PATUNG SANG GUBERNUR

Tjahjono Widarmanto
http://www.surabayapost.co.id/

Lelaki yang duduk di kursi malas di sudut ruangan itu berusia sekitar lima puluh lima tahun ke atas. Wajahnya tampak lelah, namun masih segar dan gagah. Hanya keriput di sekitar mata dan leher yang tak dapat menyembunyikan kesenjaannya. Tubuh yang tambun dengan lemak yang bergelambir di perut dan leher semakin menunjukkan kesenjaannya.

?Mi?Mi..Mami!? tiba-tiba lelaki itu berteriak keras, sambil terbatuk.

?Ada apa Pi,? terdengar suara lembut dari seorang perempuan yang muncul dari balik pintu. Perempuan itu usianya sudah melewati separo baya mengenakan baju hangat warna hijau, datang tergopoh.

?Sudahlah Pi, malam makin larut. Papi kan harus istirahat. Sejak tadi, Papi ngeses terus. Bukankah, kata dokter, Papi harus ngurangi ngeses?, kata istrinya.

?Tidur?! Mana aku bisa tidur mikirin itu anak-anak. Anak-anak muda itu memang ndak tahu diri. Bukankah selama ini, selama aku menjadi gubernur, aku selalu mendanai semua organisasi mereka. Aku beri semua fasilitas yang mereka inginkan. Tapi, kenapa mereka tiba-tiba membuat gerakan menolak kembali pencalonanku? Sungguh ndak tahu terima kasih,? cerocos mulut lelaki itu sampai berbusa-busa. ?Celakanya, Mi, Titis, ragilmu itu lho, kok ya ikut-ikutan!? keluhnya.

?Sudahlah, Pi, tak usah mencalonkan diri diri lagi. Dua periode bukankah sudah cukup, to Pi. Biar ganti yang muda-muda itu.?

?Kamu juga sama dengan yang lain. Tidak! Jenderal Sadiroen, tidak tinggal glanggang colong playu! Tidak!? jawab lelaki itu meradang.

Melihat reaksi suaminya, istrinya itu merangkul dari belakang, sambil menjawab lirih,? Kalau itu kehendak Papi, aku manut saja. Yang penting, sekarang Papi sare dulu. Bukankah Papi harus fit dan sehat untuk menghadapi semua ini?.

**

Suatu pagi rumah Gubernur Sadiroen tampak sibuk. Hari ini sang Gubernur mengumpulkan anak, menantu, dan cucu-cucunya. Juga pengikut-pengikutnya, mantan anak buahnya, dan siapa saja yang merasa pernah dibesarkan dan dimuliakan olehnya.

Dengan jas warna coklat tua berdasi merah bata, dan sepatu yang bersemir, sang Gubernur tampak gagah dan berwibawa. Tongkat komando di tangan kanannya menambah kesan angker.

?Anak-anak dan cucu-cucuku, hari ini Papi memang mengundang kalian secara khusus. Papi ingin menyampaikan, Papi ingin memperpanjang masa jabatan gubernur,? suara Gubernur Sadiroen memecah sunyi.

?Untuk mengakhiri masa jabatan gubernur periode ini, Papi ingin dibuatkan patung besar di tengah alun-alun kota. Masalah anggaran tidak masalah berapapun besarnya. Asal kalian semua mendukung!?

Tak ada jawaban.

?Ini demi masa depan trah Sadiroen, nama besar keluarga kita, juga masa depan kita bersama. Apakah kalian mendukung?!? lanjutnya sambil menyapu pandangan pada semua yang hadir.

?Itu sudah kewajiban kami, Pi. Sebagai putra Papi tentu saja kami akan membantu Papi,? kata Triadji Sunarwibowo, sang putra sulung angkat suara.

Usman Winoto, si menantu, mengangkat tangannya, berpendapat,? Saya sependapat dengan Mas Adji. Saya tangkap para demonstran yang menolak pencalonan Papi. Saya juga akan mengkoordinasi demo-demo tandingan untuk mendukung pecalonan Papi. Banyak organisasi-organisasi pemuda dan massa yang bisa saya gerakkan!?

Tak kalah semangatnya, Bagas Semedhi, putra ketiga, melontarkan dukungannya, ?Papi tidak usah cemas. Saya siapkan kucurkan dana, berapa pun Papi butuhkan.?

Papi mengangguk-anggukan kepala, puas dengan dukungan-dukungan itu, ?Mana Titis?,? kata papi, sambil bola matanya melirik ke kiri dan kekanan.

?Ah, tentang Dik Titis, Janganlah Papi menganggapnya kendala yang serius. Sikapnya hanya karena dia masih muda saja. Masih mahasiswi. Sehingga sok idealis. Saya yakin, setelah Papi terpilih kembali, si Titis mau tak mau akan kembali pada kita?,

anak sulungnya menetralisir situasi.

**

Isyu pembangunan patung di tengah alun-alun kota menyebar. Elemen mahasiswa yang tidak terima dengan rencana itu, berdemo. Begitu juga elemen masyarakat yang tidak setuju dengan rencana ngawur itu berdemo di depan kantor gubernur. Namun semua aksi itu bisa diatasi.

Melalui tangannya yang seperti gurita, Gubernur Sadiroen mampu merangkul semua elemen yang menentang kebijakannya. Namun elemen lain yang mengharamkan membangun patung manusia hampir tak bisa dipatahkan. Entah bagaimana, suara dari elemen yang mengharamkan pembangunan patung manusia itu tiba-tiba menghilang.

Pembangunan patung mendekati kenyataan. Gubernur Sadiroen tampak tersungging menikmati kemenangannya. Tetapi dihatinya masih ada duri. Wuragilnya Titis Tjahyawati, tak bisa ditaklukan. Bersama elemen perempuan, Titis Tjahyawati menentang kebijakan pembangunan patung gubernur.

?Ini bukti penindasan pada kaum perempuan. Pemimpin tidak identik dengan laki-laki. Pemimpin sejati tidak berjenis kelamin. Batalkan pembangunan patung!?

Suara anak ragilnya itu terngiang-ngiang di telinga sang gubernur. Bahkan suara itu terasa memeras hatinya yang sudah dicangkok. Namun di balik sakit hatinya itu, ia merasa bangga punya anak yang pemberani.

?Pemimpin sejati tidak berjenis kelamin. Artinya saya memang harus melindungi semua golongan? Kalau saya membangun patung, identik dengan penindasan pada kaum lain,? desah Gubernur Sadiroen, di tengah malam yang sunyi. Asap rokok mengepul-ngepul. Rancangan patung yang diserahkan Ir. Susetyo, ia gulung. Desah napasnya terasa sekali membawa beban berat.

?Tetapi saya tidak boleh menyerah. Seberapa besar kekuatan ragilku itu!?

**

Ir. Susetyo tergopoh-gopoh menghadap gubernur. Ia melaporkan para demonstran dari elemen perempuan menduduki proyek pembuatan patung. Gubernur Sadiroen yang masih memakai piama memerintahkan, agar polisi turun tangan. ?Siapapun yang mengganggu pembangunan, tangkap!? seru gubernur. Ir. Susetyo segera kembali ke proyek.

Istrinya yang mendengar gaduh, keluar dari ruang makan. ?Ada apa to Pi? Sarapan dulu,? katanya.

?Itu, anakmu. Pagi-pagi sudah bikin ribut di proyek!?

Belum sampai duduk, tiba-tiba sekretaris pribadinya datang melapor. ?Ada telpon dari Kapolsek, Pak!?

?Katakan siapapun orangnya yang menghambat pembangunan, dipenjara!?

?Tapi yang ditangkap Jeng Titis,? kata sekretaris.

?Peduli amat!? Gubernur Sadiroen berlalu.

Sekretaris menyampaikan pesan dari gubernur. Telepon hendak ditutup, tetapi istri gubernur mencegahnya. ?Pak, tolong anak saya diamankan saja. Biar nanti saya yang urus,? kata perempuan itu.

?Siap, Bu!? kata suara dari seberang telpon.

**

Minggu yang cerah. Seluruh warga kota, bahkan dari desa-desa, dusun, dan kampung berduyun-duyun menuju alun-alun di pusat kota untuk menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah. Hadir seluruh Anggota Dewan Masyarakat, Muspida, Walikota, para Bupati, para pengusaha, alim ulama, dan seluruh tokoh masyarakat.

Hari itu Gubernur Sadiroen akan meresmikan patung yang sudah selesai dibangun. ?Bapak-bapak Dewan Masyarakat yang terhormat. Para Bupati, undangan, dan seluruh anggota masyarakat yang saya cintai. Dalam kitab Ramayana ada sebuah adegan bagaimana Rama menasehati adiknya Barata tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik, yang disebut Hasta Brata atau delapan citra kepemimpinan,? katanya membuka sambutan.

?Hadirin yang berbahagia, kedelapan citra kepemimpinan itu, Hasta Brata itu, akan saya persembahkan dalam satu wujud. Wujud nyata, yang menggambarkan citra pemimpin yang kita rindukan!?

Tepuk tangan berderai dari seluruh yang hadir. Mereka menanti dengan berdebar-debar bagaimanakah wujud pemimpin yang ber-hasta brata tersebut.

Dengan langkah pasti, Gubernur Sadiroen berjalan ke depan sebuah patung besar yang ditutup dengan kelambu warna keemasan. Dipegangnya ujung kelambu sambil berkata, ?Saudara-saudaraku inilah wujud nyata dari kepemimpinan yang ber-hasta brata. Inilah Ratu adil yang kita nantikan, yang akan membawa kita pada peradaban yang lebih baik?!?

Diiringi dengan bunyi sirine dan genderang yang dibunyikan oleh korps musik, dan disambut dengan tepuk-tangan yang makin meriah, Gubernur Sadiroen dengan cepat menarik kelambu warna emas itu.

Tiba-tiba sorak-sorai berhenti. Semua orang ternganga. Tampak sebuah patung, sosok gagah yang mengenakan seragam militer lengkap dengan tanda jasa di bahu dan dada, dengan pedang dan tongkat komando, namun wajahnya rusak, bopeng-bopeng seperti terkena penyakit kutukan!

Tubuh tambun Gubernur Sadiroen tiba-tiba limbung, kemudian ambruk membentur patung itu. Pertolongan medis segera dilakukan. Tetapi tangan malaekat lebih trengginas. Gubernur Sadiroen menghembuskan napas terakhir di depan patung kejayaannya.

Orang-orang saling berbisik. Dan bisikan itu berhembus menjadi isu. Isu itu menjadi berita-berita di media massa. Orang-orang ramai membicarakan kematian Gubernur Sadiroen. Nama Titis Tjahyawati, putri ragil Gubernur Sadiroen disebut-sebut sebagai orang di balik perusakan wajah patung itu.

?Itu tidak mungkin saya lakukan. Bagaimanapun dia orang tua saya sendiri,? bantahnya di media massa.

Wajah Titis kerap muncul di media massa terkait kasus yang menghebohkan itu. Bahkan serangan demi serangan ditujukan padanya tak pernah berhenti. Tetapi ia tangkas mengelak. Bahkan, ia dengan berani memerintah membongkar patung gubernur yang telah terlanjur menelan uang milyaran rupiah. Patung gubernur dirubuhkan. Alun-alun kota kembali seperti semula.

?Sia-sia ada patung besar, kalau masyarakat di sekitarnya tidak bisa makan!? serunya di televisi.

Ibunya yang melihat, air matanya meleleh. ?Dia mewarisi sifat Papinya, yang keras kepala dan pemberani.?

Pada pemilihan gubernur berikutnya, nama Titis menghiasi media massa. Di sudut-sudut kota, baliho besar memampang fotonya bertuliskan, ?Calon Gubernur Masa Depan!?

Kakak-kakaknya yang menyadari langkah adiknya itu, memberikan selamat. ?Kamu mewarisi bakat politik, Papi,? kata kakak tertuanya saat jamuan makan malam bersama di rumah Maminya.

?kita dukung, sampai Dik Titis jadi gubernur!? seru kakak keduanya.

?Setuju! Hidup trah, Sadiroen!? seru kakak ketiga dan disahut yang lain.

Maminya hanya tersenyum. Kemudian ia menyela,?Tetapi ingat, perjuangan kalian ini sudah dibayar mahal dengan nyawa Papimu.?

?Ini risiko perjuangan, Mi,? kata Titis sambil memeluk Maminya.

Ngawi, Desember 2008
*) Penulis adalah penyair dan cerpenis tinggal di Ngawi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *