Menyusuri Buku Sastra Anak

LSC, R. Fadjri, Rubi Kurniawan, Dwi Wiyana, Dwi Arjanto
http://majalah.tempointeraktif.com/

Di bawah bayangan pohon yang rindang, Alice duduk terkantuk-kantuk dikepung rasa bosan. “Apa gunanya membaca buku yang tak ada gambarnya?” gerutunya, mengintip buku yang dibaca kakaknya. Sembari membayangkan bunga-bunga daisy yang akan diuntai menjadi kalung dan mencoba melawan rasa kantuk, tiba-tiba saja seekor kelinci putih dengan mata berwarna merah jambu, berdasi, dan mengenakan jas tergopoh-gopoh melintas di mukanya. “Aduh, aduh, aku akan terlambat…,” keluh sang kelinci sembari merogoh sebuah jam berantai dari sakunya. (Alice in Wonderland, Lewis Carrol)

Kapankah terakhir Anda membuka jendela dan mempersilakan berbagai cerita dunia, dongeng yang memesona, dan imajinasi tanpa batas untuk masuk bertamu di ruang hati anak-anak?

Dunia menyatakan tanggal 14 Juli sebagai Hari Anak Internasional. Indonesia mengumumkan 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional.

Ini memperlihatkan seakan-akan anak-anak hanya layak diperhatikan hanya pada hari itu (Karena mereka “hanya” mahluk kecil yang kepentingannya harus di belakang urusan prestisius macam politik dan ekonomi?).

Di Indonesia, urusan membaca buku memang, apa boleh buat, belum menjadi persoalan yang dianggap sebagai kebutuhan pokok. Mungkin, belum ada penelitian yang sangat komprehensif meliputi seluruh wilayah Indonesia tentang minat baca anak Indonesia. Tetapi, secara sekilas, amat mudah melihat bagaimana toko-toko buku dan perpustakaan anak biasanya penuh sesak oleh anak-anak (dibandingkan dengan bagian fiksi orang dewasa). “Minat baca anak-anak mungkin tinggi, tapi minat baca orang tua sangat rendah,” tutur Rahmah Asa, seorang penulis cerita anak-anak.

Apa boleh buat, yang mereka baca adalah serial Dragon Ball dan Doraemon. Di bagian sastra dunia, mereka akan bersapa dengan kisah Gadis Penjual Korek Api karya H.C. Andersen, The Nutcrackers (Boneka Prajurit), dan The Wizard of Oz (Negeri Pelangi Ozu) yang diterbitkan oleh siapa lagi kalau bukan PT Elex Media Komputindo.

Ke manakah buku sastra anak Indonesia?

Pada 1970-an, cerita-cerita anak kontemporer lahir melalui majalah anak-anak Si Kuncung, Kawanku, dan Hai. Nama-nama seperti Soekanto S.A., Arswendo Atmowiloto, dan Mohammad Sobary tercatat mengisi kesusastraan anak Indonesia. Anak-anak generasi itu dimanjakan oleh imajinasi Djoko Lelono melalui Rahasia di Balik Lukisan (tentang seorang anak yang mencari pencuri lukisan ayahnya dengan cara masuk ke dalam lukisan-lukisan yang lain), Terlontar ke Masa Lalu (mesin waktu yang melontarkan tokohnya ke masa Kerajaan Majapahit), dan beberapa bukunya yang lain. Dunia Penuh Tawa oleh Soekanto S.A., Ito oleh Arswendo Atmowiloto, dan serial Saba oleh C.M. Nas adalah karya-karya yang bukan saja membawa anak-anak ke dunia yang seru dan menegangkan, tetapi juga memperluas cakrawala pembacanya.

Lalu, di mana mereka sekarang? Pada 1980-an, seiring dengan membanjirnya terjemahan karya impor (komik maupun sastra anak-anak dunia), agaknya karya sastra anak-anak Indonesia tersudut. Kalaupun ada, mungkin itu adalah beberapa buku anak-anak asal jadi. Arswendo Atmowiloto mendefinisikan karya sastra anak sebagai karya yang difokuskan karena sasaran pembacanya khusus untuk anak-anak. Bagi dia, penulisnya (orang dewasa atau anak-anak) tak penting karena pada akhirnya adalah hasil yang mampu menggetarkan dan memikat. Buku sastra anak yang baik adalah karya yang pada gilirannya bisa dinikmati oleh semua usia. “Don Quixote karya Cervantes sebetulnya cerita anak-anak yang kemudian diakui sebagai sastra dunia. Ia juga dibaca orang dewasa dan diulas oleh kritikus sastra,” tutur Arswendo.

Kecenderungan anak-anak yang kini dijejali karya terjemahan?yang diringkas dan disederhanakan?sebetulnya bukan sesuatu yang salah. Masalahnya, seberapa baik terjemahan itu sehingga tidak merusak atau mengaburkan inti kecemerlangan cerita? Masalah kedua, yang lebih penting lagi, jika mampu untuk menerjemahkan, kenapa sulit untuk mencari karya-karya penulis lokal?

Memang benar, itu semua adalah buku. Tetapi ada buku dan ada pula “buku”. Menurut Soekanto, kalau orang tua tak waspada, bisa saja selera sastra anak-anak menjadi rendah. Sosiolog Mohamad Sobary lebih melihat serbuan buku cerita anak-anak dari Jepang itu dalam konteks hegemoni budaya global. “Anak-anak akan masuk ke dalam wilayah yang sangat global, sehingga tak pernah tahu akar (budayanya) sendiri,” ujar Sobary. Sosiolog yang dulu dikenal sebagai penulis anak-anak yang produktif itu mengaku khawatir jika penerjemahan cerita dilakukan secara serampangan. “Misalnya memotong atau memenggal suatu cerita sehingga mengurangi kompleksitas dan kelengkapan,” ungkapnya.

Apa yang dikemukakan Sobary bukan omong kosong. Mari kita tengok buku terbitan Elex Media Komputindo berjudul Young Girls, yang diterjemahkan oleh Arina Abubakar dari bahasa Jepang. Lo? Bukankah ini berasal dari buku sastra klasik Little Women karya Louisa May Alcott, seorang penulis Amerika?

Begini. Menurut Hartiningsih, editor buku anak Elex, penerbit itu hanya bekerja sama dalam serial cerita dunia dengan penerbit Joei dari Jepang. Mereka biasanya mendapatkan satu paket yang bukan hanya terdiri dari cerita-cerita Jepang, tetapi juga serial sastra dunia (termasuk Eropa dan Amerika) yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. “Penerbit Jepang itu juga mengambil copyright dari negara asalnya. Jadi, kami sudah bisa langsung menerjemahkan dengan penerbit Jepang itu,” tutur Hartiningsih.

Jadilah Young Girls yang amburadul itu. “Dosa pertama” penerbit Elex?yang pasti akan membuat sang penulis remuk-redam?adalah nama Louisa May Alcott sama sekali tak tercantum karena penerbit Elex itu bekerja sama dengan penerbit Jepang, sehingga yang tercantum adalah nama penerjemah belaka. “Dosa kedua” adalah karena penerjemahan dilakukan dari bahasa Jepang, penerjemah Indonesia mengadaptasi nama-nama pelaku sesuai dengan lidah orang Jepang. Misalnya nama keluarga March diubah menjadi Marty, tentu saja karena lidah orang Jepang berbeda dengan orang Indonesia. Demikian pula, nama tokoh utama pria Laurie menjadi Rory, lagi-lagi karena pengucapan lafal “l” dan “r” pada lidah Jepang berbeda dengan dalam bahasa Inggris atau Indonesia. Ini kekonyolan yang seharusnya tak terjadi.

Meski secara bisnis penerbit Elex melakukan penerjemahan dari paket Jepang itu, ada baiknya, untuk menghormati hak cipta dan nilai sastra buku tersebut, mereka juga menengok karya asli. Secara bisnis, mungkin saja mereka merasa sah untuk tak mencantumkan nama penulisnya. Tetapi, secara moral, sebaiknya penerbit sebesar Elex lebih memperhatikan hal-hal prinsipiil semacam ini. Dua serial tebal dari buku Little Women?yang pernah diterjemahkan dengan baik dan lengkap oleh Gadis Rasid dan diterbitkan oleh penerbit Indira?yang dalam versi Elex diringkas menjadi 25 halaman, tentu saja bisa menjadi jembatan bagi anak-anak untuk membaca karya asli. Jadi, penyederhanaan cerita ini sebetulnya akan lebih berguna jika mereka lebih teliti dan tidak melulu berprinsip “meledak” di pasaran.

Penerbit Gramedia?yang menjadi induk penerbit Elex?memang jeli menangkap keinginan anak-anak. Bayangkan, Gramedia menyerap hampir 90 persen buku anak-anak yang berasal dari Jepang. Ini berawal dari proyek coba-coba dengan menerbitkan Candy-Candy, kemudian diikuti Kungfu Boy, yang ternyata laku keras. Maka, berlanjutlah bisnis ini lewat kerja sama dengan tujuh penerbit Jepang, antara lain dengan Kodasha untuk buku-buku komik dan penerbit Joei untuk serial cerita dunia. Hingga saat ini, Elex sudah menerbitkan 87 judul serial cerita dunia. Bayangkan, berapa judul buku sastra dunia yang nama-nama penulis aslinya menguap entah ke mana.

Lalu, bagaimana nasib karya sastra Indonesia? Hartiningsih menunjuk krisis moneter sebagai penyebab lenyapnya buku cerita anak-anak (Indonesia) dari toko-tokonya. “Buku seperti itu harga jualnya bisa mahal sekali,” ujar Hartiningsih. Menurut dia, sebelum krisis moneter, memang Elex sudah menyiapkan sejumlah judul buku anak-anak produksi lokal berupa buku komik, seperti Timun Mas dan Aji Saka. Tapi, ketika harga kertas melambung, proyek ini pun terpaksa ditunda. Alasan Hartiningsih agak ganjil karena toh buku terjemahan juga dicetak di atas kertas yang harganya juga melambung. Alasan yang lebih rasional, sebagaimana yang dikatakan Dr. Murti Bunanta, pakar sastra anak-anak dari Universitas Indonesia, penyebab “keengganan” menerbitkan buku Indonesia adalah?ya, lagu lama?buku terjemahan bisa menekan biaya produksi. “Penerbit cukup membayar fee 5 persen kepada penerbit aslinya. Itu pun masih bisa dinegosiasi,” kata Murti. Selain itu, menurut Murti, penerbit juga tak mau repot-repot memasukkan komponen riset untuk menghasilkan buku cerita anak yang baik, yang hanya akan menambah harga jual buku.

Maka, begitulah jadinya. Kita tak akan menemukan karya-karya petualang Djoko Lelono, atau Si Doel Anak Betawi karya Aman Dt. Modjoindo. Kalaupun ada buku sastra anak-anak Indonesia yang tersedia di rak-rak toko buku, hampir pasti akan luput dari perhatian anak-anak. Contohnya, Siti dan Aisah karya Rahmah Asa, yang sangat mengharukan itu?terbit pada 1994?tak pernah terlihat gebrakannya. Maklum, penerbit Indonesia juga agak kurang paham cara berpromosi.

Masalah lain dalam sastra anak Indonesia adalah penulis Indonesia kurang melakukan riset. Menurut Sobary, cerita anak-anak yang baik adalah jika penulis memasukkan unsur filsafat, psikologi, antropologi, dan memahami petualangan. Faktor inilah yang kurang dimiliki oleh penulis cerita Indonesia. Penulis cerita anak Indonesia kurang melakukan riset sehingga karyanya betul-betul karangan imajinatif, berbeda dengan karya sastra anak-anak internasional, yang merupakan tulisan hasil ramuan imajinasi dan pengalaman faktual penulisnya. Mungkin, itulah yang menyebabkan buku Alice in Wonderland bisa bertahan lebih dari seabad karena keabadian kisahnya, kemampuannya menjangkau berbagai aspek kehidupan, dan yang penting menyentuh hati anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *