganas yang hampir tak dikenali orang-orang Dusun Sumurup. Mereka hanya tahu dari mulut ke mulut bahwa penyakit itu amat ganas dan bisa membunuh tuannya sewaktu-waktu.

Sebelum seorang dokter rumah sakit Kota Glagahwangi menerangkan Gandari mengidap kanker rahim, orang-orang Sumurup mengira perut besar perempuan beranak lima itu kena santet, teluh, atau sejenisnya. Selama ini orang Sumurup hanya kenal dua jenis penyakit mematikan, yakni pagebluk dan santet.

Kini hari ketujuh belas Gandari berbaring di dipan. Berulang kali ia mengeluhkan rasa nyeri di bagian dalam perutnya. Rambutnya mulai berguguran di atas bantal.

Sementara Kozin, anak bungsu Gandari, malah pergi merantau. Orang-orang tetangga mencerca Kozin tak berbudi lantaran meninggalkan ibunya yang tengah sekarat itu. Mereka sempat mencegah Kozin agar menunggui ibunya sampai sembuh?ah, lebih tepat mereka anggap menunggu kematian menjemput Gandari.

Yang paling setia menunggui Gandari adalah Nurjanah, putri ketiga Gandari yang kurang waras akalnya. Ia sering berbicara sendiri tak ubahnya monolog tak berkesudahan. Belakangan ia sering membicarakan soal kematian. Sebuah perpisahan yang mengerikan, katanya. Meskipun Nurjanah tidak sempurna akalnya, ialah yang menyelesaikan pekerjaan rumah sehari-hari. Mencuci, memasak, dan bersih-bersih, semua menjadi tanggungannya.

Melihat Gandari tergolek dengan wajah pasi sebagai mayat itu, Wak Wira merasa pelas. Kakak ipar itu kian pupus berharap kesembuhan Gandari. Racauan Nurjanah tentang kematian membuatnya keder. Terbesit kecurigaan yang diucapkan perawan kurang waras itu benar. Ia percaya, terkadang orang-orang seperti Nurjanah mempunyai waskita?kepekaan lebih.

“Seandainya Maskum masih ada, Ndar. Penyakitmu ini bakal diobatkan,” kata Wak Wira.

Maskum adalah mendiang suami Gandari yang meninggal enam tahun silam. Suami yang telah menitiskan lima anak di rahim Gandari itu mati mengenaskan. Tersengat listrik yang dipasangnya sendiri untuk memerangkap tikus di sawah.

Hanya bola mata Gandari yang sedikit bergeliat. Inderanya menerawang tajam ke wajah Wak Wira. Seolah tak terima mendiang suaminya diungkit-ungkit.

“Bagaimana jika tanah sawahmu di pojok dusun itu dijual? Banyak harapan sembuh jika kau mau dioperasi, Ndar. Separuh sawahmu bakal laku dua puluh lima juta untuk biaya operasinya. Sisanya separuh sawah nanti untuk bekal masa tuamu. Anak-anakmu sudah besar. Yang tiga sudah berumah tangga. Tak perlu ada hal yang kau takutkan.”

Pintu diketuk tiga kali. Wak Wira hapal betul suara yang baru saja berucap salam. Mbah Surip datang lagi. Sudah lebih lima kali ini dukun tua itu datang.

Dalam hati Wak Wira tidak sepakat penyakit seganas kanker rahim Gandari hanya diobatkan kepada dukun. Bukan ia tak percaya sepenuhnya pada dukun. Ia punya alasan kuat, bahwa dukun tua dusun Sumurup itu pun tidak banyak tahu tentang kanker. Ia cukup yakin tak ada mantra untuk kanker. Penyakit ganas itu hanya diketahui orang-orang cendekiawan masa kini.

Wak Wira mengenyahkan diri seusai Mbah Surip meminumkan ramuan jamu yang disembur rapalan mantra pada Gandari.

***

Tiga anak lelaki Gandari dikumpulkan Wak Wira. Nurjanah, yang sepatutnya berada di tengah mereka tidak ada. Memang sengaja tidak diajak berkumpul. Sebab orang kurang kurang waras tak perlu diajak mengambil mufakat.

Mereka duduk melingkar di bale-bale rumah Kasan, anak tertua Gandari. Kasan yang sempat membisiki satu per satu adiknya membuat Wak Wira curiga mereka hendak bersekongkol.

“Keadaan ibu kalian makin mengkhawatirkan saja. Lebih baik sawah ibumu dijual untuk biaya pengobatannya. Seperti kata dokter di rumah sakit kota Glagahwangi, masih banyak harapan sembuh jika ibumu dioperasi,” kata Wak Wira memulai pembicaraan.

Kasan lekas-lekas menggelengkan kepala. Kusen, adiknya tampak hendak bicara, tapi Kasan cepat-cepat menepuk pahanya.

“Wak Wira ada-ada saja. Mubazir mengobatkan ibu. Ia akan segera sampai?” kata Kasan.

“Hus! Jangan mendahului karsa Tuhan!”

Kasan beringsut. Dadanya ditegakkan, “Apalagi yang bisa diharap, Wak? Kata banyak orang, penyakit itu amat ganas. Tipis kemungkinan untuk sembuh.”

“Kalian itu tak punya keyakinan untuk berikhtiar. Payah!”

Raut muka Wak Wira memerah. Sepertinya amarahnya mulai terpantik.

“Usulan Wak Wira bisa dicoba. Jika memang ibu dioperasi, semua kemungkinan pasti ada. Dan pstilah kita kemungkinannya berbuah baik,” kata Kusen tiba-tiba.

Kasan tampak hendak bangkit dari duduknya.

“Tahu apa kau, Kusen? Bahkan kau tak tahu tanah itu warisan mendiang kakek pada bapak. Ingat Sen, tanah warisan kalau bisa jangan dijual. Tidak berkah!”

“Tidak, Kang Kasan. Masalahnya beda. Ini kebutuhan mendesak, tentang nyawa ibu. Jadi tidak soal jika tanah warisan itu dijual,” sergah Kusen.

“Tak usah banyak cakap, Sen!” jawab Kasan, “Itu satu-satunya tinggalan mendiang Bapak. Jangan ungkit-ungkit lagi soal sawah itu.”

Mata Wak Wira membeliak. Menentang tajam mata Kasan. Suasana menjadi hening. Tak ada yang lebih berkuasa ketimbang kegaguan masing-masing.

?Ya! Ya! Kalian boleh saja mengagungkan tanah warisan dari mendiang bapakmu itu. Tapi sama halnya kalian membunuh ibu kalian sendiri,? kata Wak Wira yang kemudian keluar rumah seraya membanting daun pintu keras-keras.

***

Hari kelima kematian Gandari. Kasan tak merasa menyesal karena tidak menjual sawah demi operasi kanker ibunya. Kematian ibunya dimaknai sebagai nasib sederhana yang tidak ada kaitannya dengan sikap atau keputusannya.

Ketika matahari condong ke barat sehingga membentuk bayangan benda setinggi satu setengah kalinya, Kasan mendukung belasan balok kayu sepanjang satu meteran di pundaknya. Ia berjalan membelah hutan rembulung di seberang rumahnya dengan perasaan agak kesal. Tatapan matanya masih nanap, dan merah. Riak amarah masih bersisa di air mukanya selepas tadi berseteru dengan adik-adiknya yang tidak mau diajak ke sawah. Kusen menolak membagi warisan sawah di masa seharusnya mereka harus rajin-rajin mendoakan mendiang ibunya.

Tapi Kasan tetap meyakinkan diri, takkan kena apa-apa membagi tanah warisan di masa perkabungan. Ia menepis kuat-kuat ucapan Kusen bahwa arwah orang tua akan mengutuk-rutuk anak-anak yang membagi warisan sebelum empat puluh hari kematian.

“Ah!” pikir Kasan menepis.

Sampai di sawah, Kasan mengalurkan meteran. Tanah sawah itu dibagi enam bagian. Ini adalah akal-akalannya untuk memudahkan pembagian. Ia tak mau repot membagi lima bagian sawah kotak itu. Enam bagian itu akan bersisa satu usai ia dan semua adiknya mengambil jatah. Sisa satu bagian itu diancar-ancar akan dibelinya dengan harga murah.

Matahari menggantung di kaki langit setinggi dua tombak. Kemuningnya mulai menyemburatkan mega berwarna tembaga di selaput tepi cakrawala. Kasan baru memasang tapal batas balok-balok kayu itu di empat bagian sawah. Dua bagian lagi butuh waktu setengah jam lebih.

Tiba-tiba cahaya matahari berangsur-angsur menjadi jingga ketika merendah setengah tombak. Kasan merasai hawa lain. Tak biasanya matahari semerah itu. Dari balik deretan batang pohon lamtoro, Kasan terus menatap matahari hendak surup itu.

Namun mendadak matanya terasa panas. Spektrum-spektrum sinar matahari itu laksana ribuan anak panah menembus matanya. Pedih. Pandangannya samar. Lembaran alam di hadapannya tampak sebagai siluet kuning semata. Punggung tangannya menyeka-nyeka kelopak matanya. Pandangannya justru betambah kabur.

Di perkampungan Dusun Sumurup, ibu-ibu masih menahan anaknya agar tidak keluar rumah. Orang-orang kampung khidmat menanti layung sore selesai. Ya, layung sore, sinar matahari yang merah kejinggaan sebelum terbenam. Suasana seperti itu diyakini membawa aura dan energi sangat buruk. Mereka yakin, ketika layung sore muncul, roh-roh halus seperti setan, jin, genderuwo, dan memedi tengah bertebaran ke alam manusia.

***

Tahlil belum juga dimulai. Orang-orang yang hendak berkirim doa untuk arwah Gandari masih mencar-cari tuan rumah, Kasan. Ia belum juga pulang ke rumah. Padahal magrib sudah lama lewat.

“Ke mana Kasan?” tanya Wak Wira.

“Sore tadi ia ke sawah,” jawab Kusen.

“Bukankah kakakmu tak biasa ke sawah di sore hari?”

“Sebenarnya aku sudah menghalanginya. Bahkan kami sempat berseteru. Namun ia kukuh pergi ke sawah demi membagi warisan bapak di pojok dusun itu.”

Wak Wira tercekat. Tenggorokannya tercekat sejenak. Jantungnya serasa dicambuk batang rotan. Lalu kepalanya menggeleng-geleng kecil. Kusen merasa bersalah lantaran tidak bisa mencegah kakaknya.

Di seberang sana, di sebuah jalan sempit yang membelah hutan rembulung, seorang kakek tua berjalan, dan di pundaknya terdukung sekeranjang rumput. Sembari menatih lelaki seperdua baya yang langkahnya payah. Tangan kakek tua itu menggenggam erat lengan lelaki baya itu, membimbingnya mencari jalan.

Selepas hutan rembulung itu adalah pekarangan rumah Kasan. Orang-orang dikejutkan kakek tua pendukung rumput membawa lelaki yang berjalan sempoyongan di iringannya.

“Owalah Kasan?” kata orang-orang hampir serentak ketika melihat wajah lelaki seperdua baya itu mendongak.

“Syukurlah kalau tuan-tuan mengenali lelaki ini,” kata kakek tua itu.

“Aku temukan lelaki ini tersungkur di sawah pojok dusun. Aku giring dia masuk dusun ini. Ia tak bisa melihat. Matanya buta, bukan?”

Dada orang-orang berguncang seperti tersedak ketika mendengar ucapan kakek tua itu. Lalu seorang perempuan lari menuju Kasan dan memeluk tubuhnya yang berdiri lemas.

“Layung sore, Kang?. Layung sore. Katiwasan? katiwasan?? istri Kasan meratap.

“Barangkali ini semacam kutukan,? kata Wak Wira

Sementara itu, dari arah selatan seorang lelaki belia berjalan. Punggungnya tampak berat menggendong tas ransel yang membuncit. Sesekali ia menghentikan langkah dan menyempatkan menengok kanan kiri. Menamati keadaan beberapa waktu.

Orang-orang samar melihatnya dari kejauhan lantaran lelaki itu hanya tercium sinar lampu dari belakang punggungnya. Semakin mendekat, orang-orang kian menguatkan dugaan bahwa lelaki itu ialah Kozin, anak bungsu mendiang Gandari yang pergi merantau seminggu sebelum ibunya meninggal.

Sebagian orang segera memanggil Kozin. Namun lelaki itu tetap bergeming. Malah menengok kanan-kiri seperti orang kebingungan arah. Makin banyak orang menegurnya, tapi nKozin justru bungkam. Kozin memandangi orang-orang yang menyapanya dengan tatapan mata yang aneh dan asing.

“Permisi, apakah ada yang tahu rumah Mbok Gandari? Sudah dua jam aku berputar-putar di kampung ini. Tapi rumah itu tidak ketemu juga. Entah mata saya remang terhadap semuanya seketika menginjakkan kaki di dusun ini,” kata lelaki itu.

Orang-orang mengelus dada. Seraya kepala mereka berguncang-guncang kecil.

Soeket Teki, 2009

Musyafak Timur Banua, lahir di Demak, 30 April 1987. Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang, bergiat di Komunitas Sastra Horeg Semarang. Antologi puisinya, Kursi yang Malas Menunggu (2010). Tulisan-tulisannya baik cerpen, puisi, dan esai tersebar di beberapa media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *