Empat Potong Warahan Batu

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

MARI kukisahkan kembali beberapa potong cerita tentang batu. Cerita-cerita ini tercecer begitu saja di lepau atau kedai tuak Wa Isah sebelum kusampaikan lagi kepadamu. Cerita yang kupunguti satu per satu dari mulut kawan yang menyeracau sambil tersedak. Kebiasaan yang tak pernah kita lupakan: mangkal di kedai tuak sembari menunggu Abdul Manan, si tukang cerita itu menyampaikan warahan yang memikat.

O, si tukang cerita tak akan membuka warahan-nya bila tak disuguhi tuak. Mula-mula ia berlagak mengantuk atau mengempaskan batu gaple ke meja. Itulah pertanda ia ingin dibelikan tuak, kemudian mulai bercerita. Ya, cerita yang seban pagi kita tunggu-tunggu mengalir dari mulutnya yang lincah berkisah.

Di tanah kami, katanya, banyak batu yang memiliki kisahnya sendiri. Batu, meskipun tak lebih dari benda mati, tetapi tetap saja menyimpan nasibnya sendiri. Terkadang ia dipaksa menjadi terasa hidup dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Sehingga batu tidak benar-benar mati dalam diamnya. Bahkan ia akan tetap hidup bila ada yang menceritakannya. Ia memiliki persepsi, tergantung dari empu atau orang yang kebetulan mengisahkannya. Memiliki versi, sebagaimana cerita-cerita yang disampaikan secara lisan.

Batu, sebagai benda mati, tak pernah menolak menjadi bahan cerita. Dalam diamnya, batu telah menerima nasibnya dengan lapang dada sebagai batu—baik yang memiliki muasal atau cuma benda mati—sama saja.

Dan batu yang ingin kukisahkan di sini sebagian pernah kudengar dari warahan tamong-kajong sembari memijit atau mencari uban ketika masih kanak-kanak dulu.

Batu Kerbau

Puari, aku mendengar, dahulu ketika seorang berjuluk Pahit Lidah mengembara dari negeri ke negeri, dari tanah ke tanah baru, binatang-binatang tak lagi pandai bicara tapi mengerti bahasa manusia. Sebutlah seekor kerbau yang berkhianat pergi dari kandangnya, lepas dari pengawasan sang pengembala.

Kerbau yang mendadak liar itu berlari-lari menyeruduk rumah, dan merusak kebun-kebun. Orang-orang menyerapahinya. Mereka mengejar, tapi sang kerbau kelewat ganas untuk dikendalikan. Akibatnya ada satu dua orang terluka, yang lain keberaniannya menciut. Mereka tak dapat menaklukkan sang kerbau. Kemudian pergi ke rumah si pemilik kerbau, meminta pertanggungjawaban.

“Apakah yang harus aku lakukan, sementara aku sudah kehilangan kerbau kesayanganku?” ucap si pemilik kerbau mengiba.

“Kami tak mau tahu apa-apa mengenai urusanmu. Kami hanya mau kerusakan dan kerugian yang kami alami harus diganti dengan setimpal.”

“Aku tak memiliki apa-apa selain kerbau-kerbau itu. Dan jika kalian mengambilnya, aku akan kehilangan hartaku paling berharga. Padahal aku tak memiliki keahlian apa pun selain mengembala. Apa kalian tega mengambil sumber penghasilanku?”

“Kami tak mau peduli. Itu urusanmu. Kami hanya mau kerugian yang kami alami harus terbayar.” Kemudian orang-orang itu menyeret kerbau milik si pengembala.

“Kalian telah berbuat aniaya. Padahal aku dan anak istriku hidup dari kerbau-kerbau itu. Kalian sudah mengambil sumber penghidupan kami, berarti kalian sudah membunuh kami,” ucap sang pengembala sembari terus mengiba.

Namun, orang-orang itu tak menggubrisnya. Mereka pergi membawa tiga ekor kerbau dan dua ekor yang masih kecil. Si pengembala itu menangis.

“Ah, kerbau kesayanganku. Mengapa kau membuatku susah begini? Padahal aku sudah mengurusmu semenjak kecil, merawat, memandikan, dan memberi makan. Tapi apa yang telah kaulakukan terhadap orang yang telah berjasa kepadamu?”

Si pengembala hanya bisa mengelus dada. Kemudian dengan hati-hati ia menceritakan kejadian itu kepada anak istrinya. Mereka pun menangis tersedu-sedu.

Kerbau itu sudah cukup umur dan dewasa. Tanduknya panjang. Matanya nyalang besar-sebagaimana mata seekor kerbau. Tubuhnya besar kekar. Ia berlari sampai ke tempat yang jauh, mencari betinanya yang beberapa hari lalu dijual oleh si majikan di kampung seberang.

Kerbau itu sudah nekat. Ia mau berenang menyeberang Teluk Semaka yang luas. Di penglihatannya, Teluk Semaka tidaklah luas, seperti sungai kecil. Mula-mula ia merasa ragu. Tetapi tekatnya sudah bulat, ia ingin mencapai seberang secepat mungkin.

Alangkah heran Si Pahit Lidah yang kebetulan sedang beristirahat di bawah pohon yang rindang. Dilihatnya matahari yang terik menyemburkan panasnya yang membakar terpancang di atas kepala.

“Betapa buruk perilaku kerbau itu. Ia mandi padahal sedang tengah hari. Di manakah pengembalanya?” kemudian Si Pahit Lidah berdiri dan memanggil si kerbau.

“Hei kerbau! Sebaiknya kau menepi. Apa yang kau lakukan di situ?”

Si kerbau tak menyahut.

“Hei kerbau! Mengapa kau mandi di saat matahari sedang terik? Di mana penggembalamu?”

Si kerbau seolah tak peduli.

“Hei kerbau! Apa kau tak mendengarku? Sebaiknya kau menepi sekarang dan kembali pada penggembalamu!”

Si kerbau tetap tak menyahut seolah bergeming dari tempatnya.

Pahit Lidah merasa dilecehkan dan marah besar terhadap kerbau bodoh itu. Padahal ia berada jauh di atas bukit dan kerbau berada di bawah sana. Tanpa sengaja, atau dipacu oleh kemarahannya, ia bergumam pada diri sendiri: “Alangkah bodoh dan buruk perilaku kerbau itu. Dan ia tuli dan bisu seperti batu!”

Batu Balai, Sebuah Pengakuan

Dahulu, kakiku berpijak di tanah, dapat berlari ke sana ke mari. Masa kanak-kanak yang menyenangkan bersama ibu. Tak habis-habis kasih sayangnya kepadaku.

Kini, sepanjang waktu tubuhku diempas ombak. Kadang diganyang segerombolan badai. Alam menghukumku sedemikian rupa. Pedih yang tak mungkin dirasakan oleh manusia. Pedih yang tak terkira. Tak ada yang mengenaliku. Tak ada yang tahu bahwa aku demikian tersiksa.

Di tengah laut tempatku terpaku. Setelah kapalku dikaramkan ombak bersama kejayaanku yang runtuh. Porak-poranda. Mengeras jadi beku dan diam sepanjang waktu. Meski aku masih bisa merasakan denyut kehidupan, ini seperti mati. Tetapi bukan mati, hanya sesuatu yang amat menyiksa.

Sesungguhnya aku ingin menangis. Tapi, air mataku telah beku jadi batu. Aku ingin meratap. Tapi, isakku telah pula lenyap. Darahku pun tak lagi mengalir karena sudah lama menjadi beku. Namun, jantungku masih saja berdetak. Aku masih hidup. Sebagai batu. Yang terkutuk. Yang dikutuk ibuku sendiri.

Batu Tangkup

Tuah, pernahkah kalian mendengar cerita batu tangkup, batu yang dapat menelan manusia hidup-hidup? Membayangkannya saja kalian akan merinding dibuatnya.

Baiklah. Aku akan mulai bercerita. Dahulu ada sebongkah batu besar teronggok di tepi sebuah kampung. Batu itu tidaklah istimewa, sama seperti sebagaimana batu biasanya. Namun kemudian batu itu berubah menjadi seolah-olah hidup lantaran perilaku orang-orang di kampung itu yang kelewat batas. Mereka suka minum arak, berjudi dan menyabung manusia. Anak-anak kecil sudah pandai melawan orang tua. Mereka tak pernah mengira bahwa batu di tepi kampung itu yang kemudian menghukum mereka satu per satu. Mereka menghilang ditelan sebongkah batu.

Seorang laki-laki yang sangat menyayangi anak perempuannya merasa waswas ketika anaknya tak pulang hingga larut malam. Ia meminta tolong kepada tetangga untuk mencari anaknya. Mereka berkeliling kampung membawa lampu petromak. Masuk ke hutan karet dan damar, mencari sampai ke tepi ngarai, namun anaknya tetap tak ditemukan. Ketika mereka berada di tepi kampung, di mana batu itu teronggok, terdengar suara isak tangis gadis kecil yang ketakutan sembari memanggil bapaknya.

“Aku mendengar suara anakku, ia ada di sekitar sini!”

Setelah beberapa lama mencari, mereka tetap tak menemukannya. Hanya suaranya saja. Tak tampak sosoknya. Kemudian malah ada seseorang di antara mereka tiba-tiba ikut menghilang seolah tertelan malam.

Penduduk di kampung itu semakin sedikit. Setiap hari selalu ada yang menghilang. Setiap kali mereka mencari orang hilang, selalu ada pula yang tak kembali. Hingga penduduk itu benar-benar berkurang, hanya menyisakan beberapa orang. Akhirnya mereka yang masih tersisa memutuskan untuk pindah ke kampung lain yang lebih aman. Kebun-kebun dan rumah ditelantarkan begitu saja.

Setiap kali ada orang yang lewat di sekitar batu Tangkup, selalu mendengar suara-suara. Terkadang suara orang menangis ketakutan. Terkadang suara orang memaki-maki. Ada pula suara orang menjerit-jerit kesakitan. Tetapi lebih banyak suara orang menangis dan tak pernah tampak sosoknya. Hanya suara-suara saja.

(Anak-anak lebih cepat tertidur setelah mendengar cerita batu tangkup)

Batu Penyabung

“Puari, pernahkah kalian mendengar cerita batu penyabung?”

“Ceritakan apa yang kauketahui,” sahut yang lain.

Baiklah. Menurut cerita yang kudengar, dahulu di keramat Pekon Balak terdapat sebuah batu besar berbentuk perahu dijadikan arena sabung ayam. Setiap hari selalu ada yang menyabung ayam, berjudi. Sepanjang hari selalu ramai oleh orang-orang yang bertaruh.

Selesai menyabung, yang menang berteriak-teriak gaduh dan yang kalah menyumpahi ayamnya. Kadang ada yang sengaja mengumpat dengan kata-kata kotor. Bersiul dan segala macam yang seharusnya tak layak dilakukan di tempat keramat. Karena terlalu sering orang menyabung ayam, marahlah penunggu keramat Pekon Balak. Mereka disumpah menjadi batu.

Bentuk batu itu bermacam-macam. Jika dilihat dari dekat bentuknya seperti ayam beruga sedang bersabung. Ada pula bentuk orang yang sedang menggendong ayam jagoannya. Bentuk ayam terbang. Juga bentuk orang yang dikeroyok ayam.

Dari sanalah dinamai batu penyabung. Banyak orang yang datang ke sana untuk maksud tertentu. Orang yang senang berjudi memohon agar menang judi terus-menerus. Orang yang berniaga meminta agar dagangannya selalu laris. Orang yang mencalonkan diri jadi bupati atau kepala daerah meminta agar menang dalam pemilihan. Pemuda-pemudi yang sudah lapuk meminta agar cepat mendapat jodoh. Suami-istri yang tak punya anak meminta agar diberi keturunan.

Mereka tak lupa meletakkan sesaji di atas batu penyabung. Berupa bunga atau koin atau sesaji lain. Kadang anak-anak sekolah ke sana mengambil sesaji itu.

Tapi, benarlah terjadi terhadap orang yang memohonkan sesuatu di batu penyabung. Setiap orang yang pernah ke sana sudahlah tertunai keinginannya.

Batu penyabung ini ada di Ajan, Pekon Ngarip. Taklah terlalu jauh dari kampung kita. Hanya perlu naik bus ke Sukaraja atau sekalian membawa sepeda motor. Juga perlu sedikit ongkos, uang makan, dan terutama sesaji. Bila kalian mau ke sana, bisa sekalian mengajakku. Aku ini bujang lapuk yang tak laku-laku. Miskin pula. Tentu kalian tahu maksudku?

Abdul Manan terkekeh, sembari menenggak tuak, menutup warahannya kali ini. Jika kami bersedia menambah tuaknya, tentu kisahnya akan tersambung lagi.

Kotaagung, 2010

Catatan:
Warahan : Tradisi penuturan lisan masyarakat Lampung, diantaranya berupa dongeng, hikayat, epos dan mitos.
Tamong-kajong : kakek nenek.
Puakhi : panggilan terhadap kawan sebaya atau saudara.
Tuah : panggilan nenek/kakek terhadap cucu.
Batu Penyabung : sumber cerita dari cerpen bahasa Lampung berjudul Cerita-cerita jak Bandar negeri Semuong karya Asarpin Aslami yang mendapat hadiah Rancage.