Puisi-Puisi Hardiansyah Asmail

http://www.radarbanjarmasin.co.id/
Surat dari Gaza

Hari hari buram menghias langit Gaza
Senandung mitraliur selalu saja membahana
Menendangkan lagu keseharian
Bagi pengungsi yang merindukan udara segar
Tanpa bau amis mesiu tua

Surat dari Gaza
Ditulis oleh tangan tangan yang terluka
Tentang irama tembang purba
Lagu padang Karbala
Atau kisah tentang para nabi
Yang terusir dari negerinya sendiri

Surat dari Gaza
Cerita tentang penindasan yang tak berujung sirna
Apakah kita hanya menunggu para malaikat itu menjelma
Menjadi pengembala yang mampu memberi
Setitik air kedamaian bagi ternak piaraannya

Surat dari Gaza
Mengundang kita untuk membasuh luka hati mereka
Merasakan harumnya mesiu Israelia
Menyanyikan lagu perlawanan lewat tangan manis bantuan persaudaraan
Membagikan irama wangi bunga
Bagi pengungsi yang mulai hilang rasa
Jika tidak
Maka kita tergolong orang orang yang bersekutu dengan Sam Paman
Yang menganggap dirinya penyangga tiang perdamaian
Atau miangnya di padang pertikaian

Ramadhan, 2010

Negeri Airmata

Sepeninggal kau pergi
Menyisakan beragam jejak di pusar pertiwi
Kemerdekaan yang dulu kita angani
Ternyata cumalah ruang kosong tanpa warna warni
Hari hari selalu saja sembilu yang mengisi ruang waktu

Sepeninggal kau pergi
Ruang sidang mulai berubah fungsi
Jadi taman safari
Tempat kera kera berdasi berbasa basi
Harimau harimau berminyak wangi
Atau kamar tidur para seleberiti

Semenjak kau pergi
Kekerasan dijual setiap hari
Pornografi menjadi asupan bayi
Tak ada lagi tabir yang menutup aurat cinta
Hingga matahari menusuk selangkangan bumi

Kini putri pertiwi yang mulai birahi
Harus mencari sendiri jejak ibunya yang terabrasi
Jati diri yang hilang
Kebersamaan yang tumbang
Buku nilai yang rumpang
Harus ke mana lagi mengisinya

Sepeninggal kau pergi
Ruang kosong cahaya
Iman tersangkut di ujung astaka
Hari harimu buram mulai menjelaga
Karena orang orang kehilangan tongkat Musa
Dan jati diri bangsa
Cerita tentang nilai itu cumalah retorika
Di ruang ruang kosong hampa suara

Kandangan, 2010

Riwayat Meratus

Sesabit bulan tertusuk ranting
Jatuh airmatanya
Mendesing
Terbanting di tanah kering
Inilah kisah mimpimu
Yang sempat ku ungkap
Ketika pagi masih tengkurap

Dalam persidangan puisi
Engkau hanya sebagai saksi yang hilang kesumat diri
Ketika palu kebijakan dilabuh
Burung burung pun terpaksa bersauh
Melabuh rindu pada negeri yang jauh

Kini seribu penjara
Telah bemekaran di ladang Uma
Hutan pun hanya tinggal dalam peta
Riwayat meratus kini tertulis di rumpun waktu
Tertimbun lapisan musim yang merajam
Demikianlah kisah jenggala yang sempat kerekam
Menjelang hari hari yang kian membenam

Idul fitri, 2010

Hardiansyah bin Haji Asmail, lahir di Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan tanggal 03 Oktober 1960, di samping menulis puisi kadang berteater bersama Posko La Bastari dan teater PGRI Kab HSS. Saat ini bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Kandangan dan menetap di Jalan Singakarsa no 66 Rt 1 Kampung Pandai Muka Kandangan (HSS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *