Siapa Peduli Panji?

Ingki Rinaldi
kompasiana.com

Penari asal Jepang bernama Jasmin itu sudah bergairah sejak pagi-pagi sekali. Sebelum pukul sembilan Jasmin telah berada di depan kolam ikan yang jadi bagian Candi Jolotundo Udayana, di Trawas, Mojokerto.

Sambil berjinjit ke bagian kolam pemandian yang dikucuri aliran mata air jernih di bagian atas candi, Jasmin berbisik.

“Saya mau mandi dulu.”

Maka ia pun menaiki sejumlah undakan batu menuju salah satu kolam yang dikelilingi pepohonan besar. Tak lama Jasmin kembali lagi ke tempat awal sembari mesam mesem.

Tentu saja, keinginan itu tidak bisa kesampaian.

Hari itu, Jasmin yang punya nama lengkap Jasmin Akubo dan sudah beberapa waktu terakhir tergabung dalam sebuah kelompok kesenian dari Bali mau ikut berpentas. Pentas itu adalah salah satu penutup pertemuan dan pementasan bertajuk Pasamuan Budaya Panji Internasional ke-2 yang diadakan di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Trawas, Mojokerto.

Pasti saja berpasang-pasang mata sudah menanti pementasan yang diberi tajuk ?Panji Remeng? itu. Sudah jelas, pagi itu Jasmin tidak bisa mandi di situ.

Kata penggiat Budaya Panji dan pengelola Padepokan Seni Mangun Darma, Tumpang, Malang, Ki Soleh Adi Pramono, Budaya Panji adalah satu-satunya budaya Nusantara yang menyebar hingga ke wilayah Asia. Budaya Panji dimulai dari Kerajaan Kanjuruhan, Malang, di abad ke-8 dengan hasil kesenian berupa Topeng Panji Malang.

Kemudian berkembang pada tahun 1277 di Singosari, Malang di zaman Kameswara I pada masa pemerintahan Prabu Kertanegara, lantas menyebar ke semenanjung Melayu, Malaysia. Setelah diteruskan ke zaman Majapahit, penyebarannya ke seluruh Nusantara dan beberapa negara Asia oleh Mahapatih Gadjah Mada tidak terbendung lagi.

Termasuk tari topeng ala Betawi, ya mula-mula dari kisah Budaya Panji.

Selain topeng, Budaya Panji di antaranya diawali dengan adanya epos Panji yang muncul dalam sastra kuno Jawa Timur pada abad ke-12 hingga abad ke-13. Inti cerita Panji adalah tentang kehidupan tokoh Raden Panji atau Panji Asmorobangun dari Kerajaan Jenggala dan Putri Candra Kirana atau Dewi Sekartaji dari Kerajaan Daha atau Kediri.

Raden Panji dan Dewi Sekartaji yang sudah ditunangkan sempat terpisah sekalipun akhirnya mereka dipertemukan.

Bisik Ketua Program Dewan Kesenian Jatim, Heri ‘Lentho’ Prasetyo kepada saya, salah seorang pakar seni Jawa kuno asal Cologne, Jerman, Lydia Kieven, beranggapan epos Panji adalah karya sastra yang termasuk paling unik di dunia. Lynda melakukan penelitian selama tidak kurang 15 tahun soal Budaya Panji.

Kata Lentho, epos Panji dianggap karya yang setara kejeniusannya dengan Mahabharata atau Ramayana.

Raden Panji dianggap titisan Dewa Wisnu sedangkan Dewi Sekartaji dianggap titisan Dewi Sri yang dihormati sebagai dewi kesuburan lahan atau tanah. Penyatuan Raden Panji dan Dewi Sekartaji dianggap mewakili pula simbol kesuburan pertanian.

Karena itulah, Budaya Panji juga berkait erat dengan detail ilmu pertanian. Selain berbagai sistem hidup lain seperti filsafat, teknik arsitektur, seni tari, teater, wayang beber, wayang gedhog, dan beragam motif batik.

Seorang seniman asal Klaten, Agus Bimo, yang juga sudang nongkrong di perhelatan itu sejak beberapa hari sebelumnya menyebutkan konsep pertanian dalam Budaya Panji adalah soal tantra atau kesuburan.

“Jadi bagaimana memperlakukan tanah (lahan) seperti menyayangi istri dan ini hubungannya dengan konservasi alam. Budaya Panji tidak berhenti pada aspek romantika asmara,” ujarnya.

Agus menambahkan, pada zaman dahulu konsep pertanian organik berdasarkan kearifan Budaya Panji disebarluaskan dengan mudah lewat dongeng yang diwariskan lewat bahasa tutur. Peran dongeng pada masyarakat pertanian itu terbukti sangat bagus karena memperkenalkan cara-cara mulai dari memilih benih, mengolah lahan, hingga produksi pangan yang didasarkan pada prinsip-prinsip organik.

Menurut Agus, pengenalan kembali konsep pertanian organik yang kini mulai hilang bisa dimulai dengan berbagai cara. Salah satu yang paling radikal adalah yang dilakukannya sendiri dengan menerapkan prinsip pertanian organik pada lahan sekitar 800 meter persegi yang disewanya.

Agus mengaku sempat dianggap gila oleh masyarakat sekitar karena keputusannya itu. “Saya membakar dupa dan kemenyan untuk mengusir hama dikira sedang sesaji, begitu juga ketika saya menaruh makanan di pojok-pojok sawah yang tujuan sebetulnya agar hama tikus langsung mendapatkan makanan begitu keluar dari lubangnya,” kekeh Agus.

Agus yang tetap setia dengan rambut panjangnya menambahkan bahwa petani juga harus ke ladangnya setiap malam untuk melihat hewan-hewan apa saja yang sedang bercengkrama dengan tanamannya.

Pada ujung yang lain ada Lynda Bransbury yang sedang belajar ilmu pedalangan dan seni murni di Institut Seni Indonesia Surakarta lewat fasilitas beasiswa. Lynda yang asal Inggris adalah lulusan jurusan seni dan sejarah, dan sekarang berkarya juga pada program pengurangan kemiskinan di Eropa.

“Saya datang kesini karena khawatir sekali apakah Budaya Panji ini bisa selamat. Karena saya saksikan banyak generasi muda di Indonesia bahkan tidak tahu apa itu wayang kulit atau karawitan. Sedangkan di Inggris, generasi muda kami saat ini sedang gemar mempelajari gamelan,” ujar Lynda Bransbury.

Bersama Lynda, datang pula Adar Treger. Adar adalah praktisi teknik komputer asal Perancis yang gemar memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar teknik gerak untuk meditasi.

“Ini kedatangan saya pertama kalinya ke Indonesia,” kata Adar.

Pada hari itu, Lynda dan Adar larut dalam pementasan “Panji Remeng” yang dilakukan di Candi Jolotundo, Udayana, Trawas, Mojokerto. Adar meliuk-liukan tangan dan badannya sembari memejam dan meniti bebatuan candi sebelum masuk ke dalam kolam ikan. Lynda yang semula hanya menabur-naburkan kembang rupa-rupa warna dari pinggir kolam, akhirnya ikut menceburkan diri.

Pementasan tersebut dibuka dengan ritual persembahan yang dilakukan oleh lima orang pedanda asal Bali. Mereka merapal mantra sekitar lima belas menit sebelum dua buah kerang ukuran besar dibunyikan sebagai penanda bagi para penari untuk masuk.

Tarian persembahan yang dimulai dengan masuknya masing-masing dua orang bertopeng di sisi kiri dan sisi kanan Candi Jolotundo Udayana itu lantas diikuti dengan sejumlah penari lain yang masuk ke dalam kolam ikan di depannya. Makin lama, jumlah penari yang terlibat dan masuk ke dalam kolam untuk mengekspresikan rasa kesenian mereka semakin banyak.

Tokoh “Panji Remeng” yang menyimbolkan ketidakjelasan didampingi oleh dua orang pembantunya menyimbolkan sifat-sifat jelek yang ada dalam manusia. Setelah bergerak-gerak dalam koreografi dinamis di atas candi, tokoh Panji Remeng lantas turun ke dalam kolam dan kemudian naik ke atas candi mengampiri pedanda.

Pada akhir cerita, segala sesuatunya kemudian menjadi senyap. Ini adalah simbol dari perasaan saling mencintai dan sama-sama menjaga perasaan untuk mencapai harmoni.

Ini adalah puncak ekstase hubungan antara manusia yang disimbolkan punya beragam sifat oleh para seniman dengan alamnya.

“Hubungan antara seniman dan lingkungan memang erat karena seni adalah apa yang mereka (seniman) cermati pada lingkungan. Karena itu seniman memang seperti peneliti karena mereka melakukan riset dulu sebelum berkarya,” kata Guru Besar Institut Seni Indonesia Surakarta, Profesor Dr. Waridi M. Hum.

Namun ia menyebutkan, seniman dan budayawan yang mereflesikan dengan baik lingkungan di sekitarnya terkadang hasil berkeseniannya tidak biasa diapresiasi oleh masyarakat luas. Ia memberikan contoh hikayat anak bangsa dari Makassar, Sulawesi Selatan, I La Galigo, yang justru masyhur di luar negeri namun tak banyak masyarakat di Indonesia yang mengapresiasinya.

Pada gilirannya, tujuan hasil karya seni yang sebagian untuk menggambarkan kondisi lingkungan yang sesungguhnya kepada pihak penguasa juga menjadi tidak tersampaikan. “Kalau saya melihat bukan pada adanya mata rantai yang putus, namun mengapresiasi seni ini butuh bekal sejak kecil. Harus ada pendidikan budaya sejak dini,” ujar Waridi.

Direktur PPLH Seloliman, Sisyantoko, yang telah dua tahun terakhir mengorganisasi acara tersebut dan sudah selama itu pula gondok karena merasakan nihilnya peranan pemerintah. Padahal, beragam aspek Budaya Panji bisa dikelola dengan baik dan menjadi aset sejarah yang sangat menguntungkan bagi Indonesia.

“Bahkan ada (pejabat) yang bertanya kepada saya. Budaya Panji ini mau kamu bawa kemana,” timpal Heri ‘Lentho’ Prasetyo.

Saya lantas menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba menangkap sosok Jasmin. Ah, kiranya ia sudah mencebur ke dalam kolam sedari tadi.

Meliuk-liukan tubuhnya dalam tata koreografi bernuansa sakral. Didapuk dan digendong sembari mempermainkan selembar selendang putih.

Sambil mengenakan topeng, jadi juga si Jasmin mandi.

*) Lahir di Jakarta, Februari 1981. Bergabung sebagai jurnalis di Harian Kompas, Oktober 2003. Kecelakaan tragis yang nyaris merenggut nyawa dalam tugas jurnalistik di Lamongan, Jatim, Agustus 2004, membuatnya makin memaknai hidup ini. Mengalami banyak sekali keajaiban, termasuk kelahiran anak pertama, Juni 2006. Hingga saat ini telah melakukan kesalahan dan kebodohan yang tak terhingga. Sampai saat ini terus berupaya memperbaiki kesalahan dan kebodohan itu dalam kelipatan yang tak terhitung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *