Warisan Budaya dalam Film Holiwood

Yudi Winanto
http://www.balipost.co.id/

APA yang ada dibenak penjelajah Belanda Abel Tasman atau pun James Cook (Inggris) saat menemukan negeri berjuluk Tanah Awan Putih yang Panjang itu di pertengahan abad 16 dan 17? Seperti dunia yang hilang, Selandia Baru adalah negeri dengan alam yang masih perawan dan hal itu bertahan hingga sekarang.

JIKA kemudian sutradara Peter Jackson menggunakan negeri ini sebagai background trilogi the Lord of the Rings, hal tersebut tak keliru. Film yang diangkat dari novel karya J.R.R Tolkien itu, memerlukan lokasi yang mewakili wilayah Middle-earth, sebuah negeri fantasi dengan alam yang masih asli.

Efek film yang meraih penghargaan Oscar itu sungguh luar biasa. Industri pariwisata terdongkrak berkat kunjungan wisatawan yang ke lokasi pembuatan film. Kehadiran Warner Bross ke negeri itu juga berimbas pada perfilm lokal.

Persoalan mengemuka kala film the Hobbit yang sebenarnya menjadi awal trilogi The Lord of the Rings itu dibuat. Proyek senilai 500 juta dolar AS itu nyaris ambruk karena unjuk rasa dan mogok kelompok aktor dan aktris yang meminta persamaan hak. PM John Key turun tangan dan berusaha menyelamatkan proyek tersebut tidak pindah ke negara lain dengan membuat aturan baru agar studio Warner Bros. terselamatkan dari terancam dari aksi serupa dikemudian hari.

Memang langkah darurat PM Key juga mendapatkan reaksi balik yang tak kalah pedas. Pemerintah dianggap terlalu tunduk pada Hollywood dan mengancam eksistensi kelompok buruh.

Tapi PM Key juga punya argumen bahwa proyek ini memberi dampak positif pada negara. Dua bagian dari prequel film itu akan dimulai pengambilan gambarnya Februari mendatang dengan format 3D lewat petualangan Bilbo Baggins yang diperankan aktor Inggris Martin Freeman. Artinya Industri perfilman Selandia Baru yang bernilai 2,3 milyar dolar AS akan terus bergulir.

Fakta yang tak bisa dipungkiri adalah publik tetap menginginkan pembuatan the Hobbit di Selandia Baru. Label negeri Tolkien tak ingin dilepaskan begitu saja, seperti Spanyol dan Kuba yang mendapatkan Ernest Hemmingway, atau negeri dongeng Denmark dengan H.C Andersen. Inilah dampak komersial selain imajinasi sastrawan pada alam, tempatnya mencari inspirasi.

Indonesia

Indonesia pun sebenarnya telah mendapat tempat di hati internasional. Catatan perjalanan Elizabeth M. Gilberth dalam Eat, Pray, Love menempatkan Bali untuk kesekian kalinya tercatat di industri perfilman internasional. Petualangan di Ubud memberi tawaran Liz sebuah kearifan spiritual timur setelah menikmati kuliner Eropa.

Novel yang diproduksi 2006 itu tercatat 180 pekan bertengger di papan atas daftar New York Times Best Seller. Filmnya yang dibintangi Julia Roberts, dirilis akhir Agustus lalu.

Lantas apa yang mempertautkan Selandia Baru dan Bali?

Dua negeri itu dianugerahi eksotisme alam dan budayanya. Hal itu yang membuat Gilberth terpesona untuk melengkapi perjalanan spiritualnya. Dan bagi Tolkien, persoalan alam dan bahasa adalah menu utama. Sastrawan yang tergabung dalam kelompok Inklings bersama C.S. Lewis di Universitas Oxford , memang suka menjelajah tanah pertanian di Inggris setelah pindah dari Afrika Selatan.

Maka tak salah jika isu lingkungan mengemuka disini. Alam yang selama ini diklaim sebagai warisan nenek moyang memang selalu dipertanyakan milik siapa, selain Sang Penciptanya. Alam memberi inspirasi siapa saja yang berfikiran positif kreatif, terutama bagi sastrawan atau seniman. Alam adalah sumber bebas yang memberi daya hidup bagi mereka di dalam dunia imajinya.

Realitasnya, jauh menyedihkan karena dibatasi oleh kepentingan ekonomi, sosial dan budaya. Manusia yang menciptakan segala sesuatu sejak mendiami Bumi, lebih banyak mewariskan persoalan dibandingkan merawat planet ini.

Maka Gilberth dan Tolkien memberi warisan pertanyaan tentang lingkungan yang kita diami. Akankah kita terus memperjuangkan untuk pemiliknya yang sejati ? Ataukah ini seperti saga dalam film Italian Job yang memperebutkan emas batangan berukirkan Penari Bali, persoalan harga diri?