Mimbar Teater Indonesia Bahas Putu Wijaya

Ismi Wahid
http://www.tempointeraktif.com/

Kiranya, bulan ini Indonesia sedang merayakan pesta seni yang tak hanya berlangsung di Jakarta, tapi juga di kantong-kantong budaya. Selama sepekan, Mimbar Teater Indonesia (MTI) akan mengadakan perhelatannya yang kedua di Solo. Festival teater ini akan berlangsung mulai hari ini hingga 10 Oktober mendatang di Taman Budaya Jawa Tengah.

Sangat istimewa karena MTI 2010 akan membahas satu tokoh seniman gaek, yaitu Putu Wijaya. “Saya juga terkejut. Tetapi saya sangat mengapresiasi itu. Ada 30 orang pemain monolog yang akan menggarap naskah saya. Dan saya ingin melihat itu,” ujar Putu Wijaya.

Menurut Putu, penghargaan orang kepada naskah di Indonesia agak kurang. Naskah hanya dijadikan batu loncatan dan tidak begitu dihormati. Seseorang ingin menggarap naskah seniman tertentu, tapi pada akhirnya yang muncul adalah karakternya sendiri. “Mereka lebih ingin berekspresi,” ujar Putu.

Yang paling penting, menurut Putu, adalah menggarap naskah orang lain tanpa melahirkan cerita berbeda. Interpretasi boleh-boleh saja, tapi, jika penulisan ulang itu menimbulkan cerita berbeda, haruslah meminta izin pengarangnya. “Kalau ingin dipentaskan, pentaskan saja. Jangan sampai pengarang membunuh karakter pengarang,” kata Putu.

Rencananya beberapa grup teater akan membawakan naskah Putu, termasuk Teater Mandiri, yang ia pimpin, yang akan membawakan lakon Kemerdekaan. Selain itu, Putu akan membawakan monolog pada festival tersebut.

Grup teater yang akan tampil nantinya adalah Teater Lungid (Surakarta), Kelompok Masyarakat Batu (Palu), Seni Teku (Yogyakarta), Teater Mandiri (Jakarta), dan Teater Tanah Air (Jakarta). Adapun beberapa penyaji monolog yang ikut meramaikan MTI 2010, di antaranya Butet Kartaradjasa (Yogyakarta), Herlina Syarifudin (Jakarta), Wawan Sofwan (Bandung), Ikranagara (Jakarta), dan banyak aktor lainnya.

Selain itu, sebagian karya Putu akan dibicarakan dalam seminar. Pembicara seminar yang akan berpartisipasi adalah Afrizal Malna (Yogyakarta), Benny Yohanes (Bandung), Cobbina Gillit (Amerika Serikat), Fahmi Shariff (Makassar), Michael Bodden (Kanada), Koh Yung Hun (Korsel), Aslan Abidin (Makassar), Tamara Aberle (Inggris), dan Nandang Aradea (Banten).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *