Lelaki Beraroma Wangi

FR Susanti
http://www.sinarharapan.co.id/

AKU menemukan jejak masa lalu, di kota dengan langit berwarna ungu. Malam itu, dalam acara pesta selamat datang, aku mengenal seseorang dengan kemiripan sesempurna dirimu. Sosok itu datang ketika acara berlangsung setengah jalan. Tak ada yang istimewa, kecuali ia memaksakan diri menggunakan bahasa Indonesia. Seorang mahasiswa pascasarjana yang terpesona dengan proses demokrasi di Indonesia.

Aku duduk di depannya, menikmati bahasa Indonesianya yang terbata dan gaya santunnya saat mendengar lawan bicara. Sesekali, seperti menyesali, ia melafalkan bahasa Inggris untuk deret kalimat yang sulit ia maknai. ?Padahal sudah satu tahun, saya di Indonesia,? ujarnya dengan nada minta maaf.

Ia memiliki sosokmu, tubuh kurus dan wajah tirus. Sementara kacamata yang bertengger di wajah itu, benar-benar membuatnya serupa denganmu. Namun bukan itu yang membuatku terkesima. Gaya bicaranya, ya gaya bicaranya adalah khas milikmu. Caranya membuat jeda pembicaraan, antusiasmenya saat melontarkan wacana, dan kibasan tangan saat mencoba mempengaruhi lawan bicara. Satu-satunya yang membedakan ia denganmu adalah ia tidak merokok.

Seandainya ia melakukan kebiasaan yang merusak paru-paru itu, aku yakin ia akan memiliki gaya merokokmu, terlebih bila ia menyukai kopi.

?Kau mengingatkanku pada seorang kawan lama,? ucapku sedikit bergumam, membuat mata itu berpijar sekilas. Aku benar-benar tak bisa menahan debar di dada kiriku yang mendadak memompa darahku lebih cepat ke segenap pembuluh.

Laksmi dan Pandu yang sejak tadi asyik ngobrol dengannya sontak berhenti dengan omonganku. ?Siapa?? tanya Pandu dengan sorot penuh selidik. Aku enggan menjawab dan kurasa tak perlu, meski aku tahu Pandu dan Laksmi mengenalmu dengan baik.

Laksmi memegang lenganku sekilas, mencoba memahami jalan pikiranku, tapi aku tahu upayanya ini tidak berhasil. Aku betul-betul ingin menyimpan sendirian kenangan tentangmu.

?Mau ke laut?? mendadak Krisna menepuk bahuku dari belakang. Sebagai nyonya rumah, keramahan perempuan India ini menyentuhku.

?Malam-malam begini??

?Malam di sini lebih menyenangkan. Kalian akan hirup udara laut luar biasa di waktu malam. Hanya saja, kau perlu jaket double karena di luar dingin sekali,? ujarnya kembali menepuk bahuku. ?Tapi ini ajakan khusus untuk perempuan,? ujarnya sambil mengerling ke suaminya, Bennedict, tuan rumah yang menekuni studi politik Indonesia sejak 30 tahun lalu.

Krisna sendiri hanya empat tahun tinggal di Yogyakarta untuk mengikuti suaminya yang berdarah Yahudi itu, tapi lafal Indonesia Krisna nyaris sempurna.

Udara dingin di luar benar-benar membuatku tak ingin beranjak dari ruang yang sudah mulai hangat ini, terlebih dengan sekaleng bir yang berhasil menghangatkan badanku, setelah melahap nasi kare, masakan khas India yang lebih legit dari kare Indonesia.

Namun ajakan Krisna yang sedikit memaksa ini, tak bisa kami tolak. Enam perempuan, termasuk Krisna, yang berada di ruangan itu langsung beranjak dari kursi dan mengikuti ajakan Krisna. ?Ok, guys, that?s ladies night. We?ll leave you for a while,? teriak Krisna sambil berjalan ke arah pintu.

Raut muka Pandu langsung cerah begitu Laksmi dan aku beranjak darinya. Dia seolah lega karena bisa meneruskan obrolan politiknya, tanpa terinterupsi oleh aku atau Laksmi yang kerap menganggap analisis Pandu terlalu parsial.

Namun wajah tirus itu, sosok yang nyaris memiliki semua kemiripanmu, melemparkan pandang kehilangan yang tak akan kulupakan seumur hidupku. Pandangan sama yang pernah kau arahkan padaku, delapan tahun lalu. Teriakan Krisna seperti mengambang di pintu keluar, sementara jaket kedua yang kuambil dari balik pintu seperti butuh waktu berjam-jam untuk mengenakannya. Sorot mata itu, aku yakin hanya tertuju padaku saat kukenakan jaket kedua itu, membelakangi pintu, membuatku menatap pandang kehilangannya dalam hitungan sepersekian detik.

Ia menengok ke arah pintu dari balik bahunya dan pandangan itu menyisakan debar tak berkesudahan saat aku sudah berada di dalam mobil, saat Krisna mendongeng soal nasi padang yang bisa ditemui di sepanjang Fremantle, bahkan saat kami menyaksikan seorang laki-laki mandi di laut di bawah sinar bulan dalam suhu 4 derajat Celcius.

?Cinta itu muncul melalui proses, bukan lewat pandangan pertama kayak roman-roman kaum borjuis,? ujarmu saat itu. Dan aku mengamininya karena tidak ingin berdebat panjang denganmu.

Dan aku memang mencintaimu lewat proses. Melewati ribuan jam dan ratusan hari, sebelum mendadak kusadari semua gerak tubuhmu membuatku terpukau. Bahkan wangi tubuhmu yang tersisa di bantal kursi duduk pun membuat jantungku berdegup lebih keras.

Sejak itu, setiap pertemuan denganmu adalah rasa demam di seluruh badan dan degup jantung ekspres yang memerahkan pipi. Setelah delapan tahun kepergianmu, aku masih ingat semua detail tentangmu. Tak pernah kusimpan fotomu, tak juga notulensi yang mencatat idemu, bahkan kuhilangkan seluruh coretan kegelisahanmu yang sering kau sisipkan di bukuku.

Setelah badai yang memporakporandakan itu, sedikit pun tak ingin kusimpan jejakmu. Namun ironisnya, kau seperti hantu yang bisa muncul dalam berbagai wujud. Senyummu muncul pada masinis kereta yang setiap pagi nekad membukakan pintu kabin untukku di stasiun yang seharusnya ia tak boleh berhenti. Gaya bicaramu menular pada seorang aktivis LSM lingkungan yang entah mengapa selalu mengundangku, meski aku tak lagi menangani desk lingkungan.

Dan tatap matamu muncul pada seorang kawan yang tak pernah bosan mengajakku minum kopi setiap sore dan berpikir aku mencintainya dengan mencoba memaknai binar mataku setiap kali bersiborok pandang dengannya.

Hari ini, setelah delapan tahun kepergianmu, sosokmu kembali muncul pada Nick, lelaki bule itu. Kali ini, ia mempresentasikan seluruh sosokmu, kecuali darah yang mengalir di tubuhnya dan ras yang dimilikinya.

***
LANGIT itu berwarna ungu, betul-betul ungu, seperti sapuan kuas yang dibuat tergesa. Aku masih memandangi dengan takjub, meski rasa dingin mulai menembus jaket parasut. Di depanku, Laksmi menjepretkan kameranya berulang-ulang. Ia bahkan semakin asyik saat warna ungu itu berubah merah.

Jepretan itu berhenti saat cahaya yang terpancar terlalu lemah tertangkap kamera. Seolah tak terima dengan keadaan itu, ia masih terpaku di tepi danau itu lama-lama. Cahaya lampu yang memancar dari gedung pencakar langit di seberang danau adalah keindahan pengganti. Sayang, Laksmi menggunakan film ber-ASA rendah. Kesal dengan kondisi itu, ia berjalan menghampiriku.

?Mau jalan-jalan sebentar ke dermaga?? tanyanya.

Kusambut ajakan Laksmi, setelah kumatikan api rokok dan menaikkan penutup kepala. Hembusan angin betul-betul membuat tubuh menggigil.

?Kau sudah bilang Nick, kalau pulang besok?? tanya Laksmi sambil menyeruput capuccino yang disajikan kafe dekat dermaga.

Kugelengkan kepalaku. Aku tak cukup kuat untuk menatap pandang kehilangan Nick, meski aku tahu kepergianku tanpa pamit akan mengecewakannya.

Hampir enam bulan aku di Perth, ikut pendidikan singkat jurnalistik yang digelar sebuah Universitas terkemuka di sini. Dari Indonesia, ada tiga jurnalis yang ikut, aku, Pandu dan Laksmi.

Selama rentang itu pula, komunikasiku dengan Nick juga intens. Proses membawaku dekat dengannya. Semua karena jejakmu yang kutemukan padanya. Aku hampir membangun komitmen dengannya saat mendadak The Age memuat fotomu di halaman depan, sebuah kabar dari Jakarta: kau telah ditemukan.

Telepon di apartemenku pun berdering puluhan kali, dari Jakarta, dari Yogya. Semua tentang beritamu. Ada yang bertanya, ada yang mengucapkan proficiat seolah aku adalah orang pertama yang kau jumpai setelah kemunculan itu. Tapi aku sama sekali tak menerima telepon darimu. Email-ku pun kebanjiran pesan, semua tentang hal yang sama.

Kuhubungi Jakarta hari itu juga, 30 menit setelah kubaca The Age, namun kabar di Jakarta masih simpang siur. Kuulang lagi telepon hingga empat kali ke Jakarta hari itu, kabar tak juga pasti. Tak sabar kutunggu pagi dan akhirnya kudapat informasi pasti, kau telah kembali.

Aku bingung harus bersikap apa. Aku tak tahu harus bersedih atau bahagia. Setelah delapan tahun, bagaimana aku harus bersikap terhadapmu. Seharian itu, kuliah Krisna sama sekali tak masuk ke otakku, analisisnya yang kerap menggelitik hanya mengapung di udara. Ajakan Nick untuk motret di pelabuhan tua Fremantle tidak kutanggapi.

?Aku tak tahan melihat kesedihanmu,? ucap Nick di atas ferry, sepulang dari kampus. Ah, Nick. Perhatian kecilnya itu yang membedakan ia denganmu.

Dulu, saat detak jantungmu menemukanku, kau bahkan enggan menunjukkannya. Kau tak pernah menatap mataku lebih dari tujuh detik, kau ambil jarak agak jauh denganku setiap kali kawan-kawan memergoki kita sedang ngobrol berdua. Sesekali, saat kawan-kawan tak peduli dengan keberadaan kita, kau akan menanyakan hal remeh padaku.

Ingatkah kau saat aksi damai kita digebuk tentara? Sandalku terinjak tentara dan tercecer di jalanan saat sang komandan memerintahkan pembubaran aksi. Kita lari tunggang langgang ke dalam kampus. Dan saat aku masih panik menghitung berapa kawan yang tertangkap, kau malah menanyakan kacamataku.

?Aku sengaja tak memakainya,? ujarku sedikit gemas dengan perhatianmu yang tak tepat waktu itu. Sementara saat aksi kejar-mengejar itu selesai dan kawan-kawan duduk di atas rumput sambil menyeruput es teh yang dipesan berombongan dari kantin kampus, kau malah sengaja duduk jauh-jauh dari aku. Ah, kau. Bagaimana mungkin perasaan itu kau pikir bisa kau simpan sendirian. Kau menyimpannya sendiri, hingga kau pergi.

Tapi kawan-kawan bukannya tak tahu hal ini. Mereka cukup tahu diri untuk tak mengulang kisah tentangmu di depanku setelah hura-hura yang menghilangkanmu itu. Mereka juga yang menyimpan tangisku semalaman saat menemukan kacamatamu tertinggal di kamar kost dengan retak bekas pukulan. Ah, kau.

Sementara Nick membanjiriku dengan seluruh perhatian yang jarang kuterima dirimu. Dia menyebutku sebagai soulmate di bulan pertama perkenalan kami. Ia berani menatap mataku lebih dari sepuluh detik. Ia menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku yang kebetulan jatuh di bulan ketigaku di sini. Ia juga yang menghadiahiku buku yang kusebut selintas saat perjalanan kami ke bursa buku di Subiaco.

Dan esok, aku harus meninggalkan seluruh perhatian itu. Menurut jadwal, kursus singkat ini baru akan berakhir pekan depan. Namun aku diizinkan pulang sepekan lebih awal, setelah kepada Ben dan Krisna, aku ceritakan apa yang terjadi. Aku tak tahu apakah Nick tahu hal ini, juga dengan majunya jadwal pulangku.

?Aku tadi ke Subiaco. Sebenarnya aku tak berniat ke sana. Aku mau ke Fremantle, ada beberapa bangunan tua yang ingin kupotret. Tapi preman di atas bus mengagetkanku dan aku lari turun di Subiaco,? kataku pada Laksmi.

Subiaco adalah tempat di mana Nick tinggal. Entah mengapa, setelah turun di halte itu, aku tak berniat melanjutkan perjalanan ke Fremantle. Aku menyusuri jalan hingga ke Subiaco Square. Box telepon membuatku berniat menghubungi Nick. Tapi kemudian niat itu kuurungkan. Biarlah, kusisakan kenangan di kota dengan langit warna ungu ini, seperti monumen yang dibangun di setiap persimpangan.

***
Kau masih seperti dulu, delapan tahun setelah kepergianmu. Hanya kini kau tampak lebih rapi dan wangi. Cara bicaramu juga merupakan sisa masa lalu, hanya kini kau tak lagi meledak-ledak. Kau bahkan bertutur seperti seorang pengamat, bukan lagi pelaku politik. Deretan teori yang kau lontarkan, hasil comotan dari para akademikus, membuat argumenmu tampak sulit dipahami.

Ingatkah kau, saat mengkhawatirkanku menjadi eklitis gara-gara kubaca buku dari semua aliran? Aku marah saat itu karena menganggap kekhawatiranmu berlebihan dan bentuk pengekangan kebebasan berpikir. Namun kesabaranmu menjelaskan kekhawatiranmu mampu meluluhkanku. Kau menjelaskannya dengan duduk bersila, di rumah yang tak pernah menyediakan kursi dan ditemani secangkir kopi.

Kini, di depanku, kau duduk bersama pembicara dalam ruang diskusi dengan baju rapi dan beraroma wangi. Aku tak tahu apakah aku masih kau kenali, saat matamu menatapku sepersekian detik di pintu masuk.

Aku gagalkan rencana menemuimu begitu pulang dari Perth, setelah kudengar cerita dari beberapa kawan bahwa kau berkompromi dengan para politisi. Penyiksaan di kamp penculikan meluluhkan nyalimu. Kau sepakati pergi ke luar negeri untuk menjadi peneliti. Buku dan studi adalah hal yang paling kau sukai. Dan kemudian kau pulang dengan gelar akademisi, padahal bertahun-tahun kami menganggapmu hilang dan mati. Hampir setiap tahun kami melakukan aksi advokasi.

Para ibu kami berjalan di Bundaran HI, mengadakan aksi menggugat para politisi karena yang hilang dan mati di negeri ini jumlahnya banyak sekali. Namun kau melenggang ke luar negeri tanpa mengabari kami dan kini pulang berkotbah soal demokrasi.

Namun hari ini, aku terpaksa menemuimu karena kolom di koranku membutuhkan sosokmu.
?Apa kabar, Padma?? sapamu tanpa emosi.

?Baik. Kau kini wangi sekali,? ujarku singkat. Kemudian kusodorkan recorder, merekam kotbah demokrasimu sambil merasakan debar itu menyusut pelahan. Jantungku berdetak dalam hitungan normal dan tak satu pun kenangan tentangmu melintas dalam kepala. Besok, koranku terbit pagi dengan headline: Aktivis Prodemokrasi Setuju Rekonsiliasi. Di atasnya, upper deck bertuliskan: Peristiwa Penculikan Dapat Dipahami. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *