Leonowens, Sastrawan Dunia Asal Indonesia

Eko Prasetyo
http://edukasi.kompasiana.com/

?Kedisiplinan, ketekunan, dan kemauan untuk selalu membaca dan mempelajari karya-karya tulis sastrawan lainnya yang bermutu merupakan salah satu syarat penting untuk meniti kesuksesan sebagai penulis.? (Leonowens S.P.)

Prestasinya cukup mentereng. Pada usia yang terbilang muda (33 tahun), dia mampu menyabet gelar ?Sastrawan Dunia? dalam Anugerah Sastra Indonesia pada 2009. Tidak hanya nasional, dia juga meraih penghargaan tingkat internasional. Pada 2007, dia mendapatkan anugerah The Best Writer Netherland. Yang fenomenal, sepanjang 2009 dia melahirkan 30 karya buku sastra. Karena prestasinya tersebut, dia memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia pada 7 Agustus 2010.

Beberapa bukunya masih bisa dijumpai di pasaran. Di antaranya, Terraluka (I?IX), Larapuan, Lalujagad, Karmakala-Ragakala-Arcakala (trilogi), Parwacarita (I?V), Paragetir, Margapara, Pararaga, Paraluka, Paratabir, Kandelar, Genevieve, Parasamsara, Paradurga, Paranadir, Sanggardasara-Sanggardacara-Sanggardagara (trilogi), Mahamaradesnu, Sargaphrana (I?II), A Perfect Prayer in the Parts of A Sin, dan Saint Leon (Liven R., 19/4/2010).

Hebatnya, pria yang akrab disapa Leon itu menelurkan 30 karya buku sastra tersebut saat berada di daerah pedalaman. Tepatnya, ladang perkebunan luas di pegunungan Pematang Siantar, Sumatera Utara. Ya, dia bekerja di sana sejak 2006 sebagai public relation manager di sebuah perusahaan agribisnis. Jarak ladang tersebut sangat jauh, sekitar 125 kilometer dari Medan. Tak ayal, Leon harus bersusah payah ?turun gunung? jika ingin melakukan aktivitas peradaban modern, seperti berinternet atau berbelanja di supermarket. Jika hendak mengirimkan e-mail atau memperbaiki komputer yang rusak, dia mengaku harus ke Medan yang ditempuh seharian dengan perjalanan darat.

Tak jarang, Leon terpaksa merevisi ulang naskah-naskahnya yang siap terbit. Meski menghadapi tantangan dan kondisi berat karena ?turun gunung?, Leon tidak pernah menyerah dengan kondisi itu. ?Memang dibutuhkan tekad dan kesabaran untuk terus menulis dan berkarya. Sejarah menunjukkan, hanya orang-orang yang memiliki tekad kuat yang akan dapat menembus rintangan apa pun, bahkan yang melampaui batas nalar kita sendiri,? tuturnya saat diwawancarai Jawa Pos (3/10/2010).

Leon tak mau menyia-nyiakan setiap ide yang muncul di benaknya. Karena itu, begitu mendapatkan gagasan, dia langsung mewujudkannya di komputer. ?Saya lebih mengutamakan kualitas tulisan daripada kuantitas buku yang saya ciptakan,? tutur pria kelahiran Jakarta, 7 Desember 1977 itu.

Mengenai Tentang rekor Muri yang dicatatnya pada 7 Agustus 2010, Leon mengaku tak pernah memikirkannya. Yang ada dalam pikirannya hanya menulis dan menulis. Menurut dia, penghargaan Muri hanya simbolisasi dari suatu tindakan yang bermanfaat di bidang sastra. Dia mengatakan, mencerdaskan masyarakat Indonesia dengan realitas kemajemukannya adalah tanggung jawab setiap penulis. ?Sejarah mencatat pentingnya sastra sebagai alat pembudayaan manusia,? tegasnya.

Sejak berusia 19 tahun, Leon mulai menikmati sekaligus membuat karya-karya sastra. Namun, dia belum merasa maksimal. Karya-karyanya masih harus berproses hingga menuju bentuk yang ideal dan logis. ?Kematangan dalam tulisan hanya dapat dinilai dan diapresiasi pada ruang publik. Tahap perjalanan usia adalah proses dan kualitas karya merupakan hasil proses itu,? sambungnya.

Buku-buku karya Leon tidak hanya dijual di dalam negeri, tetapi sudah merambah pasar Malaysia, Singapura, Brunei, Tiongkok, Taiwan, Kanada, bahkan Eropa dan Amerika. Hingga kini, dia sudah menghasilkan 50 buku karya sastra. Bahkan, beberapa karyanya telah diterjemahkan ke dalam tiga bahasa.

Menurut dia, banyak penulis berbakat di Indonesia. Sayang, pemerintah belum mendukung upaya untuk go international. Dia mengatakan, seharusnya pemerintah menyediakan penerjemah gratis untuk memasarkan karya-karya mereka di luar negeri. ?Ini salah satu problematika dasar yang dialami penulis Indonesia,? tuturnya.

Sumber bacaan: Liven R. (rubrik Taman Remaja dan Pelajar, 18/4/2010), Surat kabar Analisa Medan, Surat kabar Jawa Pos
Sumber online: http://www.esasterawan.net , http://penerbit.bisnis2030.com, http://www.bookoopedia.com

*) Pecandu kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Eks bakul kopi yang kini berkecimpung di dunia pendidikan. Bagi dia, menulis adalah kebutuhan. Kompasiana adalah salah satu kawah candradimuka dalam dunia tulis-menulis. Motonya: sedikit demi sedikit menulis, lama-lama menjadi buku. Insya Allah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *