Dalam Gelap tanpa Cahaya Bulan dan Bintang

S. Yoga
http://www.balipost.co.id/

Senja itu, seperti senja-senja yang lain; senja di masa lalu, dan mungkin senja di masa depan, temaram merah, dengan ufuk-ufuk pancaran langit yang cerah di sisi atasnya, di sisi bawahnya seperti bara api yang tersulut dari kegelapan bumi. Mengingatkan si bocah akan tungku perapian di dapur nenek, seiring terbayang kaki nenek yang telanjang di dekatkan di perapian, seolah denyut darah tak mau lagi memanasi sekujur tubuhnya, sehingga perlu penopang dari energi panas yang lain. Tentu karena seorang nenek pasti sudah tua.

BARA api di senja itu benar-benar mirip mata raksasa yang rakus akan nafsu dunia, dan telah malang melintang di dunia angkara murka, dunia yang penuh arak dan perempuan jahat yang memamerkan betisnya di pinggir jalan, sambil bergincu di setiap waktu, dunia di bawah tanah yang gelap dan lembab, yang jalannya berliku-liku, bercecabang, dipenuhi lorong-lorong tanpa cahaya, menuju ke arah barat.

Dari senja itu nampak kerumunan burung kuntul melambai pulang, berarak melintasi senja ke arah utara, menuju carang di gerumbul pohon bambu, seakan gerombolan gagak yang berkaok-kaok, melintasi cahaya merah, menandakan adanya kematian. Sebentar lagi warna merah temaran akan dikerek diganti kelir gelap tangan-tangan gaib di bawah bumi, atau dari dalam lautan, gelap yang teramat gelap, tanpa lampu dan lilin, sehingga jalan-jalan kampung hanya akan terlihat oleh mata yang berakal sehat dan bermata waras. Gelap akan membentang sepanjang malam, tanpa cahaya bulan dan bintang, langit diselimuti mendung hitam pekat, gelap malam akan memaparkan kisah perjalanan siang yang telah ia tempuh, di mana, ke mana, bagaimana, mengapa, ia bisa bertahan di siang hari yang panas dan gerah, mungkin sembunyi di ketiak bumi.

Tentu. Di malam hari dalam gelap tanpa cahaya bulan dan bintang, hanya ditemani dahan-dahan dan batang-batang bergesekan menimbulkan suara derit purba yang lirih namun memilukan, seolah suara dari jiwa yang kelam muncul dari dasar kematian, dibarengi, suara burung hantu yang berkukuk ditiming waktu yang tepat dan mengejutkan, suara jangkerik mengkili telinga, desir ular mereba kulit ari, dan cicak yang menghitung detik menanti hari, dan menelusup dalam dalam kesunyian malam.

Seekor kelelawar tiba-tiba menuntun mata si bocah ke arah setangkup benda yang teramat besar dan hitam, seperti gundukan tanah, atau timbunan sampah di tengah jalan, yang rupanya tidak terlalu besar, namun di mata si bocah yang masih berusia delapan tahun benda itu rupanya cukup membelalakkan matanya dan menganggapnya sebuah benda yang besar dan magis hingga akan membawa bencana. Dalam perjalanan sebelumnya ia jelas-jelas menyaksikan tak ada benda apa pun yang mampu menghalangi mata siapa pun yang berjalan melewati jalan ini. Jalan yang lengang dan lapang. Ia mulai mendekati benda magis itu, matanya menyelidik dari jarak lima tombak, sebuah keajaiban gelap yang menumpuk di tengah jalan.

Pikiran bocah itu bekerja perlahan-lahan dan mengendap-endap menyibak sebuah batu yang terbujur kaku dan abadi, namun terasa lunak seolah seonggok lempung yang mudah hancur terbujur di bawah cakrawala langit senja. Apa mungkin batu dari langit yang dilempar malaikat. Atau batu dari jalanan. Siapa yang melempar batu sebesar ini, mungkin orang kuat, sehingga serupa batu apa pun mampu ia lempar dan buang. Atau tubuh raksasa yang terbujur di tengah jalan, seperti yang dikisahkan nenek dalam dongeng malam, yang kini menjelma di hadapan mata cerlangnya, dan ingin menampakkan dirinya, bahwa raksasa itu benar-benar ada dan nyata di dunia, raksasa yang rakus dan serakah, yang mati di tangan pahlawan yang rupawan.

Sebuah pemahaman yang baru dalam diri si bocah, karena dalam diri si bocah hanya memiliki cerita raksasa hanya ada dalam negeri dongeng, namun kenapa nenek di setiap akhir ceritanya selalu mengatakan; maka kamu, bocah bagus, bermata lebar, jangan suka main-main di dekat sungai, nanti dibawa raksasa wewe gombel, dengan tangan sebesar batang bambu petung, jari-jari sebesar pisang kepok, payudara panjang dan besar, berayun-ayun hitam kemilau kekanan-kekiri, berkeriput dan bersisik ulang, giginya bersiung, dan matanya merah menyala, rambut gimbal dan kaki bengkok sebesar kaki gajah, dan siap membopongmu ke atas pohon beringin. Menculik siapa pun yang ia senangi. Berarti bila nenek mengatakan begitu, maka raksasa itu benar-benar ada. Buktinya banyak orang hilang tak pernah kembali, siapa lagi yang menculik selain wewe gombel atau genderuwo, si raksasa-raksasa itu.

Sedikit demi sedikt mata bocah itu mulai menemukan titik terang di remang hari akan teka-teki yang sedang ia hadapi, diwarnai cahaya kemerahan yang hampir gelap seluruhnya, dan geluduk mulai menguntur dengan kilat menyambar bagai lidah langit, benda itu menampakkan kekudusannya dan kesihirannya, sehingga mata bocah itu begitu takjub dan menderita karena tak juga mengetahui kebenaran yang nyata di hadapannya, kebenaran yang masih maya dan belum tuntas tergali. Dalam kekhusukannya menyelidik dan kaki yang bersijingkat perlahan ia dikejutkan oleh kukuk burung hantu yang tiba-tiba menghentak dari pohon mahoni yang tumbuh menyembul di pinggir jalan, mata hatinya kecut dan mulutnya reflek memaki:

”Burung terkutuk! Jantungku hampir copot!”
”Kuk-Kuk-Kuk-Kuk”
”Diamlah penguasa malam.”
Untuk sementara perjalanan petualangan si bocah dalam membuka tabir rahasia akan benda terpuruk menjadi bunyar, dan harus kembali dari nol lagi dalam mata selidiknya, sehingga nantinya mampu menyusun kronologis dan wujud benda ini sebenarnya. Kikuk mata hatinya segera terobati oleh kejelasan yang sedikit terbuka dari kesamaran maya mata kecilnya, sebuah bangkai kerbau berbujur kaku, kakinya menjuntai hitam pekat seolah berminyak. Bukan. Bukan bangkai kerbau, namun sesosok lelaki yang terkapar, jelas kelaminnya terkulai, dengan luka-luka parah dan melembam di sekujur tubuhnya.

Dilihatnya dengan teliti dari jarak satu tombak, matanya berusaha menelanjangi sosok tubuh yang tergeletak, namun ia tak menemukan apa-apa kecuali lelaki yang terkapar. Diberanikannya lagi mendekat lebih akrab, hingga kakinya menyentuh benda itu, betapa terkejutnya, ketika menyadari tubuh itu begitu lunak, bukan sesosok tubuh yang terkapar, namun sesosok mayat yang terbaring, dan hampir membusuk, namun tak ada bau busuk yang menyembul, hanya bau tanah, dan bau keringat yang hampir mirip bau minyak yang menyengat. Tentu bukan mayat yang membusuk, masih bagus keadaannya, hanya tubuhnya jadi lunak dan membengkak. Jelaslah luka-luka yang pernah ia alami tak bisa dikenali lagi dari luka apa ia berasal.

Sulit ditebak apakah dari benda tumpul atau dari benda tajam; apa dari selongsong peluru yang merajam, pisau, sangkur, atau martil, dan batu, tak bisa diduga, semuanya membiru dan menampakkan dari kedua jenis benda itu luka lelaki berasal, apa mungkin dari racun yang ia teguk, karena juga nampak melepuk, mungkin juga dari cairan panas yang mematikan, semacam air raksa, atau air panas yang disiramkan di sekujur tubuh. Tak bisa dicandra dengan persis dan meyakinkan, semuanya membayang penuh keragu-raguan yang abadi, hanya si mayatlah yang tahu kenapa luka itu sebenarnya, dan mematikan tubuhnya, serta memutuskan nyawanya.

Cahaya merah hampir menghilang. Gelap hampir sempurna. Geluduk terus menggema. Kilatan petir seperti lidah ular yang menjulur siap menerkam sang mangsa. Namun hujan tak turun. Malam sebentar lagi benar-benar akan abadi. Suara belalang bersahutan menemani kesepian. Kesepian yang akut.

Mayat itu rupanya dipenuhi lalat yang merubung, berdegung-dengung bagai lebah siap menyengat siapa pun yang mendekat. Dengungan-dengungan itu seolah suara-suara dari masa lalu, atau mungkin dari neraka, yang membuat si bocah bertambah ketakutan dan undur diri selangkah ke belakang, terbayang dalam khayalannya tentang dunia para raksasa dengan binatang-binatang purba yang menjijikkan. Setelah sejenak ia tersadar pada apa yang tengah ia hadapi, keberaniannya kembali bangkit untuk menguak kebenaran yang harus ia tuntaskan dalam mata hatinya, memahami sedetailnya siapa dan mengapa mayat ini berada di sini.

Ia melangkah lagi mendekati mayat yang terbujur melintang di tengah jalan. Diamatinya wajahnya yang menghitam dengan cukuran gundul atau memang berkepala plontos yang terbenam dalam lumpur, sehingga sekujur tubuhnya berwarna hitam, tentu mayat ini pernah tercebur ke dalam kubangan lumpur. Dicermati lagi tubuh mayat itu nampak terlentang di atas tanah, tangan kanannya memegang batu, seakan ia melawan sebelum ajalnya tamat. Sebuah perlawanan yang agung, namun tak berdaya melawan musuh-musuh mautnya, yang lebih perkasa, dan berkuasa atas nasib dirinya, sebuah ajal yang tak diundang, matanya terpejam dan mulutnya tersenyum bangga, seakan mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang pernah ia singgahi dan membahagiakannya, atau mengucapkan selamat tinggal pada anak-anaknya yang jumlahnya belasan, juga pada istri-istrinya yang ditinggalkan pergi tanpa dapat lagi memberikan nafkah lahir maupun batin, dan nampak merelakan bila anak-anak dan istri-istrinya kawin lagi, dan beranak pihak sebanyak-banyaknya, seolah ia bangga akan keturunan-keturunannya, karena ia mungkin percaya para keturunannya, atau yang pernah berhubungan dengan dirinya akan memiliki watak-watak dan kepribadian seperti dirinya, gagah berani melawan kebengisan yang mengacam kehidupan, melawan musuh-musuh hidupnya, melawan siapa pun yang ingin melukai dan mencelakan jalan hidup keluarganya, melawan kebenaran yang selalu ia pegang dan jalankan.

Mati satu tumbuh seribu, begitu mungkin arti senyum kematian yang telah ia berikan, dan menampakkan dalam wujud terakhirnya sebagai manusia, sebelum berubah jadi tanah, sebelum melanglang dalam dunia gaib dan lain. Dan ia akan bangga dengan senyum yang dikulumnya melihat keturunannya melawan musuh-musuh dirinya, musuh-musuh yang berhati jahat. Tentu senyum itu sebagai doa juga atas penyiksaan dirinya, sehingga ia mengalami hal yang paling menyakitkan di dunia, dan doa akan keselamatan anak cucunya, serta istri-istrinya dalam menegakkan kebenaran. Si bocah terus mencandra bagaimana mungkin mayat ini bisa berada di tengah jalan seperti ini, mayat yang begitu besar dan berat, siapa yang kuat mengangkatnya, siapa yang menaruhnya, bila memakai kendaraan tentu bekas bannya akan nampak di jalan tanah, bila digotong beramai-ramai, akan nampak jejak kaki dan sepatu para pengusung, bila digeledek dengan gerobak, akan terlihat kaki-kaki kuda atau sapi. Namun di sekitar mayat tidak tampak jejaknya pun, kecuali jejak-jejak kaki kecil mungil tak bersepatu milik si bocah.

Apa mungkin mayat ini sudah ada sejak beberapa hari yang lalu, sehingga jejak-jejaknya sudah terhapus, namun pikirannya segera menyangkal keras akan dugaan tersebut, karena dengan jelas dan yakin, ia telah mengingat-ingat sedalam-dalamnya perjalanan sore itu, ketika melintas di jalan ini, ketika menengok neneknya di tepi sungai, tak ada mayat satu pun dan benda apa pun yang mencurigakan. Bahkan ia ingat di bawah pohon asam itu ia berhenti sebentar untuk memunguti buah asam yang jatuh berserakan di semak-semak dan ilalang, karena terhempas angin, apa mungkin buah asam berubah jadi mayat.

Apa mungkin mayat itu baru tiba, sebelum si bocah pulang dari rumah neneknya, yang segera setelah mayat diletakkan beramai-ramai, segera jejak-jejak mereka dilenyapkan dengan dahan atau sapu, dan dikipasi agar jalan tanah sempurna seperti sedia kala, dan terakhir ditaburi daun-daun yang rontok dihembus angin, sambil mereka berjalan mundur ke arah matahari terbenam, tempat gelap akan menjemput, karena pintu hari segera ditutup, dan dibukalah pintu malam yang kelam, mereka bisa lenyap di telah malam, tempat sembunyi paling aman, sehingga tak satu pun orang yang mengira mayat itu barusan diletakkan, dan tak satu pun yang mengira kalau mayat itu mereka yang meletakkan, dan tak satu pun yang dapat melacak siapa yang melakukan, dan tak bisa dilacak pula kenapa mayat itu terbunuh, dan siapa pembunuh, sebuah taktik yang sempurna untuk menghilangkan jejak, apa pun kejahatan yang ada di dunia.

Sebuah labirin gila, seakan kelenyapan jejak akan mampu menghapus segala kejahatan yang telah ia lakukan, dan tak akan tercatat dalam ingatan dan sejarah siapa pun, kecuali sejarah dan ingatan si pelaku dan si korban, yang tak mengerti tak akan mengingat selamanya, ingatan hanya akan muncul adanya mayat misterius yang terbujur di tengah jalan, jalan menuju rumah si bocah. Jalan menuju desa perbukitan, sebuah tempat yang strategis untuk melenyapkan jejak kejahatan, dan memendam kebenaran dalam gelap malam, dan warga desa yang tak satu pun peduli dengan hal usut mengusut. Si bocah hanya menduga-duga dalam kebingungan yang menampakkan puncaknya pada dahi yang berkeringat, dan mata yang terpejam-pejam, dan kaki yang gemetaran, serta tangan yang mengaruk-garuk kepala, padahal tak ada yang terasa gatal di kepala, dan rambutnya tak dihuni seekor serangga pun, namun rasanya gatal itu mencabik-cabik dalam otaknya dan kalbunya yang terus mempertanyakan keberadaan dirinya dan mayat yang ada di hadapannya. Kenapa ia terlibat dalam peristiwa yang misterius ini, kenapa ia yang harus mengalami bukannya orang lain, kenapa mayat itu ada di tengah jalan, kenapa ia tadi pulang dari rumah neneknya harus di sore hari ketika remang senja akan tiba, kenapa ia harus melewati jalan yang sunyi, kenapa tak ada seroang pun kecuali ia, kenapa ketika pulang dari rumah nenek matanya terlalu cermat melihat apa pun yang ada di sekitarnya. Andaikan ia terus berlari di tepi jalan tanpa menoleh kanan-kiri, tentu ia akan sampai di rumah, dan sekarang pasti sedang bermain-main petak umpet, kuda lumping, jaminan, dengan teman sebayanya, tak bertemu dengan seongok mayat misterius.

Si bocah bertambah heran, karena bau mayat tak sebusuk wujud aslinya, yang nampak membusuk dengan lalat merubungi, dan air mulai mengalir dari tubuhnya, dengan tubuh sudah membengkak. Dan apakah mayat ini akan terus membengkak lebih panjang dan lebih besar lagi, tiga kali lipat dari tubuh aslinya, sehingga seolah-olah ada tiga mayat yang terbujur kaku sebelum membengkak. Tentu tak gampang mengangkat mayat ini, mungkin tak ada seorang pun di dunia yang mampu mengangkatnya sendirian, dibutuhkan tak kurang lima belas orang untuk mengangkatnya, itu pun harus dipilih dari laki-laki kekar yang terbiasa kerja kasar di pelabuhan, yang memiliki otot-otot sempurna, dan energi yang cukup besar, hampir seimbang dengan tenaga kuda. Atau bahkan harus dibutuhkan orang lebih dari itu, karena selain mengangkat daging busuk, mereka harus mengangkat berliter-liter cairan dalam tubuh mayat, ditambah binatang-binatang yang selalu sigap berkembang biak di dalamnya.

Mereka akan berjalan lamban, perlahan-lahan seperti semut menggotong mangsanya ke liang dalam, tempat semut bersemayam, subuah lorong gelap tanpa cahaya, dan mereka akan membawa mayat itu ke penguburan di lereng bukit, seperti kereta api menuju senja yang berjalan lamban karena kehabisan batu bara, dan berapa kali mereka harus berhenti, karena kehabisan energi. Karena begitu berat di mayat, semakin lama tentu berat mayat itu akan bertambah, mungkin binatang di dalam tubuh mayat semakin bertambah banyak, zet-zet yang gentayangan dan berjibun ribuan jumlahnya siap berkembang dengan hitungan detik, dan air semakin berlimpah berliter-liter dalam tubuh mayat, sehingga mengelembung seperti balon.

Dan balon siap meledak kapan pun ketika titik kulminasi dari tekanan maksimal sudah diambang kritis, dan dampaknya akan luar biasa, mengagetkan orang di sekitarnya dan melukai sebagian orang yang menonton. Namun bila yang meledak mayat yang mengelembung, karena batas maksimalnya sudah tercapai, apa yang akan terjadi, mungkin juga bekas-bekas ledakan itu yang terdiri dari serpihan daging, dan lelehan air busuk, serta zet-zet yang bertaburan, akan membuat orang mual dan pusing, lebih parahnya akan menimbulkan penyakit dan bencana yang menakutkan yang membuat seluruh desa terjangkiti penyakit yang akut yang disebabkan oleh penyakit yang ada dalam tubuh si mayat. Di mana paginya sakit sorenya mati, sorenya sakit paginya mati, sebuah pageblug yang ditakuti warga desa, seperti yang pernah terjadi puluhan tahun yang lalu, di mana mayat-mayat bergelimpangan, besar kecil, tua-muda, lelaki-perempuan.

Malam benar-benar sempurna. Petir menyambar-nyambar. Hujan mulai turun. Di dalam gelap tanpa cahaya bulan dan bintang si bocah masih terus tekun memecahkan misteri. Siapa yang melakukan pembunuhan. Dan untuk apa harus membunuh.

Ponorogo, 2002

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *