B a u

Weni Suryandari
http://www.suarakarya-online.com/

Sejak matahari terbit, lelaki legam itu kerap membungkukkan badan. Tangannya memegang sekop dan sapu lidi. Ia menguras tempat sampah. Kotak tembok permanen, dibangun dari batu bata dan semen. Selembar seng tebal di atasnya digunakan sebagai penutup, agar bau tak menyebar. Tampak seng itu separuh kusam oleh karat. Alasnya seakan menyatu dengan tanah. Lalu, bau bangkai itu dari mana?

Lelaki separuh baya itu dirayapi lelah. Ia dirasuk bingung. Selama seminggu lebih ia dipenjara bau bangkai. Bau yang menghebohkan. Bau yang kerap menyelinap sekitar rumah.

Peluh mengucur dari seluruh pori-pori tubuhnya, kaos oblongnya basah. Juga dari pelipis dan dahinya namun ia tetap tekun membersihkannya. Ia tak jijik lagi pada sisa-sisa makanan basi, belatung dan ngengat yang bertebaran di sekitar tempat itu. Padahal biasanya, mengangkut sampah dan membersihkan sisa-sisanya yang berceceran adalah pekerjaan tukang angkut sampah, truk yang lewat setiap tiga hari sekali. Sekaleng karbol pun sudah dihabiskannya untuk membunuh kuman-kuman di situ. Penting baginya untuk membuat sekeliling rumahnya tetap wangi sebab ia tak ingin membuat istrinya berteriak-teriak sambil menutup hidungnya. Tubuhnya yang legam kian mengkilat. Mengundang kemilau matahari untuk bercermin di permukaan kulitnya.
Lelaki itu tetap mencangkung pundak. Istrnya belum berhenti berteriak. Ia makin kebingungan.
Teriakannya begitu memekakkan telinga. Seperti suara gesekan pisau pada lembaran seng. Nyilu di gigi!
“Pak. Bau! Aduh, bau!” begitulah teriakan istrinya selalu.

Lelaki itu melepas sekop dan sapunya segera. Ia tak tahan mendengar istrinya berteriak, bergegas menemuinya yang sedang berleha-leha di kursi ukir depan televisi. Itulah singgasana istrinya sehari-hari kecuali dapur, sumur dan kasur. Kaleng karbol kosong yang masih berada di sekitarnya terguling tertimpa batang sapu. Padahal ia merasa tempat itu sudah mengeluarkan wangi karbol sekarang. Mengapa sang istri masih ribut berteriak?
“Sudah Bapak bersihkan Bu, masak sih masih bau?”
“Masih Pak, masih bau! Bapak kurang kuat membersihkannya barangkali!” sungut istrinya sambil mengipasi hidungnya.
“Sudah tidak ada sampah, Bu. Bapak sudah menghabiskan karbol satu kaleng!”
“Tapi kok masih bau? Cari bangkai tikus di sekeliling rumah Pak!”
“Wah, Bu. Bapak sudah sepanjang pagi membersihkan tempat sampah. Besok saja, ya?” suaranya tersengal.
“Yah, pokoknya kalau masih bau aku nggak bisa tidur!” manja istrinya. Suara berita di tv masih keras menggema.

Sebenarnya sudah hampir dua pekan ini Bu Darmi, sang istri, tak bisa tidur. Ia mengaku selalu merasa mencium bau-bauan busuk di sekitarnya. Setiap kali terjaga, ia selalu mengomel. Bagaimana ia tidak mengomel, sebab bau-bauan itu bukan bau cendana, kenanga, bunga-bungaan, bahkan dupa. Bau-bauan itu beraroma busuk. Kadang seperti bau bangkai menyengat, lalu berangsur-angsur pudar, berganti dengan bau busuk anyir darah haid wanita. Kadang hanya dalam hitungan sepersekian detik bisa berubah menjadi bau toilet terminal.

Dua hari kemudian, ketika suara tivi begitu nyaring menayangkan sebuah berita wawancara kasus korupsi, Bu Darmi terbangun dari kursi ukirnya. Serta merta ia bangkit sambil marah-marah dan memanggil suaminya. Sebab ia yakin bau tersebut bukan berasal dari halaman rumahnya. Tapi dari berita korupsi yang marak dari televisi. Layar kaca dirasakannya mengeluarkan bau busuk. Jika televisi mati, ia menduga bau busuk itu berasal dari atas loteng, atau dari halaman mungil di balik semak rumpun tanaman asoka yang rimbun. Tempat itu sering sekali dijadikan tempat kucing muntah atau meninggalkan kotoran. Pokoknya, bau busuk selalu hadir di cuping penciumannya. Geger seluruh warga!
“Pak! Bau! Cari di depan sana, atau di dekat got.”
“Bau apa lagi sih Bu?” rungut suaminya kesal. Ia tak mencium bau apa-apa.
“Bau busuk, sampah atau bangkai barangkali. Cari Pak!”

Lelaki itu bersungut-sungut, koran yang dibacanya diletakkannya kembali. Ia bergegas menuju halaman. Istrinya masih berteriak-teriak. Teriakannya serak, kasar dan berhenti hanya sebentar-sebentar. Ia tak sadar bahwa omelannya membahana di seluruh perumahan lingkungan RT dan akan mengguncangkan seluruh warga. Hari Sabtu siang begini suasana sunyi. Cuaca panas membuat orang enggan keluar rumah. Bahkan anak-anak kecil pun hanya bermain di teras tetangga yang kebetulan jauh lebih luas dan asri.

Lelaki yang dikenal sabar itu bernama Pak Ribut. Kesabaran menghadapi istrinya luar biasa. Ia maklum, sejak kematian bayi mereka istrinya begitu murung dan mudah tersulut oleh emosi. Pasalnya, bayi tersebut adalah satu-satunya dambaan mereka setelah lebih dari delapan tahun menikah. Apalagi meninggalnya karena kasus malpraktek dokter anestesi yang menanganinya.

Sejak itu perangai Bu Darmi berubah. Konon, seorang pembantu pernah berperkara dengannya, lalu keluar karena tak tahan. Meski sudah dicegah oleh Pak Ribut dengan rayuan maut majikan.
“Pak, sudah dibersihkan? Sudah agak hilang” Seru istrinya sembari mengendus endus.

Hidungnya yang bangir kembang kempis. Senyumnya mengurai perlahan. Pak Ribut tercenung mendengar kata-kata istrinya yang tak panik lagi. Hilang? Apanya yang sudah agak hilang? Bahkan mencari sumber bau pun belum. Alih alih membersihkannya. Ia baru saja mencari dengan matanya, belum tangannya. Bahkan belum juga beranjak dari lantai teras di depan pintu. Ia masih mematung.
Pak Ribut lega. Setidaknya untuk sementara. Jika sewaktu-waktu istrinya berteriak lagi, maka kelegaan hatinya akan segera menguap. Saking seringnya begitu, Pak Ribut bahkan hampir merasa tak ada beda antara suara ribut, suara tenang, kesenyapan, kemesraan bahkan gejolak birahi di tempat tidur. Namun Pak Ribut masih menyayangi istrinya yang cantik dan sintal. Kulitnya kuning langsat dengan rambut tebal hitam dan panjang. Lehernya yang jenjang membuat Pak Ribut selalu merasa kagum. Anak rambut di tengkuknya itu yang membuat Ribut muda kasmaran. Pak Ribut berperawakan kurus dan tinggi. Berkulit legam. Jika mereka berjalan berdua di pasar, banyak yang tertawa sebab akan mengira, seorang wanita cantik sedang ditemani supirnya. Ah, orang pasar memang ada-ada saja gunjingannya!

Sementara persoalan bau sudah mereda, Pak Ribut kembali ke ruang kerjanya, Bu Darmi kembali ke dapur. Suasana sunyi. Hening. Hanya suara denting piring beradu atau pisau jatuh.

“Bu Darmi! Bu Darmi!” Sebuah suara wanita berteriak sambil menggedor-gedor pintu depan dengan keras. Bu Darmi tergopoh-gopoh. Ia letakkan pisaunya, segera bergegas ke pintu depan sambil bersungut-sungut. Ia paling tak suka dengan tetangga yang mengetuk pintu terlalu keras, atau, jika belum dibukakan, secara tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya tanpa salam. Ada beberapa tetangga yang seperti itu. Tetapi suara di depan itu ia faham benar. Suara Bu Nafsiah yang sering menawarkan seprai batik dagangannya dari Solo.
“Ada apa Bu? Kok seperti kesetanan?”
“Ibu mencium bau sesuatu?”
“Bau apa? Biasanya ya ada! Kalau saya lagi leyeh leyeh, ya ada!”

“Saya mencium bau sangit Bu. Bau busuk sampah. Padahal sampah sudah diangkut truk sampah dan sudah kusiram karbol.” rupanya Bu Nafsiah punya persoalan yang sama.
“Lha saya juga. Tapi sekarang sudah tak bau lagi.”

“Oh, begitu. Saya mau bawa dagangan dulu ke Encik depan.” Encik depan yang dimaksudkannya adalah seorang China asal Pontianak pedagang emas di Pasar Kecapi. Belum juga Bu Nafsiah berlalu, Encik Liem menghambur bersama beberapa Ibu-ibu yang biasa berkeliaran ketika tukang sayur berderet pagi-pagi. Bu Darmi bingung. Ada apa, kenapa tiba-tiba semua ibu-ibu mendatangi teras rumahnya?
“Eh, ada tercium bau busuk nggak? Aku menciumnya dari kemarin. Padahal tempat sampah sudah kubersihkan dengan karbol. Sudah diangkut pula!” Bu Hadi nyerocos.
“Ya, aku juga. Kemarin sepulang rapat dari masjid bau itu makin tajam!” seru Bu Sarwoko.
“Aku pesan sea food dua hari lalu, tapi sudah diangkut sama truk sampah.” ujar Encik.

“Jadi bukan dari tempat sampahmu?” “Bukan dong, tempat sampah saya bersih,” ujarnya lagi. Di antara semua tetangga, memang hanya Encik Liem yang tempat sampahnya bersih. Ia telaten membersihkan sampahnya.

Encik melanjutkan membongkar tas isi dagangan milik Bu Nafsiah. Ia tak hirau percakapan itu. Bu Nafsiah juga tak hirau. Ia sudah mendengar gosip itu sejak dua hari yang lalu dari suaminya. Bau busuk juga belum reda dari penciumannya. Pak Ribut menyeruak dari dalam rumah. Melihat suami Bu Darmi keluar, ibu-ibu segera berdiri.
“Pak.Maaf. Rame ya? Bergosip siang-siang!” seru Encik.
“Bau busuk di sekitar sini ya, Pak? Ada apa ya, Pak?” seru lainnya serempak. Mereka tak jadi bubar.
“Kita harus lapor pak RT atau Pak RW. Mungkin penanganan sampah kurang maksimal.” Seru Bu Darmi. Memang ia yang paling terpelajar di antara Ibu-Ibu itu. Ia sarjana ekonomi dan pernah bekerja di LSM. Ia pun pernah menjabat sebagai ketua PKK selama satu periode.
“Nanti akan saya minta Pak RT untuk rapat jika ini mengganggu ketentraman warga. Ini polusi yang harus dicegah.” jawab Pak Ribut.
“Iya, padahal RW kita juara satu dalam program penghijauan.”
“Betul! Jadi percuma jika masih ada polusi udara Pak.”
“Hidup jadi tak nyaman,”
“Betul! Suami istri jadi sering ribut karena persoalan bau ini!”
“Truk sampah dan tukang angkutnya jadi kita marahi habis-habisan.”
“Padahal iuran sampah sudah dinaikkan!”
“Anak-anak tak bebas bermain karena udara beraroma busuk!”

Pak Ribut mengangguk-angguk sambil mengernyitkan alis. Ia mendengarkan semua protes ibu-ibu yang sebagian besar barangkali berasal dari keluhan para suaminya. Segera ia masuk, meneruskan bacaannya. Kerumunan ibu-ibu di teras Bu Darmi belum juga bubar. Ibu-ibu dari gang sebelah, dari RT sebelah, berdatangan seperti rayap. Mereka makin memadati teras Bu Darmi. Bahkan tumpah ke jalanan serupa antrian minyak tanah. Bu Darmi tak bisa lagi kembali ke dapur. Ia ingat, keluhan serupa juga pernah disampaikan oleh warga RT lain di blok tetangga, saat berjumpa di pasar. Juga warga RW lain waktu ada pertemuan PKK di kelurahan.

“Bu, bau apa ya? Sepertinya dari rumah ini sumbernya?” semua hampir serempak mengucapkan itu. Bersahut-sahutan. Seperti dengung lebah, makin banyak suara-suara di udara.
“Bau apalagi sih Bu?” suara Pak Ribut setengah berteriak kesal menyeruak lagi di antara gerombolan ibu-ibu.
“Aduh, bau!! Makin menyengat Pak! Segera lapor Pak RT dan RW, pak! Jika perlu malam ini, mumpung malam Minggu.”
Pak Ribut terbelalak, membeliak, mulutnya menganga seperti gua tanpa mampu mengatup lagi. Matanya nyalang. Ia menatapku.

Aku berdiri di belakang kerumunan itu tanpa seorang pun menyadarinya. Rambutku panjang dan kusut masai, berbaju putih dan lusuh, wajah pucat, dan anaknya, yang masih bayi dalam gendonganku masih meneteskan darah. Bukankah dia yang memutuskan untuk melakukan aborsi?Udara sunyi, angin berhenti bertiup, orang-orang beku. Denting waktu berdetak makin keras. Jantung lelaki itu berlompatan. ***

* Jati Asih, Januari-Maret 2010