Proses Menjadi Pemimpin

Aswandi
http://www.pontianakpost.com/

MENJADI pemimpin adalah hak semua orang dan tidak dicanangkan hanya untuk segelintir orang diantara kita; ia tidak dilahirkan, melainkan diciptakan dan diupayakan melalui proses pembelajaran. Jika ada keyakinan atau pendapat yang menyatakan bahwa menjadi pemimpin hanya untuk kalangan terbatas, maka hal tersebut adalah sebuah mitos. Dan mitos tersebut menurut para pakar kepemimpinan adalah mitos yang paling merusak dari segala mitos kepemimpinan lainnya,? dikutip dari Kouzes & Posner (1999) dalam bukunya ?The Leadership Challenge?.Barangkali, karena menolak mitos tersebut, maka akhir-akhir ini, bermunculan calon pemimpin dari berbagai golongan yang ada di tengah masyarakat.

Namun mereka lupa bahwa ada ?Hukum Proses Kepemimpinan? yang harus ditaati. Hukum proses kepemimpinan menyatakan bahwa ; ?Kepemimpinan berkembang setiap hari, bukan dalam satu hari?, demikian John C. Maxwell (2001) dalam bukunya ?The 21 Irrefutable Laws of Leadership.? Kemampuan memimpin sesungguhnya merupakan kumpulan dari berbagai ketrampilan yang seluruhnya dapat dipelajari serta ditingkatkan, namun prosesnya tidak terjadi dalam semalam, karena kepemimpinan itu rumit, kepemimpinan adalah ilmu dan seni, aspeknya sangat banyak, seperti; adanya kepercayaan, rasa hormat dan kekuatan emosional yang membuat orang lain senang kepadanya, memiliki pengalaman memimpin, ketrampilan membina hubungan dengan sesama, berdisiplin, memiliki visi jauh ke depan, dan sebagainya.

Disamping itu, sering terlupakan bahwa pemimpin adalah orang yang mau belajar. Pepatah lama mengatakan, ?Untuk Menjadi Pemimpin Besok, Maka Belajarlah Hari ini.? Dalam studi terhadap sembilan puluh pemimpin top dari berbagai bidang, ahli kepemimpinan, Warren Bennis dan Burt Nanus menemukan hubungan antara pertumbuhan dengan kepemimpinan; ?Kemampuan untuk berkembang serta meningkatkan keterampilannyalah (proses belajar) yang membedakan pemimpin dengan para pengikutnya? (Maxwell, 2001).

Dalam tarikh Islam sebagaimana ditulis oleh M. Husain Haekal (2001) dalam beberapa bukunya; ?Muhammad Saw, Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan, serta buku karya Ali Audah (2003) berjudul ?Ali bin Abi Talib? ditemui kisah menjadi pemimpin melalui proses pembelajaran yang panjang, terbukti dan teruji perjuangan dan pengabdiannya. Bukti lain dari hukum proses kepemimpinan sebagaimana dijalani oleh Rosevelt, salah seorang presiden Amerika Serikat dan salah seorang pemimpin sejati yang tangguh di dunia ini, Ia menyadari bahwa keberhasilannya menjadi seorang pemimpin melalui proses yang perlahan-lahan dan bertahap tapi pasti, bukan keberhasilan dalam sekejap dan melalui jalan pintas tanpa jalur yang jelas. Jalannya menuju kursi kepresidenan dilaluinya secara bertahap sambil terus belajar dan bertumbuh. Ketika ia menjadi pengikut, ia pun menjadi pengikut yang baik. Ia perbaiki dirinya bersama berjalannya waktu hingga akhir hayatnya.

Ia tinggalkan dunia ini dalam keadaan tidur, ketika diangkat dari tempat tidurnya, ditemukan sebuah buku dibawah bantalnya. Pertanda menjelang akhir hayatnya, Ia tetap berusaha belajar serta meningkatkan kemampuannya. Ia tetap menerapkan Hukum Proses Kepemimpinan. Sayangnya kisah-kisah dari para pemimpin sejati tersebut diatas tidak dijadikan sumber pembelajaran bermakna bagi para calon pemimpin atau para pengikut sekarang ini. Saat ini, para pengikut terlihat kurang sabar untuk menjadi seorang pemimpin. Belum menjadi pengikut yang baik sudah berani mempromosikan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Barangkali ia lupa teori kepemimpinan yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kepengikutan. Sukses menjadi pemimpin karena sukses menjadi pengikut, dan sebaliknya ketika menjadi pengikut tidak ada prestasi kerja yang dihasilkan. Anehnya ia berani mencalonkan diri menjadi pemimpin. Semestinya menjadi pengikut yang baik terlebih dahulu, baru mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin.

Evolusi terakhir dari teori kepemimpinan menyatakan, ?kepemimpinan (leadership) adalah kepengikutan (followership), dan pemimpin (leader) adalah pengikut (follower), saat ini lebih dikenal ?Follower Brainware?.Robert Townsend dan Warren Bennis (1998) pakar kepemimpinan abad ini dalam bukunya ?Reinventing Leadership? menyatakan, ?Jika kita bicara tentang pemimpin, kita seharusnya juga menyebutkan pentingnya menjadi pengikut. Pemimpin yang baik seharusnya juga menjadi pengikut yang baik. Saya telah melakukan kesalahan besar dalam memberi judul buku saya, ?Leaders: Why Leaders Can?t Lead, dan On Becoming a Leader. Seharusnya judul dua buku tersebut adalah ?Followers: Why Followers Can?t Follow, dan On Becoming a Follower?. Sepengetahuan penulis, kedua buku tersebut menjadi referensi wajib bagi mereka yang mempelajari teori kepemimpinan.

Douglas K. Smith sebagaimana dikutip Peter F. Drucker (1997) dalam bukunya, ?The Leader of The Future? menyatakan, ?Dalam organisasi abad 21, semua pemimpin harus belajar menjadi pengikut kalau mereka hendak menjadi pemimpin yang berhasil.? M.Quraish Shihab (1994) dalam bukunya ?Lentera Hati? memperkuat asumsi diatas seraya mengutip Sabda Nabi SAW, ?Kama takununa yuwalla ?alaikum, artinya bagaimana keadaan kalian, demikian pula ditetapkan pemimpin atas kalian.? Beliau menjelaskan sabda tersebut sebagai berikut; pemimpin adalah cermin dari pengikut atau keadaan masyarakatnya. Pemimpin yang baik adalah yang dapat menangkap aspirasi masyarakatnya, sedangkan masyarakat yang baik adalah yang berusaha mewujudkan pemimpin yang dapat menyalurkan aspirasi mereka.

Menutup opini ini, penulis sampaikan, ?Jika ingin menjadi pemimpin yang kuat dan terpercaya, maka berusahalah menjadi yang terbaik ketika sebagai pengikut, dan bersabarlah. Dan ketika menjadi pemimpin janganlah sombong kepada rakyat, terutama kepada rakyat kecil, karena tanpa dukungan mereka, seorang pemimpin tidak ada apa-apanya, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Sun Tzu mengingatkan dalam sebuah kalimat pendek, ?Seorang pemimpin yang memperlakukan rakyatnya seperti anak kandung yang dicintainya, maka rakyatnya akan bersedia mati bersamannya, demikian dikutip dari Alistair McAlpine (2004) dalam bukunya ?The Ruthless Leader.? **

* Penulis, Dosen FKIP Untan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *