Menunggu Kawan

Imam Wahyudi
http://www.lampungpost.com/

AKU sedang menunggu kawan, sementara itu hujan turun dengan lebatnya. Air bagai dimuntahkan dari langit. Jatuh ke bumi, menerpa atap-atap seng dan benda-benda lainnya, menimbulkan suara gemeretak yang memekakan telinga. Sesekali angin berkesiut kencang, menerbangkan sampah-sampah ringan dan ranting-ranting kering. Banyak pula pepohonan, papan reklame, dan tiang-tiang kecil berjatuhan, tersapu gemulai sang angin. Setelah kemarau yang cukup panjang, tampaknya hujan ingin menumpahkan segenap rindunya. Berhari-hari tak jua berhenti. Aku gelandangan tua yang papa, terjebak sendirian di emperan toko ini. Tubuhku basah dan menggigil terkena tempias air hujan.

Sudah berhari-hari aku terdampar di sini. Tanpa kawan, tanpa makanan. Perutku melilit-lilit, badanku terasa payah. Tak ada orang melintas, jalanan begitu senyap. Hanya genangan air yang terlihat makin lama, makin melebar, dan meninggi. Tak lama lagi pasti akan menyapu tempat ini. Ah, ada yang salah dengan tata kota di sini. Setiap musim penghujan, banjir selalu ada di mana-mana.

Kawanku belum juga datang. Ia lelaki muda berwajah bersih dan terlihat suci. Aku belum lama mengenalnya. Baru tadi pagi, ketika hujan mengendurkan curahnya. Di antara rintik gerimis yang lembut ia mendatangiku. Tanpa payung, tanpa mantel hujan. Rintik gerimis seolah memberi ornamen lain di sekelilingnya. Lelaki itu, sahabat gerimis. Tak tampak basah membekas pada tubuh dan pakaiannya.

“Selamat pagi, Pak Tua. Jangan takut, aku kawanmu…”

Ia menyalamiku, kemudian meraih tubuhku lalu menepuk-nepuknya pelan. Aku diam, tak menyahut ucapnya. Aku merasa asing dengan orang-orang. Sudah lama aku merasa bukan manusia lagi. Aku sampah yang menyerupai manusia renta.

“Tunggu sebentar, aku akan membawa makanan dan beberapa kawan untukmu.”

Lelaki itu bergegas pergi, kemudian menghilang di kejauhan. Mula-mula aku tak menggubrisnya. Bertahun-tahun aku mengembara seorang diri. Lengang dan sunyi adalah kawan terbaikku. Tetapi entah mengapa, makin lama aku seperti merindukan kehadirannya. Berharap ia segara muncul dari kejauhan, lalu menemaniku menggigil kedinginan di emperan ini.

Lelaki itu belum juga datang. Mungkin ia lupa, atau memang hanya main-main semata. Dalam hati, aku berharap tidak seperti itu. Hari mulai gelap, hujan makin menderas. Dingin sekali. Tubuhku makin menggigil. Aku terbatuk-batuk. Ada darah kental keluar dari mulutku.

***

Malam mulai merambat senyap. Aku masih menunggu lelaki muda itu. Untuk kesekian kalinya, aku kembali mengerang. Tubuhku tetap saja menggigil, namun dadaku terasa panas. Batuk keparat ini telah mengikuti hidupku bertahun-tahun. Kadang hanya batuk-batuk kecil biasa, tetapi tak jarang ia begitu menghebat. Seperti malam ini, tubuhku menjadi terguncang-guncang. Perutku yang melilit-lilit, makin sakit tak terperi. Mukaku memerah, mataku menjadi basah. Air liur bercampur darah kembali muncrat di antara batukku.

Seekor tikus got basah memandangku heran di pojok gelap. Mungkin ia iba, mungkin juga sedang mengejekku. Aku tak peduli. Bukankah aku sekarang tak lebih hina dari tikus got itu?

Dahulu sekali, aku pernah mengalami masa-masa kejayaan. Masa di kala tubuhku masih muda dan kuat. Masa di kala banyak orang memuja dan mengeluk-elukanku. Masa di kala para gadis berlomba-lomba menarik perhatianku, mencoba meraih cintaku. Bukan karena wajahku yang rupawan. Tetapi di kala itu, aku adalah bintang panggung yang cukup terkenal. Sosokku melenggang dari panggung sandiwara, ketoprak, wayang orang, hingga merambah layar film. Ah, masa-masa yang sungguh menggairahkan. Ada bahagia bercampur haru mengenangnya. Aku pernah diakui sebagai manusia. Bahkan, aku pernah mendapat penghormatan dan penghargaan sebagai manusia lebih dari yang lainnya.

Aku masih ingat, banyak orang-orang penting di negeri ini melirik dan mendekatiku. Mereka menawarkan persaudaraan dan kemewahan, yang sebenar-benarnya, tak pernah kuinginkan sama sekali. Aku terlalu lugu dan jujur untuk itu semua. Mereka mengajakku bersenang-senang. Mengundangku makan-makan dan tentu saja memintaku berpentas di acara mereka dengan bayaran yang cukup tinggi. Aku menerima semua itu dengan perasaan senang namun biasa saja, tanpa pernah berpikir yang macam-macam. Sampai banyak di antara mereka, mulai membujukku agar ikut dalam kelompok mereka. Kelak, jika aku bersedia, jabatan dan kekuasaan serta harta berlimpah menantiku sebagai imbalannya. Aku berpikir sederhana. Aku tak tahu apa-apa tentang politik. Aku hanya bisa bermain ketoprak dan sandiwara. Aku cuma penghibur semata. Aku menolaknya dengan halus. Mereka tampak kecewa, tetapi tak bisa berbuat apa-apa.

Dan politik memang benar-benar kejam. Walau sudah berusaha menghindarinya, akhirnya aku terserempet juga. Bukan hanya terserempet, tetapi lebih dari itu jatuh terjungkal kemudian terlindas olehnya hingga berkeping-keping. Aku yang pernah dipuja-puja, berakhir sebagai gelandangan hina seperti ini.

Ah, hujan semakin lebat saja. Suasana gelap sekali, rupanya listrik kembali padam. Entah apa yang terjadi di negeri ini. Hujan atau tidak hujan, sesuatu yang mahapenting di masa kini itu selalu byar pet, seperti tak terurus dengan baik. Aku terbatuk, darah kembali muncrat. Dadaku terasa ngilu. Hatiku seperti teriris.

Di malam yang berhujan dan gelap seperti ini pula, bertahun-tahun silam, aku mulai mengalami titik-titik kehancuran. Orang-orang itu mendatangi rumahku, terus menghujaniku dengan bermacam-macam tuduhan yang tak kumengerti sama sekali. Mereka menyeretku keluar rumah, kemudian menaikkanku ke atas truk. Istriku menjerit-jerit, kedua anakku yang masih kecil menangis sejadi-jadinya. Aku digelandang ke suatu tempat bersama banyak orang yang juga tak tahu apa kesalahannya.

Sejak itu, aku benar-benar terpisah dengan keluargaku. Hidup dalam siksaan demi siksaan. Berpindah-pindah dari satu penjara ke panjara lainnya. Tubuhku remuk, otakku sekarat. Hingga akhirnya aku menghirup kembali kebebasan sebagai orang yang berbeda. Tak ada lagi sanak saudara, orang-orang yang yang kukenal, apalagi yang mengenaliku. Aku mengembara dari kota ke kota, menapaki tahun demi tahun dalam keterasingan dan kesendirian sebagai seorang gelandangan. Di mata orang-orang, aku tak lebih dari gelandangan gila yang tiap hari menyusuri lorong-lorong kota tanpa henti, tanpa tujuan. Meskipun aku sebenarnya waras, bahkan lebih waras dari kebanyakan mereka, kukira.

Ah, kejujuran memang terasa pahit. Bukankah, seorang seniman itu harus jujur dan menuruti hati nurani. Aku tak tahan melihat penderitaan orang kecil. Aku jengah dengan penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan para penguasa. Aku tak tahan untuk berteriak dan protes. Tetapi cuma sebatas itu, sebatas suara dan gerak yang kubingkai dalam wujud sebuah seni pertunjukan. Aku tak punya kekuasaan, tak punya senjata, apalagi anak buah yang sanggup merongrong sebuah kekuasaan. Aku hanya kumpul-kumpul dan menghibur para petani, buruh-buruh pabrik, lonte-lonte jalanan, dan mereka-mereka yang terpinggirkan. Aku tak punya maksud lain, kecuali itu.

Mataku berkaca-kaca, tetapi tiada bisa menangis.

Malam semakin larut dan hujan. Aku menelan ludah. Kawan baruku itu belum juga muncul.

***

Kilat membelah langit. Selintas cahayanya menerangi kegelapan. Gelegar halilintar segera susul menyusul. Entah mengapa, aku merasa suasana begitu mencekam. Ada perasaan takut mengaliri perasaanku. Ah, bukankah aku sudah lama kebal dari rasa takut. Lagi pula siapa yang akan bermain-main dengan ketakutanku. Bahkan, setan paling mengerikan pun pasti enggan menggoda dan mempermainkanku.

Hmm, tetapi kali ini rasanya lain. Aku takut sekali. Aku takut sendiran di emperan ini. Aku merindukan kawan, entah siapa pun itu. Lelaki muda itu tak datang-datang. Kurasa, telah lewat tengah malam. Sepi sekali.

Pada malam-malam biasa, terutama malam Minggu, di sepanjang jalan ini selalu ramai oleh pasangan muda yang berasyik masyuk. Mereka bersembunyi di keremangan. Aku sering melihat mereka beradu mulut sambil mendesah-desah. Tak jarang mereka melakukan hubungan intim selayaknya suami isteri tanpa malu-malu. Mereka seperti menihilkan keberadaanku. Oh, sudah sedemikian bobrokkah akhlak anak-anak muda zaman sekarang?

Jika melihat anak-anak muda itu, aku jadi teringat anak-anakku. Tentu, mereka sudah besar sekarang. Jauh lebih besar dari anak-anak muda itu. Di manakah mereka kini? Waktu aku digelandang pergi dulu, mereka masih kecil-kecil. Si sulung kelas tiga SD, sedang si bungsu belum sekolah. Mereka adalah kebanggaanku, sepasang anak laki-laki dan perempuan yang sedang nakal-nakalnya. Kadang, aku sering dibuat jengkel oleh ulah mereka, minta macam-macam mainan kemudian baru berselang beberapa hari sudah dirusak atau dibuang bagai sampah yang tak bernilai. Aku sering marah-marah kepada mereka jika kondisiku sedang capai dan emosiku tidak stabil. Untunglah ada Laila, istriku yang cantik dan penyabar. Dia adalah perempuan sempurna, anugerah terindah yang pernah kumiliki. Oh, Laila, istriku. Bagaimana kehidupanmu dan anak-anak setelah aku tak berada di sisimu? Apakah kamu terlunta-lunta juga? Atau malah kini engkau telah diperistri laki-laki lain yang sanggup menghidupimu dan merawat anak-anak kita? Laila, jika itu terjadi, aku tak akan menyalahkanmu.

Air mataku menetes. Baru kali ini aku merasa takut sendirian. Baru kali ini pula aku benar-benar merasa kehilangan, padahal sejatinya sudah bertahun-tahun aku kehilangan banyak hal. Aku merindukan Laila dan anak-anakku. Aku merindukan sahabat-sahabat dan masa laluku yang penuh kehangatan.

Ah, mungkin sebentar lagi fajar menjelang. Hujan disertai halilintar sepertinya mulai mereda surut. Batukku perlahan juga mulai menghilang. Lelaki muda itu pasti tak jadi datang. Tiba-tiba, mataku ingin mengatup, melupakan banyak hal. Aku ingin tidur dengan santai dan tenang.

***

Samar aku terbangun. Di sekelilingku terang mulai menjalar. Pagi bergegas memulai hari. Udara membawa bau tanah yang segar setelah hujan deras semalam. Aku mengusap-usap mata. Walau cuma sesaat, aku merasa tidurku nyenyak sekali. Tubuhku terasa enteng dan nyaman.

Di kejauhan, kulihat beberapa orang bergerak ke arahku. Semakin lama, semakin mendekat. Aku mengenali lelaki yang berjalan paling depan. Ya, dia lelaki muda berwajah suci itu. Rupanya dia menepati janjinya, menemuiku dengan mambawa beberapa kawan. Wajahnya tampak bersinar, memancarkan cahaya kedamaian, keagungan, dan kemuliaan. Pun beberapa orang yang mengikuti di belakangnya. Mereka tersenyum menghampiriku.

“Pak Tua, aku Izrail. Ini beberapa kawan yang kujanjikan untukmu. Kami akan menjemputmu menuju rumah yang pasti sangat kau idamkan.”

Aku merasa bahagia sekali. Mendadak aku seperti mengenal baik beberapa nama kawan baru yang menjemputku itu. Mereka adalah orang-orang hebat. Ada Fuad Muhammad Syafruddin, Baharudin Lopa, Munir, Rendra, Mbah Surip, dan juga yang sangat aku muliakan : Gus Dur. Sedang yang perempuan itu, ya, dia adalah si pemberani itu, Marsinah.

Aih, aku merasakan kedamaian sampai ke sukmaku.

Kp, awal Februari 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *