Sajak-Sajak Dahta Gautama

http://www.lampungpost.com/
Orang-Orang Kesepian

Angin ini basi baunya.
mimpi-mimpi menjelma gelap
tak ada tanaman hijau di kebun melati
tanah lapang tanpa rumputan
kemudian hujan turun di aspal.
Ada bunyi radio dikejauhan
telpon berdering berkali-kali
suara orang ngobrol di warung kopi
Ada yang bertanya-tanya disepanjang gang:
ini hari apa?
dan mau kemana kita?
Ketika tiba diujung jalan
orang-orang merasa sepi dan jalan
yang lurus kedepan
ditaburi kabut sisa gerimis basah.
alap-alap terbang rendah
hinggap diatas tanggul kayu
dekat pohon kamboja

Taman Gunter, Oktober 2010

Bau Kenanga yang Aneh

Kenanga mulai berbunga
ciuman pertama di musim basah menjadi kembang.
tetapi engkau masih saja tidak percaya
bahwa besok ada bulan yang bangun kesiangan
sepotong kuning di langit ungu.
iya, kan! engkau masih tidak percaya
Setelah ungu, langit berubah hitam, merah jambu
kemudian merah darah.
benar. engkau tidak akan pernah mempercayai
kehadiran Tuhan
dalam tidurmu.
engkau cuma manusia biasa, yang cukup sampai
pada hakekat orang.
padahal Tuhan tidak perlu nama
Ia bisa diajak bercakap-cakap atau berdiam-diaman
tanpa bentuk. tanpa gerak.
Tuhan cukup memanggilmu
dengan cara meniup angin di ubun-ubunmu.
kemudian hidungmu mencium-Nya.
Bau kenanga di halaman rumah

Taman Gunter, Oktober 2010

Lelaki yang Hanya Memiliki Sunyi

Buku harian ternyata tidak bisa merekam
sejarah. aku terluka sebagai orang sunyi.
ibu menangis dan aku masih saja bersembunyi
dibalik pintu.
Ibu, kumamah sunyi ini. sejarahku mungkin
akan digerus masa depan.
dan aku akan terlunta-lunta sebagai manusia
yang kehilangan waktu untuk mengenang.
Apa artinya, jadi manusia yang tidak memiliki
masa untuk mengenang?
Sementara malam bergelora. kata-kata yang
pernah diucapkan seorang kawan bahwa
hidup cuma sekali, sulit kupahami.
Ibu, aku akan tidur diranjangmu
agar bertemu mimpi tentang dirimu yang mengarungi
lembah dan sunyi dan kabut-kabut.

Taman Gunter, Oktober 2010

Lelaki yang Kalah

Selalu kudengar lagu dari radio tetangga.
Jendela kaca bergetar, karena kangen.
Betapa elok bentuk bibirmu
tubuhmu lunglai dipangkuan.
Aku lelaki, Savitri
siapa yang bisa membendung
seutas kemauan untuk bercinta.
Keperkasaanku, bagai ombak pantai selatan
mungkin aku akan menenggelamkanmu dalam
pelukan bermalam-malam.
mungkin aku akan mengajakmu bercinta
sampai mati. sampai mimpi ini tak berbentuk
tidur lagi.
Savitri, Savitri
betapa lindap hidup ini.

Taman Gunter, Oktober 2010

Istri yang Menangis

Kita telah berbulan madu
ke dunia lain, istriku.
Dunia, di mana engkau tak bisa mengenang
dan mencinta secara utuh.
Tapi kemudian aku menjadi
tahu. bahwa di kedalaman matamu
ada sunyi yang terdedah.
ada telaga
tumpah.
Karenanya, istriku
jangan pernah berkata-kata lagi
sebab aku telah mengenalmu
sejak aku menyetubuhi matamu

Taman Gunter, Oktober 2010


Dahta Gautama, lahir di Hajimena, Lampung, 24 Oktober 1974. Minat pada sastra sejak 1990. Puisi-puisinya dipublikasikan di sejumlah media daerah dan nasional, juga terdokumentasi sedikitnya dalam 15 buku antologi puisi bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *