Usia Tua Menampakan Kegilaan

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

PAK Raden masih berjalan tegak bagaikan tokoh dalam film boneka Si Unyil. Dia ulet menampik keuzuran. Berapa umurnya? Kita tak tahu. Kubur mungkin sudah harus digali tapi Pak Raden masih meneruskan joggingnya ke masa depan bagaikan tengah mengikuti Proklamathon. Barangkali dia memang alpa akan proses menua. Barangkali juga ia bisa disebut “orang yang tak tahu diri.” Tapi dia bisa juga dipuji sebagai orang yang bersyukur.

Agama memang mengajar banyak tentang mati dan kefanaan, tapi juga membisiki kita untuk berterimakasih karena karunia yang bernama hidup. Sudah tentu Pak Raden kita ini agak lain dari banyak Pak Raden lain yang kita kenal. Orang lain, di masyarakat kita umumnya suka bila “dituakan”. Itu artinya mendapatkan hak tambahan buat rasa hormat. Tapi Pak Raden kita, entah oleh sebab apa, seperti menyadari: mereka yang ingin dihormati karena tua pada dasarnya hanya memberi bobot tinggi pada faktor pengalaman. Dengan kata lain, pada masa lalu.

TAPI apakah masa lalu? “Masa lampau bukanlah sebuah panorama damai yang terbentang di belakangku, sebuah negeri yang bisa kutempuh lagi bila kuingin, yang akan menunjukkan padaku, berangsur-angsur, bukit dan lembah-lembahnya yang rahasia. Sewaktu aku bergerak ke depan, masa lampau itu pun runtuh.

Sebagian besar reruntuhannya, yang masih dapat terlihat, tak punya warna, mencong bentuknya, dan beku: maknanya lepas dari diriku.” Itu adalah kata-kata Simone de Beauvoir dalam La Vieillesse atau Old Age sebuah risalah panjang yang membahas perkara umur tua dengan ketulusan seorang filosof dan kejernihan bahasa seorang novelis.

“Ada jalan-jalan di Uzervhe, Marseilles dan Rouen tempat aku bisa berkelana, mengenali kembali rumahrumahnya dan batu-batu itu namun tak akan pernah kutemukan kembali rencana-rencanaku, harapan dan ketakutanku ….”

Tak semuanya benar. Masa lalu sering masih bisa dikunjungi lagi. Batu-batunya yang menutup satu dua liang yang dulu tak berarti, kini bisa diungkit, jadi detail menarik bagi suatu panorama yang dulu cuma biasa. Simone de Beauvoir tak menyatakan suatu kebenaran yang umum. Tapi memang: jalanan di Uzervhe dan Marseilles itu tak bisa mengulangi kembali pengalaman masa silam yang seutuhnya.

DI situlah orang tua sering tersesat. Ketika mereka ingin menemukan makna hidupnya, rencana, harapan dan ketakutan di jalanan di kota lama itu mereka cari untuk dihidupkan lagi. Tapi yang didapat hanya beberapa pasang kupu-kupu yang diawetkan, terekat Ai dalam sebuah kotak kaca: tak bergerak.

Sementara itu, bagi mereka masa depan sangat terbatas. Seperti tulis Simone de Beauvoir pula, “Pada umur 65 seseorang tak semata-mata 20 tahun lebih tua dari ketika ia berumur 45. Ia telah menukar sebuah masa depan yang tak tertentu–dan orang cenderung buat memandangnya sebagai tanpa batas–dengan sebuah masa depan yang terbatas.”

Barangkali karena itu, dalam diri Raja Lear dari lakon Shakespeare yang termashur itu, usia tua nampak sebagai kegilaan. Atau, setidaknya, sebuah pangkal kesalahan menilai: sang raja yang baru akan turun tahta setelah demikian uzur akhirnya mudah terpedaya oleh penglihatan. Biasa dimanjakan oleh masa silam dan cemas dilupakan masa depan, Raja Lear pun menyingkirkan putrinya, Cordelia.

Gadis ini menolak untuk berlomba memuji-muji: ia bisa melihat realitas dengan cara yang tak lagi bisa dilihat sang bapak. Tentu saja siapa pun akan jadi sang bapak, terkena sindrom Lear–juga Pak Raden. Tapi untuk sementara ini, orang tua ini masih berjalan tegak, seperti mengutip sepotong sajak Saint-John Perse “Usia tua, kau berjusta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *