Wawancara Imajiner dengan Bung Karno ?The Tampaksiring Consessus?

Christianto Wibisono
http://www.suarapembaruan.com/

CW: Tiga hari tiga malam suntuk elite Indonesia retreat di Istana Tampaksiring, apa kesan dan pesan bapak setelah memantau acara yang resminya disebut Raker Presiden RI, menteri, dan gubernur se-Indonesia.

BK: Saya ucapkan selamat terhadap kinerja Indonesia yang sekarang disebut sebagai satu dari Troika Asia, Chindonesia, Tiongkok, India, dan Indonesia walaupun belum diajak BRIC yang baru saja menggelar KTT II di Brasil. Indonesia itu bagaikan autopilot, presiden dan kabinet sibuk menghadapi industri pansus di DPR, sehingga kosentrasi terganggu, tapi tetap ekonomi bisa tumbuh mulus masuk Troika Chindonesia. Kalian harus bersyukur menikmati berkat Tuhan, bahwa yang bekerja, berproduksi, berkarya dan berkreasi tetap bisa berkinerja dengan normal. Walaupun diganggu dengan insiden Koja dan hiruk-pikuk kambuhnya kasus Bibit-Chandra yang bakal menyita waktu lagi serta bisa menenggelamkan berita soal Tampaksiring. Perhatikan timing yang ?dungu? dari putusan yang diambil oleh elite secara ?impromptu, sektarian, dan sektoral?. Sedangkan, masyarakat dan lawan politik secara lihat mengeksploitasi event dan kasus yang muncul secara canggih untuk memojokkan pemerintah.

CW: Target retreat adalah merumuskan kebijakan untuk membangun Indonesia dalam 5 tahun, melipatgandakan pendapatan per kapita 4 kali lipat dari US$ 1.000 sekarang menjadi US$ 4.500 tahun 2013. Butuh investasi Rp 10.000 triliun atau Rp 2.000 triliun per tahun dan negara hanya bisa menyediakan 35% sehingga 65% harus dari swasta dalam dan luar negeri. Lalu muncul wacana kenapa tidak meniru Tiongkok saja yang sukses dengan rezim monolit satu partai ketimbang demokrasi nyaris chaotic di Indonesia.

BK: Ini memang masalah debat besar mazhab pembangunan ekonomi yang membelah dunia jadi dua kubu, The Washington Consensus dan The Beijing Consensus. Tahun 1989 ketika Tiananmen meledak, pakar ekonomi John Williamson merumuskan The Washingon Consensus (WC). Dasasila WC adalah sebagai berikut: (1). Diosiplin fiskal (2). Restrukturing pioritas pembelanjaan publik/sosial (3). Reformasi perpajakan (4). Liberalisasi suku bunga (5). Nilai tukar competitive (6). Liberalisasi perdagangan (7). Liberalisasi penanaman modal asing langsung (8). Privatisasi (9). Derelugasi (10). Property rights.

Tapi, liberalisasi ekonomi tanpa liberalisasi politik, maka Washington Consensus itu malah mendorong Asia Timur dalam Krismon 1998 karena penguasa diktatur akhirnya tidak mampu menciptakan kekuatan ekonomi yang berdaya saing global. Akibat kemanjaan proteksi dan inefisiensi ekonomi makro yang berdampak ke mikro.

Setelah krismon Asia dan demokratisasi, ternyata RRT yang tidak menerapkan demokrasi liberal Barat seperti India dan Indonesia, malah menjadi negara termaju pertumbuhan ekonominya. Sehingga mulai timbul godaan untuk meninjau kembali reformasi dan demokrasi serta nostalgia masa diktatur yang lebih cepat ambil putusan ketimbang demokrasi parlementer yang menghambat eksekutif dan kepresidenan di Indonesia.

Tapi saya salut kepada SBY yang berani menyatakan bahwa ia tidak sependapat dengan The Beijing Consensus bahwa sistem authoritarian karena lebih efisien dan cepat maka lebih baik dari sistem demokrasi yang agak lamban diganggu industri pansus menurut Boediono. Pernyataan SBY di Tampaksiring untuk mempertahankan demokrasi adalah sikap negarawan prodemokrasi yang harus didukung oleh seluruh rakyat Indonesia jika tidak ingin terjerumus kembali kepada pola otoriter Orde Baru.

CW: Lho bapak jadi mirip PSI Sutan Syahrir padahal kan mestinya menggebu-gebu nasionalisme dan jati dirinya.

BK: Nasionalisme itu harus menghasilkan sesuatu yang tangible positif, bisa dirasakan rakyat banyak jangan cuma retorika atau hanya dinikmati elite politik yang KKN dengan pelbagai metode yang seharusnya bisa dikendalikan secara optimal. Di AS juga masih ada korupsi. Hari Kamis ini, Presiden Obama mengusulkan UU Reformasi Financial untuk mencegah dan menghukum praktik fraud di sektor keuangan. Saya salut karena Obama mendapat dana terbesar sekitar US $ 1 juta dari Goldman Sachs tapi dia tetap akan mengajukan UU Reformasi Sistem Finansial yang akan mengendalikan dan mencegah praktik predator dari perusahaan keuangan AS sehingga merugikan masyarakat awam. Para oposan dari Partai Republik membongkar daftar aliran dana ke Obama tapi karena tidak melanggar ketentuan UU Dana kampanye ya tidak mempengaruhi posisi Obama. Sumbangan individu dibatasi tapi bisa dimobilisasi oleh badan-badan ad hoc yang dibentuk dalam suatu perusahaan atau lembaga seperti University of California. Nasionalisme tanpa kecanggihan mengelola konflik kepentingan akan mengakibatkan negara terpuruk. Tiongkok sedang mengulangi pola Soeharto, dalam jangka panjang belum tentu tepat, mungkin untuk 50 tahun masih bisa bertahan. Tapi, kekuasaan yang tidak dikontrol akan korup dan hancur dari dalam. Uni Soviet bubar pada usia 74 tahun bukan karena dibom atau ditaklukkan AS tapi bubar sendiri dari dalam. Deng Xiao Ping sendiri merombak ekonomi komunis menjadi ekonomi pasar sehingga 1 miliar lebih orang Tionghoa di RRT menjadi saudagar yang dulunya dikungkung oleh birokrasi partai komunis. Jadi kalau kita terus ketinggalan zaman maka sulit akan maju secara lebih sustainable di masa depan.

CW: Sebetulnya apa yang salah dalam demokrasi kita pascareformasi?

BK : Ya karena memang belum dewasa seperti dikatakan Boediono, mesti tunggu kelas menengah an US$ 6.60 per kapital baru stabil. Padahal menurut Retreat Tampaksiring nanti pada 2014 kita baru mencapai US$ 4.500 per kapita. Tapi, kan tidak berarti kita harus kembali ke pola otoriter Soeharto.

Yang mesti dilakukan ialah transparansi dan satunya kata dan perbuatan serta saling mengawal integritas dan moralitas para politisi. Dengan keterbukaan seperti Republik dan Demokrat di AS maka tidak ada yang bisa ditutupi. Media massa sangat agresif menyoroti satu sama lain. Yang harus dijaga memang kolusi media dan politisi dalam membohongi rakyat. Tapi, kalau itu terjadi ya rezim apa pun, akan bangkrut meskipun memakai bendera demokrasi. Jika semua partai jadi kartel dan saling melindungi korupsi yang memeras dan mencekik dana publik, maka rezim seperti itu pasti akan tidak terpilih lagi pada pemilu berikutnya. Kita belum tahu apakah Obama bisa memelihara keterbukaan dan saling mengimbangi Republik Demokrat secara bertanggung jawab. Jika tidak, memang bisa saja Washington Consensus dikubur dan diganti The Beijing Consensus seperti Rusia kembali agak otoriter karena melihat suksesnya RRT. Tapi jika nanti terkena penyakit rezim tanpa oposisi, tanpa kritik yang arogan dan tidak pernah memahami kelemahan sendiri, maka bisa saja The Beijing Consensus harus dimodifikasi. Karena itulah, Tampaksiring dengan semangat tetap mau demokratis harus bisa menjadi alternatif. Bahwa Indonesia yang ber-Pancasila, mampu menjalankan politik keseimbangan antara demokrasi dan prosperity, security dan justice secara berimbang. Jika itu terjadi maka Indonesia akan bisa menjadi model bagi ASEAN, Asia dan bahkan dunia.

CW: Tapi, SBY tampaknya akan diganggu terus sampai 2014 oleh oposisi yang all out ingin mengganggu termasuk putri Bapak Megawati.

BK: Generasi cucu saya dan cucu elite yang sekarang memasuki pasar kartel politik Indonesia harus belajar memahami sejarah dan geopolitik secara cerdas. Jika hanya nostalgia masa lalu mengandalkan nama besar orang tua, tapi tidak deliver pasti tidak akan laku. Ini hebatnya demokrasi, beda dengan diktator turun temurun yang saya akui masih ada termasuk di keluarga saya. Saya dengar kamu mau pensiun dari kolom mingguan ini.

CW: Ya, tapi saya akan menulis lebih santai di blog tanpa agenda dan program. Nanti Bapak akan terus saya ajak diskusi lebih santai dan bisa curhat lebih private. Kalau Suara Pembaruan bikin gebrakan, ya kita bisa turut urun rembug sewaktu-waktu dianggap perlu. Biar yang lebih muda meneruskan estafet kolom ini.

Melalui kesempatan ini saya ingin menyampaikan terima kasih kepada penerbit dan redaksi Suara Pembaruan dan pelanggan serta pembaca setia kolom ini sejak puluhan tahun bahkan dari era Sinar Harapan. Dalam usia 65 tahun saya ingin menulis lebih santai tanpa dibebani dead line rutin dan bisa lebih bersuasana curhat dalam blog silakan mengikuti di website www.theglobalnexus.com

Penulis adalah Pendiri dan Ketua Global Nexus Institute (lembaga kajian dampak perubahan geopolitik bagi Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *