Nyoman Kaler: Sang Penjelajah Kreatif

Putra-putri Tradisi Utama Bali (9)
I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

BIBIT unggul, tumbuh di lahan subur gembur, dirawat para mpu ulung penuh perhatian, menjadilah dia sosok legendaris bernama I Nyoman Kaler. Lahir di Desa Pemogan, Denpasar Selatan, tahun 1892, dari pasangan I Gde Bakta dengan Ni Ketut Taro, bocah Kaler memang layaknya bibit unggul tumbuh di lahan gembur. Ayahnya dikenal sebagai seniman dan guru seni serba bisa pada zamannya. Adapun sang ibu yang terlahir dari seniman I Gede Salin, kakek Kaler, juga mewarsi aliran darah seni tari.

Dari sang ayah dan kakek itulah bocah Kaler paling awal menuai getaran sekaligus genetik sepi, dalam usia amat dini: lima tahun. Bahkan, tentu pula sejak berupa janin dalam gua garba rahim sang ibu. Kelak ketika dia bertumbuh menjadi anak remaja, Kaler pun mendapat sentuhan para maestro tari dan tabuh Bali sekaliber I Gusti Gede Candu, I Made Nyarikan Sriada, serta Ida Bagus Boda. Juga dia menimba ilmu dari I Made Sudana dari Tegal Tamu, Gianyar. Yang paling mengesankan dia adalah AA Rai Pahang dari Sukawati, Gianyar. Dari guru satu ini dia belajar dasar tari paling intens, saban hari. Dan sang guru pun tiada jera menurunkan ilmunya kepada sang murid yang dinilai cerdas ini. Karena kepiawaiannya menyerap ilmu sang guru itulah maka dia sempat dihadiahi seekor kuda putih oleh sang guru. Meskipun tiada berijazah pendidikan formal, namun Kaler bisa menjadi teladan manusia pembelajar tiada lelah, tiada jera. Usai menyerap beragam ilmu tari dari para maestro, dia pun menyedot sedalam-dalamnya ilmu tabuh Bali. Tidak sekadar memainkan alat musik Bali, dia malah belajar melaras dengan kepekaan rasa paling dalam. Untuk ini dia tak cukup menjajal ilmu di seputar Denpasar dan Badung, melainkan meretas hingga ke Klungkung, pada I Made Geria dari Banjar Ketapean. Perburuan itu menjadikan Kaler kelak dikenal sebagai pelaras beragam gambelan Bali dengan kepekaan rasa tinggi: mulai dari gender, angklung, sampai semar pagulingan, dll.

Kaler bukan penabuh dan penari biasa, memang. Dia pun bukan manusia pembelajar sekadar-sekadaran. Dia boleh jadi satu contoh penjelajah kreatif yang tiada kunjung terpuaskan hanya oleh ajaran sang guru. Dia terus melesat, menjelajah ruang-ruang kreasi baru yang belum pernah dimasuki generasi pendahulunya. Jelajahan kreatif itulah menjadikan dia terlahir sebagai satu di antara sosok pelopor, kreator, sekaligus motivator dalam jagat kesenian tabuh maupun tari Bali. Dia memang maestro yang segenerasi dengan I Wayan Lotring dan I Ketut Maria (Mario).

Tahun 1920-an, misalkan, suami Ni Made Rapik, Ni Nyoman Ruci, dan Mbakyu Peringit (dari Solo) ini memperbaharui seni tari Gandrung. Satu dasawarsa kemudian dialah pertama kali mementaskan tari Legong dengan iringan Gong Kebyar. Tahun 1935, setelah berdiskusi mendalam dengan Anak Agung Ngurah Bagus Sambah, dia menciptakan tari Samirata, Dayang Ngaleyak, dan Pangaksama. Tujuh tahun berselang dia ciptakan tari Margapati dan Wiranata yang kini menjadi klasik, juga tari Puspawarna dan Damangmiring. Bersama maestro I Wayan Lotring, dia gubah tari Candra Metu. Ayah I Made Mirta dan I Nyoman Wilasa inilah turut membidani kelahiran sekaa Legong Kraton di Pura Jurit, Desa Klandis, Denpasar (1924) yang kelak melahirkan penari-penari tenar Ni Polok bersama Ni Ciblun. Juga ikut mendirikan sekaa Janger Banjar Kedaton, sehingga melahirkan murid unggul. Ni Reneng, Ni Gusti Ayu Rengkeng, Ni Rening, dkk. Ketika menjadi guru tari di Banjar Lebah tahun 1933, dia pun mengorbitkan I Wayan Rindi, Ni Luh Cawan, Ni Sadri. Manakala menjadi guru tabuh di Tohpati (1938) dia cetak pangrawit unggul I Ketut Gelebig.

Di Kerobokan dia melahirkan tunas I Nyoman Ridet, juga Ni Nyoman Muri, I Wayan Rika. Hingga ke Mengwi, melahirkan I Wayan Likes – yang kelak tercatat sempat mengajar tabuh Bali di Moskow, setelah sempat melawat ke Republik Rakyat Cina (RRC). Likes kemudian meninggal di Jakarta, karena sakit.

Kaler memang satu di antara ikon seni tabuh dan tari di kawasan Denpasar dan Badung. Darinyalah kemudian mengalir pula pentolan seni tabuh di Sesetan, seperti I Nyoman Rembang dan I Wayan Naba. Juga penari-penari bernama Anak Agung Sayu Raka Candri, Ni Ketut Rabih, dkk. Bahkan, penari Ni Made Darmi dari Tangguntiti, Denpasar, yang dikagumi Presiden Sukarno pun, menjadi murid Kaler. Dari peraih penghargaan Dharma Kusuma Gubernur Bali tahun 1980 ini pula pangrawit unggul I Wayan Beratha asal Banjar Blaluan, Denpasar, menimba ilmu tabuh.

Beratha kelak menjadi satu di antara guru tabuh penting di lembaga pendidikan seni formal di Bali, di Sekolah Kokar (Konservatori Karawitan) maupun ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Denpasar. Adapun Kaler, sebelum balik ke Bali, justru sempat menjadi guru tetap di Sekolah Kokar Surakarta sejak 1952, bersama-sama muridnya, I Nyoman Rembang, setelah sebelumnya sempat unjuk kepiawaian di Srilanka dan Singapura. Usai pensiun di Surakarta, tahun 1959, lelaki yang berpantang makan hewan berkaki empat ini pun dipinang jadi guru tabuh tak tetap di Kokar Denpasar. Di sana mahaguru tabuh yang tak berijazah formal ini mengajar generasi baru Bali hingga mendapat ijazah resmi dari sekolah kesenian itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *