Titisan Senja

Pranita Dewi
http://www.balipost.co.id/

Warna malam begitu kelam. Sungguh sangat kusam. Seakan malam tahu suasana hatiku yang muram. Tak kudengar nyanyian cicak yang biasanya suka bersenandung di dinding-dinding kamarku, menunggu terbitnya fajar. Entah apa yang terjadi malam ini. Mungkin Tuhan tidak adil padaku? Betapa tidak? Sekejap pun mataku tak mampu terpejam. Pikiranku berputar-putar memasuki labirin kenangan demi kenangan. Tak satu pun kutemui jalan keluar yang mampu membebaskan aku dari kenangan.

BEGITU gundah hatiku kini. Sisa-sisa malam masih mengambang di jendela kamarku. Dedaun pohon waru di halaman gemerisik dimainkan angin dinihari. Bulan seperti perahu berayun-ayun di antara awan kelabu. Burung hantu yang suka merenungi kelam malam di dahan pohon waru itu, masih saja terangguk-angguk, memamerkan suaranya yang parau, namun menyeramkan. Matanya yang bulat dan penuh cahaya kegaiban itu seperti mampu menyorot isi perasaanku.

Memang hatiku sedang terkenang akan sesuatu. Tiba-tiba saja kenangan itu muncul lalu menyergapku tanpa ampun. Akibatnya aku tidak bisa tidur, meski jarum waktu telah menunjuk angka dua pada jam di dinding kusam kamarku. Ternyata, lelaki itu, kenangan itu telah membawaku terjaga sepanjang malam. Senyumnya yang dingin, yang menyimpan beribu gunung es di tengah samudera yang siap membekukan siapa saja, kembali membayang-bayangi hatiku. Parasnya yang senantiasa nampak muram dengan pandangan mata sekelam malam, timbul-tenggelam di dinding-dinding kamarku. Dan, rambutnya…! Rambut yang ikal itu seperti segulungan gelombang yang mampu melipat dan menelan siapa saja, terlebih yang merasa jatuh hati padanya.

Malam ini, aku merasa bahagia, namun juga pedih. Aku kembali bertemu dengan penyandang bulanku, meski hanya berupa kenangan usang. Ah, aku tak mau terlalu berharap! Siapa tahu ia bukan penyandang bulanku yang kembali berlayar, entah ke mana. Atau bisa jadi ia racun paling mematikan yang dikirim entah oleh siapa untuk membinasakan aku dalam keluguan cinta? Membayangkan ini, aku jadi ngeri sendiri!

***

SEMUA ini bermula ketika aku masih bekerja sebagai penjaja koran. Mengapa aku mau menjadi penjaja koran? Usiaku waktu itu 15 tahun, masih kelas 3 SMP. Orangtuaku cukup mampu membiayai sekolahku, meski tidak kaya untuk ukuran seorang guru. Meski aku tidak dididik layaknya anak tentara, namun aku mencoba untuk belajar hidup mandiri, berdiri di atas kemampuanku sendiri. Untuk itulah aku menjadi penjaja koran ketika libur panjang sekolah.

Dan, ayahku yang seorang guru sangat bangga melihat putrinya mencoba belajar hidup, belajar mengais rejeki di bawah terik dan sengatan matahari kota. Namun tidak demikian halnya dengan kawan-kawanku. Ada saja yang menyindirku dengan perkataan yang seringkali aku anggap angin lalu, namun sesekali juga menyakitkan hatiku. Mereka merasa malu mempunyai kawan seorang penjaja koran. Maklum kawan-kawanku itu rata-rata anak orang kaya, anak pengusaha, anak pejabat, anak penguasa kota, anak mami. Sedangkan aku hanya anak seorang guru sekolah dasar.

Maka aku pun menjadi penjaja koran, dengan segala kepercayaan diri yang kumiliki. Saat itu, matahari menumpahkan segala sinarnya, meluapkan segala cahayanya di jalan-jalan kotaku. Dengan bertemankan topi rimba yang selalu setia melindungi kepalaku dari kejamnya sengatan matahari siang, aku menyusuri jalanan yang sibuk dan pikuk oleh segala macam kendaraan. Tanpa sungkan aku menjajakan koran kepada para pengendara yang melepaskan ketegangan lalu lintas di depan lampu merah.

Setelah beberapa hari menjajakan koran, aku pun mulai akrab dengan penjaja koran yang lain, yang umumnya anak laki-laki yang sebaya denganku. Hanya aku seorang yang perempuan. Aku pun menyadari betapa susahnya mencari uang dengan tangan sendiri. Begitu banyak saingan, begitu banyak tantangan.

Terkadang aku pun tidak lepas dari gangguan penjaja koran lain, yang tidak rela wilayah kekuasaannya direbut oleh penjaja koran perempuan seperti aku ini. Namun selalu saja kawan akrabku, penjaja koran yang bersimpati kepadaku, membelaku dari gangguan anak-anak bandel itu. Kami pun semakin akrab. Aku merasa mendapat perlindungan. Sering kali kami bahu membahu dalam menjajakan koran. Kalau korannya telah habis terjual, ia seringkali membantu menjajakan koranku tanpa meminta imbalan sepeser pun dariku. Aku kagum dan bersyukur atas kebaikannya.

Suatu kali aku menjajakan koran kepada seorang bapak pengendara mobil Mercy. Saat itu lampu merah menyala. Aku menjadi leluasa menjajakan koran kepada para pengendara. Ketika kutawarkan koran kepadanya, bapak itu malam menatapku dengan aneh. Bapak itu memandangku begitu lekat seakan melihat malaikat yang mendadak turun dari langit. Aku jadi serba salah dan kikuk dibuatnya. Mungkin ia merasa aneh melihat seorang gadis menjadi penjaja koran. Bapak itu membeli koran yang kutawarkan. Ia membayar dengan uang dua puluh ribuan. Disuruhnya aku mengambil kembalian uang itu. Aku jadi heran. Apa tampangku sangat memelas sehingga bapak itu merasa kasihan denganku? Setelah dipaksa-paksa, dengan perasaan sungkan aku pun menerima kembalian itu, sembari mengucapkan terima kasih. Kejadian serupa itu beberapa kali kualami. Ternyata Tuhan masih menyayangiku.

Jarum jam di tangan menunjuk angka tiga. Sudah sore. Perut lapar tidak terasa. Aku duduk di trotoar jalan yang hampir meleleh ditimpa terik matahari siang tadi. Senja belum juga ber-tiwikrama. Senja belum menitis. Sejumlah koran belum terjual.

Dengan langkah gontai aku berjalan menyusuri sore. Langkahku terhenti di sebuah taman kota yang teduh. Di kota yang sumpek ini, hanya di taman kota ini aku menemukan sedikit kesegaran dan keteduhan. Di sebuah bangku kayunya aku duduk dan tenggelam dalam lamunan. Sampai akhirnya aku sadar, ada seseorang yang juga duduk di sampingku. Seorang lelaki. Lelaki itu termangu dengan pandangan kosong menatap ke arah senja.

Aku mengutuki diriku sendiri, ”Senja tidak akan menitis. Senja masih malu untuk ber-tiwikrama. Bagai rumputan kering yang menunggu pagi.”

”Senja yang indah akan segera menitis. Ia akan segera menjelma menjadi suara takdir yang paling akhir,” sahutnya tanpa kuminta, masih dengan tatapan hampa.

Aku berpikir. Sepertinya aku pernah melihat lelaki ini sebelumnya, tapi di mana? Oh ya, aku ingat sekarang. Ia adalah lelaki yang pernah menyapaku dengan aneh pada sebuah acara pembacaan puisi yang pernah kuhadiri. Seorang lelaki aneh yang membuat hatiku terjerat. Namun, kenapa aku harus bertemu di taman kota ini? Sungguh sebuah pertemuan yang tidak kuduga sama sekali. Apakah pertemuan ini telah direncanakan oleh Tuhan? Tiba-tiba saja kepercayaan diriku mendadak luntur. Entah seperti apa wajahku saat itu. Sungguh aku sangat malu.

Setelah susah payah mengumpulkan keberanian, aku pun mencoba menyapanya. Tanpa diduga ia menoleh ke arahku. Ia tersenyum. Namun aku bisa merasakan senyum yang sangat dingin. Sebeku gunung es. Aku pun jadi kikuk dan jelas salah tingkah. Mata itu, oh, mata itu sungguh begitu jemu memeram kegalauan hati. Kami pun berkenalan.

”Nita.”
”Asa.”
Begitu singkat. Begitu pendek. Sungguh sangat lugas. Ia pun kembali pada keasyikannya semula, menatap senja. Agaknya lelaki ini begitu mengagumi senja.
Adakah ia titisan senja?
Tanpa kuminta, Asa mulai berceloteh perihal dirinya. Agaknya bukan berceloteh, lebih tepat bergumam sendiri. Tentu dengan mata jemu yang tak mau menoleh ke arahku. Mata yang sesungguhnya lumayan indah dan teduh itu tetap saja menatap ke depan, ke arah senja yang mulai menampakkan kilau jingga.

Asa kuliah di Fakultas Kedokteran di sebuah kampus di kotaku. Sesungguhnya ia tidak berminat menjadi dokter, seperti yang dibanggakan banyak orang tua. Ia lebih suka melukis dan menulis puisi. Ayahnya yang telah memaksanya untuk kuliah di Fakultas Kedokteran, tentu dengan harapan kelak anaknya akan menjadi dokter dan bisa cepat kaya. Padahal si anak sama sekali tidak berminat, meski ia mempunyai kemampuan untuk itu. Asa hanya ingin membahagiakan orangtuanya.

Masih dengan tatapan yang sendu, Asa memandang jauh ke arah senja. Ia seakan ingin menembus dan larut di dalam warna jingga yang disemburkan oleh senja itu. Dasar lelaki aneh, pikirku. Namun, sikap anehnya ini keburu membuat hatiku jatuh ke dalam kubangan cinta. Diam-diam aku menyukainya. Namun, ia selalu menungu titisan senja. Dan ia sangat yakin senja akan segera menitis di hadapannya.

Aku jatuh cinta kepadanya. Tapi aku tidak ingin ia mengetahuinya. Biarlah aku simpan rahasia ini hanya untukku sendiri saja. Sebab aku tak berani menduga, apakah ia juga menyimpan perasaan yang sama denganku? Duh…. aku tak sanggup memikirkannya.

***

HARI berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tanpa kuduga, taman kota telah memeram kisah antara aku dan lelaki aneh itu. Taman itu senantiasa membangkitkan kenanganku padanya, meski ia tidak di sampingku lagi. Hanya taman itu yang tahu bagaimana aku mencoba memberikan hatiku padanya. Setiap senja mulai tiba, aku duduk di bangku kayu di taman kota, menunggu kehadirannya. Kami pernah menikmati senja yang bermekaran indah di hadapan kami. Namun, senja pertemuan terakhir dengannya, aku tidak pernah tahu ke mana Asa pergi. Ia menghilang begitu saja, seperti ditelan senja yang selalu jingga. Saat perpisahan terakhir ia hanya berpesan, suatu saat ia akan hadir di hadapanku membawa titisan senja. Ia yakin suatu ketika senja akan menitis di hadapannya, dan membawakan senja jingga itu, hanya untukku seorang.

Sebelum ia menghilang tanpa jejak, pertemuanku dengannya setiap senja merupakan waktu-waktu terindah yang pernah kurengkuh. Kami selalu membicarakan senja yang akan segera menitis. Sesekali ia menceritakan masalah kuliahnya. Sebentar lagi ia akan menjadi dokter. Ia akan membahagiakan kedua orangtuanya. Namun apakah ia sendiri sudah merasa bahagia dengan apa yang telah diraihnya? Hatiku selalu berdoa untuknya, agar ia berhasil dengan apa yang telah dicita-citakannya.

Meski kami suka bersama menikmati senja, perasaan cintaku masih tersekap di dalam batin. Aku tak kuasa menyatakan perasaanku padanya. Aku tak ingin ia tahu. Aku cemas kalau ia tahu perasaanku yang sebenarnya. Aku tak ingin luka karenanya. Aku tidak ingin menangis karena cinta. Maka kupendam saja perasaanku dalam-dalam.

Terlalu sering aku mendengar cerita bagaimana seorang lelaki begitu gampangnya mempermainkan wanita. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan lelaki, maka ia akan mencampakkan wanita seperti seonggok sampah tak berguna. Maka hancurlah hati wanita itu berkeping-keping, remuk-redam menahan pedih. Kalau wanita itu tidak tahan menghadapi kenyataan cinta, maka ia akan terjebak untuk melakukan bunuh diri atau terjerat narkotika. Sungguh aku tak sanggup membayangkan, kalau seandainya aku yang mengalami hal itu.

Oh…cinta, sungguh sebuah permainan dalam kehidupan. Dan kita pun dipermainkan oleh hidup, oleh cinta yang kita jalin. Itulah sebabnya aku takut senja benar-benar menitis di hadapanku. Aku tidak ingin senja kembali menjelma sebuah cinta, karena itu suatu yang muskil.

Memang suatu kali Asa pernah menanyakan siapa kekasihku. Dengan tegas aku katakan bahwa kekasih tidak pernah singgah dalam hidupku lagi. Duh… mata yang teduh itu, menghujam mataku. Sungguh hatiku tak kuat menatap telaga teduh yang seringkali dingin itu. Sadarkah ia, bahwa ialah sesungguhnya yang kuharapkan menitis menjadi sebentuk cinta yang indah serupa senja yang jingga dalam jiwa remajaku?

Terkadang aku ragu pada diriku, pada perasaanku sendiri. Sungguh, aku belum siap kecewa karena cinta. Bagiku, menderita karena cinta begitu mengerikan dan penuh dengan kesia-siaan. Aku cemas bila ia mengetahui isi hatiku. Karena itu, meski aku rindu ia, aku jauhi ia. Bukankah Kahlil Gibran pernah mengatakan, cinta tidak mesti saling memiliki? Duh… mataku belum juga mampu terpejam. Entah di mana Asa kini. Aku berharap ia menemukan titisan senja yang dulu selalu ditunggunya di taman kota itu. Adakah titisan senja akan berwujud sebuah cinta yang indah? Gemerisik angin dan gerimis saling bersahutan di luar jendela.

Denpasar, Juni 2003