Puisi-Puisi Fati Soewandi

http://nasional.kompas.com/
SETELAH MERDEKA

kita rangkum keterceraiberaian
sebab Pertiwi kian digerogoti para pendusta
ikrar-janji meranggaskan nurani
ke dalam kesombongan dan keserakahan yang makin bertubi-tubi

kita telah melupakan satu sejarah perjuangan
bebas rampas citacita Merah-Putih satu-satu
bebas gadaikan hati pada khianat yang lain

dan yang kita tuju seperti bayang-bayang kosong saja
mengaburkan perjalanan kita bagai berlembar catatan renta
seperti kepompong busung, tak bisa lagi terbang

kita alirkan darah dan airmata
jadi sungai-sungai bangkai dan arus makin menderas
lalu kita suburkan peradaban kering nurani

dan kemerdekaan ini sekedar kita ziarahi
menyaksikan kekalahan doa yang tergagahi luka-tujah
kita terlena dalam kehidupan yang memainkam mimpi
sedang kasih Pertiwi kita abaikan dalam lipatan masa lalu
yang telah amat kusut!

Surabaya 2007

TANAH INI NEGERIKU

tanah ini negeriku
peta leluhur berlumur petaka
baunya sesaji basi
wajah-wajah tanpa mata dan nurani
menyayat kebesaran sejarahnya

kehormatan tak pernah utuh
mengusung nelangsa sepanjang waktu menua
asing menggemakan nyanyian tanah kelahiran
berjalan gamang
menempuruk dan tak pernah teramat tulus
sengketa mengancam harapan, berkepanjangan
satu abad di ambang penghabisan

kini kucatat dan terkemas
dalam perangkap waktu yang menunggu dengan rindu
abad yang menggelar kesudahan
takdir kepedihanmu, negeriku

Surabaya 2007

LANGGAM DARI NEGERI LUMPUR

begitu jelata kutadah mimpi-mimpi muda
di bawah didih malam, rintih
yang meradang: wajah tuhanku dan potret-potret mati
menitiskan langgam kematian paling sekam

urat-urat jariku memilin semua keinginan dan kepahitan
kini aku bangkai di gigir tanggul lumpur
yang telah berupa lingkaran neraka
gerbang kiamat peradaban

kekasih, dada ini mulai kukosongi
tak ada cinta dan rindu bisa dipinang gairahnya
sebagai pelipur atau pembunuh sepi, kekasih
aku tetap mati

kucoba membangun hati dari percakapan
seorang bocah sumbing dengan bonekanya yang tanpa mata
aku memungut ketegaran, tawa kecil
telah memecah seribu kenangan dari beku nafasku

aku menyemburkan warna bunga-bunga, menggambar
negeri baru di beranda surga, alamat yang lama kehilangan penghuninya
aku memilih bersetia menanti, bagi rasa sakit
yang bakal mengabadikan cuma fatamorgana

Surabaya 2007

CATATAN PINGGIR: WIJI THUKUL

lelaki dengan kuasa angin, datang menebarkan keagungan sebuah perjuangan
menghidupkan badai di tanah leluhurnya, melumat seluruh keangkuhan
langit merah yang mencatat sejarahnya, adalah
sejatinya peradaban yang dipentaskan hantu-hantu dendam
dan kebencian.
sepanjang usia sajaknya menggetarkan perlawanan baru
dan perjalanan penuh loncatan dalam setiap amin kita!

lelaki dengan pusaran cahaya, memijarkan api yang menggiring kesakralan
bahkan kebangkitan riwayat-riwayat laskar nabi
ribuan malaikat pun menyalak di keluasan jagad yang absurd
melengkapi pentas sewujud pertarungan ini.
dan ia gelar kehormatan
di antara berdetik perih kenyataan.

Surabaya 2007

SECEKAT SAJAK DALAM GERIMIS, SEBUAH PAGI

secekat sajak mendesirkan lenguhnya
dalam Gerimis busung, sebuah pagi yang dikandaskan lungkrah Terik
abjad-abjad direnggut setakik pukaunya
tak ada yang mencatat jejak Sabit, gusur Langit,
dan gemetar rindu dalam satu nafas.
di kulum embun pasi
daun-daun muda berkaca: o, kebermulaan senantiasa menagih erang
dan mengakrabi ketidakpastian

berapa benih air mampu menderaskan Hati paling kering

di gigil Janji, secekat sajak mendesaukan seresah dekap
menghunjam rasa benci pada seluruh waktu dan musim
yang tak usai datang dan pergi menjadi Abu
: kata-kata memberi nafas kesunyian yang pernah dikumpulkan

Surabaya 2007

BIODATA PENULIS:Fati Soewandi bernama asli St. Fatimah. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen, serta menerjemahkan naskah-naskah berbahasa asing. Sejumlah tulisan telah dimuat di Media Indonesia, Jawa Pos, Waspada, Femina, Lampung Post, Annida, Majalah Budaya Sagang (Riau), Radar Bandung, Seputar Indonesia, situs dan milis sastra (cybersastra, bumimanusia, penyair, thetoilet, poetry, dll), Jurnal Puisi Rakyat Indonesia (Solo, 2003), Dian Sastro for President! #2: Reloaded (AKY-ON/OFF, Yogyakarta 2003), CD Antologi Puisi Cyberpuitika (Yayasan Multimedia Sastra, Jakarta 2002), Antologi Penyair Jawa Timur (Festival Seni Surabaya 2004), Cyber Grafitti; Polemik Sastra Cyberpunk (Yayasan Multimedia Sastra, Jakarta, dan Penerbit Jendela,Yogyakarta, 2004), Dian Sastro for President!: The End of Trilogy (Yogyakarta, 2005), Cyberletters (Jakarta, 2005), Krakatau Award Dewan Kesenian Lampung 2005 (pemenang terbaik kedua), Fanfict #1 (Bandung 2005), Essowenni Award (Makassar, September 2005), Nubuat Labirin Luka: Antologi puisi untuk Munir (Jakarta 2005), Sang Kecoak: Antologi Cerpen Pemenang Sayembara Menulis Cerpen Nasional AKY 2005 (Yogyakarta, 2005), Suami Impian: Antologi Cerpen Rumah Cahaya (Lingkar Pena Publishing House, 2006), Anthology Empati Jogja (Pustaka Jamil, 2006), Spirituality in Work (Pustaka Inti, 2006), pemenang terbaik ketiga dan pemenang penghargaan sayembara menulis tentang mata (Tabloid Wanita Indonesia, Agustus 2006), Loktong: Kumpulan Cerpen Pemenang Sayembara Menulis Cerpen Tingkat Nasional 2006 (Deputi Pemberdayaan Pemuda Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan Creative Writing Institute, Jakarta 2006), Jogja 5.9 Skala Richter: Antologi Seratus Puisi (Bentang Pustaka, Yogyakarta 2006), dsb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *