Sajak-Sajak Herry Lamongan

Sinyal Seratus Hari

dengan segala kereta
siang mengeluh di rel penuh peluh
engkau antar tilas luka itu
melampaui seratus hari
dan seratus hari lagi
kota-kota semakin panas mengeras
suara-suara lepas menimbun benih sajak-sajakku

masih di sana stasiun
masih pula sinyal, palang pintu, dan papan nama
tapi jam tak menunggumu di peron
hanya jejak tangan yang pernah lambai
sebutir air mata
dan cinta yang berantakan di lantai

kita seperti telah berjumpa
tapi pukul berapa engkau menangis
apakah yang hendak pulih, sayangku
kecuali robek air oleh gugur sebutir batu
kita selalu tiba pada suasana lebih jauh
daripada tempat-tempat yang pernah kita singgahi

berlalu
tanpa ada yang minta
kita kembali

2007

Sebuah Ujung

inikah laut jawa
di ujung paling timur pulau
dimana pernah sidapaksa
menyebabkan sungai wangi
setelah menikam itu tubuh

ia baringkan umur di air
ia tengadahkan darah di muara

inikah legenda
dari pamor keris paling perih,
seorang patih pernah melukis luka
ke itu tubuh

ia jenazahkan cuaca
ia kekalkan dendang senyap istriku

2007

Catatan Penat

sekolom lesung mengirim sayap pipitmu
naik dokar menjelang siang
ia masih meringkuk, barangkali tertidur
semilir puting beliung
membelaimu sejak berangkat

kusir itu dengan dasi bercorak papan catur
berhenti tepat di gerbang muka rumahku
menurunkan bebanmu,
kelepakmu yang penat

tapi siapa telah membopongmu?
kudapati engkau masih pejam
saat sampai di serambi sajak-sajakku

sekusir debat
sia-sia memanggil senyummu

tak ada yang menggendongmu
tak ada tajuk puisi di suatu koran pagi

2007

Kabar Laut

laut telah pasang
menangisi bengis waktu di teritis
pantai-pantaimu
tak akan diam hiruk tangan
hingga merah setiap mata
terbenam
tercabik-cabik dalam kubangan

laut akhirnya pulang ke pulau
berkunjung ke rumah-rumah di bumi tanpa daun
tanpa akar
pada saat kita kagum pada bingkai zaman
seperti kagum mawar pandangi wangi tubuhnya
depan cermin
padahal usia pasti layu
alum oleh gugup ombak tumpah

dan kita tak pernah bisa menambalnya
menyulamnya barang sejengkal lagi

bila laut terus tidur di sini
tak mau balik ke tempatnya bersila
kita akan berdesakan
mengagumi peta terhapus pelan-pelan
mungkin sambil pucat
menimba sisa waktu yang koyak di ujung kata-kata

2007

Purnama Langit Losari

Gerit pintu lepas dari selarak
Seakan tangan bahkan dendang
membiarku tiba ke kampung halamanmu
ke bening nafas purnama Losarimu

Latar berjejal-jejal
Kata-kata hanya desis yang tenggelam

Sajak-sajak bersila
Mengaji wadah rengat sayup-sayup
juz demi juz
Seperti koor yang monoton

Tapi daun-daun tak gugur hingga tengah malam
Sekalian wajah melukis hayat
sekalian embun hinggap pelahan
Bertasbih
seperti gigil bertasbih pada tubuh-tubuh
yang hikmat mengeja kalam

Padang makhsyar dalam pengertian
diterjemahkan Losari semalaman
tatkala samodra umat teduh mewirid
lailatul mubarokah
Aku saksikan isyarah suratmu
dan tetes pijar purnama
berkedip memanjat ubun
Menggali sukma cintamu di relung benakku

Gegas yang utuh
Denyut jantung sejamaah detak nadi
hening dalam dzikir bersama alam
Seperti Arofah ketika wukuf

Malam Losarimu
menghidupi kemarau bermusim-musim
Membasuh setiap ruhani
yang rindu wangi musyahadah

Ploso, 28 September 2007


_________________________
Herry Lamongan, sastrawan yang mulai menulis puisi Indonesia dan Jawa tahun 1983, bernama asli Djuhaeri, lahir 8 Mei 1959 di Bondowoso, Jawa Timur. Ia anak sulung dari pasangan Ismail (Polri asal Lamongan) dan Sukarsih berasal Jember. Di tahun 1972, menyelesaikan pendidikan dasar (SD) di Bondowoso, SLTP Lamongan (1975), SPG Tuban (1979). Ia diangkat guru tetap di SD Lamongan. Tahun 2000, melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi tidak diketahui telah lulus atau tidak. Ia menikahi Ashabul Maimanah, dan dikaruniai 3 anak: Radite Erlangga Adiplaguna (1988), Nur Jannati Kallista Putri (1990), dan Sazma Aulia AL-Kautsar (1998).

Karya pertama ditulis berupa puisi, dimuat koran mingguan Eksponen Yogyakarta, lalu koran Karya Bakti, Denpasar. Awalnya ingin menjadi pelukis, tapi cita-citanya kandas, karena suntuk menekuni dunia penulisan. Beberapa pengarang yang membangkitkan dirinya berkarya guritan: Suripan Sadi Hutomo, Diah Hadaning, Setyo Yuwono Sudikan, Jayus Pete. Sedang pengarang Indonesia yang jadi tokoh inspiratifnya: Putu Arya Tirtawirya, Redi Panuju, Isbedy Setiawan ZS, Wahyu Prasetya. Dunia tulis-menulis merupakan profesi sampingan, utamanya sebagai guru. Selain menulis puisi dan guritan, juga cerpen, drama, dan esai. Karya-karyanya pernah dimuat di Jaya Baya, Mekar Sari, Djaka Lodang, Jawa Anyar. Beberapa ratusan guritan telah ditulis antara lain: Gurit Lemah Cengker, Saben Mangsa, Panjebar, Layang Kagem Bapak, Arum Kusuma, Nalika Surya Madal Pasilan (Antologi biografi pengarang sastra Jawa modern. Suwondo, Tirto, Penerbit Adiwacana Yogyakarta 2006 (wikipedia). Antologi tunggalnya, Lambaian Muara (1988), Latar Ngarep (2006), Surat Hening (2008).