Lembaran-lembaran Lepas Fatah Yasin Noor

Fatah Yasin Noor

Lembaran 1

Secara tradisional, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di Banyuwangi telah ditegaskan dengan endhog-endhogan. Bentuk ektualisasi kecintaan pada Rasulullah itu dianggap memiliki kekhasan, unik, sekaligus kreatif. Ada pandangan keagamaan yang diselaraskan oleh sebentuk upacara ritual yang telah ada sejak lama. Acara endhog-endhogan, bagi masyarakat tradisional Banyuwangi, seperti sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan setiap tahun, setiap memperingati Maulid Nabi. Tradisi endhog-endhogan itu sudah mengakar, yang akhirnya jadi bahasa budaya yang selalu melekat. Maulid dan endhog-endhogan tak bisa dipisahkan.

Lembaran 2

Rasanya mustahil, tapi jika itu terjadi adalah sebuah keajaiban. Sebab lihatlah, hari ini, di subuh yang bening ini, kita terus berzikir kepada Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Masih ada bahasa cinta yang menghubungkan antar-manusia. Bahasa cinta dimana rasanya aku masih ingin hidup seribu tahun lagi. Kenyataan memang menunjukkan, bahwa ia tampak enggan menjalin komunikasi lagi denganku. Apa mau dikata. Kami telah menjauhkan diri dalam hubungan-hubungan personal yang terasa melelahkan itu. Mungkin itu akan bermanfaat untuk kami berdua: membuat jarak yang jauh untuk kebaikan masing-masing. Sebab kami selalu gagal menjalin komunikasi yang wajar, yang tidak emosional.

Ada sihir kata yang membuat matamu sembab, dari ingatan-ingatan yang mengharukan. Juga kata-kata yang menumbuhkan gairah, menyenangkan untuk sesaat. Apa indahnya bersemadi dalam bahasa?, katamu. Dunia ini heboh karena masalah ekonomi, bukan puisi. Ada prediksi akan terjadi revolusi di Indonesia sebelum 2009 berakhir, atau peristiwa politik yang mengubah arah bangsa menjelang 2010. Aku ingin ikut dalam moment itu, sementara engkau tak perduli. Masih berjalan sebuah komitmen, bahwa tak ada nasib yang mengubah seseorang menjadi yang lain. Kita akan hidup seperti ini: dalam sebuah tradisi teks sebagaimana biasa. Semua berjalan dalam rangkaian hukum sebab akibat. Keindahan itu ada di sini dan sekarang, sebentuk kebahagiaan kecil dalam ketenteraman dan kedamaian hati, meski engkau ada di sana.

Kita percaya pada garis takdir. Ketika aku harus menggunakan bahasa sastra, maka itulah takdir yang harus aku terima. Ini seperti halnya aku yang belum diberi kesempatan untuk memiliki harta benda melimpah. Kalau aku kaya, mungkin, aku akan sombong, tinggi hati, semakin jauh dari mengingat Allah. Dan itu memang benar. Kita akan sering diserang rasa kantuk yang dalam. Tubuh lembek kurang gerak. Kita lupa bagaimana rasanya joging pagi yang menyehatkan.

Lembaran 3

Ruang bahasa itu adalah satu tubuh yang menyembunyikan makna. Telah kupakai bahasa diam di situ. Aku tak mampu mendekatkan jarak bahasa itu menjadi satu kesatuan. Aku hanya melawan diri sendiri, tak lagi mencoba menarikmu pada cakrawalaku yang memang sepi. Sungguh, aku merasa tak ada apa-apa di sini. Lihatlah, aku sering termangu di depan jendela depan rumahku, mengamati ayam dan burung gereja yang mencari makan.

Aku ingin memasuki lorong waktu. Melihat dirimu yang sendiri, yang tengah merenungi kehidupan ini. Tapi pikiranku sendiri sedang kalut dan cemas tentang anakku. Tuhan, Engkau sungguh Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Maka selamatkanlah kedua anakku dari tipu daya dunia, hindarkanlah dari bisikan setan yang terkutuk. Nampaknya hari ini kami tengah ditimpa musibah yang tak terduga sebelumnya. Mudah-mudahan semuanya berjalan baik-baik saja, terhindar dari segala fitnah yang memang keji. Hidup di dunia ini hanya ingin selamat, juga selamat di akherat kelak. Kita akan selalu pasrah atas segala kehendak-Nya. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang pandai bicara dan disenangi banyak orang, ada yang kaku, kurang ramah. Ada yang memiliki mental baja, pantang menyerah dan pekerja keras dan tekun, ada yang lembek. Begitulah.

Lembaran 4

Masih tak ada tanda-tanda penghidupan yang pasti. Tapi itu bukan berarti aku pantas cemas di hari ini. Maka, dengarlah musik itu yang terus mengalun, bisa melembutkan hati. Kita masih berpusar pada kehidupan yang penuh misteri ini, seraya tak pernah lepas pada tali Allah Yang Maha Pemurah. Tapi baiklah, aku telah bisa melupakan perkara perasaan terhadap perempuan itu. Kini hanya jadi sejarah indah, dari sebuah narasi kecil dalam sisi kehidupanku. Tak berlebihan dan tak ada makna lain yang bisa dipetik jadi manfaat besar dalam kehidupan yang memang luas dan warna-warni ini. Aku hanya bisa menangis dalam hati, sedikit lega, sekaligus masih siap menerima peristiwa baru lagi yang mungkin akan lebih dahsyat. Dari peristiwa ke peristiwa berikutnya.

Kadang, banyak yang kita pikirkan, dan semuanya serba setengah-setengah. Dengan kemurnian hati kita merasakan kekosongan waktu yang tengah berjalan ini. Kita terus menyerap, merasakan, dan menghayati anugerah kesehatan ini, misalnya, dengan banyak berzikir. Celakanya, pengetahuan kita selalu serba nanggung. Ada keyakinan atas kebenaran yang hakiki, tapi selalu saja kita menganggap ringan dan sepele. Kita akan terus jadi manusia biasa, tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan di akherat yang sebenarnya. Jangan terlalu suntuk dengan perasaanmu sendiri. Aku terluka saat aku tak berani menyatakan satu kejujuran, tak berani menanggung tanggung jawab sosial atas kesalahan-kesalahan yang telah aku lakukan.

Aku tak bisa memperlakukan bahasa untuk sekadar penampakan egoisme dan keangkuhan intelektualieme. Hidup memang sangat memeras pikiran. Kita menikmati rezeki pikiran waras untuk lebih banyak bertasbih pada-Nya. Dan yang harus disyukuri, kita masih diberi kesempatan hidup untuk menulis, membaca, dan jalan-jalan. Celakanya kita kadang tak tahu apa yang harus ditulis, dan untuk apa jalan-jalan. Maka, aku lebih banyak menulis bagaimana satu masalah itu ditulis, bukan apa yang harus ditulis.

Bulan ini ditandai dengan kenaikan BBM dan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Daya beli rakyat semakin rendah. BBM langka, sejumlah SPBU kekurangan pasokan bensin dan solar, dan antrean panjang jadi pemandangan sehari-hari. Dan hari ini anakku Afrizal mengikuti Ujian Nasional SD. Maka rasanya hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin. Mutu kehidupan merosot. Kehidupan semakin rawan. Kejahatan meningkat. Negeri ini terus menumpuk hutang, tabungan dikuras habis.

Lembaran 5

Pingin rasanya aku mengajak rohku mengenali lagi suara-suara murni seperti dulu, dari roh Muhammad, orang suci itu. Atas nama kemurnian hati dan isi yang begitu menyatu, yang begitu dekat dengan Sang Penciptanya. Tapi takdirku telah ditentukan. Kini, entah kenapa, aku merasakan kekosongan pikiran yang akut. Dan tak ada bahasa diam yang bisa menenangkan. Keluh kesah sebagai manusia. Cara berpikir yang ingin diubah. Ada yang menyarakan banyak hal, diantaranya, biarlah kita dalam kondisi seperti ini. Hidup yang dihela oleh kesabaran dan menunggu. Seperti juga menunggu makna, siapa tahu tiba-tiba ia hadir tanpa disangka. Atas nama pendidikan yang ditempuh setengah matang. Kita akhirnya hanya menjadi manusia Indonesia yang setengah matang. Dengan menerima kesedihan atas nama kapitalisme global yang semakin menjajah. Kita masih tak bisa menerima pendidikan secara gratis. Banyak yang prihatin tapi hanya bisa prihatin, tak bisa membuat keputusan yang sanggup menyelamatkan nasib banyak orang, terutama masa depan generasi muda.

Kita hanya berharap semoga ruh itu senantiasa mengajak pada sesuatu yang tinggi, yang mulia. Setiap hari kita mencoba menyucikannya. Yakni ruh yang masih bergandengan dengan badan, bentuk lahir dari penampakan yang kasat mata itu. Jutaan ruh yang hidup dan bergerak di dataran Indonesia juga. Yang saling berinteraksi, yang saling membaca. Dan lihatlah di Harian Kompas, sudah banyak orang memberikan pendapatnya soal sistem pendidikan kita yang carut-marut itu. Tapi belum ada perubahan yang signifikan, yang bisa dirasakan manfaatnya oleh sebagian besar rakyat. Mereka yang pintar semakin mengerucut, yang bodoh bagai buih dari ombak yang menghempas pantai. Ini adalah tanggung jawab semua warga negara yang sadar pentingnya pendidikan, tak boleh ada yang tak punya kesempatan untuk sekolah. Celakanya, lembaga pendidikan kita banyak yang ditumbuhi sarang laba-laba.

Lembaran 6

Mari banyak berterima kasih pada alam dan manusia. Ada dasar-dasar kehidupan yang harus dijaga. Secara kodrati, malam untuk istirahat, dan siang untuk mencari rezeki. Jangan dibaliklah. Menghayati maut adalah penghayatan yang sungguh menghasilkan ketercekaman. Kita harus mencoba belajar menulis tentang itu. Ketika saat maut itu datang, apa yang tengah kau rasakan, coba. Pagi-pagi sekali, ketika semua orang masih tertidur lelap. Malaikat yang tengah melaksanakan tugasnya.

Lembaran 7

Semalam kita sempat memperbincangkan takdir. Engkau percaya bahwa semua manusia telah ditentukan takdirnya, sejak awal, sebelum manusia itu lahir ke dunia. Kita hanya memohon kepada Tuhan agar mendapat takdir yang baik, ditakdirkan menjadi orang yang baik. Tapi hari ini aku berzikir cuma sebentar. Dunia telah mempermainkan diriku menjadi diri yang lain. Tak ada perang dengan diri sendiri. Kalau Tuhan Maha Kata-kata, maka aku tak akan bisa sebanding dengan mereka. Selalu ada pernyataan yang berputar-putar. Sejumlah hari adalah keterlenaan yang sangat fatal. Orang bisa menangis karenanya.

Ada hari yang terus menggumpal seperti kekosongan. Bahasa tubuh yang semakin tak mudah dipercaya.

Boleh jadi hatiku kering. Boleh jadi aku harus menyesal. Boleh jadi masa depan, akhirnya, semakin suram. Boleh jadi ada nasib buruk yang tengah mengintai. Boleh jadi ini pengakuan yang konyol. Boleh jadi aku kelak tak akan jadi apa-apa. Boleh jadi aku telah melakukan banyak dosa. Boleh jadi aku telah melalaikan banyak pekerjaan yang bermanfaat. Boleh jadi aku dibenci Tuhan. Boleh jadi aku tak banyak dicintai oleh antar-sesama. Boleh jadi aku egois. Boleh jadi aku individualistis. Boleh jadi aku materialistis. Boleh jadi segala sifat buruk lama melekat dalam hatiku. Boleh jadi aku tak bisa jadi orang suci. Boleh jadi aku ditakdirkan jadi orang sengsara dunia akherat. Boleh jadi aku kurang banyak bersyukur. Maka kesedihanku seperti air. Tubuhku menggigil dalam cuaca. Menyaksikan wahyu itu turun perlahan. Pada air pancuran di tepi kali.

Lembaran 8

Ya, banyak orang telah kehilangan bahasa. Kita heran banyak kata-kata terbuang ke keranjang sampah. Padahal kita tahu banyak orang menulis tak sekadar menulis. Tapi berbanggalah, nasionalisme di Indonesia semakin mengakar berkat bahasa Indonesia. Kita tengah memelihara bahasa Indonesia yang baik dan benar. Barangkali secara perlahan meninggalkan tradisionalisme, atas nama nilai-nilai baru keindonesiaan yang diperkaya nilai-nilai tradisi. Maka beginilah jadinya kita sekarang, banyak melihat dunia luar yang tampak lebih maju. Seratus tahun kebangkitan nasional yang dirayakan tahun ini adalah momentum untuk mencapai kesadaran berbangsa dan bernegara baru. Karena bangsa ini sudah waktunya bangkit, mungkin kalau dirlukan dengan cara revolusi. Atau dengan cara memotong generasi, yakni membuang pejabat publik sebagai pemimpin busuk ke dalam rumah jompo.

Tentu saja ini proyek maha berat, terutama bagi para mahasiswa dan masyarakat kelas menengah keatas yang masih konsen dengan perubahan. Rakyat harus dididik untuk tidak lagi mau memilih pemimpin busuk, yakni pejabat publik yang nyata-nyata korupsi dan yang tak memiliki nilai spiritual dan kemanusiaan yang tinggi. Aku hanya bisa menyeruput kopi dan makan nasi bungkus. Mereka enak-enakan plesir dan naik mobil mewah, harta benda melimpah hasil dari menggarong uang rakyat lewat sebuah kelicikan dan kemunafikan. Karena rakyat kecil sering dizalimi oleh penguasa maka lawan. Ini adalah kewajiban yang dibenarkan agama. Penguasa yang tidak bisa berbuat adil pada rakyatnya harus dilawan. Unjuk rasa mahasiswa yang sering ditindak aparat dengan kekerasan adalah kebiadaban yang tidak manusiawi, maka tidak salah kalau mahasiswa mencoba mengimbangi aksi kekerasan aparat polisi itu. Kalau toh opini di media massa terkesan selalu menyudutkan tindakan yang dianggap anarkis oleh penguasa itu kita maklum. Sebab, kita toh tahu penguasa pun ikut bermain opini dengan kekuasaannya. Banyak media massa yang tak lain adalah tangan-tangan pemerintah yang anti demokrasi.

Apa pendapat kamu tentang Indonesia? Ialah sebuah negara yang ruar biasa. Orang suci dan orang busuk bisa saling bersalaman dengan mesra. Ada Gus Dur yang suci tapi juga ada Susilo Bambang Yudhoyono yang sebaliknya. Kita sedang menebang pohon. Membaca gerakan sosial yang ingin dibangun lewat partai politik, secara elitis dan masif. Adakah rasa kemanusiaan di situ? Juga membaca pergerakan bangsa dan negara ini, adakah cita-cita mulia yang disandangnya?

Lihatlah, kami masih mencoba untuk berefleksi, walau dengan perbendaharaan pengalaman yang minimal. Atas nama perjalanan sejarah Indonesia yang masih pendek, yang hanya ditemukan momen Sumpah Pemuda di tahun 1908, cikal bakal bangkitnya nasionalisme. Sejauh mana rasa kebangsaan kita, rasa cinta tanah air di wilayah kepulauan, di Asia Tenggara ini? Dari wilayah (geopolitik) yang begitu luas dan beragam. Tapi yang ada ialah banyaknya luka sejarah: pemberontakan dari sejumlah daerah yang ingin lepas dari keindonesiaan.

Adalah niscaya kesucian manusia melebihi malaikat. Dari perkembangan teknologi informasi. Kita percaya saja bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Godaan untuk selalu berbuat yang hedonis juga diimbangi dengan panggilan untuk berbuat baik, ingin mendalami agama, nilai-nilai religius, yang spiritual. Cuma celakanya sekarang ini dunia diguncang oleh krisis pangan dan harga bahan bakar minyak yang melambung tinggi. Kalau masalah ini berlangsung lama, maka bisa dipastikan akan terjadi revolusi. Berarti ada sistem yang tidak jalan, kurang adil.

Di bulan ini dan di bulan-bulan mendatang suhu politik di Indonesia meningkat. Para politisi dan sejumlah aktivis pergerakan sama-sama melungsurkan wacana kebangsaan, yang lain hanya sekadar berpikir tentang kekuasaan. Aku tengah mencari tanda-tanda adanya revolusi di negeri ini. Memperingati hari lahir Pancasila adalah cerung renung mencoba menggali lagi kebenaran falsafah bangsa dan negara ini. Selalu saja kita bicara tentang nilai-nilai. Bangsa dimana rakyatnya banyak yang kekurangan pangan. Harga bahan kebutuhan pokok cenderung naik, pemerintah tak berupaya melakukan stabilisasi harga. Menghabiskan anggaran milyaran rupiah. Seperti tak punya malu. Ia adalah hantu birokrasi. Kehidupan yang tak menyehatkan ini terus berlangsung, seperti begitu lama, dari generasi ke generasi. Tapi sore ini, lepas dari itu semua, aku ditemani teh panas.

Ada tidur siang yang lelap. Kemudian dihidupkan kembali, seperti dituntut melaksanakan ibadah. Lihatlah warna dari rona kehidupan manusia itu. Tak ada politik dan kekuasaan di situ: kelewat tenang dan hati nurani yang berjalan. Mestinya kita segera melupakan mimpi-mimpi tentang kemuliaan pribadi. Terus berpikir peran kita sebagai makhluk sosial. Aku sedih jika tak bisa berperan lebih, minimal untuk lingkup kecil dimana aku tinggal. Sebelum mati, dan ngeri tak meninggalkan jasa apa-apa yang bermanfaat. Jadi, kenapa harus tersinggung atas sejumlah kritik dari teman? Ternyata banyak yang aku perhatikan, terutama perkembangan spikologis kedua anakku yang banyak tinggal bersama ibunya.

Inilah bangsa Indonesia yang majemuk itu, terimalah. Atau, inilah kabupaten Banyuwangi, sebuah kota kecil di ujung timur Pulau Jawa, dekat Bali. Mungkin aku akan tinggal selamanya di situ. Ada warna tradisional yang selalu bersentuhan, yang kadang sangat akrab dan bersahaja. Nenek-nenek tua yang tampak masih tangkas berjalan dan mengurus rumah. Pergi ke ladang dan kebun-kebun yang rimbun memetik sayuran untuk sarapan pagi. Turun ke kali membersihkan diri sambil bersenandung. Kita sering menjumpai kehidupan desa seperti itu. Jauh dari sentuhan kebijakan dari pemerintahan pusat Jakarta, yang jaraknya hampir seribu kilometer dari Banyuwangi itu. Ada yang berusaha meredakan gelisah dari era digital, sementara itu banyak dari mereka yang tak terpengaruh, terutama orang tua yang gagap teknologi. Bersyukurlah. Kita bisa mengunyah kedua sisi kehidupan itu dengan terus berbuat dan berpikir secara wajar dan alamiah.

Lembaran 9

Kali ini, kata-kata akan mengalir kemana-mana. Tapi kata-kata bisa bergerak ke atas, tak hanya mengalir ke bawah. Ia seperti air ajaib yang bisa menembus hatimu. Ada yang menggerutu senang ketika ia dibilang cantik. Tapi ia masih selalu sibuk mencari uang, seperti tak ada ruang waktu untuk memperhatikan suara hatinya sendiri, dirinya sendiri. Sementara itu, besok dunia akan menyaksikan bergulirnya piala Eropa, Euro 2008 di Swiss dan Austria. Perhelatan sepakbola Eropa, kawasan negara-negara maju di dekade ini. Ia memang tak tertarik dengan sepakbola. Sebuah bola yang ditendang kesana-sini oleh dua kesebelasan. Permainan dunia dalam sepakbola yang ingin dicari akar filsafatnya. Ternyata begitulah, dari tahun ke tahun sejarah mencatat banyak drama dan sensasi dari sepakbola. Pertanyaannya, apa yang pantas dikenang dari semua kejadian di lapangan dan di luar lapangan hijau itu?

Ia tidak perduli dengan hiruk pikuk, dengan orang ramai yang kini tengah demam sepakbola. Tapi yang pasti ratusan juta manusia akan menyaksikan pertandingan demi pertandingan si kulit bundar ini. Perhelatan empat tahun sekali yang tak bisa dilewatkan. Tentu saja kita harus melek bengi untuk bisa nonton secara langsung di televisi. Sebulan penuh kita harus begadang, apa boleh buat.

Lembaran 10

Tentu saja kita jadi tak berdaya. Tentu saja segalanya akan tergantung pada-Nya. Tentu saja itu pasti. Dan waktu terus bergulir: dari senja ke senja. Selalu muram. Karena yang selalu diingat adalah kemuraman. Tak ada lagi keceriaan di situ. Tak ada keceriaan seperti di masa kanak. Masa kanak yang telah jauh berlalu. Yang tersisa kini adalah kemuraman. Waktu telah menyodorkan kemuraman, justu di saat kita memasuki usia senja. Padahal kita tengah berupaya keras menolaknya, ingin terus bahagia. Ingin bahagia di usia senja. Hidup secara ritmis tanpa banyak guncangan yang menghebohkan.

Celakanya guncangan itu datang bertubi-tubi. Semakin diselimuti sebentuk kecemasan saat kita merasa sudah begitu dekat pada kematian. Tentu saja kita merasa tak berdaya melawan waktu, dan waktu memang tak perlu dilawan. Ia memang bukan musuh, tapi mungkin, sahabat dekat yang tak kita sadari selama ini. Sahabat dekat yang tak pernah lepas sedetik pun dalam tubuh kita yang hidup. Selamat tinggal, sayang. Aku akan pergi jauh. Semuanya pasti berakhir. Semua tinggal menjadi kenangan. Kenangan demi kenangan yang terkubur. Yang selalu ditandai dengan air mata. Dari namamu dan tawamu yang renyah itu. Aku tahu semua itu indah, syahdu, sungguh romantis. Disaksikan nyanyian ombak dan desir pasir di pantai yang sepi itu. Engkau selalu tersenyum, seperti tak terjemahkan untuk bisa mengucap syukur pada keagungan-Nya. Kita yang saling percaya dan saling mencinta. Apa lagi yang harus dicemaskan?

Lembaran 11

Kita telah lama melupakan komitmen, kawan. Kita sekarang tidak konsisten dengan cita-cita. Apa yang telah banyak menyita waktu kita sehari-hari? Menangislah untuk sebuah kekalahan ini: sisa hidup yang menipis, dan daya ingat yang juga semakin melemah. Kita malu pada Goenawan Mohamad, Daoed Joesoef, dan YB Mangunwijaya. Pandangan dan nilai-nilai hidup yang bagaimana lagi yang harus kita miliki untuk bisa ?bahagia?? Maka, luangkanlah waktumu untukku barang sejenak saja. Mari kita berbicara mesra seperti dulu lagi. Melungsurkan kasing sayang, membaca tanda-tanda cinta di mata dan degup jantung. Sejak dulu kita melawan kapitalisme dan materialisme, bukan? Kenapa kita merasa terus-menerus terpuruk dan merasa tak berdaya berhadapan dengan kapitalisme? Ini tak ada hubungannya dengan kemanusiaan dan sebuah kearifan yang sadar atas kehidupan yang alami.

Lembaran 12

Hindarkanlah saudara-saudaraku dari iri dan dengki. Senantiasa melungsurkan kalimat-kalimat santun. Bahwa ini bukan lagi masalah kemiskinan, tapi jelas perihal harga diri dan kemandirian. Menjunjung harga diri dalam arti tidak selalu menyusahkan saudara, malu melakukan hal-hal yang kurang terpuji. Omi Zulkarnaen mati subuh tadi. Mati muda dengan meninggalkan anak istri. Jadi, maknanya, hidup ini memang sementara. Kedua orang tuanya yang telah memenuhi tanggung-jawabnya sebagai orang tua melepas kepergiannya dengan air mata. Banyak dari kita yang tak perduli. Sebab kematian ada dimana-mana. Sebab ada hati yang semakin mengeras, tak tersentuh kasih sayang dan rasa simpati terhadap sesama.

Kadang kita hidup sering melukai diri sendiri. Sangat cemas pada masa depan. Begitu gelisah pada realitas yang menampakkan kekerasan dan sebagainya. Adalah nasib yang selalu dianggap buruk, tak ada perubahan yang berarti.

Lembaran 13

Aku menjumpaimu saat air mata itu telah mengering. Seperti puisi mati dalam peti jenasah. Tapi aku mencoba membongkar lapis demi lapis riwayat daun di situ. Seperti hujan kemarin, bau tanah dan asap dupa masih menyergapku. Aku tak percaya engkau telah tiada. Seharum bau kematian itu sendiri, dari semerbak kembang mawar dan melati yang menembus kamarku. Di sini, semakin tegas dan penuh makna saat senyum di potretmu itu terus memandangku. Dinding ikut gemetar. Padahal ribuan puisi telah kutulis atas penampakan matamu. Dan getaran jiwamu yang senantiasa bercahaya. Tak ada isyarat sebelumnya, bahwa perjumpaan mesra kita berakhir di situ.

Lembaran 14

Mungkin tak ada yang indah selain dirimu. Tuhan Maha Besar dan Maha Berkehendak. Kekaguman demi kekaguman terus mengalir untukmu. Tentu saja Tuhan Maha Adil. Tapi Estu mengaku ia selalu banyak bersyukur pada-Nya. Memang harus banyak bersyukur. Betapa tidak? Apalagi hujan mulai turun, Banyuwangi mendung setelah sekian hari tak pernah turun hujan dan debu berterbangan. Debu yang berakrobat di udara itu memenuhi ruang tamu rumahku. Menclok diam-diam tanpa sepengetahuanku. Tiba-tiba semua lemari meja dan kursi berdebu.

Lembaran 15

Kembali ke akar kata. Ada wacana yang bagus tapi akhirnya tak jadi diterapkan. Malingnya lebih kuat tinimbang mereka yang berjuang ingin menegakkan kebenaran. Pembangunan Masjid Agung Baiturrahman yang terkatung-katung karena masalah pendanaan, memicu takmir masjid memasang spanduk yang isinya menyentil bupati Ratna untuk segera mencairkan dana APBD untuk itu. Bupati menginginkan jalan protokol depan masjid itu dibuka lagi, demi kelancaran arus lalu lintas dari utara ke selatan. Pertikaian antara petinggi Banyuwangi dengan masjid ini tampak semakin memanas.

Kita tahu bahwa isi spanduk itu adalah ungkapan kekesalan pihak masjid pada Bupati. Sebagai seorang muslim yang baik, mestinya kita mencontoh sikap nabi yang arif bijaksana. Ternyatalah, membentuk masyarakat yang santun dan berbudaya itu perlu proses yang melelahkan. Sebab kehidupan barbar sekarang masih saja terjadi di sana-sini. Dikalangan elite, mereka berebut dengan segala cara untuk menjadi wakil rakyat. Sementara di sana ikon demi agama terus diperjuangkan dengan cara kekerasan. Ya, ini karena kehidupan dunia.

Lembaran 16

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari jadi tersangka. Dia tersandung kasus korupsi lapangan terbang Blimbingsari. Masalah ini saya tidak banyak komentar. Tapi saya, lewat Aliansi Rakyat Banyuwangi Bersatu telah berkirim surat ke Mahkamah Agung. Intinya, proses hukum harus ditegakkan. Jika Ratna di pengadilan nanti terbukti bersalah, maka dia pantas dihukum berat. Untuk kasus korupsi tidak ada kompromi. ARBB akan ikut terus memantau jalannya proses persidangan ini. Ikut mengawal dan mengawasi, sehingga diupayakan tak ada celah ?main mata? antara penegak hukum dengan tersangka. Kasus korupsi, ehm, harus dihukum berat, dan pemerintah punya komitmen untuk memberantasnya demi kehidupan rakyat yang sehat, bebas dari korupsi.

Sementara itu, di peristiwa yang lain, telah dilaksanakan Pelatihan Strategi Mengungkap Korupsi, tanggal 11 ? 12 September 2008 di Pondok Wina. Pelatihan yang diselenggarakan oleh LSM Blambangan Anti Korupsi, itu juga menghasilkan Aliansi Rakyat Banyuwangi bersatu (ARBB) yang saya koordinir, bersama Agus Sapari. Instruktur pelatihan, Sekjen Garut Government Watch Agus Sugandhi, SH adalah aktivis yang pas dan kompeten sebagai pemateri tunggal.

Lembaran 17

Bulan Ramadhan tahun ini berjalan sungguh luarbiasa. Belum apa-apa, di hari pertama, aku sudah tidak berpuasa. Sebenarnya, tidak makan minum dan merokok adalah satu tantangan biasa. Aku sudah sering mengalaminya, dari tahun ke tahun, seperti orang muslim pada umumnya. Bahwa Tuhan Maha Pemurah dan Maha Penyayang umat-Nya. Dalam hal ini, aku tidak sangsi lagi. Ada hukum besi yang tak bisa dihindari, yakni datangnya maut. Oleh sebab itu, sebagai orang beriman, mestinya aku patuh pada perintah-Nya, dan menjauhi segala larangannya, seperti makan babi.

Lembaran 18

Mari langsung masuk pada inti persoalan. Bahwa sejarah memang perlu banyak diketahui untuk berkaca diri. Peluncuran buku kumpulan cerpen Iqbal Baraas ?Pesta Hujan di Mata Shinta? Rabu, 24 September di Pendopo Kantor Dinas Pariwisata Banyuwangi adalah bagian dari sejarah. Komunitas kecil penggemar sastra di Banyuwangi masih tak beranjak dari person lama. Pomo Martadi dan Yudi Pay tak hadir di situ karena mereka telah mati. Ada yang merasa janggal dan hambar. Tapi ada beberapa peminat baru yang diam-diam masuk, mencoba mengisi ruang kosong proses kreatif. Akhirnya, event itu telah mengalahkan kedongkolanku pada sosok pemain lama yang kini sudah tak kreatif lagi. Akhirnya kita harus giat mencari sendiri di internet siapa saja penulis baru di Banyuwangi yang konsen pada dunia seni yang intens, dunia teks pada umumnya. Tapi yang jelas, setiap mengadakan kegiatan sastra perlu dana. Dan kita tak pernah merasa kehilangan kata-kata.

Harga kertas dan tinta semakin tak terjangkau oleh para pengarang, tapi aku tak peduli. Proses kreatif sudah seyogianya berjalan terus. Memompa semangat penciptaan tiada henti. Pengarang tak akan pernah lupa untuk menulis, kecuali Mohamad Iqbal Baraas, mungkin. Lounching buku cerpen Iqbal, mungkin bisa dimaknai para undangan sebagai bagian dari peta sastra Banyuwangi. Tapi bagiku, proses penciptaan adalah masalah kedisiplinan pengarang dalam menyiasati waktunya sendiri. Ia harus senantiasa menulis, bukan lantas sekali berarti setelah itu mati.

Lembaran 19

Bos, harus diakui, betapa sulit memacu semangat rakyat untuk mengerti bagaimana politik kekuasaan itu dibangun dengan penuh apresiasi yang wajar. Mereka yang tampak sangat berambisi memegang kekuasaan tertinggi banyak yang tak diimbangi dengan kapasitas yang layak sebagai pemimpin. Kita selalu kecewa dengan figur pemimpin hasil dari pilkada. Oleh sebab itu, bagi mereka yang punya kesadaran politik, banyak yang memilih golput. Para tokoh politik di panggung politik nasional masih saja percaya, bahwa menjadikan Indonesia yang maju haruslah secara bertahap, menghindari revolusi. Pencarian sebuah makna kemerdekaan yang terdalam, pada hakekatnya, adalah pencarian kekuatan spriritual kebangsaan yang membumi.

Lembaran 20

Maka tak ada jalan lain kecuali pasrah kepada Allah SWT. Manusia yang merasa lemah tentu berharap senantiasa pertolongan Allah. Pasrah yang benar-benar dihayati sebagai kebulatan hidup tanpa pertimbangan apapun. Artinya, ketika kita menyatakan pasrah, maka saat itulah mestinya tak ada beban lagi terhadap apa pun yang dicemaskan. Sebab Allah itu Maha Berkehendak. Pertanyaannya, bisakah kita benar-benar pasrah? Juga terhadap, dalam hal ini, menerima kekalahan beruntun, misalnya.

Memang ngeri membayangkan masa depan yang tak pasti, tanpa penghasilan, dan mencemaskan juga masa depan anak. Tapi di Idul Fitri kali ini, mestinya kita seperti bayi. Tapi di sini dan sekarang, adalah hidup dalam pelukan takdir. Kita hanya bisa merekonstruksi pikiran dan perasaan yang lebih bermoral, lebih bernyanyi dalam tarikan napas iman. Berdiri di hamparan realitas dengan rasa empati.

Jadi, menjadi manusia biasa diam-diam masih menyimpan ambisi. Ada takdir yang tak bisa ditolak. Selama hidup, kita merasakan itu: campuran antara anugerah dan siksa. Biarlah catatan ini telah kehilangan fokus. Padahal aku ingin menulis sesuatu yang indah-indah saja, yang penuh perasaan dan hikmat. Walau aku semakin merasakan kehampaan hidup. Lihatlah, bagaimana para PSK di malam lebaran kemarin masih menunggu tamu di pinggir-pinggir jalan di bambu ria. Mereka juga butuh uang untuk berlebaran. Mestinya, meski aku tak mau diajak tidur, aku bisa menjelma jadi sinterklas. Inilah kenyataan hidup para PSK yang menyedihkan. Oleh sebab itu, saat kita memandang sesama, seyogianya tak dilandasi frem teori agama taklit. Dibalik itu ada sisi-sisi kemanusiaan yang mengharukan, yang mendatangkan empati dan solidaritas sosial dari mereka yang terpinggirkan penghidupannya.

Lembaran 21

Kemarin, ada upacara (karnaval) adat Ider Bumi di Desa Kemiren. Dua hari kemudian, ada upacara adat Seblang di Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Upacara ritual minta keselamatan. Tentu saja ini sebuah tradisi, dan kita tak berani membongkarnya lebih jauh. Ada sebuah keyakinan: bahwa upacara Ider Bumi dan Seblang masih harus dilakukan oleh masyarakat setempat. Upacara yang dilakukan setelah Idul Fitri. Mereka tidak berani untuk tidak melaksanakan upacara ritual itu. Pertanyaannya, apakah jika tak dilaksanakan akan terjadi bencana? Jawabannya jelas tentu saja. Sebab ini juga menyangkut masalah psikologis, sebuah upaya ketenangan dan ketentraman batin secara individu maupun secara kolektif. Dan kita yang berada ?di luar? dan yang lain, yang ?terkecuali? hanya sebatas penonton yang bersolidaritas. Seolah-olah kita pun berharap, bahwa ritual itu benar-benar membawa berkah untuk semua, untuk (mungkin) Banyuwangi khususnya, Indonesia pada umumnya? Mungkin sebuah keyakinan bisa berubah sesuai perubahan zaman. Mungkin kelak upacara Ider Bumi dilakukan oleh generasi penerus dengan setengah hati. Mungkin. Tapi jelas pasti ada upaya dan bentuk-bentuk lain untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan.

Lembaran 22

Hidup adalah perbuatan, perbuatan adalah pelaksanaan kata-kata. Tapi hanya ada satu kata: maju! Kemajuan harus ada dimana-mana karena kita telah banyak berkeringat untuk itu (kemajuan). Masih ada semangat yang diam-diam terus tumbuh bersama waktu. Ingatan juga merayap pada hal-hal yang menakjupkan. Disitulah letak perubahan itu beroperasi. Pencapaian demi pencapaian, kesuksesan demi kesuksesan adalah keringat dunia. Ternyatalah bahwa kita terus mengusung perbuatan. Pekerjaan gampang dan menghasilkan uang berlimpah. Itulah para anggota legislatif dewasa ini. Sebuah nama besar yang dihasilkan sebagai politisi: karena ia ikut masuk dalam sistem politik negara. Aku telah masuk dalam pusaran sistem politik itu: ikut bermain dengan santai, dan menunggu hasilnya pada pemilu legislatif pada 2009 mendatang.

Perbuatan adalah pelaksanaan kata-kata. Dan demi Allah, aku hidup dengan terus mendisiplinkan diri: perang melawan diri sendiri. Kata-kata senantiasa berloncatan di situ. Sistem telah dibangun, dan dalam perjalanannya ia senantiasa bermetamorfosa. Ada perubahan politik lewat undang-undang. Sejumlah peraturan dihasilkan oleh lembaga eksekutif dan legislatif. Wahai, parmainan dunia yang sempurna!

Lembaran 23

Sore. Penampakan masih seperti puisi. Masih ada Tuhan di situ. Masih terus beringsut seperti tak terpemanai. Cahaya yang juga masih menyemburat tajam dalam sengatannya. Siapa tahu di sebalah sana ada yang diam-diam meleleh. Menguarkan kegenitan alam yang merangsang daun untuk rebah ke tanah. Tapi ini masih sore. Tentu saja ada yang tengah bersiap untuk turun ke kali. Sungai-sungi yang dulu menyimpan riwayat kejernihan air. Dan waktu yang terus berputar. Atas nama perubahan yang diam-diam membentuk wajahmu seperti itu. Tak bisa kembali seperti semula. Apa boleh buat, katamu, begitulah waktu. Demi waktu dimana orang-orang harus sibuk berkarya. Membongkar pikiran dan tenaga entah untuk apa. Ada kesejahteraan yang dikaitkan dengan pendapatan dari kerja keras. Sungguh sederhana, ketika dia bilang bahwa mempelajari teknik tidak harus duduk dulu di bangku sekolah.

Tapi ini masih sore, walau sebentar lagi turun malam. Artinya, matahari sebentar lagi tak menampakkan batang hidungnya lagi. Ia beringsut ke barat, tenggelam di barat. Sungguh setia sejak dulu kala, seperti engkau yang setia melukis untuk dijual. Tumbuh pertanyaan, apa artinya hidup. Engkau bisa berhenti sejenak, untuk sekian tahun tak melukis. Seperti mengundang inspirasi baru untuk bisa bekerja lagi seperti biasa. Tapi rasanya nonsens ketika tahu betapa hampa hidup ini. Hidup bagai melukis di atas air. Tapi tak apa, lebih baik begitu. Kita beruntung masih diberi kesempatan hidup. Hidup untuk lebih banyak berbuat, mengukir keringat jadi jejak-jejak yang dibaca waktu. Kenapa tidak?

Jadi masalahnya kita masih akan terus berputar-putar. Tapi berputar-putar yang mengasikkan, kadang tanpa kita sadari. Tarik menarik antara sastra politik dengan sastra universal kini semakin kehilangan semangatnya. Karena kita semakin tahu, bahwa sastra yang baik adalah sastra yang baik, tak perduli apakah ia bicara soal politik atau tidak. Seperti semua mahasiswa diajari bagaimana caranya mengarang yang baik. Kalau misalnya pelukis S. Yadi K telah memiliki etos kerja yang baik, maka tentulah ia termasuk pelukis produktif. Sekian ribu lukisan telah ia hasilkan tanpa berkeringat atau tidak. Akhirnya, kemalasan adalah biang kerok atas segala kemandegan. Mereka yang malas tak mungkin bisa mengukir prestasi.

Lembaran 24

Entah kenapa saya ikut berdebar-debar mengikuti proses berlangsungnya pemilu di Amerika Serikat kali ini. Mungkin saya terlalu berharap agar Barack Obama, calon presiden dari Partai Demokrat yang berkulit hitam dan pernah tinggal dan sekolah di Jakarta di masa kanaknya itu menang. Oleh sebab itu saya berdebar-debar. Ditambah lagi dari hasil jajak pendapat yang selalu mengeluarkan hasil surveinya di sana yang menunjukkan keunggulan yang signifikan untuk Obama atas lawannya, calon presiden Mc Cain dari Partai Republik. Tentu saja demam pemilu presiden di Amerika Serikat ini telah menguras perhatian dunia, termasuk saya yang mungkin ironis, memang tak punya kepentingan apa-apa terhadap apa yang tengah berlangsung di sana.

Ya, akhirnya Barack Obama menang. Amerika Serikat punya presiden baru dari kulit hitam. Obama menang mutlak di seluruh negara bagian. Boleh jadi persepsi Indonesia akan berubah terhadap Amerika Serikat sekarang. Padahal, Presiden Obama masih sekoridor dengan Presiden Bush. Artinya, negara adi daya itu masih tetap dalam kendali Yahudi. Sampai kapanpun masalah ekonomi dan kepentingan bangsa dan negara adalah hal utama, mengalahkan kepentingan kemanusiaan apapun, misalnya. Amerika tetap Amerika, tak perduli apakah Indonesia tetap terpuruk apa tidak. Cengkeraman ekonomi global dalam sistem kapitalis tetap akan diteruskan pada pemerintahan Obama. Perubahan yang diinginkan Obama adalah perubahan Amerika yang lebih maju, baik di bidang ekonomi, pertahanan dan keamanan untuk Amerika, bukan untuk kesejahteraan negara lain. Amerika bukan sejenis sinterklas yang sangat sosial membagikan modalnya secara gratis. Demokrasi Indonesia ketinggalan, atau kalah dengan Amerika Serikat, tentu saja. Krisis finansial global yang berawal di Amerika Serikat adalah penderitaan bagi mereka yang memperanakkan uang.

Sabtu, 8 Nopember 2008.
Banyak orang tua dibuat geram oleh tingkah polah anaknya yang dianggap nakal. Banyak anak yang kurang berbakti pada orang tua, tak punya sopan santun dan ingin menangnya sendiri. Mari hindari segala sifat buruk itu, anakku, katanya. Anak harus berbakti pada orang tua. Sebab jasa orang tua kepada anaknya ketika masih kecil begitu besarnya. Dari seorang anak kecil yang belum bisa apa-apa orang tua membesarkannya.

Jumat, 26 Desember 2008.
Akhirnya kita kembali insyaf, bahwa hidup harus dimaknai. Perbuatan adalah pelaksanaan kata-kata. Dan bagi penyair, hidup adalah penciptaan kata-kata. Celakanya, untuk bisa hidup seperti itu, penyair harus bergelut dengan sekian banyak persoalan. Katakanlah itu sebentuk kehendak yang hanya penyairnya sendiri yang tahu. Ada sebentuk gempuran kesia-siaan yang selalu membayang saat proses kreatif berlangsung. Mau tak mau dia harus memperlakukan kata sedemikian rupa. Ya, senjata penyair hanyalah kata. Dia harus menulis sekian banyak fakta dengan segala bentuknya. Penyair dengan sengaja memilih bentuk puisi. Manusia, akhirnya, tak harus dikotomi hanya sebagai penyair, hanya menulis puisi.

Tak ada contoh yang paling meyakinkan mana ada manusia yang sudi dan setia hanya dengan menulis puisi. Menulis puisi adalah keniscayaan, sementara itu penyair sebagai manusia biasa juga mengerjakan tugas yang lain. Masalahnya, bagaimana seseorang memiliki napas panjang, mampu menjaga kreativitasnya sepanjang mungkin. Jadi, jangan terlalu sibuk mempersoalkan makna dan manfaat puisi. Puisi yang sudah ditulis bisa dengan gampang dilemparkan ke publik. Sekarang ini banyak media yang mau menampung karya sastra. Maka itulah makna hidup adalah perbuatan. Perbuatan yang berjalan bersama kata-kata. Kata-kata adalah perbuatan itu sendiri. Dan bagi penyair, kata-kata menjadi hidup, minimal mencoba menghidupkannya. Tapi jangan bertanya bagaimana caranya penyair menghidupkan kata! Tapi siapakah yang tengah mabuk kata? Tentu saja para penulis yang hanya ingin menulis sesuatu yang indah.

2008