Pentingnya Menyunting Teman di Facebook

Jarot Doso Purwanto
http://media.kompasiana.com/

?Biarlah mempunyai teman sedikit di Facebook, yang penting benar-benar bermanfaat untuk silaturahmi.? (Ali Audah)

SEJAK Facebook (FB) populer sebagai jejaring pertemanan, istilah menyunting tidak hanya akrab bagi dunia tulis menulis atau produksi film. Dengan caranya sendiri, Facebook membuat kata menyunting atau mengedit menjadi wajar dikaitkan dengan proses menyeleksi teman di jejaring sosial ini.

Ketika Facebook belum ada, terasa aneh jika kita mengatakan akan menyunting teman. Bisa-bisa kita malah dikira mau melamar atau mempersunting teman, bukan menyeleksi teman. Lebih aneh jika kita memakai kata menyunting versi serapan bahasa Inggrisnya, misalnya, ?Saya akan mengedit teman dulu.? Teman kok diedit?

Tetapi sekarang ini kita lazim mendengar kata ?menyunting teman? (sekali lagi ingat: ?menyunting?, bukan ?mempersunting?, hahaha). Bahkan, mungkin anda sendiri sudah sering melakukan aktivitas menyunting teman itu.

Mengapa begitu? Ya, karena sistem pertemanan ala Facebook membatasi kita hanya bisa berteman dengan maksimal 5000 akun saja, baik akun orang maupun lembaga. Restriksi ini yang membuat tokoh-tokoh penting, seperti figur publik atau selebritas, harus membuat akun Facebook lebih dari satu guna menampung pendukung atau penggemar. Akun yang sudah penuh daya tampungnya lazim diembel-embeli istilah full atau ?penuh?, sementara akun kedua cukup diberi identitas nama diri atau diimbuhi kata ?dua?. Misalnya ?SBY Penuh? dan ?SBY Dua?.

Nah, untuk mereka yang enggan membuat akun lebih dari satu, seperti saya ?tapi ingin menghindari overloaded lantaran terlalu banyak teman yang dikonfirmasi atau di-add? pilihannya ialah menyunting atau mengedit daftar teman-temannya di Facebook. Mengedit di sini artinya menghapus atau me-remove sebagian teman dan membiarkan sisanya tetap terkoneksi.

Prioritas utama untuk dihapus dari daftar teman ialah mereka yang bermasalah atau berbahaya. Dalam kehidupan nyata sehari-hari, belum tentu mereka ini menimbulkan kesulitan kepada kita. Namun, di dunia maya, bisa jadi gemar merecoki. Perilaku mereka macam-macam. Ada yang rajin berkomentar sinis atas postingan status kita, rajin memamerkan koleksi gambar pornonya di halaman Facebook kita, dan sebagainya.

Terhadap teman-teman trouble maker seperti ini biasanya akan langsung saya hapus statusnya sebagai teman saya di Facebook. Baik mereka yang benar-benar teman saya dalam dunia nyata maupun hanya teman yang kenal melalui dunia maya.

Bahkan, bagi yang sikapnya benar-benar keterlaluan, namanya tidak cukup saya hapus, tapi juga langsung saya blokir. Dengan diblokir, mereka yang usil itu tidak bisa menemukan akun saya lagi, meski minta bantuan ?Mbah? Google sekalipun. Bila hanya di-remove, mereka masih bisa meminta pemulihan hubungan pertemanan di Facebook.

Prioritas kedua untuk didelet sebagai teman adalah mereka yang jarang berinteraksi dengan kita melalui sarana komunikasi maya itu. Mereka ini bisa pula benar-benar merupakan teman kita dalam kenyataan, tapi karena tidak terlalu aktif mengelola akun FB-nya (istilahnya kurang eksis), akibatnya jarang berkomunikasi melalui Facebook. Seorang teman Facebook saya, ketika menyunting teman-temannya dengan alasan ini, menuliskan status: ?Saatnya me-remove mereka yang tidak aktif??

Yang diprioritaskan dihapus dari daftar teman selanjutnya ialah justru mereka yang rajin meng-up date status Facebooknya. Mereka sering pula berinteraksi dengan orang lain di Facebook. Namun, karena berbagai alasan, mereka jarang atau malah belum pernah menyapa kita melalui jejaring sosial ini. Mungkin karena malu, malas, sungkan, atau memang sedikit sekali memiliki tautan kepentingan untuk dikomunikasikan dengan kita.

Mereka ini pun bisa betul-betul teman kita dalam kenyataan, tapi bisa pula hanya ?teman virtual? yang meng-add kita sebagai teman melalui Facebook. Saya sendiri sering heran menghadapi perilaku mereka. Banyak di antaranya benar-benar mengenal saya dalam kehidupan nyata dan lebih dulu berinisiatif meng-add saya. Tetapi, tatkala permintaan konfirmasinya sebagai teman saya terima, malah tidak pernah berkomunikasi dengan saya. Ketika saya tanya kabarnya melalui inbox atau wall (beranda) Facebook-nya pun sama sekali tak merespon.

Nah, demi menghemat ruang beranda Facebook kita dari lalu lintas status atau pesan -yang ditulis orang-orang yang aktif Facebookan tetapi tidak bertegur sapa dengan kita tadi- pilihan untuk me-remove mereka pun tak terelakkan. ?Biarlah mempunyai teman sedikit di Facebook, yang penting benar-benar bermanfaat untuk silaturahmi,? tulis Ali Audah, sahabat saya di Yogya, di status Facebooknya. Ali sedang sibuk menyunting daftar temannya beberapa hari terakhir ini.

Terus terang semula saya ragu ikut-ikutan mengedit teman. Maka saya pun curhat kepada Ali, melalui kolom komentar postingannya tadi. ?Kadang aku heran ada teman yang meng-add-ku di Facebook dan kenal aku betul-betul, tapi disapa berkali-kali kok sama sekali nggak mau menjawab. Padahal Facebooknya ya aktif nyaris setiap hari. Dihapus saja apa ya Pak Ali? Memang sepertinya kejam, seperti memutus tali silaturahmi saja rasanya?? kata saya.

Menjawab komentar saya, Ali menulis: ?Yah, (keheranan) itu juga yang saya rasakan? (Tetapi) akhirnya, daripada saya lelah dan syu?udzon (berprasangka buruk), mendingan saya hapus (namanya). Nanti (akan) ketahuan dia benar-benar berniat silaturahmi apa tidak ke kita.? Menurut Ali, ?Kalau dia ada niat silaturahim, tentu dia mengirim pesan atau meminta pertemanan kembali.?

?Oh, jadi dihapus saja dulu teman itu, baru kita berpikir positif (lagi) atas dirinya, begitu ya? Oke juga tuh resepnya,? jawab saya kemudian.

Terkait sikap teman Facebook yang acuh tak acuh ini, saya memiliki pengalaman yang cukup menjengkelkan. Saya kirimi dia pesan di inbox, tidak dibalas. Saya tulis pesan di wall FB-nya, tidak dijawab. Padahal pada saat yang sama dia berkali-kali memposting kalimat canda-ria dengan teman-temannya. Saya kirim sms juga tidak direspon. Bahkan saya telepon berkali-kali juga tak diangkat. Nah, daripada makan hati dan berprasangka buruk, saya putuskan saja untuk mendelet akun atau namanya dari daftar teman saya di Facebook.

Sikap acuh tak acuh seperti itu terutama saya rasakan dari teman-teman Facebook yang berjenis kelamin perempuan dan berstatus masih single atau gadis. Mungkin karena status saya sendiri sebagai laki-laki juga masih sendirian, hehehe, barangkali sapaan saya sering ditafsirkan secara berlebihan alias membuat mereka GR (gede rasa). Karena GR, respon mereka pun agak tinggi hati atau minimal acuh tak acuh. Situasi seperti ini membuat saya merasa tak nyaman. Saya jarang menemui situasi serupa jika berkomunikasi dengan teman-teman laki-laki atau lawan jenis yang sudah menikah.

Situasi yang agak berbeda dihadapi Ali Audah. Kepada saya, Ali bercerita bahwa ia sering keki atau tak nyaman terkoneksi dengan teman-teman Facebooknya yang sekarang sudah ?menjadi orang? atau menduduki posisi penting. Ketika diminta berteman melalui Facebook, biasanya mereka merespon. Namun, ketika sudah terkoneksi dengan akun Facebooknya, komunikasi justru tidak lancar.

Ada kesan bahwa mereka -teman-teman lama Ali yang kini menjadi orang penting- ini sangat selektif dalam memilih teman berbicara. Ketika berinteraksi dengan orang yang kira-kira selevel, mereka akan segera meresponnya, baik berupa komentar maupun postingan di wall. Sementara terhadap yang di bawah strata sosialnya, tiba-tiba saja mereka menjadi gagu atau pelit bicara. Inilah yang akhirnya membuat Ali memilih ?memecat? mereka dari daftar teman Facebooknya.

Saya memahami alasan Ali Audah. Sebab saya pun sempat merasakan ketidaknyamanan seperti itu. Hanya mungkin intensitasnya tidak separah pengalaman saya bergaul dengan para perempuan single di Facebook yang sering kege-eran hehehe? []

Jakarta, 3 Juni 2010.

*) Lahir di Sragen, Jawa Tengah. Setamat SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Yogyakarta, kuliah di Fisipol UGM, kemudian menjadi wartawan. Kini bekerja sebagai staf ahli DPR RI, sambil sesekali mengisi pelatihan jurnalistik dan perkaderan mahasiswa. Pernah aktif di GMNI, HMI, dan KAMMI. Silakan mengutip atau memperbanyak tulisan saya, dengan menyebutkan penulis serta sumbernya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *