Simpen AB: Simpul Ilmu Sastra + Silat

Putra-Putri Tradisi Utama Bali (10)
I Made Prabaswara
http://www.balipost.com/

APA kaitan susastra dengan silat? Jawaban pas dan nyata bisa disimak pada sosok I Wayan Simpen AB. ”Sastra dan silat sama-sama ilmu olah rohani, sama-sama mengajarkan pengendalian diri. Sastra memberi suluh dan perlindungan hidup rohani, sedangkan silat memberi rasa percaya diri dan perlindungan hidup ragawi,” jelas tokoh pendidikan Bali serba bisa ini dalam suatu kesempatan perbincangan di tempat tinggalnya, di Jalan Gadung, Denpasar, pertengahan dasawarsa 1980-an.

Simpen tidak sekadar mengucap-ucap, memang. Pada sosok bertubuh alit ini, susastra-agama maupun ilmu dan keterampilan silat begitu utuh bertumbuh, begitu dalam mengakar, dan begitu tebal pula membungkus raga hingga menembus rohaninya. Di bidang susastra Bali dan silat itu dia adalah guru yang disegani. Itu menjadikan Simpen menyembul sebagai tokoh besar, bahkan untuk ukuran zaman sekolahan dengan serba deretan gelar formal, sekarang ini. Pengetahuan dan pelakonan ilmu susastra-agama tak cuma menjadikan Simpen piawai bersilat pikir, kata, dan data lewat beragam tulisannya dalam bidang agama, sejarah, antropologi, adat, bahasa dan sastra Bali serta Kawi, yang tersebar di surat kabar, majalah, buletin, hingga berwujud buku-buku cetakan. Dia juga adalah ”legenda” bagi anak-anak sekolahan generasi 1960-an hingga 1990-an yang namanya senantiasa melekat dengan buku pelajaran bahasa dan aksara Bali; dia adalah narasumber informasi ilmu-ilmu langka, yang lebih banyak memberi kepada orang lain tinimbang meminta. Sastra memberi ia jalan pengendalian pikiran dan nafsu duniawi untuk tidak menguasai, melainkan mengabdi. Sedangkan pengetahuan dan keterampilan silat tak hanya melesatkan ia menguasai ilmu langkah Pancasona yang menyebabkan tubuh ragawinya merayap lekat laksana cecak di dinding, tapi juga cara praktis olah napas sebagai simpul awal olah batin. Silat yang ‘keras’ justru membawa ia ke hamparan watak rendah hati.

Susastra-agama, ilmu kerohanian, dan ilmu silat bagi kebanyakan awam pastilah memang mencitrakan dua kutub pilihan ekstrem: lembut versus keras. Namun pada sosok Wayan Simpen AB keduanya justru bermuara pada simpul kedalaman batin rohani: sama-sama lembut, sama-sama memekarkan rasa welas asih, dan senantiasa menyalakah api semangat keberanian tanpa menyerah dalam hidup –betapapun getir kenyataan yang dilakoni. Dan, dua sisi berseberangan itu tiadalah mungkin bakal bisa menyintesa sebagai watak utuh cemerlang bila tiada didasari kesiapan mengabdi total pada Sang Hidup.

Pengabdian total pada Sang Hidup itulah yang dilakoni lelaki bertanah asal Desa Tigawasa (Buleleng) kelahiran Desa Guliang, Mengwi (Badung) tahun 1909, dari pasangan Pan Ngasih alias I Djadjar dengan Ni Rai ini. Rasa mengabdi itu mengantarkan dia tumbuh sebagai manusia serba bisa. Selain fasih dalam khazanah susastra-agama, dari geguritan berbahasa Bali, kidung dengan bahasa Kawi-Bali, hingga kakawin berbahasa Jawa Kuna, teks-teks babad, wariga, sampai bisa melahirkan karya tunggal tak tertandingi (hingga kini) berupa Kamus Basa Bali yang disusun sejak dasawarsa 1960-an (diterbitkan PT Mabhakti, Denpasar 1985), Simpen juga dikenal mengusai seni tari dan tabuh. Selain piawai bersilat, ayah enam anak ini pun terampil menyulam, merenda, menjahit, dan aneka pekerjaan bercitra feminim lain. Bahkan, sampai menganyam jaring pencar maupun sahu penangkap ikan.

Ketika masa revolusi, lelaki berpendidikan formal zaman Belanda ini turut bergerilya menghadapi tentara NICA, dan hidup berpindah-pindah sebagai orang buronan penjajah. Tak luput pula ia dicokok NICA, lalu dikurung dalam bui. Semasa bertaktik perang dengan NICA dasawarsa 1940-an itu pula dua kali rumah dan tempat persembunyiannya dibakar musuh. Tak urung bahan-bahan penting asli dan langkah berkaitan dengan sejarah, antropoligi desa-desa dan Pura-Pura Bali Kuno, susastra, yang ia gelitik (tekun) kumpulan satu per satu, baik berupa salinan lontar, buku-buku, surat-surat, dan data otentik primer lain pralina bersama kobaran api. Toh, ia tak menyerah.

Sebagai guru Sekolah Rakyat (SR) sejak 1 September 1926, penyusun buku Pasang Aksara Bali yang menjadi referensi klasik belajar aksara Bali ini memang tidak mengenal kata menyerah dalam pembelajaran. Memburu data, membaca, dan menulis adalah energi hidup yang memberi denyut semangat ”mengada” dan ”menjadi” yang terbaik baginya. ”Kalau sudah membaca dan menulis hidup ini terasa nikmat, bisa berbagai dan bertukar pengetahuan dengan orang lain,” ucapnya dalam kesempatan lain.

Nyata, memang, dengan banyak menulis ke media massa, menerbitkan tulisan menjadi buku, Wayan Simpen AB ini tidaklah terbatas hanya menjadi guru bagi anak-anak zaman di ruang kelas. Dengan menulis bagi publik sejatinyalah ia adalah guru bagi masyarakat. Dengan menjadi guru itu pula sejatinya ia telah melakonkan dengan amat nyata ajaran Bhagawadgita perihal jnana yajnya. Inilah pengurbanan amat mulia yang dalam Gita disebutkan mengungguli yajnya-yajnya lain, karena dengan menjadi guru kelas maupun guru masyarakat lewat menulit sesungguhnyalah ia telah melenyapkan kegelapan menjadi terang, mengubah kebodohan menjadi pencerahan, menyingkirkan ketidaktahuan menjadi kesadaran.

Semangat ingin menjadikan generasi Bali berkesadaran rohaniah dengan akar-akar pertumbuhan kuat pada khazanah kearifan moyang Bali itulah yang menuntun Simpen memilih bersedia menjadi dosen luar biasa pada Fakultas Sastra Universitas Udayana sejak 24 Maret 1972, nun 31 tahun lampau. Dalam kondisi disaputi sakit sesak napas, lelaki sepuh ini begitu rajin dan penuh disiplin datang, membagi pengetahuan bagi generasi baru Bali. Berbaju putih lengan pendek, dengan tas kulit terkepit di tangan, kerap kali suami Ni Wayan Sedih dan Ni Cening Rai ini menempuh jarak dari Jalan Gadung di kawasan Kreneng ke Jalan Nias di Sanglah itu dengan berjalan kaki. Hanya sesekali menumpang bemo roda tiga yang bersuara bising.

Di lingkungan kampus yang dipenuhi orang-orang bergelar maupun yang sedang memburu gelar akademis itu, Simpen yang konsisten menyurat nama berimbuhan AB (seakan kebalikan gelar BA, padahal singkatan kekerabatan Arya Belog) keras bertutur, ”Kalau sudah dapat mengajar, berbicara dengan anak-anak muda, Bapa jadi sehat. Puruh sirahe (sakit kepala) jadi hilang.” Berbagai pengetahuan, bagi peraih sejumlah penghargaan ini, bukanlah sekadar swadharma, kewajiban profesional, lebih daripada itu adalah daya dan energi hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *