Berlalu Bersama Waktu

Korrie Layun Rampan
http://www.suarakarya-online.com/

Jika air situ sedang surut saat memasuki bulan-bulan panas, dahan-dahan beringin muda tampak indah melayah di atas permukaan situ. Buah-buahnya yang menguning hingga menjadi cokelat tua, bagaikan titik lingkaran tato yang sedang dirajah pada kulit seorang pria muda. Daun-daun beringin muda yang kaku menyerupai kuping kera itu tak terbuai oleh angin sepoi, dan hanya ikut bergerak bersama ranting-rantingnya jika dahan bergoyang karena timpukan angin yang keras.

Pantai danau yang landai di bawah dahan-dahan beringin situ itu kadang menjadi ajang bermain berang-berang yang biasanya saling berkejaran dengan biawak. Siapa yang terlebih dahulu dapat menggigit dan mencakar, dialah pemenang, dan sang pemenang dapat segera berpesta-pora.

Dengan menyemburkan bau anyir yang busuk dan sangat tajam, berang-berang biasanya dapat mengecoh mangsanya termasuk ikan dan biawak. Karena mereka hidup di dalam kelompok, berang-berang jauh lebih ganas jika dibandingkan dengan biawak, karena, selain memangsa ikan dan binatang air yang merdeka di sungai dan di danau, berang-berang juga suka memangsa ikan di dalam bubu, pancing perawai yang sedang dicaplok ikan, pukat, dan kalak yang berisi ikan. Akhirnya berang-berang bukan hanya musuh ikan dan biawak, ia juga menjadi musuh para nelayan dan kelompok binatang ini selalu diburu.

Situ Takdir sebenarnya tak akan menjadi buah bibir jika tidak terjadi peristiwa yang memalukan. Sebagai pemilik hutan rotan di kawasan itu, Kodokbura selalu pergi memeriksa rotannya pada waktu-waktu tertentu. Pada suatu hari, ia mendengar ada suara manusia seperti berbisik-bisik dari arah tepian situ yang banyak ditumbuhi rumpun bemban. Kawasan itu memang sejak lama dijadikan tambatan sampan pemancing, dan dapat digunakan bagi siapa saja yang hendak memancing atau memasang pukat di situ itu. Karena curiga, Kodokbura mengendap-endap melangkah menuju ke arah suara. Setelah dekat, betapa terkejutnya wanita pemilik kebun rotan terluas di kawasan itu, karena suaminya, Beheqmetem, sedang berada di atas badan seorang wanita muda tanpa busana. Wanita itu, tak lain adalah, Silemitlemit, anak mantan suaminya sendiri!

Sebuah pembunuhan! Parang tajam Kodokbura tak ada ampunan segera menebas leher suaminya hingga hampir putus. Silemitlemit, – satu-satunya anak suaminya terdahulu – segera berlari menghilang entah ke mana, dan sembilan bulan kemudian barulah ia kembali bersama seorang bayi lelaki.

Kegegeran itu segera menggiring Kodokbura ke dalam penjara. Malang bagi Kodokbura, suaminya terdahulu, ayah Silemitlemit, justru mati ditimpas Kuyurjerew karena tertangkap berselingkuh dengan istri lelaki itu di sebuah pondok kebun di bagian timur Situ Takdir. Istri lelaki itu rupanya dengan sengaja mendatangi suami Kodokbura karena tahu Kodokbura dan anak tirinya Silemitlemit sedang mengangkut lima ton rotan dengan kapal ke Samarinda. Kuyurjerew masih ada di dalam penjara, kini giliran Kodokbura harus mendekam di balik terali besi karena memotong leher suaminya sendiri.

Suami Kodokbura, Beheqmetem, memang jauh lebih muda jika dibandingkan dengan usia Kodokbura, hanya berselang beberapa tahun lebih tua dari Silemitlemit. Tampaknya, muncul cinta di dalam selimut, dan perselingkuhan itu menghilangkan kepala lelaki penjudi yang telah diangkat menjadi suami oleh Kodokbura.

Akibat kegemparan itu, tak ada lelaki yang mau menikahi Silemitlemit. Meskipun wajahnya tergolong cantik, namun nasibnya menjadi sial, perselingkuhannya dengan suami Kodokbura itu menutup pintu jodohnya sendiri. Wanita muda itu terpaksa hidup sendiri di rumah mereka yang tergolong cukup mewah di kampung itu karena usaha Kodokbura dan hasil kebun rotan yang luas itu. Dengan caranya sendiri, ia dapat menghidupkan dirinya dan anaknya Uturseiq.

Tak ada orang yang mau menanyakan nasib Kodokbura. Ada kabar mengatakan bahwa wanita itu dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara, dipotong tahanan. Ada lagi yang mengatakan bahwa wanita itu dijatuhi hukuman yang berat dan kemudian dibuang ke Nusakambangan. Hukuman seperti itu bisa terjadi, karena jaksa penuntut umum dan hakim yang memutuskan perkara itu masih punya hubungan keluarga dengan Beheqmetem.

Tak ada orang tahu keadaan Kodokbura yang sebenarnya karena tak ada yang ikut serta menghadiri persidangan. Wanita itu, entah mengapa telah menjadi yatim piatu sebelum ia menemukan suaminya yang pertama, ayah Silemitlemit. Namun karena kegigihannya – ditambah warisan dari ayahnya berupa petakan kebun rotan yang luas – ia mampu menjadikan dirinya, orang berada di kampung itu. Namun moral kedua suaminya menciptakan neraka bagi wanita itu – dan kemudian membawa mereka ke liang lahat – dan akhirnya menyeret Kodokbura ke penjara. Ada juga desas-desus yang dibawa angin buruk yang bertiup ke daerah itu bahwa Kodokbura telah menjadi tanah, karena ditembak petugas sebab berusaha melarikan diri. Selebihnya, tak ada yang mengetahui dengan pasti bagaimana nasib Kodokbura yang sebenarnya.

Hampir terhapus dan dilupakan orang peristiwa Kodokbura dan Situ Takdir kalau tak tiba-tiba wanita itu muncul kembali di kampung itu bersama seorang lelaki yang menjadi suaminya. Semua cerita mengenai dirinya terhapus atas kepulangannya itu. Ia segera mengusir anak mantan suaminya, Silemitlemit, tapi menahan anak Silemitlemit, Uturseiq. Karena diasuh dengan telaten dan diberi makanan yang cukup bergizi, Uturseiq tumbuh menjadi anak lelaki yang sehat. Anak lelaki itu, bagaimana pun – meskipun tak ada pertalian darah – dapat disebut cucu Kodokbura.

Kodokbura segera membenahi rumah dan usahanya yang terlantar setelah ditinggalkannya selama dua belas tahun. Ia juga segera membenahi kebun rotannya yang tak terurus, dan membersihkan Situ Takdir, memasukkan bibit ikan ke dalamnya, dan melarang orang menuba, meracuni dengan potas, dan menyetrum. Sejak itu, situ itu menjadi sumber ikan yang dapat diambil warga dan dijual ke pasar-pasar di dekat situ jika ada hari pekan. Sejak itu matahari Kodokbura makin bersinar.

Wanita itu memang gigih dan tahan uji. Pengalaman pahit di balik jeruji penjara tampaknya segera hendak dihapuskannya dengan bekerja keras. Seperti semula, kebun rotannya yang luas itu merupakan modal dasar yang memberinya banyak keuntungan. Dengan memanggil para pekerja ratusan orang dari kampung-kampung sebelah, ia dapat memanen puluhan ton rotan jahab dan rotan sega di kebunnya sendiri. Kadang kala ia kembangkan dengan membeli rotan dari kebun-kebun warga lainnya membuat ia dapat disebut wanita saudagar yang kaya.

Usianya sebenarnya belum begitu tua. Kata orang saat menikah pertama kali, usianya baru empat belas tahun. Suaminya, membawa anak perempuan balita yang saat itu baru berusia dua tahun. Ibu anak itu mati karena tertimpa dahan balau yang patah di jalan hutan utara. Saat suaminya terbunuh, usianya baru dua puluh, dan baru lima tahun ia menikah dengan Beheqmetem, saat suaminya itu berselingkuh dengan Silemitlemit. Dua belas tahun ia mendekam di dalam penjara menjadikan usianya tiga puluh tujuh. Saat pulang ke rumahnya di kampung itu, bersama suaminya yang mantan orang hukuman juga, ia merupakan wanita yang matang. Tapi entah mengapa, dari ketiga suaminya, ia tak mendapatkan seorang anak pun.

Di samping rumahnya yang megah di kampung, Kodokbura membangun juga sebuah rumah yang lebih sederhana di utara Situ Takdir. Rumah dibangun agak ke kiri jalan kampung mengarah ke tepi situ. Matahari yang turun di barat memantulkan cahaya pada atap sirap ulin yang melegam indah seperti besi yang baru ditempa dan belum diasah. Rumah itu merupakan rumah kebun, khusus untuk menjaga kebun rotannya yang luas di seputar Situ Takdir itu.

Kadang-kadang saja rumah itu didiami. Kalau musim panen rotan, rumah itu akan ramai didiami para pekerja yang membangun beberapa teratak dan bivak di arah sisi kiri dan kanannya. Oleh Kodokbura, di bibir situ dibangunnya dermaga yang dibuat dari kayu ulin. Para pekerja rotan tak usah susah-susah mengambil air, karena mereka dapat mengambil air dari dermaga itu. Juga ikan-ikan untuk lauk-pauk tinggal memasang pukat atau pancing bentang, ikan-ikan terpilih akan bergelantungan di jaring dan pancing karena ikan-ikan itu memang dipelihara Kodokbura.

Dasar mantan residivis, suami Kodokbura yang terakhir, Lalulola, merupakan lelaki pemalas. Jika ada belian dan kewangkey, kerjanya hanya berjudi dan bermabuk-mabukan. Ia juga secara sembunyi-sembunyi membeli narkoba dan berkali-kali menghilang ke kafe-kafe hitam di daerah Jaras dan Mentiwan yang berada jauh di daratan. Entah mengapa, Kodokbura hanya merupakan sapi perahan jika Lalulola membutuhkan uang. Tangannya sangat ringan untuk memukul kalau keinginannya tak dipenuhi Kodokbura.

Selama lima tahun Kodokbura menanggung sengsara dengan suaminya yang mantan residivis itu. Karena merasa tak lagi mampu menahan penderitaan berkepanjangan, Kodokbura akhirnya menalak dan mengusir suaminya itu.

“Tunggu pembalasanku, Kodokbura,” suaminya itu mengancam. “Kau akan menanggung akibatnya!”

Kodokbura bukanlah wanita yang penakut. Usia dan pengalaman menempanya menjadi wanita yang tangguh. Ia tak ambil perduli dengan ancaman mantan suaminya, ia malah terus membangun usahanya, sehingga setahun sepeninggalan suaminya, Kodokbura justru dapat membeli kapal pengangkut rotan dan truk yang digunakannya untuk mengangkut kayu belambangan, papan, dan balok dari sawmill warga yang ada di hutan pedalaman. Dengan bantuan Uturseiq yang terus menyertai Kodokbura, semua pekerjaan dan usaha dapat berjalan lancar.

Hampir lupa, semua warga di kampung itu pada dua tragedi Situ Takdir kalau tak ada nyala api menjolok langit di malam hari itu, berasal dari rumah Kodokbura yang ada di tepi situ. Warga dari kampung ilir segera berlarian ke arah rumah itu, demikian juga warga dari kampung ulu. Semua mereka ingin tahu mengapa rumah itu terbakar dan ingin segera ikut memadamkan api. Petinggi dan kepala adat dari kedua kampung yang mengapit rumah itu sama mengerahkan warga mereka untuk segera memadamkan api. Namun saat mereka tiba di situ, seluruh rumah sudah dinyalai api, dan mereka sangat kaget karena menemukan Kodokbura dan Uturseiq terhantar di depan pintu dalam keadaan bugil, dengan badan mulai dijilati api, dan sudah tak bernyawa. Pada leher dan badan terdapat bekas aniaya dengan benda tajam, dan darah menghitam karena dijilati api.

* * *

Di depan pengadilan tak bisa mungkir, Lalulola dan Silemitlemit, karena pada malam kebakaran mereka berdua tertangkap basah di tengah jalan ke kampung ulu, sedang membawa golok berdarah.

“Kami berdua memang sudah kumpul kebo,” Lalulola menjelaskan karena ditanya oleh jaksa. “Kami butuh uang untuk hidup. Maka kami mendatangi Kodokbura dan Uturseiq.”
“Kenapa tidak berusaha sendiri?”
“Kami berusaha dengan cara itu,” Silemitlemit menimpali. “Apalagi yang ikut Kodokbura adalah anak saya.”
“Dengan merampok? Membunuh?”
“Kami hanya minta bagian,” Lalulola menjawab. “Tapi….”
“Tapi apa?” jaksa mencecar pertanyaan.
“Kami ingin balas dendam!”
“Balas dendam?”

“Karena kami berdua sama-sama diusir. Saya hanya sekilas mengenal Silemitlemit saat ia diusir. Saya baru kenal lebih dekat di kafe Jaras. Kami berdua bernasib sama. Kami berkumpul untuk meminta uang sebagai bagian keuntungan!”
“Jadi, kalian membunuh berencana?”
“Kami tak berencana membunuh. Tapi….”
“Tapi apa?” hakim makin mengorek keterangan.

“Saat kami intai selama seminggu, diketahui bahwa….” “Bahwa apa? Jangan bertele-tele!” hakim menaikkan suaranya.
“Kodokbura dan Uturseiq ternyata sudah kumpul kebo.”
“Seperti kalian?”
“Itu sebabnya kami meminta uang!”
“Memeras? Tapi mengapa membunuh?”
“Saat kami tiba di rumah itu, Kodokbura dan Uturseiq sedang….”
“Sedang apa?”
“Bertindihan seperti penyu….”
“Seperti penyu?”
“Kawin!”
“Kawin?”
“Ya. Mereka belum menikah. Tapi sudah kawin.”
“Apa hubungan nikah dan kawin mereka dengan kalian?”
Tak ada jawaban Lalulola dan Silemitlemit.

Saat diotopsi, memang Kodokbura telah hamil tiga bulan. Entah mengapa, tiga suaminya tak mampu menghamili, tapi dengan kumpul kebonya, Uturseiq, berusia tujuh belas tahun-yang sebenarnya cucu meski tak ada hubungan pertalian darah – mampu menghamili saat usia Kodokbura sudah mencapai empat puluh tiga tahun!

Beberapa tahun kemudian, kawasan rumah Kodokbura yang terbakar dan luasan kebun rotan jadi kawasan terlantar dan situ tak terurus, makin banyak ditumbuhi dan ditutupi enceng gondok. Kata orang, situ itu memang situ panas dan situ celaka karena pernah menjadi arena perang di zaman ngayau. Darah para pengayau naik sebagai kutukan, membuat kawasan itu tak pernah sepi dari pembunuhan.

Petinggi dengan persetujuan kepala adat, dikuatkan oleh camat dan putusan pengadilan mengambil rumah, tanah, dan kebun rotan Kodokbura menjadi milik kampung dan menjadikannya sebagai aset kampung. Terakhir ada berita dua pencuri rotan Kodokbura yang telah menjadi milik kampung saling menebas leher saat mereka mencuri dan bertikai mengenai jumlah pembagian penghasilan. Setelah itu, entah bagaimana nasib kawasan itu dan Situ Takdir, karena orang sudah merasa ngeri menginjakkan kaki di kawasan itu. Terlalu banyak orang mati! Semua warga terlalu sibuk dan orang juga tak mau tahu bagaimana nasib Lalulola dan Silemitlemit di penjara dengan pembunuhan berencana atas dua orang manusia yang sedang menikmati surga dunia! ***

Catatan:
bemban = tumbuhan berumpun di tepi danau, bagian dalamnya seperti gabus, bagian luarnya bagus untuk bahan keranjang dan bahan tikar.
kalak = sejenis bubu memasang mukanya ke hulu sungai.
belian = cara penyembuhan orang sakit ala dukuk Dayak.
kewangkey = upacara penguburan terakhir tulang-belulang orang yang sudah lama meninggal dunia.
sawmill = penggergajian kayu;
Petinggi = setingkat lurah di Jawa.