Bingkai: Cerpen dari Metafora Pemikat Baru

Asarpin*
Lampung Post, 6 April 2008

ADA dua cerpen S.W. Teofani yang pernah terbit di Lampung Post yang menggoda imaji saya saat membacanya: Gapura Pulau Panggung (12-2-2006) dan Gapura Doa (16-3-2008). S.W. Teofani belum begitu dikenal sebagai penulis cerpen, bahkan namanya sangat samar, tapi dua cerpennya ini hemat saya layak dipertimbangkan. Teofani mampu menghadirkan kersik kata-kata tanpa beban dalam berbahasa. Alunan rimanya terasa hening seperti peri kesepian-sejenis vibrasi yang hanya memberi perhentian sejenak untuk kemudian berjalan mengalir pelan dan bening menuju mata air sumber kecemerlangan.

Dua cerpen ini ingin saya lekatkan dalam satu laboratorium pembacaan teks yang hidup dalam menangkap daya kekuatan pengarang dalam mendayakan harkat kata dalam cerita yang memang pendek. Dua cerpen ini pantas disebut “cerita isotopi” dengan semangat kasih sayang yang menyuguhkan teknik penulisan cerita yang piawai dengan kata-kata yang isotopinya sendiri nyaris tandas.

Bahasa dari Duka yang Bisu

Metafora gapura dalam dua cerpen ini mendulang keakraban dan keintiman sang narator yang berusaha mempermainkan gebalau hidup di tengah chaos. Sang pengarang bahkan ingin menghadirkan suspens diam-diam dan sangat sederhana. Dalam cerpen Gapura Doa narator mengakhiri kisahnya semacam kamuflase yang tak mengejutkan karena ini memang bukan puisi: ini “Taqdir” katanya.

Dalam Gapura Pulau Panggung, S.W. Teofani-nama pena Susilowati ini-dengan intim menghayati gapura dengan menampilkan pernik-pernik psikologis antara pulang dan pergi: atau rumah dan pulang dalam cerpen. Cerpen ini mengungkai tematik cinta, takdir, dan maut yang penuh gelora. Pengarang tidak terjebak pada pskologis Freudian atau cinta Platonik, melainkan menghadirkan kisah cinta yang sejenis dengan cinta sufistik, penuh takzim pada keterbatasan dan kesementaraan manusia di hadapan Sang Khalik.

Amanah-amanah yang tampil dalam larik ceritanya memang harus tampil dan tidak mengurangi bobot diksi lirisnya. Doa sang tokoh perempuan dalam Gapura Doa tidak lagi menjelma sebagai doa syariat, melainkan sebuah puisi liris yang posesif. Bahasanya terasa gagu, kalimatnya pendek-pendek, dan tak hendak mengembang walau sering tergoda untuk berkembang. Metafora gapura pun begitu kuat menggoda imaji sang pengarang.

S.W. Teofani menampilkan denting suara penari yang meliuk seperti ranting bergoyang di dahan atau seperti menonton penyair yang menari dan bercerita dengan ringannya, berbaur seketika dengan alunan regium Mozart yang menyihir penyair. Kehadiran kembang dan bunga-bunga dalam cerpennya seakan menyuguhkan cerita fantasi yang mengajak kita masuk ke dalam cerita sembilan waktu model sufi Robiah Al-Adawiyah.

Cerpen Gapura Pulau Panggung dibuka dengan bahasa liris: Engkau datang dalam waktuku. Waktu yang selalu mempersembahkan kisah-kisah baru; entah nyata atau fatamorgana. Kita mengada di dalamnya, bersama dalam mimpi-mimpi yang menjelma dalam kenyataan. Kenyataan yang tersembunyi di balik mimpi-mimpi…Cerpen Gapura Doa dimulai dari: Aku coba melupa, menutup sirip kenangan dengan taburan doa, mengelupas tiap helai tanpa nada; meski tak pernah benar-benar mencapai amnesia. Gapura itu tetap dan selalu ada, di ceruk paling maya, mengada dalam taman jiwa. Gigir ngarai yang pernah kita sisir, memanggil dengan suara paling mesra…

Nuansa main-main masih terbaca kuat dan membuat saya terbetot oleh permainan gema, alunan detonasi dan desir pencarian yang seakan meloncatkan ludah harapan di pucuk klorofil daun damar kaca. Sebuah refleksi yang belum sampai satire tapi masuk dalam rasa hayatan yang kuat. Sayang sekali S.W. Teofani kurang teliti dalam mempermainkan logika kata-kata. Kalimatnya masih kurang pitch control dalam menyanyikan puisi kefanaan dan kehidupan lewat metafora gapura hingga seting ceritanya bunyar dan tidak masuk akal; di negeri salju (Eropa) tak berapa lama muncul harum bunga kopi dan musim durian; dalam keheningan menghayati syair khakhiwang di “tanah kelahiran”, tiba-tiba muncul kata pendingin salju kutub dan gapura itu makin indah. Kalau idiom-idiom yang menunjukkan Lampung dihilangkan justru cerpen Gapura Doa jauh lebih menawan ketimbang dipaksakan karena bisa merusak kejadian yang sedang berlangsung.

Bahasa cerpen Gapura Pulau Panggung dan Gapura Doa hampir saja mendekati bahasa Khalil Gibran-pujangga pemuja cinta dan bayang-bayang. Dalam ketangkasan mengikuti arus ritmik berbahasa, sang pengarang menghadirkan kata-kata sampai mengeluarkan gema dan tak lagi terpaku pada satu rumusan gaya dan tema yang ditetapkan ideologi media, yang masih bersifat dicari-cari.

Dalam mengiringi sebuah pemberangkatan ke negeri salju tempat bersemayam harapan dan anugerah, bahasanya menampilkan refleksi anti-sentimentalisme. Ketika sang tokoh pergi, tak ada lagi pikiran untuk bisa pulang kembali menghirup harum kopi dan laut biru atau “pulau yang damai” karena “kita terlupa tentang kehilangan”…”aku lupa jalan pulang”…”sunyi” dan “Hidup adalah hari ini yang mesti kita nikmati”, bukan kemarin atau yang akan datang.

Walau gapura sudah di depan mata, katakan saja bahwa dawai lara putri Gibran telah membuat bimbang dan memutuskan tidak jadi pulang karena sayap-sayap patah tak sampai menemui-Nya, karena kata terus saja berkisar pada makna takdir penghabisan agar sang putri Gibran bisa sampai di pantai kesadaran imaji diam, atau karena hujan telah menjatuhkan putik bunga dari kuncupnya, atau ranting kayu yang terpelanting miring dari curuknya. Ahai, biarlah logika bertabrakan asal kisah yang dituliskan jadi semerbak wewangian, menjelma rajah peri kesepian yang ingin mendaki langit lazuardi kehidupan.

Susilowati seakan menjelmakan dirinya sebagai putri Gibran yang secara layak menafsirkan Sayap-Sayap Patah, Jiwa-Jiwa Pemberontak, Tuhan-tuhan Bumi hingga Taman Sang Nabi. Warna suram begitu kuat membayang sang monolog perempuan mirip Selma Karamy yang dilukiskan Gibran tatkala jiwanya terampas di hadapan takdir yang mematahkan sayap-sayap cintanya hingga takdirnya pun berakhir. Dua cerpen satu tema ini mampu menghadirkan dialog batin yang mengawali bencana cinta sang putri Gibran yang bimbang, yang dengan tangkas mengekspresikan pulang dan pergi antara negeri salju dan negeri kopi, negeri musim gugur dan negeri musim durian.

Sang perempuan adalah sang tokoh pembebasan yang menantang di hadapan kumbang jantan:” Andai kutinggal semua kenang, kau terlunta dalam sengsara. Bila kususuri jalan gapura, tidakkah ada yang terluka?” Sang perempuan tak ingin dijinakkan dan tunduk pada pesona cinta laki-laki dan memilih melepas semua kenangan walau ia tahu apa akibatnya. Kata-katanya menggemakan larik puisi dari sang pujangga yang terluka tapi tak ingin luka untuk kedua kalinya.

Kenangan yang menyakitkan seakan terayun-ayun di gaba-gaba kenangan oleh hempasan harapan dan kedamaian abadi yang “bukan patah dahan, kekasih”, tapi sebuah keberangkatan yang sunyi menuju kehidupan. Renungan rantau yang tak ingin kembali. Sebuah ikhtiar pada ketakziman yang sementara. Sebuah renungan dalam menerima kehilangan secara lapang. Bukan meratapi atau melantunkan samudera air mata terhadap masa lalu, tapi kekinian yang menghidupkan kisah. Sebuah kematian sekaligus kehidupan. Amorfati, kata Nietzsche.

Membaca cerpen dengan desah gebalau, suatu renungan pribadi sunyi, suatu lirik bening atau bisikan senyap dari makna sepi yang hanya kedengaran bagi pembaca yang berhati besar, yang bersiap untuk paham, memang terasa nikmat. Sugesti puitik dengan klimak penampilan larik doa yang-sambil mengutip frase Dami N. Toda-sebuah rintik bening di tengah danau kehidupan yang hanya terdengar suara “plung” dengan satu kata: “Amin!” Maka larik ini dapat dibandingkan dengan puisi Terry McDonagh ini: suatu saat,/ketika kita tak berani/membicarakan beberapa sajakku/yang setengah jadi-Amin!

Metafora Pemikat Baru

Kadar makna cerpen Susilowati tidak ditentukan hanya dengan ukuran kata atau intrusi bahasa, melainkan metafora atau imajinasi. Metafora merupakan bentuk puitika bagi cerpen yang berfungsi sebagai sebuah kerja penakwilan. Kritik cerpen tidak berhenti pada sebatas ilustrasi dengan memaparkan dan menjelaskan isi sebuah cerita atau malah mencincangnya. Apa yang disebut ilustrasi (washf) kata Adonis (2007), kenyataannya cuma “bersifat gradasi”; suatu penyusunan yang “menggabungkan elemen-elemen sesuatu hingga karakteristiknya tampak melalui sifat-sifat yang sudah dikenal sebelum membacanya”. Ilustrasi sering kali menyusun sesuatu dengan hati-hati dan tekun, lamban, sementara metafora berusaha menangannya secara cepat bagai kilat yang memberikan indikasi bahwa nilai dari suatu cerpen bukanlah ilustratif tapi metaforik.

Metafora mewujud dalam vibrasi yang melirik-mengenalkan sesuatu dengan cara yang berbeda. Apa yang penting bagi Susilowati bukan lagi sesuatu itu sendiri, melainkan hubungan yang ada antara sesuatu dengan sesuatu yang lain-sebuah atribut dan makna sunyi mencari yang muncul dari kontemplasi. Metafora bukan lagi cuma hiasan yang memberikan warna dan dinamika terhadap gaya bahasa, tapi sebuah ketaksaan yang terpola pascaluka yang membedakan inti kemaknaan dalam situasi yang “normal”. Cara S.W. Teofani menyambung cerita cukup unik: “ini kali pertama kau kehilangan seorang sahabat” dan disambung “kita bertemu pada kali yang lain”.

Ketika mengekspresikan kosmos secara metaforis, sang pengarang tak hendak mengubah alam menjadi citra sesuatu, tetapi jagad itu justru bisa berubah menjadi citra itu sendiri. Dari sini tampak bahwa metafora yang ditampilkan agak main-main dan segala kemungkinan dalam menerima kehilangan, sementara cerpenisnya sendiri tidak menerimanya-entah eksplisit maupun implisit.

Di sini metafora memperlihatkan transformasi yang menjadi tinanda dari pengalaman hidup yang kepenuhan. Sang pengarang mampu mengungkai pencarian intrusi sekaligus metafora yang hidup dan memancarkan pesona hingga mata terpana oleh bobot renungan dan bisa jadi kemunculannya hanya sekali dan disusul kelahiran dua kali untuk menepati janji.

Walhasil, inilah cerpen yang menghadirkan cerita metafora pemikat baru atau permajasan yang sublim. Sang pengarang menampilkan suatu kekayaan kemaknaan dan mentransformasikan dunia bawah sadarnya dengan penuh penghayatan untuk kemudian mentransformasikan suatu fiksi menurut citra dan gayanya sendiri.

* Asarpin, Pembaca sastra

Sumber: dijumput dari http://ulunlampung.blogspot.com/2008/04/bingkai-cerpen-dari-metafora-pemikat.html