Lembaran-lembaran Lepas Fatah Yasin Noor

Fatah Yasin Noor

Lembaran 1

Secara tradisional, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di Banyuwangi telah ditegaskan dengan endhog-endhogan. Bentuk ektualisasi kecintaan pada Rasulullah itu dianggap memiliki kekhasan, unik, sekaligus kreatif. Ada pandangan keagamaan yang diselaraskan oleh sebentuk upacara ritual yang telah ada sejak lama. Acara endhog-endhogan, bagi masyarakat tradisional Banyuwangi, seperti sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan setiap tahun, setiap memperingati Maulid Nabi. Tradisi endhog-endhogan itu sudah mengakar, yang akhirnya jadi bahasa budaya yang selalu melekat. Maulid dan endhog-endhogan tak bisa dipisahkan.

Lembaran 2

Rasanya mustahil, tapi jika itu terjadi adalah sebuah keajaiban. Sebab lihatlah, hari ini, di subuh yang bening ini, kita terus berzikir kepada Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Masih ada bahasa cinta yang menghubungkan antar-manusia. Bahasa cinta dimana rasanya aku masih ingin hidup seribu tahun lagi. Kenyataan memang menunjukkan, bahwa ia tampak enggan menjalin komunikasi lagi denganku. Apa mau dikata. Kami telah menjauhkan diri dalam hubungan-hubungan personal yang terasa melelahkan itu. Mungkin itu akan bermanfaat untuk kami berdua: membuat jarak yang jauh untuk kebaikan masing-masing. Sebab kami selalu gagal menjalin komunikasi yang wajar, yang tidak emosional.

Ada sihir kata yang membuat matamu sembab, dari ingatan-ingatan yang mengharukan. Juga kata-kata yang menumbuhkan gairah, menyenangkan untuk sesaat. Apa indahnya bersemadi dalam bahasa?, katamu. Dunia ini heboh karena masalah ekonomi, bukan puisi. Ada prediksi akan terjadi revolusi di Indonesia sebelum 2009 berakhir, atau peristiwa politik yang mengubah arah bangsa menjelang 2010. Aku ingin ikut dalam moment itu, sementara engkau tak perduli. Masih berjalan sebuah komitmen, bahwa tak ada nasib yang mengubah seseorang menjadi yang lain. Kita akan hidup seperti ini: dalam sebuah tradisi teks sebagaimana biasa. Semua berjalan dalam rangkaian hukum sebab akibat. Keindahan itu ada di sini dan sekarang, sebentuk kebahagiaan kecil dalam ketenteraman dan kedamaian hati, meski engkau ada di sana.

Kita percaya pada garis takdir. Ketika aku harus menggunakan bahasa sastra, maka itulah takdir yang harus aku terima. Ini seperti halnya aku yang belum diberi kesempatan untuk memiliki harta benda melimpah. Kalau aku kaya, mungkin, aku akan sombong, tinggi hati, semakin jauh dari mengingat Allah. Dan itu memang benar. Kita akan sering diserang rasa kantuk yang dalam. Tubuh lembek kurang gerak. Kita lupa bagaimana rasanya joging pagi yang menyehatkan.

Lembaran 3

Ruang bahasa itu adalah satu tubuh yang menyembunyikan makna. Telah kupakai bahasa diam di situ. Aku tak mampu mendekatkan jarak bahasa itu menjadi satu kesatuan. Aku hanya melawan diri sendiri, tak lagi mencoba menarikmu pada cakrawalaku yang memang sepi. Sungguh, aku merasa tak ada apa-apa di sini. Lihatlah, aku sering termangu di depan jendela depan rumahku, mengamati ayam dan burung gereja yang mencari makan.

Aku ingin memasuki lorong waktu. Melihat dirimu yang sendiri, yang tengah merenungi kehidupan ini. Tapi pikiranku sendiri sedang kalut dan cemas tentang anakku. Tuhan, Engkau sungguh Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Maka selamatkanlah kedua anakku dari tipu daya dunia, hindarkanlah dari bisikan setan yang terkutuk. Nampaknya hari ini kami tengah ditimpa musibah yang tak terduga sebelumnya. Mudah-mudahan semuanya berjalan baik-baik saja, terhindar dari segala fitnah yang memang keji. Hidup di dunia ini hanya ingin selamat, juga selamat di akherat kelak. Kita akan selalu pasrah atas segala kehendak-Nya. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang pandai bicara dan disenangi banyak orang, ada yang kaku, kurang ramah. Ada yang memiliki mental baja, pantang menyerah dan pekerja keras dan tekun, ada yang lembek. Begitulah.

Lembaran 4

Masih tak ada tanda-tanda penghidupan yang pasti. Tapi itu bukan berarti aku pantas cemas di hari ini. Maka, dengarlah musik itu yang terus mengalun, bisa melembutkan hati. Kita masih berpusar pada kehidupan yang penuh misteri ini, seraya tak pernah lepas pada tali Allah Yang Maha Pemurah. Tapi baiklah, aku telah bisa melupakan perkara perasaan terhadap perempuan itu. Kini hanya jadi sejarah indah, dari sebuah narasi kecil dalam sisi kehidupanku. Tak berlebihan dan tak ada makna lain yang bisa dipetik jadi manfaat besar dalam kehidupan yang memang luas dan warna-warni ini. Aku hanya bisa menangis dalam hati, sedikit lega, sekaligus masih siap menerima peristiwa baru lagi yang mungkin akan lebih dahsyat. Dari peristiwa ke peristiwa berikutnya.

Kadang, banyak yang kita pikirkan, dan semuanya serba setengah-setengah. Dengan kemurnian hati kita merasakan kekosongan waktu yang tengah berjalan ini. Kita terus menyerap, merasakan, dan menghayati anugerah kesehatan ini, misalnya, dengan banyak berzikir. Celakanya, pengetahuan kita selalu serba nanggung. Ada keyakinan atas kebenaran yang hakiki, tapi selalu saja kita menganggap ringan dan sepele. Kita akan terus jadi manusia biasa, tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan di akherat yang sebenarnya. Jangan terlalu suntuk dengan perasaanmu sendiri. Aku terluka saat aku tak berani menyatakan satu kejujuran, tak berani menanggung tanggung jawab sosial atas kesalahan-kesalahan yang telah aku lakukan.

Aku tak bisa memperlakukan bahasa untuk sekadar penampakan egoisme dan keangkuhan intelektualieme. Hidup memang sangat memeras pikiran. Kita menikmati rezeki pikiran waras untuk lebih banyak bertasbih pada-Nya. Dan yang harus disyukuri, kita masih diberi kesempatan hidup untuk menulis, membaca, dan jalan-jalan. Celakanya kita kadang tak tahu apa yang harus ditulis, dan untuk apa jalan-jalan. Maka, aku lebih banyak menulis bagaimana satu masalah itu ditulis, bukan apa yang harus ditulis.

Bulan ini ditandai dengan kenaikan BBM dan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Daya beli rakyat semakin rendah. BBM langka, sejumlah SPBU kekurangan pasokan bensin dan solar, dan antrean panjang jadi pemandangan sehari-hari. Dan hari ini anakku Afrizal mengikuti Ujian Nasional SD. Maka rasanya hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin. Mutu kehidupan merosot. Kehidupan semakin rawan. Kejahatan meningkat. Negeri ini terus menumpuk hutang, tabungan dikuras habis.

Lembaran 5

Pingin rasanya aku mengajak rohku mengenali lagi suara-suara murni seperti dulu, dari roh Muhammad, orang suci itu. Atas nama kemurnian hati dan isi yang begitu menyatu, yang begitu dekat dengan Sang Penciptanya. Tapi takdirku telah ditentukan. Kini, entah kenapa, aku merasakan kekosongan pikiran yang akut. Dan tak ada bahasa diam yang bisa menenangkan. Keluh kesah sebagai manusia. Cara berpikir yang ingin diubah. Ada yang menyarakan banyak hal, diantaranya, biarlah kita dalam kondisi seperti ini. Hidup yang dihela oleh kesabaran dan menunggu. Seperti juga menunggu makna, siapa tahu tiba-tiba ia hadir tanpa disangka. Atas nama pendidikan yang ditempuh setengah matang. Kita akhirnya hanya menjadi manusia Indonesia yang setengah matang. Dengan menerima kesedihan atas nama kapitalisme global yang semakin menjajah. Kita masih tak bisa menerima pendidikan secara gratis. Banyak yang prihatin tapi hanya bisa prihatin, tak bisa membuat keputusan yang sanggup menyelamatkan nasib banyak orang, terutama masa depan generasi muda.

Kita hanya berharap semoga ruh itu senantiasa mengajak pada sesuatu yang tinggi, yang mulia. Setiap hari kita mencoba menyucikannya. Yakni ruh yang masih bergandengan dengan badan, bentuk lahir dari penampakan yang kasat mata itu. Jutaan ruh yang hidup dan bergerak di dataran Indonesia juga. Yang saling berinteraksi, yang saling membaca. Dan lihatlah di Harian Kompas, sudah banyak orang memberikan pendapatnya soal sistem pendidikan kita yang carut-marut itu. Tapi belum ada perubahan yang signifikan, yang bisa dirasakan manfaatnya oleh sebagian besar rakyat. Mereka yang pintar semakin mengerucut, yang bodoh bagai buih dari ombak yang menghempas pantai. Ini adalah tanggung jawab semua warga negara yang sadar pentingnya pendidikan, tak boleh ada yang tak punya kesempatan untuk sekolah. Celakanya, lembaga pendidikan kita banyak yang ditumbuhi sarang laba-laba.

Lembaran 6

Mari banyak berterima kasih pada alam dan manusia. Ada dasar-dasar kehidupan yang harus dijaga. Secara kodrati, malam untuk istirahat, dan siang untuk mencari rezeki. Jangan dibaliklah. Menghayati maut adalah penghayatan yang sungguh menghasilkan ketercekaman. Kita harus mencoba belajar menulis tentang itu. Ketika saat maut itu datang, apa yang tengah kau rasakan, coba. Pagi-pagi sekali, ketika semua orang masih tertidur lelap. Malaikat yang tengah melaksanakan tugasnya.

Lembaran 7

Semalam kita sempat memperbincangkan takdir. Engkau percaya bahwa semua manusia telah ditentukan takdirnya, sejak awal, sebelum manusia itu lahir ke dunia. Kita hanya memohon kepada Tuhan agar mendapat takdir yang baik, ditakdirkan menjadi orang yang baik. Tapi hari ini aku berzikir cuma sebentar. Dunia telah mempermainkan diriku menjadi diri yang lain. Tak ada perang dengan diri sendiri. Kalau Tuhan Maha Kata-kata, maka aku tak akan bisa sebanding dengan mereka. Selalu ada pernyataan yang berputar-putar. Sejumlah hari adalah keterlenaan yang sangat fatal. Orang bisa menangis karenanya.

Ada hari yang terus menggumpal seperti kekosongan. Bahasa tubuh yang semakin tak mudah dipercaya.

Boleh jadi hatiku kering. Boleh jadi aku harus menyesal. Boleh jadi masa depan, akhirnya, semakin suram. Boleh jadi ada nasib buruk yang tengah mengintai. Boleh jadi ini pengakuan yang konyol. Boleh jadi aku kelak tak akan jadi apa-apa. Boleh jadi aku telah melakukan banyak dosa. Boleh jadi aku telah melalaikan banyak pekerjaan yang bermanfaat. Boleh jadi aku dibenci Tuhan. Boleh jadi aku tak banyak dicintai oleh antar-sesama. Boleh jadi aku egois. Boleh jadi aku individualistis. Boleh jadi aku materialistis. Boleh jadi segala sifat buruk lama melekat dalam hatiku. Boleh jadi aku tak bisa jadi orang suci. Boleh jadi aku ditakdirkan jadi orang sengsara dunia akherat. Boleh jadi aku kurang banyak bersyukur. Maka kesedihanku seperti air. Tubuhku menggigil dalam cuaca. Menyaksikan wahyu itu turun perlahan. Pada air pancuran di tepi kali.

Lembaran 8

Ya, banyak orang telah kehilangan bahasa. Kita heran banyak kata-kata terbuang ke keranjang sampah. Padahal kita tahu banyak orang menulis tak sekadar menulis. Tapi berbanggalah, nasionalisme di Indonesia semakin mengakar berkat bahasa Indonesia. Kita tengah memelihara bahasa Indonesia yang baik dan benar. Barangkali secara perlahan meninggalkan tradisionalisme, atas nama nilai-nilai baru keindonesiaan yang diperkaya nilai-nilai tradisi. Maka beginilah jadinya kita sekarang, banyak melihat dunia luar yang tampak lebih maju. Seratus tahun kebangkitan nasional yang dirayakan tahun ini adalah momentum untuk mencapai kesadaran berbangsa dan bernegara baru. Karena bangsa ini sudah waktunya bangkit, mungkin kalau dirlukan dengan cara revolusi. Atau dengan cara memotong generasi, yakni membuang pejabat publik sebagai pemimpin busuk ke dalam rumah jompo.

Tentu saja ini proyek maha berat, terutama bagi para mahasiswa dan masyarakat kelas menengah keatas yang masih konsen dengan perubahan. Rakyat harus dididik untuk tidak lagi mau memilih pemimpin busuk, yakni pejabat publik yang nyata-nyata korupsi dan yang tak memiliki nilai spiritual dan kemanusiaan yang tinggi. Aku hanya bisa menyeruput kopi dan makan nasi bungkus. Mereka enak-enakan plesir dan naik mobil mewah, harta benda melimpah hasil dari menggarong uang rakyat lewat sebuah kelicikan dan kemunafikan. Karena rakyat kecil sering dizalimi oleh penguasa maka lawan. Ini adalah kewajiban yang dibenarkan agama. Penguasa yang tidak bisa berbuat adil pada rakyatnya harus dilawan. Unjuk rasa mahasiswa yang sering ditindak aparat dengan kekerasan adalah kebiadaban yang tidak manusiawi, maka tidak salah kalau mahasiswa mencoba mengimbangi aksi kekerasan aparat polisi itu. Kalau toh opini di media massa terkesan selalu menyudutkan tindakan yang dianggap anarkis oleh penguasa itu kita maklum. Sebab, kita toh tahu penguasa pun ikut bermain opini dengan kekuasaannya. Banyak media massa yang tak lain adalah tangan-tangan pemerintah yang anti demokrasi.

Apa pendapat kamu tentang Indonesia? Ialah sebuah negara yang ruar biasa. Orang suci dan orang busuk bisa saling bersalaman dengan mesra. Ada Gus Dur yang suci tapi juga ada Susilo Bambang Yudhoyono yang sebaliknya. Kita sedang menebang pohon. Membaca gerakan sosial yang ingin dibangun lewat partai politik, secara elitis dan masif. Adakah rasa kemanusiaan di situ? Juga membaca pergerakan bangsa dan negara ini, adakah cita-cita mulia yang disandangnya?

Lihatlah, kami masih mencoba untuk berefleksi, walau dengan perbendaharaan pengalaman yang minimal. Atas nama perjalanan sejarah Indonesia yang masih pendek, yang hanya ditemukan momen Sumpah Pemuda di tahun 1908, cikal bakal bangkitnya nasionalisme. Sejauh mana rasa kebangsaan kita, rasa cinta tanah air di wilayah kepulauan, di Asia Tenggara ini? Dari wilayah (geopolitik) yang begitu luas dan beragam. Tapi yang ada ialah banyaknya luka sejarah: pemberontakan dari sejumlah daerah yang ingin lepas dari keindonesiaan.

Adalah niscaya kesucian manusia melebihi malaikat. Dari perkembangan teknologi informasi. Kita percaya saja bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Godaan untuk selalu berbuat yang hedonis juga diimbangi dengan panggilan untuk berbuat baik, ingin mendalami agama, nilai-nilai religius, yang spiritual. Cuma celakanya sekarang ini dunia diguncang oleh krisis pangan dan harga bahan bakar minyak yang melambung tinggi. Kalau masalah ini berlangsung lama, maka bisa dipastikan akan terjadi revolusi. Berarti ada sistem yang tidak jalan, kurang adil.

Di bulan ini dan di bulan-bulan mendatang suhu politik di Indonesia meningkat. Para politisi dan sejumlah aktivis pergerakan sama-sama melungsurkan wacana kebangsaan, yang lain hanya sekadar berpikir tentang kekuasaan. Aku tengah mencari tanda-tanda adanya revolusi di negeri ini. Memperingati hari lahir Pancasila adalah cerung renung mencoba menggali lagi kebenaran falsafah bangsa dan negara ini. Selalu saja kita bicara tentang nilai-nilai. Bangsa dimana rakyatnya banyak yang kekurangan pangan. Harga bahan kebutuhan pokok cenderung naik, pemerintah tak berupaya melakukan stabilisasi harga. Menghabiskan anggaran milyaran rupiah. Seperti tak punya malu. Ia adalah hantu birokrasi. Kehidupan yang tak menyehatkan ini terus berlangsung, seperti begitu lama, dari generasi ke generasi. Tapi sore ini, lepas dari itu semua, aku ditemani teh panas.

Ada tidur siang yang lelap. Kemudian dihidupkan kembali, seperti dituntut melaksanakan ibadah. Lihatlah warna dari rona kehidupan manusia itu. Tak ada politik dan kekuasaan di situ: kelewat tenang dan hati nurani yang berjalan. Mestinya kita segera melupakan mimpi-mimpi tentang kemuliaan pribadi. Terus berpikir peran kita sebagai makhluk sosial. Aku sedih jika tak bisa berperan lebih, minimal untuk lingkup kecil dimana aku tinggal. Sebelum mati, dan ngeri tak meninggalkan jasa apa-apa yang bermanfaat. Jadi, kenapa harus tersinggung atas sejumlah kritik dari teman? Ternyata banyak yang aku perhatikan, terutama perkembangan spikologis kedua anakku yang banyak tinggal bersama ibunya.

Inilah bangsa Indonesia yang majemuk itu, terimalah. Atau, inilah kabupaten Banyuwangi, sebuah kota kecil di ujung timur Pulau Jawa, dekat Bali. Mungkin aku akan tinggal selamanya di situ. Ada warna tradisional yang selalu bersentuhan, yang kadang sangat akrab dan bersahaja. Nenek-nenek tua yang tampak masih tangkas berjalan dan mengurus rumah. Pergi ke ladang dan kebun-kebun yang rimbun memetik sayuran untuk sarapan pagi. Turun ke kali membersihkan diri sambil bersenandung. Kita sering menjumpai kehidupan desa seperti itu. Jauh dari sentuhan kebijakan dari pemerintahan pusat Jakarta, yang jaraknya hampir seribu kilometer dari Banyuwangi itu. Ada yang berusaha meredakan gelisah dari era digital, sementara itu banyak dari mereka yang tak terpengaruh, terutama orang tua yang gagap teknologi. Bersyukurlah. Kita bisa mengunyah kedua sisi kehidupan itu dengan terus berbuat dan berpikir secara wajar dan alamiah.

Lembaran 9

Kali ini, kata-kata akan mengalir kemana-mana. Tapi kata-kata bisa bergerak ke atas, tak hanya mengalir ke bawah. Ia seperti air ajaib yang bisa menembus hatimu. Ada yang menggerutu senang ketika ia dibilang cantik. Tapi ia masih selalu sibuk mencari uang, seperti tak ada ruang waktu untuk memperhatikan suara hatinya sendiri, dirinya sendiri. Sementara itu, besok dunia akan menyaksikan bergulirnya piala Eropa, Euro 2008 di Swiss dan Austria. Perhelatan sepakbola Eropa, kawasan negara-negara maju di dekade ini. Ia memang tak tertarik dengan sepakbola. Sebuah bola yang ditendang kesana-sini oleh dua kesebelasan. Permainan dunia dalam sepakbola yang ingin dicari akar filsafatnya. Ternyata begitulah, dari tahun ke tahun sejarah mencatat banyak drama dan sensasi dari sepakbola. Pertanyaannya, apa yang pantas dikenang dari semua kejadian di lapangan dan di luar lapangan hijau itu?

Ia tidak perduli dengan hiruk pikuk, dengan orang ramai yang kini tengah demam sepakbola. Tapi yang pasti ratusan juta manusia akan menyaksikan pertandingan demi pertandingan si kulit bundar ini. Perhelatan empat tahun sekali yang tak bisa dilewatkan. Tentu saja kita harus melek bengi untuk bisa nonton secara langsung di televisi. Sebulan penuh kita harus begadang, apa boleh buat.

Lembaran 10

Tentu saja kita jadi tak berdaya. Tentu saja segalanya akan tergantung pada-Nya. Tentu saja itu pasti. Dan waktu terus bergulir: dari senja ke senja. Selalu muram. Karena yang selalu diingat adalah kemuraman. Tak ada lagi keceriaan di situ. Tak ada keceriaan seperti di masa kanak. Masa kanak yang telah jauh berlalu. Yang tersisa kini adalah kemuraman. Waktu telah menyodorkan kemuraman, justu di saat kita memasuki usia senja. Padahal kita tengah berupaya keras menolaknya, ingin terus bahagia. Ingin bahagia di usia senja. Hidup secara ritmis tanpa banyak guncangan yang menghebohkan.

Celakanya guncangan itu datang bertubi-tubi. Semakin diselimuti sebentuk kecemasan saat kita merasa sudah begitu dekat pada kematian. Tentu saja kita merasa tak berdaya melawan waktu, dan waktu memang tak perlu dilawan. Ia memang bukan musuh, tapi mungkin, sahabat dekat yang tak kita sadari selama ini. Sahabat dekat yang tak pernah lepas sedetik pun dalam tubuh kita yang hidup. Selamat tinggal, sayang. Aku akan pergi jauh. Semuanya pasti berakhir. Semua tinggal menjadi kenangan. Kenangan demi kenangan yang terkubur. Yang selalu ditandai dengan air mata. Dari namamu dan tawamu yang renyah itu. Aku tahu semua itu indah, syahdu, sungguh romantis. Disaksikan nyanyian ombak dan desir pasir di pantai yang sepi itu. Engkau selalu tersenyum, seperti tak terjemahkan untuk bisa mengucap syukur pada keagungan-Nya. Kita yang saling percaya dan saling mencinta. Apa lagi yang harus dicemaskan?

Bersambung…


Fatah Yasin Noor, lahir di Banyuwangi tahun 1962. Puisi-puisinya dalam antologi API (Angkatan Penyair Indonesia, 1998). Esai-esainya bagai nyanyian ganjil -mengusung sesuatu yang nyaris tak tertangkap publik. Sajak-sajak tunggalnya terkumpul dalam buku “Gagasan Hujan” (PSBB, 2003), “Rajegwesi” (PSBB, 2009). Kumpulan catatannya yang unik dan panjang terhimpun dalam “Seribu Jalan Raya” (PSBB, 2011). Tulisannya tersebar di media-media massa nasional dan lokal, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, Majalah Budaya Jejak dan Bali Post. Puisinya yang dimuat di koran Bali Post itulah yang menarik, waktu itu redakturnya Umbu Landu Paranggi. Tahun 1979, esainya yang kritis berjudul “Film Nasional, Sebuah Tanggapan” dimuat media sastra legendaris dan pertama kali di Banyuwangi, Kertas Budaya Jejak, besutan alm. Pomo Martadi dan Hasnan Singodimayan.
Fatah menempuh pendidikan menengah dan tinggi di Yogyakarta, -boleh jadi tradisi berpikir kritisnya terbangun dari sana. Di Banyuwangi, nyaris media sastra tidak lepas dari tangan dinginnya. Ia Pimred jurnal Sastra-Budaya Lembaran Kebudayaan, dan pernah mengomandani kelompok budayawan serta seniman yang menolak Dewan Kesenian Banyuwangi (DKB) tahun 2002. Ia bersama gerbong para budayawan “bawah tanah” sempat mendirikan DKB-Reformasi, sebagai tandingan DKB “pemerintah” bergaya Orba waktu itu. Gerak budaya yang dikerjakan sastrawan nyentrik ini tak bisa dianggap remeh, terbukti “gerbong” DKB-R produktif melahirkan karya-karya berkualitas secara berkala dan melakukan kajian sastra pula penulisan sejarah Banyuwangi. Tahun 1998, menjadi salah satu dari kelompok muda yang menghadirkan alm. W.S. Rendra di Gedung Wanita, Banyuwangi, dalam peluncuran buku puisi para penyair Jawa-Bali “Cadik”, sehari sebelum tumbangnya Soeharto! Di masa itu bukan main-main mengadakan kegiatan sastra yang kritis berhadapan dengan aparat. Di tahun itu juga, bersama penyair dan budayawan lain, ia mengemukakan sikap anti kekerasan menyoal peristiwa “santet” di Banyuwangi.

One Reply to “Lembaran-lembaran Lepas Fatah Yasin Noor”

Comments are closed.